TAKDIR KU

TAKDIR KU
142. KENAPA MARIANA HARUS PULANG


__ADS_3

Hari ini Izah sudah sampai di Tanggerang Selatan, tepatnya di rumah majikannya Imah. Ia pun menjelaskan maksud kedatangan nya untuk menjemput bibinya.


Setelah itu ia istirahat lebih dulu, karena ia sampai sekitar subuh tadi. Sehingga ia perlu bersihkan diri lebih dahulu.


Sekitar pukul 9:30 pagi, Izah berangkat ke Jakarta barat untuk menjemput bibinya. Perjalanan satu jam setengah, karena perjalanan arah ke tempat kerja bu Sarinem. Sudah langganan macet, sebenarnya jika tidak macet dan supir angkot tida ngetem. Kurang dari satu jam sudah sampai, begitu lah perjalanan Jakarta.


Setelah sampai ia pun menyampaikan maksud kedatangan, supaya bibinya juga bisa pulang tidak di tunda-tunda. Dan mereka merencanakan alasan yang harus di sampaikan berbeda. Supaya bibinya juga tidak terkena masalah saat keluar dari tempat kerjanya.


"Apa sebelum mbak Inem tidak pamit sama suami?" tanya bu Ranti.


"Sebenarnya saya pamit bu. Tapi mungkin anak saya, yang selama ini tidak pernah jauh dari ibunya." Jawab bu Sarinem.


"Susah memang kalau seusai anak ibu. Kalau seperti ini saya juga tidak bisa memaksa mbak Inem. Apa lagi saya juga seorang ibu, tidak ke bayang deh. Jika saya harus pergi jauh, mungkin anak saya pun sama."Kata Bu Ranti.


Sebab ia pun tidak ingin suatu hari nanti mengalami seperti bu Sarinem. Hanya karena faktor ekonomi mereka harus berjauhan dengan anak. Begitu pula dengan suaminya, jika memilih untuk egois juga yang ada suaminya akan mencari perempuan lain. Untuk mengurus dirinya dan anaknya, tapi kebanyakan ibu tiri tidak sayang pada anak tiri.


"Terima kasih ya bu, maafkan saya jika sudah banyak salah dan mengecewakan ibu."Ucap bu Sarinem.


"Sama-sama mbak, saya juga minta maaf ya kalau selama mbak kerja. Ada perilaku saya dan suami yang tidak menyenangkan atau menyakiti hati mbak."Ucap bu Ranti, ia pun takut kalau ada ucapan yang menyakiti hati pembantunya.


"Iya bu sama-sama, kalau begitu saya bereskan pakai saya dulu."Pamitnya.


Izah pun menunggu di ruang tamu main dengan anak bu Ranti. Sambil menunggu bibinya selesai beberes dan ganti baju.


"Iya mbak silahkan."kemudian bu Ranti pun masuk ke kamar untuk mengambil gaji pembantu nya. Tapi dirinya juga menelpon suaminya dan membicarakan tentang ke pulangan bu Sarinem.

__ADS_1


"Mbak ini gajinya saya pasin satu bulan."kata bu Ranti.


"Terima kasih bu, tapi kan saya belum genap satu bulan bahkan baru dua minggu ini."Kata Bu Sarinem.


"Tidak apa-apa mbak, lebihnya untuk tambahan mbak ongkos pulang kampung." Kata bu Ranti, ada perasaan sedih juga. Karena harus kehilangan pembantu seperti bu Sarinem. Sebab ia sangat cocok dengan bu Sarinem. Tapi sayang bu Sarinem hari ini harus berhenti bekerja.


"Kalau begitu saya ucapkan terima kasih banyak bu. Saya pamit pulang ke kampung, assalamualaikum."Ucap bu Sarinem diikuti Izah.


"Wa'alaikumsalam, hati-hati ya mbak, Izah."Ucapnya dan di angguki oleh bu Sarinem dan Izah.


Mereka langsung menuju ke tempat kerja Anah. sekarang jam menunjukkan pukul setengah satu siang. Dan perjalanan menuju ke rumah majikannya Anah pukul 2 siang. Izah dan bu Sarinem menyampaikan maksud kedatangan nya sama. Namun sedikit berbeda, karena mereka harus bisa membawa pulang Anah.


"Tapi kenapa Mariana harus pulang mbak? padahal Mariana itu mulai betah di sini, dan saya pun sangat senang Mariana di sini. Saya tidak pernah menganggap Mariana orang lain. Begitu pun dengan suami saya, anak-anak mengganggap keluarga." Kata bu Ida, tampak kecewa dengan Mariana yang harus pulang sekarang.


"Habis itu pesan bapak Anah bu, kalau pulang Anah harus di bawa jika tidak maka bapaknya akan jemput ke sini. Anah memang anak kesayangannya bapak nya. Bapak nya merasa kehilangan semenjak Anah tidak ada di rumah. Saya sebagai istri juga tidak bisa menolak permintaan suami saya."Ucap bu Sarinem, ia sediri bingung harus bagaimana. Jika ia bertahan di sini, takut suaminya nekat. Karena memang sudah tau karakter suaminya.


"Iya bu, maaf ya saya harus pulang. Sebelum bapak buat keributan di rumah ibu."Ucap Anah.


"Iya, ya sudah sekarang kamu bereskan pakaian mu apa mau di bantu dengan ibu mu?" tanya bu Ida, Anah menggeleng kepala dan beranjak dari duduknya.


Anah menuju belakang rumah untuk mengambil pakaian di jemuran. Ya pakaian yang tadi di cuci, kebetulan hari ini cerah. Jadi pakaiannya kering semua, sehingga tidak haru memisahkan antara pakaian kering dan basah.


Setelah selesai ia pun pamit pulang dan gaji Anah pun di kasih satu bulan penuh. Dan yang pegang ibunya, karena tidak ingin uang yang hasilnya kerja hilang.


"Bu terima kasih selama ini sudah menganggap Anah seperti keluarga sendiri."Ucap bu Sarinem.

__ADS_1


"Iya mbak, hati-hati ya di jalan."menyambut uluran tangan bu Sarinem, Anah dan Izah.


"Assalamualaikum," ucap ketiga nya.


"Wa'alaikumsalam,"jawab bu Ida, menatap kepergian Anah dan ibunya hingga tak terlihat lagi.


Setelah pergi dari rumah majikannya Anah langsung menuju pulang. Menunggu mobil yang semalam Izah tumpangi di sebuah halte.


Tepat jam 4 sore mereka bertiga berangkat ke Lampung kampung halaman mereka.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih seharian lebih. Sampai di Lampung, Izah langsung pulang ke rumah tidak iku bibi nya pulang. Dan bu Sarinem pulang bersama Anah, ke rumah mereka. Jam 12 Anah dan ibunya sampai rumah dengan satu tukang ojek.


Begitu turun dari motor, langsung di teriakin oleh Udin. Udin sangat senang ketika melihat ibunya dan mbaknya pulang ke rumah.


"HORE IBU DAN MBAK PULANG."Teriak Udin, yang langsung loncat menghampiri ibunya. Di peluknya dengan erat, bu Sarinem pun membalas pelukan putranya.


Anah masuk dengan membawa tas-tas pakaian mereka berdua.


"Mbak Anah terlihat putih dan tambah cantik."Kata Monik, melihat mbaknya yang tampak cantik putih bersih.


Ya memang Anah terlihat lebih cantik, putih bersih, walau pun belum sehari semalam. Anah tidak langsung mandi atau mencuci muka. Tapi malah merebahkan diri di ranjang ruang tamu. Karena kepalanya sangat lah pusing dan terasa pegal-pegal seluruh badan.


"Mbak mabuk ya?"tanya Monik, melihat mbaknya sangat lemas.


"Tidak Mon, tapi kepala ini rasanya mau pecah."Jawab Anah.

__ADS_1


Tidak lama ia tertidur, karena kelelahan maka tidur dengan pulas. Sementara bu Sarinem kini langsung merebahkan diri di samping Anah. Bersama Udin yang sejak datang tadi nempel terus.


__ADS_2