
"Aku gak suka sama Anah ya pakde, sampai nanti aku besar aku gak akan jadi suaminya."Langsung balik badan dan masuk rumah lalu membanting pintunya.
Bruk
"Oh... semprul bocah gemblung ora sopan babar blas sama orang tua."Pak Edi Ngoceh dengan logat Jawa, sangking kagetnya dengan ulah Johan.
"Dah Iyan ayo pergi, benar-benar tidak mencerminkan anaknya Rudi dan Nining. Ngidam apa dulu Nining saat hamil dia, kalau anakku sudah tak buang itu anak."Ocehan pak Edi masih terdengar oleh Johan.
Dan membuat Johan tambah kesal, hingga dia punya ngoceh di dalam.
"Masih untung aku bukan anaknya, jadi aku gak di buang. Kenapa sih semua orang selalu membela mu Anah? Pokoknya awas aja kalau dia datang harus dapat hukuman dari ku."Johan benar-benar jengkel sama Anah.
Hingga malam harinya Johan menunggu kedatangan Anah tidak juga datang.
Rupanya Anah nonton TV di rumah pak Yadi, mereka bertiga yaitu Warto Anah dan Monik. Seperti biasa Warto jadi pengawal mereka, meski sekarang Warto sudah jarang main lagi dengan Anah.
Ya memang Warto memasuki fase remaja dan sudah SMP jadi lebih tertarik dengan masanya. Kadang mereka nonton TV di rumah Johan, kadang juga tidak pergi karena banyak PR sekolah.
Nenek datang ke rumah pak Rudi untuk jemput Anah, yang mana jam sudah menunjukkan pukul 9:10 malam. Anah dan Monik belum pulang, karena takut ke malaman dan besok kesiangan.
Sampai di rumah pak Rudi Nenek memanggil nama cucunya dengan nada sedikit tinggi dari samping rumah pak Rudi.
"Anah Monik sudah malam."Panggil Nenek, dan itu mengagetkan orang yang masih pada nonton.
"Nek Anah dan Monik tidak ada di sini."Kata Yanto.
"Mungkin Anah dan Monik nonton di rumah pak Yadi Nek."Timpal Iyan yang tau perkara Johan dan Anah.
"Kok kamu tau, apa tadi melihat mereka?"tanya Nenek.
"Iya Nek tadi saya papasan pas saya mau ke sini. Dia bertiga sama Warto, mungkin Anah tidak mau ribut lagi sama Johan jadi ke sana."Jawab Iyan.
__ADS_1
Dari pernyataan Iyan menarik perhatian pak Rudi dan istrinya.
"Maksudnya ribut apa Yan?"tanya pak Rudi.
Sedangkan yang di bahas namanya sudah tegang, dan langsung ngedumel dalam hati.
"Kurang ajar, dasar maling. Pasti dia menghindar dari aku, tau aja aku suka siap mau pelintir itu tangannya. Awas aja masih maling lagi tak kejar sampai dapat dan pelintir itu tangannya sampai patah. Biar tau rasa, perempuan masih kecil aja sudah maling bisa-bisa gede gadi garong (rampok)." Johan mengerutuk dalam hati.
"Ini lagi lek Yan pakai ngomong begitu, seneng banget kalau aku di marahin." Kini Johan menatap Iyan dengan kesal.
Yang di tatapnya malah tersenyum, senyuman itu adalah sebuah ejekan untuk Johan.
"Kan tadi siang Anah ribut sama Johan mas."Jawab Iyan.
"Ribut kenapa Han?" tanya pak Rudi.
"Biasa pak kalau musim rambutan Anah itu maling. Alasannya nutur, kalau gak ketahuan juga metik yang di pohon. Tadi aja dia main petik, udah dapet kabur. Aku uh benci banget sama selalu semaunya sendiri."Kata Johan.
"Kamu itu yang kebiasaan, biar aja dia metik kan dia gak punya pohon rambutan Han. Jangan pelit, kita punya pohon gak cuma satu. Itu ladang juga banyak pohon rambutan, kamu gak bakal kekurangan buat makan rambutan. Biar pun Anah habis sepohoh juga tidak masalah Han. Belajar lah untuk berbagi, kita tidak bisa berbagi yang lain adanya rambutan. Maka bagi lah dengan orang lain yang tidak punya pohon rambutan."Nasehat pak Rudi.
Pak Rudi dan bu Nining kaget dengan perkataan Johan, mereka malu sebagai orang tuanya. Karena mereka tidak pernah mengajarkan Johan yang tidak baik, seperti yang di katakan Johan.
Nenek yang masih di situ jadi tau apa yang membuat Anah kesal tadi siang. Dan minta neneknya beli jangan minta pada keluarga Johan.
Nenek yang mendengar suara anak-anak lari lewat belakang rumah pak Rudi langsung menoleh. Dan langsung pergi dari rumah itu, karena tau anak-anak itu adalah Warto dan kedua cucunya.
"Ya sudah aku pulang itu bocah-bocah sudah pulang lewat belakang."Pamit Nenek lirih.
"Iya Nek"sahut Iyan dan Yanto, yang mendengar ucapan Nenek.
"Astaghfirullah Johan, kamu itu sudah bicara apa? bapak tidak pernah mengajarkan kamu berkata seperti itu. Kamu harus minta maaf sama Anah besok bapak tidak mau kamu jadi anak tidak baik, paham!"bentak pak Rudi.
__ADS_1
"Sampai kapan pun aku tidak akan minta maaf sama dia, dia musuh ku. Sekilo musuh ya tetap musuh. Apa lagi bapak yang selalu membela dia dari pada anak sendiri. Sebenarnya yang anak bapak itu aku atau dia sih. Aku benci Anah pak sampai kapan pun jangan harap aku maafkan dia titik!"bentak Johan pada bapaknya.
Johan langsung masuk kamar dan nangis tersedu-sedu.
Semua yang masih nonton langsung pulang, mereka merasa tidak enak mendengar penuturan Johan. Mereka pulang setelah Nenek pamit, mereka pun segera pulang namun tidak lang pulang.
Mereka berhenti di jalan yang tidak terlihat dari rumah pak Rudi. Karena penasaran apa yang akan di katakan Johan pada bapaknya.
Dan apa yang membuat Johan begitu membenci Anah.
"Astaghfirullah ya Rabb ampunilah hamba tidak bisa mendidik anak dengan baik."Ucap pak Rudi, dengan mengelus dadanya yang terasa sesak karena ucapannya Johan.
Bu Nining menggenggam tangan suaminya dan menenangkan walaupun ia juga sakit hati dengan perkataan anak sulungnya. Meski begitu ia tetap berharap kebaikan untuk anaknya.
"Sabar ya mas kita sudah mengajarkan yang baik, mungkin suatu saat dia akan menjadi lebih baik. Kita jalani sebagai mana arus air mengalir mengikuti arah dan tujuan."Ujar bu Nining.
"Iya dek."Jawab pak Rudi, lalu menoleh sudah tidak ada yang nonton lagi.
"Mereka pergi pasti tidak enak mendengar perkataan Johan. Ya sudah malam tutup pintu dan ayo istirahat. Biar aku angkat Deni, kamu tutup pintu dan matikan TV."Perintah pak Rudi.
"Iya mas," Bu Nining bangkit dari duduknya dan melakukan apa yang di perintahkan suaminya. Lalu masuk kamar untuk istirahat, karena malam semakin larut.
...****************...
Di rumah Anah.
Anah dan Monik langsung masuk dia pikir nenek di rumah padahal lagi di luar mencari nya.
"Eh nenek tidak ada kemana ya"Kata Anah.
"Mungkin nenek ke rumah Johan, buat cari kita." Lanjut Anah.
__ADS_1
Nenek langsung ke dalam nyuruh Anah dan Monik untuk tidur supaya besok tidak kesiangan untuk ke sekolah.
*****Bersambung...