TAKDIR KU

TAKDIR KU
32.ULAT LAKI-LAKI


__ADS_3

Hari berganti minggu dan minggu berganti bulan. Anah sudah bisa membaca, dan sekarang Anah sudah bisa masak yang bersantan. Ya masak bersantan sedikit rumit mulai dari bumbu hingga pelengkapnya seperti membuat santan. Tak mudah prosesnya, dari metik kelapa, mengupas dan memarut kelapa, baru di buat santan. Kurang apalagi coba di mana anak usianya belum genap 7 tahun sudah serba bisa.


Bukan karena apa, Anah yang memang di tuntut harus bisa dan hidup dalam tekanan yang keras. Anah tak jauh beda dengan bapaknya, waktu kecil. Yang menjadikan ia serba bisa, itu karena keadaan yang menuntutnya. Di mana anak seusianya masih banyak yang makan di suapin orang tuanya. Tapi ia seperti orang dewasa, bahkan Anah tak hanya di rumah.


Kalau pulang sekolah sering di ajak ke sawah dan ladang. Dari menanam jagung, ketela, wijen dan padi di sawah. Seperti sekarang Anah harus ikut matun(mencabut rumput liar di antara padi yang di sawah) bersama nenek. Tapi yang bikin neneknya kesel seperti sekarang ini.


"Nenek... ada ulat huaaa," Nangis kencang di tengah sawah hanya karena hama.


"Anah cuma ulat, kamu nangis!"kesel Nenek.


"Nenek iih geli,"kata Anah di sela sela tangisnya.


"MANA, SAMA ULAT AJA KAYAK GITU, GIMANA KALAU ULAR HAH! PINGSAN IYA YANG ADA KAMU DI PATUK SAMA ULAR!"bentak Nenek, marah saat melihat anah tak bergerak. "NiH LIHAT CARANYA ULAT ITU HARU DI MATIKAN. KALAU NGGAK PADI BISA HABIS DI MAKAN."Sambil mencontohkan "MENGERTI? GITU AJA NANGIS, CENGENG!"Lanjut Nenek.


"Nggak mau geli, besok aku gak mau ke sawah bantu nenek matun."Bantah Anah.

__ADS_1


"Ya sudah kalau tidak mau ke sawah dan ladang. Nenek tidak akan kasih makan kamu, Lagian ini kan sawah bapakmu."Itulah yang membuat Anah menurut. Jika tak nurut maka ia tak di kasih makan. Maka Anah menurut, karena Anah takut lapar.


"Iya nek, aku ikut ke sawah tapi aku gak mau kalau ada ulat. Aku takut dan geli nek hiiii,"kata Anah.


"Kamu itu sekarang aja takut sama ulat! nanti kalau udah gede nyari terus ulat laki laki. Kalau belum dapat gak bisa tidur!"ketus nenek, lalu pergi meninggalkan Anah yang masih Bengong.


Nah pembaca yang sudah dewasa atau nikah, pasti tau ulat laki-laki.🤭🤭🤭


"Iih nenek ngomong apa sih, aku kan gak ngerti?"tanya pada diri sendiri.


Anah lanjutkan membantu neneknya sampai sore, lalu mereka pulang. Perjalanan menuju ke sawah milik bapaknya Anah melewati sawah milik orang tua Angga. Nah di sana ada Imah dan mamaknya, yaitu bu Marni. Di jalan setapak itu, ada rumput yang ada beberapa ulatnya. Walaupun itu kecil, yang namanya pobia, ya tetap takut. Anah tidak bergerak padahal jarak nya masih satu meteran. lama lama mundur maksudnya mau menghindari, lewat jalan lain. Namun ternyata jalan yang di tuju malah lebih besar ulatnya dan banyak. Anah langsung lemas, terasa tak ada tulang. Tadinya Anah di suruh jalan duluan sama nenek. Sampai nenek datang, Anah mundur hampir nabrak nenek.


"I-itu nek, aku gak berani."Anah nunjuk ke depan.


"Kamu udah nenek ajari kan? itu maju dan ijak, dia juga gak ngelawan."Nenek menyuruh Anah. Bukan maju maka jongkok, nangis. Akhirnya nenek maju di potong tu rumput, lalu ia menginjak ulat-ulat itu.

__ADS_1


"Sudah ayo pulang," ajak Nenek.


Imah yang lihat Anah dari ke jauhkan pun menghampiri. memberikan minum, di tuntun ia juga mau pulang. Sampai di ujung sawah nenek yang memang di depan pun segera membabat rumput itu.


"Mah di sawah mamakmu banyak juga ya ulatnya?"tanya Nenek


"Iya nek, lagi musim kali nek."Jawab Imah.


"Entar tempat pak lek mu, mau nenek semprot lah. Besok pagi nenek mau kerumahnya lek Parno. Mau minta dia untuk nyemprot tu hama. Bisa habis nanti kalau gak di panen, jika tidak di semprot."Kata Nenek.


"Ya nek, apa bisa gagal panen nek?"tanya Imah.


"Bisa Mah apa lagi kalau ada tikus perusak tu."Kata Nenek.


Obrolan mereka lanjut sampai Imah di rumahnya. Anah dan nenek pulang

__ADS_1


langsung tak mampir lagi karena sudah jam 5 sore.


*****Bersambung....


__ADS_2