
"Assalamualaikum."Ucap Monik dan Istafa yang muncul dari pintu belakang.
"Wa'alaikumsalam."Jawab yang di dalam rumah, tepatnya di dapur.
"Nah yang ini yang kemarin nikah bu, adiknya Mariana. Dan ini juga suaminya, pemuda sini rumah di pojok perempatan. Besok bisa mampir, main sama Mariana."Ucap bu Sarinem.
"Saya Monika,"ucap Monik, sambil menyalami semua tamunya.
"Saya Istafa bu, bang."Ucap Istafa sambil menyalami semua tamunya.
"Saya Rohman Abang sepupunya Arman."Balas Rohman, menyalami tangan Istafa.
"Saya Saripah, nyak nya Arman."Kata Bu Saripah.
"Nyak itu ibu ya Bu?"tanya Monik.
"Iya ibu maksudnya, hehehe."Jawab bu Saripah.
"Namanya ibu dan nyak seperti orang yang kembar."Ucap Udin yang dari tadi hanya diam saja. Mengundang tawa semua nya.
Setelah selesai makan semua kembali ke ruang tamu. Tapi tidak dengan Monik dan Udin, mereka yang membereskan piring bekas makan.
Kak, aku pulang ya. Ini sudah jam 2, aku sudah lelah pengen istirahat."Pamit nyapada kakak dan kakak iparnya.
"Iya hati-hati di jalan."Ucap pak Jumadi dan bu Sarinem bersamaan.
Setelah kepergian nya Hendri, akhirnya membahas tentang pernikahan Anah yang sederhana dan hanya akan ada alat nikah. Yang di hadiri keluarga dari Arman dan Anah. Kemudian pak RT dan pak Lurahnya, tetangga depan dan kanan kiri.
...****************...
"Apa nak Arman sudah siap?" tanya pak penghulu.
"Pak Jumadi, mau sendiri apa wakil ini?"tanya pak Jumadi.
"Wakil saja mas, karena saya tidak ingin ada yang iri di antara kedua anak perempuan ku."Ucap pak Jumadi, karena waktu ijab qabul Monik juga di wakilkan.
"Baik kalau begitu." Lalu mengawali acara akad nikah dengan basmalah dan dua kalimat syahadat.
"Saya nikahkan dan kawinkan engkau Arman bin Karsa dengan Mariana binti Jumadi, dengan maskawin 5 gram cincin emas 24 karat, di bayar tunai." Pak penghulu menghentakkan tangannya Arman.
"Saya terima nikah dan kawinnya Mariana binti Jumadi, dengan maskawin tersebut, tunai."Dengan lantang dan tegas Arman mengucapkan ijab qabul.
"Bagaimana mana para saksi?"tanya pak penghulu.
"Sah, Sah, Sah."Jawab para saksi dan tetangga, secara bersamaan.
"Alhamdulillah."Kemudian pak penghulu melanjutkan pembacaan doa untuk kedua mempelai.
"Nak Arman silahkan pakai kan cincin nya pada dek Mariana. Dan dek Mariana harus cium tangan suami mu."Perintah pak penghulu.
Arman mengangguk sebagai jawaban, lalu mengambil cincin emas 24 karat. Kemudian di pasangkan di jari manis Mariana yang kiri. Anah dengan senyum bahagia mencium tangan suaminya. Yang di balas Arman dengan kecupan hangat di keningnya.
__ADS_1
"Sekarang kalian sudah sah di mata agama An beberapa hari lagi baru hukum. Karena ini akan langsung saya bawa ke Kantor Urusan Agama atau KUA. Selamat menempuh hidup yang baru ya. Nak Arman jaga dan sayangi Mariana, seperti kamu menjaga diri sendiri."Ucap pak penghulu.
"Insya Allah saya akan menjaga dan menyayangi istri saya. Seperti saya menjaga dan menyayangi ibu saya."Ucap Arman sambil menoleh ke ibunya.
Dan bu Saripah pun tersenyum saat mendengar ucapan anaknya. Anak kesayangannya kini sudah berumah tangga, dengan perempuan yang bisa menerima anaknya dengan apa adanya. Bahkan Anah sudah berjasa juga bagi bu Saripah karena sudah sering membantu kekurangan biaya sekolah si bungsu.
Maka tidak ada yang bisa di ragukan lagi jika Anah menjadi menantunya. Ia juga akan menyayangi seperti ia menyayangi anak kandungnya sendiri.
...****************...
Malam harinya Anah dan Arman sudah berada di dalam kamar. Kini keduanya tengah berpelukan mesra, gimana meskinya pengantin baru.
"Yayang sudah ngantuk belum,"bisik Arman, sambil mencium pelipis kanan Anah.
"Belum bang, kenapa?"tanya Anah dengan polosnya.
"Kita kan pengantin baru, bisa lah kita mulai."Kata Arman dengan senyum menggoda.
Karena Anah yang memang masih polos, di usianya hampir 19 tahun tergolong masih muda. Malah Anah menatap wajah Arman yang tersenyum menggoda itu. Dengan polosnya ia bertanya balik, dengan senyum manisnya.
"Kita mulai apa bang?" dengan tersenyum manis, sambil memainkan jari tangannya.
"Kita mulai buat dedek bayi, boleh ya Abang membuatnya sekarang Yang?"tanya Arman.
Anah baru ngeh, apa yang di maksud suaminya. Dengan gugup Anah pun mengangguk, karena tidak mungkin ia menolak. Secara tidak langsung Anah yang takut sakit itu, ada rasa ingin tahu juga. Maka malam ini malam pertama bagi pengantin baru.
Bahkan suara Anah sampai terdengar oleh orang tuanya yang tidur di ruang tamu dengan ibu dan saudara Arman. Para orang tua pun maklum, karena mereka memang saling mencintai satu sama lain. Maka di malam setelah resminya mereka menjadi suami istri. Sudah seharusnya hal itu terjadi di antara mereka yang sedang berbahagia.
Berbeda dengan Monik dan orang tuanya, yang menikah dengan perjodohan. maka mereka pun menunda malam pertama. Di malam pengantin itu mereka saling mengenal dan mendekati pasangan mereka.
Kemudian Arman menarik selimut, dan memberikan kecupan manis di kening Anah. Lalu ia memeluk Anah yang sudah terkulai lemas, karena lelah setelah melakukan malam pertama. Pada akhirnya mereka terlelap dalam tidurnya, sambil berpelukan.
...****************...
Sembilan bulan kemudian Anah, yang kini tengah hamil besar. Menurut pemeriksaan bidan puskesmas kecamatan xxx Jakarta barat. Ia akan melahirkan kurang lebih 3 minggu lagi.
Namun itu hanya lah menurut bidan saja. Karena hari ini Anah merasakan sakit pinggang yang luar biasa. Dari pagi ia mengeluh sakit pinggang, tapi mertuanya bilang jika anak yang ia kandung pasti nanti laki-laki.
Setelah suaminya pulang kerja, Anah berbisik supaya tidak kedengaran yang lainnya. Mendengar ucapan istrinya tentu Arman kaget, tadi siang ia pulang untuk makan siang bersama istrinya. Istrinya tidak apa-apa, tapi sekarang sedang menahan sakit yang luar biasa.
"Sejak kapan Yang?"tanyanya.
"Tadi setengah 2 bang,"jawab Anah.
"Ya sudah Abang mandi dulu setelah itu kita ke puskesmas ya. Dan Abang cari pinjaman motor dulu. Yayang yang sabar ya, adek sudah gak sabar ya ini ketemu ayah dan ibu. Ayah mandi dulu ya," pamit Arman pada bayi yang masih di dalam perut Anah. Saat bicara tangan Arman tidak ada hentinya mengusap perut Anah.
Setelah sholat isya Arman meminjam motor milik saudaranya. Dan sebelum itu ia sudah memberi tahu nyak nya. Arman mencari tetangganya yang memiliki motor, untuk ngojekin nyaknya.
"Ya Allah Mar, ini dari kapan kamu mulesnya?"tanya bu Saripah.
"Jam setengah dua nyak, tapi habis magrib makin mules."Jawab Anah.
__ADS_1
"Astaghfirullah kenapa tidak ke rumah nyak. Ini masih kuat tidak naik motor? kalau tidak mending Arman cari taksi aja ya?"tanya bu Saripah.
"Insya Allah masih kuat nyak."Jawab Anah.
"Yang, nyak ayo kita berangkat, takut nanti tidak keburu malah bahaya." Ajak Arman sambil menuntun Anah keluar rumah.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 10 menit dengan jalan lambat. Sebab Anah selama perjalanan mengeluh sakit dan mencengkeram pundak Arman untuk pegangan dan menahan rasa sakit.
Arman dan Anah masuk ruangan bersalin, namun Arman hanya membantu Anah untuk naik ke ranjang tempat melahirkan. Bidan dan asisten nya memeriksa Anah, sudah pembukaan berapa. Namun asisten bidan langsung memberi tahu jika kepala bayi sudah terlihat.
"Bu bidan saya ingin BAB gimana ini?"tanya Anah dengan suara yang menahan sakit.
"Ibu tenang ya ini kepala bayi sudah terlihat, maka ibu ikut aba-aba dari saya ya."Ucap bu bidan, di angguki oleh Anah.
Dalam proses persalinan ini Anah tidak di dampingi suaminya. Namun rasa ingin tahu dan tidak sabar untuk melihat wajah bayinya. Anah tidak merasa bingung atau sedih, setelah bidan memberi aba-aba untuk ketiga kalinya.
"Oeek Oeek Oeek."
Seorang bayi berhasil keluar dengan sempurna tidak kurang satu apapun. Dengan lahir normal memiliki berat badan 2,8 kg dan tinggi badan 47 cm. Berkulit putih bersih, hidup mancung, bibir tipis, bulu mata yang sangat lentik.
Yang di luar yaitu Arman, bu Saripah dan tetangga yang mengantar bu Saripah. Kaget mendengar suara bayi menangis, dengan suara yang sangat kencang.
"Alhamdulillah....., nyak saya sudah jadi ayah."Ucap syukur Arman.
"Iya nyak sudah jadi nyai sekarang tong. Kamu sekarang nih jadi ayah, jaga dan sayangi anak dan istri mu. Jangan kamu sia-siakan, pokonya kamu harus siaga jagain anak dan istri mu. Apa lagi kalau malam bayi suka bergadang, kamu meski siap bantu istrimu." Bu Saripah, menasehati anaknya Arman.
"Baik nyak." Kata Arman.
Tidak lama keluar bidan memberikan bayi yang berada di gendongan. Dan di terima oleh bu Saripah,Lala mereka di giringnya. keruang rawat. Setelah sampai kemudian Arman mengadzani anaknya.
"Nyak saya pengen gendong dedek."Pinta Anah.
"Iya ini, hati-hati ini masih muda dia banget."Bu Saripah memberikan pada Anah, dengan sangat hati-hati.
"Mirip sama kamu Yang."Kata Arman.
"Iya tapi bibir dan hidung sama kayak Arman, sisanya ke ibunya semua." Timpal bu Saripah.
"Iya nyak." Kata dengan senyum bahagia tidak pudar dari tadi . Bahkan sudah lupa dengan rasa sakit saat mau melahirkan.
"Terima kasih ya Yang kamu sudah berjuang buat lahirin anak kita."Ucap Arman mencium kening dan kedua pipinya Anah. Ya keduanya tampak bahagia.
"Apa kamu sudah punya nama Ar, untuk anak kalian?"tanya bu Saripah.
"Sudah nyak." Jawab Arman.
"Siapa?"tanyanya.
"Namanya Rifki Ahmad Jali.
Setelah itu Anah di minta istirahat dan bayi di tidur di bok bayi samping Anah. Dan tetangganya Arman pamit pulang untuk istirahat dan mengabari keluarga Bu Saripah.
__ADS_1
Arman dan ibunya menemani Anah selama di puskesmas. Kini kebahagiaan sudah Anah rasakan, tidak lagi Anah menyendiri. Karena Anah sudah merasa cukup bahagia berada di Jakarta. Dan tidak lagi ingin tinggal di Lampung yang penuh dengan air dan kenangan.
~TAMAT~