
Malam harinya Anah tidur tidak nyenyak di terus nangis, di dalam tidurnya. Itu karena siang Anah dalam ketakutan, hingga terbawa dalam tidurnya. Nenek pun jadi tidak tidur, niatnya di bangunkan Anah biar lepas dari mimpi. Tapi nenek jadi gak tega, karena badan Anah panas. Nenek akhirnya pergi ke dapur, di ambilnya air hangat dalam baskom. mengambil handuk kecil, di kompres nya Anah.
"Semoga besok badan sudah tidak panas."Gumamnya
Hingga menjelang subuh Anah bangun karena kebelet. Dia bangun merasa ada yang nempel di keningnya. Terus melihat neneknya tidur di sampingnya pun bingung. Ia duduk terasa pusing kepalanya, tapi dia tidak kuat nahan karena sudah kebelet banget. Ia jalan ke arah dapur, memang gelap tidak di pasang pelita/penerang. Anah meraba dinding, sampai di dapur ia membuka pintu keluar arah ke sumur.
"Ini kayu kenapa berat sih. Aku sudah kebelet, kenapa ya jadi berat."Berkata sendiri.
Ia sudah bisa buka pintu langsung ke sumur. tak ada rasa takut, biasanya ia kalau bangunin neneknya kalau ke sumur.
Sudah nekat gak bangunin nenek, malah mules lagi, mana masih gelap lagi ke sana."gumam Anah.
Ya kalau mau BAB haru ke bilik yang jaraknya kurang lebih 10 meter dari sumur. Di sekitar bilik itu ada pohon pete dan pohon pisang. Anah memang takut, mau gak mau dia tahan sampai tarang nanti.
Walaupun pusing Anah tetap memasak. Anah ini masak terong di balado sama goreng ikan asin, tak lupa nasi. Ia sudah selesai masak, dan di luar sudah terang. Anah langsung lari ke bilik, karena tidak tahan lagi. Setelah selesai ia mau mandi, tapi merasa dingin.
"Kamu kenapa jongkok di situ, sana masuk duduk dekat tungku biar anget."Ujar Nenek sambil mengambil panci, dan di isi air. Lalu ia taruh di atas tungku, di masak sampai panas tapi tidak mendidih. Ia tuang ke ember di tambah air yang baru ia timba.
Nih mandi pakai air anget, kalau lagi dingin. Terus kalau tidak kuat tidak usah sekolah.
__ADS_1
"Iya nek, tapi aku mau sekolah, kan cuma pusing." Jawab Anah.
"Ya sudah, terserah kamu, nanti kalau tidak kuat izin pulang pas istirahat, minta di anter Warto atau Angga."Pesan nenek.
Nenek memang begitu lagi sakit di sayang di perhatikan. Tapi giliran sehat di perbudak harus ini dan itu..
"Iya nek,"jawab Anah singkat.
******
Di sekolah
"Iya tapi saya masih bisa nulis kok bu,"jawab Anah.
"Kalau sakit tidak usah sekolah ya An," ujar bu Ega.
"Saya kan masih bisa berjalan bu, kalau saya tidak sekolah nanti saya tidak naik kelas."Jawab Anah, selalu takut tidak naik kelas.
"Ya sudah, kalau Anah tidak kuat jangan di paksain ya."Kata bu Ega.
__ADS_1
Masa jam belajar sudah usai. Kini Anah mau pulang tapi badannya makin panas dan kini dia lemas. Akhirnya Anah pulang di tuntun Angga dan Santi, sampai di rumah. Ternyata di rumah sudah ada Parno. Siap antar Anah ke dokter mantri. Anah langsung di gendong dengan kain di belakang panggung Parno. Langsung berangkat pakai sepeda, karena perjalanan setengah jam. Anah tertidur pulas di punggung Parno, sampai di dokter tersebut. Antri beberapa orang, akhirnya giliran Anah. Parno menurunkan Anah di tempat tidur pasien.
"Panas sejak kapan mas ini Anah?"tanya dokter.
"Baru semalam dok, saya takut ni anak makin parah. Soalnya panasnya naik lagi, tadi pagi sudah turun."Kata Parno.
"Lah, mas ini siapanya ya, biasanya Anah di antar pak Jumadi sendiri atau bu Inem?"tanya dokter, sambil periksa Anah.
"Saya adiknya mas Jumadi. Mas saya lagi merantau bersama istri dan anaknya yang kecil. Sedangkan Anah tinggal di rumah sama ibu saya dok."Jawab Parno.
"Anah nanti di minum obatnya ya, biar cepat sembuh. Sudah sekolah belum?"tanya pada Anah.
"Sudah dok, tadi Anah juga sekolah."Jawab Anah, dengan suara lemah.
"Besok kalau masih pusing jangan sekolah dulu ya biar sehat betul, baru sekolah ya."Nasehat dokter.
"Ya dok, terima kasih,"ucap Anah dan Parno.
Parno menggendong Anah lagi dan pamit pulang, di perjalanan Anah tertidur lagi.
__ADS_1
*****Bersambung...