TAKDIR KU

TAKDIR KU
149. LUGU DAN POLOS


__ADS_3

Maka hal itu yang membuat orang yang di seberang heran, karena tidak biasanya Anah terlalu fokus dengan pekerjaan.


Sehingga Anah dapat melupakan semua masalah yang ada padanya. Setelah selesai dengan pekerjaannya, Anah memberikan ruang atas lebih dahulu. Setelah selesai dengan lantai atas Anah pindah ke lantai bawah.


Setengah 7 malam Anah selesai, kemudian Anah melaksanakan sholat magrib. Setelah selesai ia tidak untuk makan karena ia sudah merasa sangat lapar. Anah makan sangat lahap, karena kelaparan dari pagi baru makan.


Sang majikan menonton tv, sambil sesekali melihat Anah yang sedang makan dan tidak banyak bicara. Terlihat biasanya saja, namun ketika di ajak bicara. Anah akan terlihat datar tanpa ekspresi di wajahnya.


Setelah selesai makan, Anah mencuci semua perabotan bekas masak dan makan. Anah di sini tidak pernah memasak, kecuali di anah minta ajari masak. Yang dia belum pernah memasaknya, supaya bisa. Kalau untuk masak daun singkong atau sayur nangka muda. Anah lah yang memasaknya, karena pernah sekali Anah masak. Satu rumah pada ketagihan, kerena masakan nyonya Kristine sangat berbeda.


_


Satu minggu berlalu Anah memutuskan untuk pulang dari rumah nyonya nya. Dan berniat tidak akan kembali, dengan alasan tidak kembali lagi. Dan akan pulang dua hari lagi, tepat di hari gajian Anah.


Sore ini Anah lagi menyiram tanaman yang Anah tanam di pot bunga di lantai atas. Ada cabai keriting, rawit, dan cabai besar. Saat ini sudah mulai berbuah, bahkan menunggu merahnya saja.


Tuan besar mendatangi Anah, dengan maksud merayu Anah supaya tidak keluar. Biar bagaimana pun Anah sudah seperti anak sendiri. Meski Anah beberapa kali melakukan kesalahan, mereka tidak pernah mempersalahkan.


"Mar, kalau bisa jangan keluar lah dari sini. Apakah kamu marah sama Cici Sahita, dan memilih keluar?"tanya si tuan besar.


"Saya cuma mau istirahat saja kok tuan. Lagian dari 2 tahun lalu, saya kerja di sini. Saya pulang baru beberapa bulan lalu di jemput ibu. Dua bulan lalu ibu ambil gaji saya untuk tambahan beli rumah baru di tempat saya lahir. Sementara saya juga belum tahu, tempatnya. Cuma yang saya tau arah jalannya saja, saya sendiri tidak tahu tempat nya. Makanya saya pengen di kampung yang baru agak lama."Jawab Anah panjang lebar, tentang keinginan nya.

__ADS_1


"Ya tidak apa-apa kalau kamu mau balik lagi nanti gaji kamu di tambahin jadi 325 ribu bagaimana Mar?"tanya tuan besar.


"Rencana saya satu bulan atau lebih, kasihan nyonya kalau nyuci baju sendiri. Mending cari mbak yang baru." Anah ingin melupakan tempat ini, dan juga sudah sangat malu jika terus di sini.


"Ya sudah kalau kamu tidak mau,"langsung meninggalkan Anah di lantai atas yang bersiap akan menyetrika.


...****************...


Seminggu berlalu kini Anah sedang di rumah barunya. Malam ini Anah kedatangangan banyak pada pemuda yang sedang mendatangi Anah. Karena bertepatan malam minggu, dan Anah yang lugu dan polos pun tidak peka akan kedatangan mereka. Di tambah lagi tidak tau bagaimana mana menghadapi mereka.


Tepat jam 10 pada pulang, Anah di tegur oleh gadis bernama Asri. Yang sedari tadi Asifa diam dan mendiamkannya saja.


"Mbak Anah, emang kamu ini tidak pernah pacaran to?"tanya Asri.


"Ih mbak Anah ini, lugu dan polos. Padahal sudah lama di Jakarta ya, dan mbak sudah usia menikah. Belum mengerti cara interaksi dengan lawan jenis, setahu aku. Di Jakarta tempatnya orang pada pacaran, terus ke diskotik. Diskotik itu tempat yang sering di kunjungi muda mudi Lo mbak. Aku yang baru kelas 1 SMP aja sudah berada kali pacaran. La mbak ngah ngoh, di hadapan para cowok. iya yang tadi pegang tangan mbak itu, suka sama mbak." Asri yang geregetan campur gemes banget sama Anah.


"Oh mas Septyadi to, aku bingung mau jawab apa. Jadi aku ajak dia ngomong yang lain aja. Aku juga sudah pernah pacaran, malah belum lama aku di tinggal begitu aja. Tanpa kepastian yang pasti, makanya aku pilih pulang. Dari pada aku merana terus, mending aku pergi dan melupakan orang yang tidak serius." Kata Anah menceritakan tentang kisah cintanya dengan Hendra.


"Serius mbak, tapi sepertinya mbak ini pacaran nya anyep banget."Kata Asri, yang ragu dengan cerita Anah.


"Iya, aku pacaran juga baru sebulan nan lah, jadi tergantung yang ajak pacaran lah mau bagaimana mana. Tapi untuk saat ini aku sudah tidak ingin pacaran. Apa lagi cuma buat cari kesenangan, aku ingin yang serius." Kata Anah.

__ADS_1


"Lah yang tadi itu juga serius mbak, dimana-mana orang pacaran juga serius. Kalau orang pacaran kan cari kecocokan dulu, kalau cocok baru nikah."Kata Asri.


"Itu cara yang salah, kalau menurut aku sih. Cara kamu itu cuma cari kesenangan sesaat saja. Kalau mencari kecocokan tidak perlu pacaran As, cukup berteman saja. Jika nanti di antara ada kecocokan dan ada rasa kangen satu sama lain. Baru pacaran dan langsung menuju ke pernikahan. Kalau seperti tadi, belum kenal sudah mengajak pacaran. Mana bisa aku mengerti, apa lagi kata-katanya tadi membuat ku tidak mengerti." Kata Anah dengan gamblang.


Nenek yang duduk di kursi pojok sambil makan sirih cuma tersenyum. Ketika Anah melihat neneknya, yang menjadi pendengar.


"Itu tadi pakai kata-kata cinta dan rayuan mbak, kayak yang di film-film gitu."kata Asri, menjabarkan ungkapan Septyadi tadi pada Anah.


"Ah menurut ku itu cuma rayuan gombal saja, lagian tidak membuat merasa nyaman saat dia pegang tangan ku tadi. Rasanya risih banget, makanya aku lepas tangannya. Sebenarnya orangnya ganteng sih, entah lah melihat dia tidak ada enaknya gitu."Kata Anah dengan jujur dan santai.


"Sebenarnya mbak ini pura-pura tidak tahu atau mau nyangkal?"tanya Asri.


"Nyangkal dari apa?"tanya Anah.


"Mbak tidak ingin dapat orang sini, atau memang tidak suka dengan mas Septyadi. Kenapa tidak di tolak aja tadi, kalau memang tidak suka." Jawab Asri.


"Bukan tidak suka tapi aku itu bingung harus jawab apa. Takut membuatnya tersinggung, kalau aku jawab juga. Lagian aku tidak akan lama di sini. Aku gak betah kalau di kampung, entah kenapa. Jujur saja aku lebih nyaman tinggal di Jakarta."Kata Anah.


Memang semenjak di Jakarta Anah selalu tidak betah di tanah kelahirannya. Selalu bayangan tinggal di Jakarta lah yang ada di pelupuk matanya. Yang sebelumnya ia ingin berada di kampung sebulan, baru 4 hari saja sudah tidak betah. Padahal ini kampung di mana ia lahir, dan tempat bapaknya berjuang hidup.


"Oh berarti nanti kalau nikah pun sampean tidak akan tinggal di sini?" tanya Asri.

__ADS_1


"Kalau itu aku belum tau, kan jodoh kita belum tau dapat orang mana."Jawab Anah.


*****Bersambung.....


__ADS_2