TAKDIR KU

TAKDIR KU
87.HEHEHE LUCU PAK


__ADS_3

Padahal pak Jumadi tau kemana mamaknya pergi, hanya basa basi pada putrinya. Agar putrinya tidak terlalu memikirkan Nenek yang kurang baik.


"Ya sudah sekarang kalian tidur siang jangan main dulu." Menatap Anah yang menjawab dengan anggukan. "Kamu masak apa hari ini, bapak mau makan lapar nih?"tanya pak Jumadi.


"Aku masak sayur santan daun singkong aja pak. Apa bapak mau kopi biar aku buatin?"tanya Anah.


"Boleh tapi sebentar kopi ini yang buat bapak khusus. Jangan kopi yang di toples dapur ya."Kata pak Jumadi, sambil menyerahkan bungkusan kopi bubuk.


"Ya pak, tak buatin ya."Kata Anah.


Anah dan pak Jumadi, masuk ke dapur bersama. Namun berbeda tujuan,pak Jumadi mengambil nasi dan sayur lalu duduk di kursi yang ada di dapur.


Sedangkan Anah membuat kopi, sesuai pesanan bapak nya. Setelah membuat kopi kini anah duduk di ranjang menunggu bapak nya. Monik tiduran di ranjang juga mereka berdua menunggu bapaknya. Rindunya terhadap bapak, membuat mereka ingin tidur di temani bapaknya.


"Kok belum tidur sih hari kalian boleh tidur, tenang tidak akan di marahin Nenek kan ada bapak." Ujar pak Jumadi.


"Iya pak aku nunggu bapak pengen di peluk bapak tidurnya." Anah dan Monik kompak mengharapkan tidur di peluk bapaknya.


"Oh... Ternyata nunggu bapak to. Lah terus bapak peluk siapa dulu nih?" Pura-pura tidak tau.


Monik berpikir mau duluan gak enak sama mbaknya. Walau mbaknya pasti ngalah, dan pasti mbaknya akan bilang dia yang selalu harus ngalah.


"Bapak di tengah."Ucap Anah.


Pak Jumadi pun menuruti perintah Anah, dan merentangkan kedua tangannya. Kedua bocah itu merebahkan kepalanya di lengan bapaknya. Tangan kanan Anah berada di dada bapaknya, begitu juga Monik tangan kiri nya di dada bapaknya.


Tak lama kedua bocah itu tidur, karena usapan tangan pak Jumadi di kepala keduanya. Pak Jumadi pun merasa lelah juga dengan perjalanan pulang tadi. Di tambah kurang tidur semalam karena harus menemani putranya yang bergadang.


Jam menunjukkan pukul 3 sore, namun pak Jumadi belum bangun. Lebih tepatnya males dan ingin tau bagaimana reaksi mamaknya.

__ADS_1


Mendengar pintu terbuka pak Jumadi menutup matanya. Ia tau pasti mamaknya yang baru pulang, dengan hobinya yang paling tidak ia sukai.


Terkejut dengan bocah dua itu ada dalam dekapan bapaknya. Anaknya pulang dari rantau bukan senang tapi pias.


Ia segera ke dapur melihat piring dan gelas bekas anaknya makan dan ngopi. Lalu dia cuci dan melihat sudah ada sayur pasti Anah yang masak.


Dengan inisiatif sendiri karena tidak ada lagi makan. Anah dan Monik masak pulang sekolah tadi. Lalu di buka tudung saji, nasi tinggal sedikit. Segera ia masak tidak akan menyuruh Anah lagi. Karena ada bapak sudah pasti nempel terus, dan karena takut pada anaknya juga.


setengah jam kemudian Anah sudah bangun, tidak langsung bangun malah mainin dada bapaknya.


Ya pak Jumadi tadi sebelum tidur tidak pakai baju. Karena gerah dan bajunya bau kendaraan di lepas saat mau tidur.


"Geli nduk kalau mau bangun pintar banget ya cari caranya."Ujar pak Jumadi, sambil tersenyum pada anak sulungnya.


"Hehehe lucu pak, enak lagi mainan ini." Kata Anah yang masih memainkan dada bapaknya.


"Wes lah geli bapak, awas bapak mau mandi terus sholat ashar."Kata pak Jumadi menyingkirkan tangan Anah.


Tapi bukan Anah namanya jika tidak ngintilin bapaknya.


"Pak kok orang laki-laki susunya gak gede sih, kecuali gendut?"tanya Anah sambil bersandar di tiang timba sumur.


"Ya gak bisa lah yang bisa cuma perempuan. Kenapa bangun tidur, malah di tanya yang aneh sih bapaknya?"tanya pak Jumadi, heran sama Anah. Jika sudah membahas sesuatu sulit berhenti jika belum tuntas dan jelas.


"Ih bapak bukan jawab malah ngomel."Anah cemberut.


"Kan sudah di jawab tadi gimana to?"tanya pak Jumadi, tau anaknya tidak pus dengan jawaban itu.


"Iya tapi jawabnya itu seperti kurang lengkap, coba apa alasannya."Kalau sudah begini pusing deh pak Jumadi.

__ADS_1


"Alasannya ya kamu salah, kenapa tanya itu sama bapak?"tanya pak Jumadi, memutar balik tanya.


"Sebel sama bapak, kalau aku gak tanya sama bapak tanya sama siapa? apa sama lek War, kan dia juga belum tua. Yang aku tanyakan hanya orang tua yang tau."Semakin kesal sama bapaknya.


Nenek yang di dapur cekikikan, mendengar Anah bikin mumet anaknya.


Pak Jumadi yang tau perbuatan maknya, langsung lempar ke pertanyaan anaknya pada maknya.


"Eh begitu ya? bapak aja gak tau jawabannya, makanya bapak gak bisa jawab nduk. Kenapa tidak tanya sama nenek aja, kan nenek lebih tua dari bapak pasti lebih tau jawabannya."Dengan tersenyum puas penuh kemenangan.


"Waduh kenapa aku bisa lupa ya." Anah menepuk dahinya. "baiklah pak silahkan mandi aku mau tanya sama nenek aja." Kata Anah dan langsung masuk duduk di dekat neneknya yang lagi makan sirih. Sebenarnya jijik lihat neneknya yang lagi maka sirih. Tapi rasa ingin tahunya mengalahkan rasa itu.


"Kenapa jadi ke nenek? itu akal-akalan bapak mu aja gak mau jawab."Kata nenek.


Belum juga Anah ngomong pak Jumadi langsung teriak sambil mandi. "Beneran Mak aku gak ngerti jawab nya." Untuk meyakinkan Anah, bahwa dirinya tidak bisa menjawab.


"Iya Nek tuh bapak kan lebih kecil dari Nenek. Badannya aja gede karena bongsor, jadi tidak bisa jawab. Nenek itu kecil tapi lebih tua, dan udah keriput lagi. Jadi kecil-kecil cabe rawit, pasti tau jawabannya. Kalau bapak itu gede tinggi ganteng tapi bodoh, karena tidak ngerti apa-apa." Celoteh Anah.


Pak Jumadi dan Nenek ternganga sedetik kemudian mereka kompak Membentak Anah.


"Kurang ajar sama orang tua tidak sopan banget!!!"bentak Nenek dan pak Jumadi, Nenek langsung menoyor kepala Anah, pak Jumadi bertolak pinggang sambil menatap tajam Anah.


"Kan aku ngomong bener, Kata orang kalau kecil tua itu cabe rawit. Biar kecil berisi, kuat pinter serba bisa. Tapi belum tentu yang gede, badan boleh gede tapi pikirannya masih kayak anak kecil banyak gak taunya."jelas Anah.


"Aku sering dengar orang ngomong begitu kenapa Nenek dan bapak marah? Tar cepat tua terus mati lo."lanjut Anah.


Pak Jumadi langsung ambil wudhu dan sholat sudah tidak bisa melanjutkan debat dengan anaknya.


Sedangkan Nenek mau tidak mau harus jawab pertanyaan Anah. Jika tidak sampai magrib pun tidak selesai debat.

__ADS_1


Jika tidak ada anaknya tidak akan di ladeni itu pertanyaan Anah. Iya yakin Anah merasa ada kesempatan, untuk berdebat dengan nya karena ada bapaknya.


*****Bersambung.....


__ADS_2