TAKDIR KU

TAKDIR KU
67.ANAH SUDAH BANGUN


__ADS_3

Apa? Alhamdulillah.... ya allah."Langsung bu Sarinem mencium kening dan kedua pipi anah. Betapa senangnya ia melihat putrinya yang kini sudah lewat dari koma selama 2 minggu."Terima kasih ya allah sudah memberikan kesembuhan anak kami."Bu Sarinem berucap syukur kepada sang pencipta.


"Apa Anah sudah bangun Jum?"tanya Nenek yang tiba-tiba muncul dari kamarnya.


"Iya mak alhamdulilah Anah bangun."Jawab pak Jumadi.


"Ya sudah kita sholat yuk keburu habis waktu subuh. Nduk bapak dan ibu sholat dulu ya di temani sama nenek ya?"pamit pak Jumadi, langsung berlalu pergi ke sumur.


Sedangkan nenek langsung duduk di dekat Anah, menatap lekat cucunya."Terima kasih ya allah engkau berikan kesembuhan cucuku. Aku akan berusaha untuk menjadi nenek yang lebih baik."Kata hati Nenek, tangan terulur menyentuh kening Anah.


"Nduk mana yang sakit, sini nenek pijit. mungkin pada pegal-pegal kaki punggung atau lengan?"bertanya dengan nada lembut dan hati-hati.


Anah menatap lekat nenek, antara percaya dan tidak. Apakah benar ini neneknya, karena setau anah nenek galak dan kejam. Tapi ini berbicara dengan lembut, apa karena ada bapak dan ibu. Itulah yang di pikirkan Anah, dia ragu untuk menjawab pertanyaan neneknya.


Akhirnya Anah menjawab dengan menggeleng kepala tanpa suara.


Beberapa saat kemudian pak Jumadi kembali ke ruang tamu.


"Mak, dah sekarang mamak yang sholat."Kata pak Jumadi.


Lalu pak Jumadi mengeluarkan kursi kayu panjang di halaman rumah. Melihat posisi yang pas dengan sinar matahari.


Masuk kembali, lalu mengangkat Anah dalam gendongan. Di bawanya bantal dan selimut, karena masih pagi udara masih dingin. Pak Jumadi meletakkan bantal di kursi dan merebahkannya Anah di atas kursi. Kemudian menyelimuti Anah, pak Jumadi duduk ia lalu memangku kaki Anah.


"Di sini ya nduk, kita berjemur biar cepat sembuh. Mau sekolah lagi kan?" tanya pak Jumadi.


Anah diam dan menatap bapaknya lalu mengangguk tanda dia mau sekolah. Dengan tersenyum walau rasa berat karena masih lemah.


Pak Jumadi membalas senyuman anaknya, tentu senang pak Jumadi. Anah sudah bisa berinteraksi lagi, walaupun Anah sudah dua mingguan tidak sadarkan diri. Tapi tidak lupa dan tidak ada yang kurang sedikit hanya nunggu pulih saja. Karena memang sudah dua hari ini badannya Anah tidak panas lagi. Namun rambut anah tinggal sedikit karena rontok. Sebelum sakit, Anah rambutnya panjang sebahu dan tebal mengembang.


"Sekarang Anah minum teh anget ya? biar tidak dingin dan cepat sembuh."Kata bu Sarinem yang baru keluar rumah. Dengan membawa teh anget buat Anah dan kopi buat pak Jumadi.


Ya teh yang di bawakan bu Sarinem, bukan teh biasa. Tapi teh yang sudah di campur dengan bubuk cacing tanah.

__ADS_1


Bu Sarinem menyuapi Anah dengan telaten, karena haus dan merasa manis Anah habis setengah gelas.


Setelah memberikan teh pada Anah, bu Sarinem masuk lagi, dan masuk ke dapur. Ia kini memasak bubur sumsum dan pelengkapnya. Supaya Anah mau makan ia juga membuat sayur bening bayam. Siapa tahu Anah ingin makan nasi, lalu ikan asin dan sambel terasi.


Jam menunjukkan pukul setengah tujuh, waktunya anak-anak ramai berangkat sekolah. Di seberang jalan Warto melihat pak Jumadi ngobrol dengan seseorang yang lagi tiduran di kursi. Ia pun penasaran, maka dia menghampiri pak Jumadi. Ketika sampai ia merasa senang, karena orang yang ia rindukan telah bangun dari tidur panjangnya.


"Assalamualaikum lek, Anah."Dengan wajah gembira.


"Wa'alaikumsalam War, mau berangkat ya?"tanya pak Jumadi pada Warto.


"Wah Anah sudah bangun ya. Cepat sembuh ya An, nanti kita berangkat sekolah bareng lagi ya."Celoteh remaja itu.


Anah hanya mengangguk dan tersenyum manis walaupun dengan lemah. Namun tidak mengurangi rasa senang ketika mendengar di ajak sekolah.


"Ya sudah lek, saya berangkat sekolah dulu. Dada Anah cepat sembuh semangat."Dengan mengepalkan tangannya ke atas, memberikan semangat untuk Anah.


Lalu dia segera berjalan dengan hati riang gembira. karena sang pujaan hati sudah sadar dari tidur panjangnya.


"Waaaaaaahhh gawat nih ada yang lagi gila!"Kata Ari dengan nada tinggi tapi bercanda.


"Ya elah bercanda War, gitu aja ngambek. emang kamu itu lagi senang kenapa sih War?"tanya Ari dengan penasaran, karena beberapa hari ini Warto terlihat murung. Tapi kali ini Warto terlihat segar bahkan gembira sekali.


"Mau tau aja kamu Ar,"sedikit ketus namun tersenyum.


"Yeee ni orang bikin penasaran aja. Jangan sampai aku mati karena penasaran deh War."Kata Ari yang memang penasaran.


Tidak terasa mereka sudah memasuki halaman sekolah. Warto yang melihat Angga, langsung memanggil dan menghampiri.


"Angga,"sedikit berteriak dan ia mendekat "Ngga ada kabar baik, Anah hari ini sudah bangun dari tidur panjangnya."Ujar Warto.


"Hah?... beneran mas, Anah sudah bangun?"Angga memastikan.


"Iya aku tadi sebelum berangkat menghampiri dan menegurnya."Jawab Warto.

__ADS_1


"Alhamdulillah akhirnya Anah sembuh. Anah masih hidup."Kata Angga.


"Iya alhamdulilah, eh ngomong-ngomong siapa yang bilang Anah gak sembuh dan akan meninggal Ngga?"tanya Warto.


"Tu dari mamak-mamak yang suka ngomong, kalau Anah belum tentu bisa hidup tanpa bantuan dokter dan di bawa ke rumah sakit mas."Jelas Angga.


"Yah itu mamak-mamak banyak omong kamu denger. Kalau mamakku bilang ya Ngga, banyak yang mendoakan Anah biar cepat sembuh. Orang yang ngomong begitu pasti orang yang tidak baik. Nanti kita kasih tau bu guru dan pak guru.


Klenteng... Klenteng..."(Anggap saja bel sekolah jaman tahun 90 an ya teman-teman)"


"Sudah bel kita masuk kelas Ngga."Ujar Warto.


"Ya mas, sampai jumpa di rumah Anah." Angga langsung lari ke kelasnya.


...****************...


"Nih cah ayu maem dulu ya!"Ujar Nenek, yang sudah membawa mangkok kecil berisi bubur sumsum plus kuahnya.


Anah hanya menatap nenek dengan datar. Anah masih bingung dengan sikap neneknya yang berubah.


"Ayo makan nanti minum obatnya ya."Pak Jumadi yang tau anaknya bingung dengan perubahan neneknya. Pak Jumadi pun tidak yakin mungkin hanya 60% perubahan maknya.


"Dah Mak, biar aku yang suapin Anah, mungkin kangen ya pengen di suapin sama bapaknya."Pak Jumadi mengambil alih mangkok bubur itu.


"Ya sudah makan yang banyak ya biar cepat sembuh nanti bisa sekolah lagi."Nenek pun berlalu.


Bu sarinem kini datang dengan membawa obat untuk Anah. Di buatkan pula penawar juga, yang bu Sarinem buat dari gula pasir dan air hangat.


Anah hanya makan beberapa suap saja langsung minum obat yang yang menurutnya pahit.


Bismillahirrahmanirrahim , aaa,"ucap bu Sarinem.


"Pa..pa hit bu ..." Ucap Anah.

__ADS_1


"Iya nih minum air gula biar gak pahit."Langsung menyuapi Anah dengan telaten.


sesudah bu Sarinem ke sumur untuk mencuci pakaian bersama nenek. Nenek yang menimba air, supaya nanti menantunya tidak menimba.


__ADS_2