TAKDIR KU

TAKDIR KU
119.JERATAN BELANDA LOKAL


__ADS_3

"Kami sebenarnya sudah tidak ingin bekerja di tempat pak Yatno lak. Kami kerja di pak Yatno sudah tidak nyaman. Seperti saat lek Jum, masih kerja di sana. Sekarang jika kami sedang kumpul dan ngobrol. Selalu ada kata-kata yang terselip untuk merendahkan dan menyinggung perasaan kami. Dan kami merasa tertekan dengan aturan kerja sekarang. Kalau boleh kami ikut kerja di sama lek Jum saja."Keluh Seswanto mewakili para pekerja lainnya.


Karena di antara mereka Seswanto lah yang senior. Seswanto hampir dua tahun bekerja dengan pak Yatno. Dari masih pimpinan pak Jumadi, waktu awal bekerja sampai beberapa bulan lalu.


Ya pak Jumadi sudah tidak bekerja di tempat pak Yatno, kecuali kebun garapan. Seswanto sudah tau dan sering Ikut pak Jumadi, kerja di kebun yang di garap. Dan akan di kembalikan pada pemiliknya, sehingga pak Jumadi akan terlepas dari pak Yatno.


Dan itu membuat Seswanto dan Suyono, semakin yakin jika mereka tidak harus kerja lagi dengan pak Yatno. Mereka akan ikut kerja di tempat pak Jumadi saja. Jika pak Jumadi tidak terima banyak pekerja seperti pak Yatno. Maka mereka akan pulang ke kampung halaman saja.


"Apa yang membuat kalian tertekan jika kerja dan peraturan sekarang?"tanya pak Jumadi.


"Sekarang itu berangkat jam 6 pagi lek, jam makan siang jam 12 teng. Sudah itu kita harus kerja lagi jam Setengah satu. Kalau kami tidak pandai-pandai menggunakan waktu kita tidak bisa sholat zhuhur. Waktu ashar pun begitu pulang jam setengah 6 sore. Jadi kami tidak sholat ashar, dan untuk hari pertama kita harus mengqodho nya. Hari esoknya kami tidak ada cara lain selain sholat di kebun. Dengan membawa baju bersih dan sajadah, untuk sholat di pinggir kali. Semua harus bisa mempersingkat waktu, dan bisa beribadah juga."Adu Seswanto, pada pak Jumadi.


Pak Jumadi hanya mendengar keluhan Seswanto dengan menatap iba. Pada kedua pemuda yang nampak banyak beban di pundak mereka.


Karena tanpa Seswanto mengadukan nasibnya padanya, dirinya sudah tau apa yang terjadi pada bawahannya itu. Maka dari itu pak Jumadi juga mulai menjauhi pak Yatno.


"Waduh..., terus bagaimana dengan pakde Kamidin. Yang sudah biasa sholat dan zhikir?"tanya pak Jumadi, yang sudah tau kebiasaan yang dilakukan pak Kamidin.


"Iya tidak lagi melakukan itu lagi lek. Sejak itu pakde Kamidin selesai sholat langsung lanjut kerja. Karena kami di kejar waktu, kami sudah seperti maling waktu. Hanya untuk bisa melaksanakan kewajiban kita pada sang maha pencipta."Keluh Seswanto.


"Memang itu yang membuat kita menjadi bekerja di masa Belanda. Tenang kita di peras, tanpa belas kasihan."Kata pak Jumadi.

__ADS_1


"Nah itu yang membuat kami, ingin lepas dari jeratan Belanda lokal lek. Boleh ya kami ikut sampean lek?"tanya Seswanto.


"Iya lek kami tidak kuat, tapi kalau lek Jum tidak bisa tidak apa-apa. Aku akan pulang rabu besok, dan besok aku akan pamit lek. Timpal Suyono.


"Ya kalau cuma tiga orang aku masih sanggup cuma kalau 7 orang aku angkat tangan. Dan akan lebih baik, besok semua pulang dan berhenti. Dan pulang kampung saja, yang masih ada keinginan kesini. Saya tampung tapi cuma tiga gak bisa lebih. Bukan apa-apa, la aku ini bukan bos. Cuma baru mau belajar jadi bos, itu juga karena kita saling membutuhkan." Kata pak Jumadi, berkata apa adanya.


"Maksudnya kita saling membutuhkan, apa lek?" tanya Seswanto.


"Lah kan, kalian butuh kerjaan. Kalau aku butuh bantuan tenaga kalian untuk mengurus kebun to?"tanya pak Jumadi dengan memperjelas maksud dan tujuan. Tidak lupa memberikan senyuman yang khas pak Jumadi.


Anah yang mendengar obrolan tersebut, langsung berdiri lalu pergi dengan malas. Jika mendengar ucapan manis bapaknya, yang menurutnya hanya bualan saja.


Sakit hati dan kekecewaan dalam diri Anah menutup semua kebaikan kedua orang tuanya. Terutama untuk bapaknya, karena semua yang di katakan untuk dirinya hanya di bibir saja.


"Lek Jum bisa saja ngomong selalu merendah. Siapa tau ini awalnya sampean jadi bos to. Dan selanjutnya sampean jadi orang sukses juga jadi panutan kami."Pujian dan doa di lontarkan pada pak Jumadi, oleh Seswanto.


"Lah apa lagi itu? Panutan apa la aku kan tidak pantas di jadikan panutan."kata pak Jumadi.


"Aku ngomong apa yang ku dapat dan lihat lek. Sampean ini pekerja keras, pantang menyerah. Makanya sekarang sampean jadi bos kecil suatu saat jadi bos besar. Dan itu pantas di jadikan contoh atau panutan."Kata Seswanto, di angguki oleh Suyono sebagai tanda setuju dengan ucapan Seswanto.


"CK kamu ini kadang suka berlebihan, kalau lek Jum gak kuat pegang ini kursi. Bisa-bisa terbang melayang-layang kayak layanan. Yang bahaya lagi, kalau lupa sama asal dari daratan gimana?"tanya pak Jumadi sambil bergurau.

__ADS_1


"Hahahaha" Tertawa lah bertiga.


Tapi tawa mereka bertiga terhenti, ketika Anah berjalan menuju dapur. Karena mau ke kamar mandi, tapi mengeluarkan sindiran.


"Belum terbang saja sudah melupakan satu janji. Bagaimana jika sudah terbang melayang ke udara. Pasti banyak yang termakan janji, dan lebih banyak orang mati membawa karena sakit hati." Anah berkata sambil berjalan menuju dapur.


Semua orang langsung diam, pak Jumadi pun menatap anaknya. Sungguh ia tidak menyangka, bahwa Anah akan menjadi anak yang keras kepala. Dan tidak mudah untuk di atur, karena tidak di turuti kemauan nya.


Sekarang sudah kepalang tanggung jika ia mendaftarkan Anah sekolah. Maka dirinya yang akan malu, dan di cap orang tua yang tidak punya prinsip.


Maka Anah tidak akan menjadi yang lebih baik dari sekarang. Maka ia akan tetapi pada pendiriannya, meski Anah akan membencinya. Tapi dia yakin suatu saat nanti, Anah tidak akan pernah melakukan hal yang membuat keluarga nya kecewa.


Karena Anah selalu belajar dari pengalaman hidupnya yang sudah di laluinya. Pada dasarnya Anah anak yang mementingkan kepentingan orang lain di bandingkan diri sendiri.


Beberapa saat kemudian Anah sudah kembali dari kamar mandi. Menuju kamar miliknya, tanpa menoleh ke arah bapaknya. Yang masih diam, tanpa menjawab ucapan Anah.


Karena menurut pak Jumadi ucapan anak ada benarnya. Di mana ia bisa menepati janjinya pada orang lain. Tapi tidak bisa menepati ucapan nya pada anaknya.


Dirinya akui sejak punya Udin Anah tidak lagi menerima kasih sayang nya. Sampai Anah tidak di anggap lebih, sama bapaknya. Itu karena kurangnya kasih sayang kedua orang tuanya.


"Ya sudah biarkan dia memang lagi marah. Ini sudah malam kalian istirahat, jangan kesiangan. Kalau tidak mau kena hukuman orang Belanda lokal."Ujar pak Jumadi sambil tersenyum dan berjalan menuju ke kamarnya.

__ADS_1


"Baik lek."Jawab kedua pemuda itu, lalu mereka berjalan menuju dapur. Untuk ke kamar mandi, untuk membersihkan diri dan buang air kecil. Sebelum mereka istirahat, agar besok vit lagi.


*****Bersambung....


__ADS_2