
"Insya allah ada, emang Anah minta apa kok sampai takut bapak gak belikan."Ujar pak Jumadi.
"Aku mau ngaji pak, kalau ngaji harus punya turutan itu yang buat baca ngaji. Terus mukena yang buat sholat yang kayak punya ibu. Kerudung masak aku ngaji gak punya kerudung. Sama sepeda buat sekolah sama buat kalau suruh ke warung aku jadi gak jalan."Celoteh Anah menyampaikan keinginannya.
"Iya nanti kalau sudah sembuh betul bapak dan ibu akan cari di pasar besar yang di kecamatan. Kan yang jual sepeda memang di sana. Sekarang makan dulu nih sudah di bawakan sama ibu. Mau di suapin apa makan sendiri, kalau minta di suapin ya bapak mau kok."Ucap pak Jumadi dengan tersenyum.
Anah baru sadar bahwa dirinya di tonton teman temannya. Hal itu membuat Anah malu, pasti akan di bilang cengeng.
Aku makan sendiri aja pak."Kata Anah
Monik Langsung mendekat.. untuk bicara pada bapaknya. Dan bergelayut manja tanya juga ada ya ia mau.
"Pak aku juga mau kaya mbak ya!"rengek Monik.
"Memang kamu mau apa kan mbak dapat hadiah biar semangat untuk sembuh dan belajar. Monik boleh minta tapi gak boleh sama, nanti kalau ada sisa buat beli yang mbak mau. Bapak beliin buat Monik, coba sekarang bilang mau apa?"tanya pak jumadi.
Aku juga mau ngaji dan punya mukena juga, sama turutannya."Kata Monik.
"Iya nanti bapak beliin."Pak Jumadi bernafas lega, sempat tegang tadi saat Monik minta sama dengan Anah.
Bu Sarinem pun sama halnya dengan pak Jumadi. Sempat tegang jika permintaan Monik sama maka belinya pakai apa pikirnya. Kalau Anah ada sebagian uang dari orang yang menjenguk Anah kemarin. Maka tinggal nambahin berapa kurangnya, kalau Monik pasti harus punya modal sendiri.
"Yeee, nanti aku gak mau ya pak kalau sekolah di sana, aku mau sekolah di sini sama mbak."Kata Monik.
Sebenarnya Monik sudah sekolah, namun masih anak titipan. Karena belum bisa jika tidak naik kelas juga tidak apa-apa. Itu perjanjian pak Jumadi dan kepala sekolah di sana. Bahkan Monik masih belum bisa mengikuti pelajaran. Masih semaunya sendiri, menulis atas kemauannya. Tidak mengikuti di papan tulis seperti teman temannya.
__ADS_1
"Ya nanti bapak harus bilang dulu sama pak kepala sekolah ya. Menuruti apa pun yang di minta Monik.
Anah yang sebenarnya iri, dari kecil dia harus selalu mengalah dari Monik. Ya walau pun yang di minta anah selalu di belikan yang lebih bagus dari milik Monik.
"Emang Monik sudah sekolah juga ya pak?" ingin tau pastinya tentang Monik.
"Iya tapi Monik masih belum bisa mengikuti pelajaran yang diberikan guru. Mungkin kalau di sini nanti bisa kan Anah juga bisa jadi contoh buat adek."Perkataan pak Jumadi langsung masuk ke pikiran anah.
Ya memang pada dasarnya anak pertama selalu jadi patokan untuk kedua orang tuanya dan adik-adiknya. Itu yang ada dunia nyata bukan karena di film atau novel saja. Itu menurut pandangan author ya teman teman. Karena author melihat di sekitar, author pun anak pertama. Pribahasa nya buat batu sandungan keluarga.
"Ya pak, nanti biar Monik aku ajar nulis biar gak di bilang bodoh."Kata Anah mau bagaimana pun dia juga tak mau adiknya di hina orang.
"Lek war, johan, mas angga, kok jadi di dalam. kalian gak mau main lagi atau pulang gitu?"Anah mengusir secara halus karena malu tadi di tonton. Johan yang nyambung pun langsung meledek. Sifat jahil nya meronta-ronta, jika dia tidak jahil apa lagi sama Anah.
"Alah bilang aja malu karena kami melihat kamu yang cengeng. Tapi gak papa lah kita di usir yang penting dan nonton film gratis."Sambil tersenyum meledek Anah.
"Ya iyalah kan aku gak harus ngecas aki yang habis buat nonton film, hahahaha."Tertawa terbahak-bahak.
"Jo aku bilang ke bapak mu nanti, kalau kamu itu sudah bikin aku sakit."Ancam Anah, yang membuat Johan kincep.
"Eh jangan fitnah ya An, aku kan tidak jatuhkan kamu lagi, juga gak mencubit kamu mana ada yang sakit."Protes Johan.
"Ada jo, sakitnya tu di sini, sesak banget dadaku setiap kamu itu bikin aku kesel dan dongkul." Kata Anah sambil menunjuk dadanya.
Johan berpikir akan perkataan Anah, sesak di dada setiap kesel dan dongkol. Itu dia rasakan ketika ibu dan bapaknya membela Anah.
__ADS_1
"Iya deh maaf, aku pulang."Johan langsung pulang. Sepanjangan jalan pulang ia pun ngoceh, jarak rumah johan hanya 60 meter jika dia nerobos jalan setapak. Karena kalau mengikuti jalan besar jalannya muter, jadi 200 meter.
Yang lain pada geleng-geleng kepala. Hingga si Warto mengatakan Johan dan Anah seperti film kartun lucu.
"Lek, Anah dan Johan itu kayak film kartun lucu Tom and Jerry. Berantem terus tapi kalau gak ketemu sehari saja saling merindukan. Dan kalau ada yang kesusahan mereka saling bantu satu sama lain."Kata Warto pada pak Jumadi, sambil tersenyum manis pada Anah.
Anah yang belum pernah nonton di TV atau kaset CD pun tidak tau itu film apa. Ketika Warto bilang dia seperti Tom and Jerry pun bingung.
"Itu film apa sih lek?"tanya Anah yang bingung, setau Anah film Kadir dan Doyok, Dono Kasino Indro, Benyamin. Tidak tau ada film kartun.
"Itu film banyak yang suka, bahasa Inggris. Dari orang tua sampai anak-anak kalau nonton pasti perutnya sampai sakit."Jawab Warto.
emang itu ceritanya tentang apa sampai perutnya sakit. Kalau bikin perut sakit kenapa di tonton lek, eh kaya nonton film Kadir dan Doyok ya lucu?"tanya Anah yang makin penasaran.
"Beneran mau tau?" tanya Warto, sambil tersenyum.
"Iya sekalian nanti ajak aku buat nonton ya lek."Antusias Anah, karena pengen tau.
"Iya nanti kalau ada yang nikahan atau sunatan. Karena kalau sekarang lagi tidak ada, jadi tidak bisa. Tapi nanti kalau yang punya kaset CD nya bisa sewa, kita sewa dan nonton tempat Johan."Jelas Warto.
Pak Jumadi hanya mendengar obrolan mereka bersama yang lain yang masih di ruang tamu.
"Emang film kartun selucu apa sih lek? gambar CD nya apa?"semakin penasaran.
"Itu film lucu, gambar animasi kucing dan tikus. Si kucing itu namanya Tom dan tikus namanya Jerry. Judul film kartun nya, Tom and Jerry. hahahaha"Warto tertawa terbahak-bahak, sama Angga dan yang lain.
__ADS_1
Pak jumadi yang belum pernah melihat pun bingung. yang pak Jumadi tau film pendekar dan suzana.
*****Bersambung....