TAKDIR KU

TAKDIR KU
48.ANAH MENJERIT


__ADS_3

"Pinter ini yang besar buat anah aja" kata warto sambil memberikan jambu besar misalnya yang di kasih anah.


Anah menggeleng"gak mau lek ini aja"langsung menggigit jambu yang ada di tangannya, sambil tersenyum manis.


Warto pun tersenyum, lalu di gigit juga itu jambu yang pemberian anah. tangan kanannya mengusap kepalanya anah.


Pak Jumadi yang melihat itu pun tersenyum.


Anah memiliki sifat yang manja. Dan itu selalu menjadi pesona siapa saja yang melihatnya.


Karena pak Jumadi berdiri di pintu dan melihat di luar yang tersenyum. dan itu membuat bu sarinem bertanya apa yang membuatnya tersenyum.


"Mas kenapa senyam-senyum begitu?"tanya bu Sarinem.


"Itu Anah sama seperti ibunya, dari kecil sudah mempesona."Kata pak Jumadi sambil mentoel hidung bu istrinya.


"Ih kenapa jadi genit si mas, udah kayak pengantin baru aja. Aku rasa Parno kalah mas, genitnya sama kamu." Kata bu Sarinem.


"Mana ada Parno kalah, dia kan playboy. Sampai sekarang aja masih saja, kalau lihat yang cantik di depannya. Dia langsung beraksi dengan tebar pesona. Kalau mas, cuma mau mesra mesraan sama istri tercinta, tersayang, dan termanis. Dek mas mau daftar ya?"tanyanya.


"Daftar apa mas"tanya balik.


"Daftar apem mentul tar malam."Seraya pindah dari sana dengan sedikit lari.


"Maas..... ih benar benar ya."Kata bu Sarinem dengan wajah merona merah.


"Benar dek mas mau daftar lagi, biar cepat jadi kuping lagi."Kata pak Jumadi sambil naik ke ranjang yang di ruang tamu.


"Mas aku malu sama mamak ih..." Sambil memanyunkan bibirnya, sambil naik ke ranjang dan duduk sila.


sementara di luar nenek melihat senyum Anah, begitu senang pun sedikit kesal.


"Ku biarkan kamu senang sekarang. Setelah ibu bapak mu pergi, lihat saja nanti. Tak akan ku biarkan ada senyum itu ada lagi."Kata Nenek dalam hati.


"An main petak umpet yo." Ajak Johan.

__ADS_1


"Ayo. Monik boleh ikut Jo?"tanya Anah. Ya cuma Anah yang panggil Johan dengan panggilan Jo. Yang lain memanggil Han jika sedang bermain.


"Emang dia bisa main nanti kalau jaga emang bisa An?"tanya Johan.


"Ya jadi anak bawang lah Han." Kata Warto.


"Iya Jo. Masak Monik cuma lihat kita aja."Sambung Anah.


"Baiklah ga papa." Akhirnya Johan setuju. Mereka main dengan riang, hingga waktu dhuhur.


...****************...


Tiga hari kemudian, Anah sudah siap ke sekolah. Sedangkan pak Jumadi sebelum berangkat ia mengantarkan putri sulungnya.


"Anah nanti hati hati di rumah ya. Jangan pernah membantah sama nenek, biar tidak di marah ya."Pesan pak Jumadi, pak Jumadi merasa tak tenang. Hatinya selalu ada kecemasan untuk kali ini.


"Iya pak, tapi juga hati hati ya nanti, dada." Kata Anah, sambil berjalan memasuki area sekolah. Setelah mencium tangan bapaknya.


"Belajar yang pintar ya," Kata terakhir sebelum pulang dan siap berangkat.


...****************...


Satu bulan berlalu.


Setiap hari Anah harus menjerit, dalam hati dia menatap penuh luka. Tak jarang Anah harus menjerit dengan suara lantang. Karena kekerasan yang ia alami.


"Cepat kamu masak nanti ada saudara yang mau mampir kesini. Tadi nenek ketemu, dan bilang kalau mereka mau mampir."Tutur Nenek.


"Aku masak apa nek? tadi kan aku sudah masak gulai daun singkong sama ikan asin."Kata Anah. Memang anak seusianya belum mengerti mana yang pantas di suguhkan untuk tamu.


"Kamu ambil saja telur ayam atau entok. kurang lebih 5. kamu ceplok lalu di sambelin."Ujar Nenek.


Dengan langkah cepat Anah berjalan menuju kandang ayam, lalu kandang entok. Anah melihat mana yang telurnya banyak ayam. Di sana dua tempat ayam bertelur, masing-masing tempat, jika di ambil lima kurang. Karena di dua tempat telur itu hanya ada lima butir. Maka anah pindah ke kandang entok di sana ada tiga tempat telur. Dari situ ia bisa ambil telur 5 butir. Ia bergegas kembali ke dapur, sebelum masuk ia sudah mencuci telur terlebih dahulu.


Kini masakan sudah matang dan tamu pun datang. Tamu itu merupakan keponakan nenek, berarti sepupu bapak nya.

__ADS_1


"Wah Anah sudah bisa masak ya."Ketika tamu itu menghampiri Anah yang sedang memasak.


"Masih belajar bude, belum pinter."Jawab Anah sambil menoleh ke arah budenya.


"Apa kamu gak pengen main?gak bosan apa di rumah? apa karena bosan kamu jadi belajar masak?"tanyanya terus.


"Aku..."


"Anah itu tidak pernah main keluar, justru dia lebih senang main masak masakan. Biar lebih jelas dan pintar beneran aku ajak ke dapur. Dan ternyata Anah itu senang banget masak, cekatan, luar biasa deh pokoknya." Kata Nenek.


Dan itu di lakukan setiap ada tamu atau ada yang kagum dengan.


"Oh jadi Anah suka masak to."Katanya.


"Oh ya bi, Parno mana kok aku tidak lihat dia?" kata Arman, keponakan nenek.


Dia di rumah mertuanya, seminggu lalu baru empat bulanan. Biasanya dia datang kalau lagi kangen tu sama anaknya."Kata Nenek dengan mata melirik ke arah Anah.


"Wah berarti gak jauh beda dengan yanti bi, dua bulan lagi yanti tujuh bulanan. Nanti bibi, datang ya kalau pas tujuh bulanan. Nginep ke rumah ku, bibi belum pernah berkunjung ke rumah kami. Insya allah nanti antar dan jemput, kalau bibi mau datang ke acara itu. pas harinya aku datang." Kata Arman.


"Pakde Anah boleh ikut, kalau gak Anah di rumah lek Par aja."Kata Anah menyahut, langsung dapat pelototan dari nenek.


"Ya boleh lah biar sekalian nanti kamu bisa belajar masak. Tapi tidak masak, cukup kamu lihat saja, biar tambah hebat."Arman menanggapi Anah.


"Ya sudah sekarang kita makan, Anah bawa piring dan sendok ke depan. Sayur, dan sambel nya,biar nenek yang bawa. Jangan lupa gelas buat pakde minum, jangan lupa buat kopi sama teh."Perintah Nenek.


"Iya nek nanti habis ini aku buat kopi dan teh nya."Jawab Anah.


Anah segera melaksanakan tugas neneknya. Di ruang tamu pada makan, nenek dan ponakannya. Sementara Anah makan di belakang dengan ikan asin dan sayur. Karena telur di bawa ke depan semua. Sangking laparnya, anah langsung duduk di dapur, makan dengan lahap. Posisi duduknya masih terlihat oleh Arman. Dan itu membuat nafsu makannya hilang seketika, karena melihat Anah yang makan seperti orang seminggu tidak makan. Anah pulang sekolah sudah lapar malah masak. Namun anak seumuran anah taunya lapar makan. Ini di suruh masak dulu, nenek melihat arah mata Arman, menjadi kesal sama Anah. Setelah selesai makan mereka pada pulang, sedang Anah lagi cuci piring. Tidak perduli dengan tamunya pulang, yang penting ia sudah beberes.


"DENGAR YA KALAU LAGI ADA TAMU ITU, KAMU JANGAN MAKAN DULU. KAN TAMUNYA JADI GAK SELERA MAKAN GARA GARA LIHAT KAMU."Nenek membentak, Sambil menjewer telinga Anah sekencang mungkin dan membenturkan kepalanya ke pintu.


Hal itu membuat Anah menjerit, menangis sejadi-jadinya. Sudah telinga rasanya mau putus, kepala rasa mau pecah. Bahkan langsung benjol merah unguan.


"AAAAKK.... ampun nek sakit, huhuhuhuhu. Jeritan dan tangisan anah bahkan terdengar dari rumah Johan. Tidak hanya rumah Warto, hal itu hampir tiap hari. Anah langsung masuk kamar dan menangis sesenggukan sampai ia tertidur.

__ADS_1


*****Bersambung....


__ADS_2