
Sementara bu Sarinem sore itu merasa sangat gelisah tidak tenang. Dadanya juga merasa sedikit berdebar, di bilang sakit juga tidak. Tapi perasaan mengatakan ada sesuatu yang terjadi entah apa.
"Kenapa ya, perasaan ku tidak enak sekali, ada apa sebenarnya ini."Gumam bu Sarinem.
Gelagat bu Sarinem, di ketahui oleh majikannya. Yaitu bu Ranti, yang dari tadi melihat bu Sarinem sedang gelisah. Lalu menghampiri bu Sarinem yang sedang duduk di teras. Karena bu Sarinem sedang menyuapi anaknya.
"Mbak Inem, kenapa dari tadi saya lihat sangat gelisah?"tanya majikannya.
"Saya juga tidak mengerti bu, perasaan saya tidak tenang."Jawab bu Sarinem.
"Oh mungkin mbak Inem lagi kangen keluarga saja, jadi uring-uringan. Ada nomor telepon yang bisa di hubungi tidak? Kalau ada mbak, boleh kok telepon sesekali buat tanyakan kabar mereka."Kata bu Ranti.
"Tidak ada bu, di kampung saya wartel juga adanya di kecamatan. Itu jauh banget dari rumah bu, tidak yang punya telepon yang bisa di hubungi."Kata bu Sarinem.
"Oh, berarti mbak Inem tinggi di pelosok ya?"tanya bu Ranti.
"Iya bu, memang pelosok. Listrik saja belum ada bubu, apa lagi telepon bu."Jawabnya Bu Sarinem, Bu Ranti hanya mengangguk sebagai tanda mengerti dengan keadaan bu Sarinem.
...****************...
__ADS_1
Di ruang tamu sudah pada kumpul untuk nonton TV. Tapi pintu rumah di tutup dan di kunci, tandanya tidak menerima orang nonton TV di rumahnya. Karena saat ini pak Jumadi akan membahas hal penting tentang istri dan anak sulungnya.
"Izah apa bibi mu pernah bahas sesuatu dengan mu atau mamak mu?"tanya pak Jumadi pada Izah keponakan dari istrinya.
"Bibi tidak pernah membahas apa pun lek. Cuma bibi bilang ingin mencoba mengadu nasib di Jakarta. Dan sekarang pun bibi berada di Jakarta barat." Jawab Izah, dengan perasaan gugup. Saat menatap wajah pak leknya memerah, menahan amarahnya.
"Apa Anah tidak kerja satu tempat dengan bibi mu?"tanya pak Jumadi dengan nada datar tanpa ekspresi.
"Tidak lek, Anah di Tanggerang Selatan dekat dengan Imah. Kalau dari Imah jalan kaki hanya 5 menit kok lek."Jawab Izah, menunduk tidak berani menatap wajah pak leknya lagi.
"Kenapa bibi mu bisa mental ke Jakarta, memang tidak ada apa yang dekat dengan Imah juga?"pak Jumadi terus mengintrogasi Izah sebagai orang yang memberikan lowongan kerja untuk anak dan istri tercinta.
"Bibi memang jauh lek, tapi bosnya bibi itu adik dari orang tua bosnya Imah. Aku juga sudah kenal dengan bosnya bibi. Bahkan sebelum itu bosnya minta aku yang kerja di sana."Jawab Izah semakin takut, dan detak jantungnya semakin tak normal.
Ya memang Izah senang menuruti kemauan bibinya, yang ingin ke Jakarta. Tanpa sepengetahuan bibinya dan Anah, Izah pun memanipulasi ongkos pulang dan pergi ke Jakarta. Dia bilang ke bibinya ongkos 75 ribu satu orang. Itu belum dengan bosnya bibi ketika di tanya ongkos dari kampung nya sampai ke Jakarta.
Ketika di tanya dia mengatakan ongkos satu orang seratus ribu. Padahal ongkos yang sebenarnya hanya 50 ribu saja sudah sampai tepat Imah. Dan jika sampai Jakarta, tempat kerja bu Sarinem menambah ongkos 3 ribu satu orang.
Padahal di perjalanan Izah gratis ongkos nya karena ia mau duduk dengan sang kenek bus antar kota tersebut. Bahkan bukan hanya ongkos makan pun ia gratis mau cemilan dan minuman pun gratis.
__ADS_1
Asalkan ia bisa di gandeng di peluk mesra oleh kenek tersebut. Bisa di bilang jadi kekasih nya selama di di jalan tersebut. Bahkan bibi dan Anah menjadi obat nyamuk, dan menyaksikan Izah bermesraan dengan sang kenek tersebut.
Dan yang di katakan pak Jumadi memang benar, dia mengambil keuntungan dari perjalanan ke Jakarta tersebut. Karena bibi nya orang yang masih polos jadi tidak tahu hal itu. Tapi dia kaget saat pak Jumadi mengatakan itu, dari mana pak leknya tahu hal itu.
"Pak lek minta tolong sama kamu, besok kamu jemput bibi mu dan adikmu. Aku kasih ongkos segini, pak lek mau minggu bibi mu harus sudah ada di rumah. Kalau tidak maka pak lek akan jemput bibi mu sendiri kesana. Dan kamu pulang kan uang yang sudah kamu makan itu menjadi SEPULUH kali lipat!" Kata pak Jumadi dengan nada tinggi dan menekankan kata sepuluh. Dan menyerahkan uang pecahan 50 ribu sepuluh lembar di meja depannya Izah.
Setelah selesai bicara pak Jumadi beranjak dari duduknya berjalan menuju ke kamarnya. Karena tidak ingin dirinya lepas kendali, dan membuat keadaan semakin runyam.
Izah tidak bisa berkata apa-apa lagi, ia mengambil uang itu lalu berjalan menuju kamarnya Anah. Di kamar tersebut Izah menangis dalam diam. Ia tidak menyangka jika masalah nya jadi serumit ini. Dari awal sebelum ia datang ke rumah pak Jumadi ini sudah punya firasat tidak enak
Dan ini lah yang ia dapatkan, dari perasaan tidak enak semalam dan sepanjang hari ini. Karena ia juga bersalah, maka ia akan bertanggung jawab atas kesalahannya. Dan akan membawa bibi dan sepupunya pulang minggu ini.
Dirinya berniat akan pulang besok dan lusa berangkat ke Jakarta. Sekarang kepalanya pusing, memikirkan apa alasan. Yang akan di katakan pada bosnya Anah dan bibinya. Supaya bibinya juga bisa pulang ke rumah di minggu ini. Dan jangan telat, karena bisa-bisa ia yang akan memulangkan uang 5 juta pada pak Jumadi.
Sementara Seswanto mendengar pertanyaan pak Jumadi dan jawaban Izah tidak ikut campur urusan tersebut. Tidak berani untuk nimbrung, karena tugas Seswanto cuma untuk menjemput Izah. Dari kampung nya ke sini, sehingga tugas nya sudah selesai.
Rencana nya besok pagi setelah subuh ia akan berangkat ke kawasan sendiri. Karena pekerjaannya sangat banyak, harus mengurus kebun sendiri. Setelah itu ia harus mengurus kebun pak Jumadi, sebagai orang pekerja. Maka ia harus bertanggung jawab dengan pekerjaannya.
Nenek yang sejak tadi hanya duduk dan mendengar bahkan menyaksikan kemarahan anak sulungnya itu. Tidak menyangka jika anak akan mati-matian untuk kembali ke rumah. Membuat dirinya semakin membenci menantunya itu. Sementara dirinya tidak bisa mendapatkan perhatian anaknya itu
__ADS_1
Monik dan Udin hanya mendengar ucapan dan jawaban sepupunya. Ia berharap ibu dan mbak nya bisa di bawah pulang ke rumah. Sebab mereka sudah kangen dengan ibunya, terutama si Udin.
*****Bersambung...