TAKDIR KU

TAKDIR KU
52.MENJADI GEGER SEKAMPUNG


__ADS_3

"Par kira-kira kapan ini tujuh bulanan buat Susi?"tanya Nenek.


"Aku sih belum bahas ini sama mertua mak. kalau menurut mamak kapan enaknya?"Parno balik tanya.


"Mak kalau menurut perhitungan, tujuh bulan seminggu lagi. Kalau tujuh bulanan itu pas atau lebih sih?"kini Susi yang tanya.


Kalau di tradisi mamak dan Inem sama. Sebelum genap tujuh bulan, sudah syukuran tujuh bulanan. Karena namanya anak pertama sering terjadi lahir lebih cepat. Kalau belum tujuh bulanan seperti ada yang kurang."Kata Nenek.


Anah hanya diam saja mendengar obrolan orang dewasa itu. Dia belajar memahami apa yang mereka bahas.


"Susi nanti bilang ke mamak, sampai kan pendapat mamak tentang ini. Tapi aku juga gak ngerti kemarin mamak sudah bahas persiapan tujuh bulanan. Tapi aku gak tau kapan mak."Kata Susi.


"Ya kami nurut aja. Kapan aja juga ikut soalnya acara di sana. Kalau di sini ya mamak yang urus semuanya."Ujar Nenek


"Ini sudah pada makan belum kalau belum makan sana. Tadi itu ponakan mu, masak telur ceplok di sambelin."Lanjut Nenek.


"Belum mak, nanti tanggung habis magrib aja baru makan. Soalnya kalau makan dulu, belum selesai juga dah magrib." Kata Parno.


"Ya sudah kalau begitu."Nenek pun pasrah, memang sebentar lagi magrib tiba.


...****************...


Seminggu berlalu rencana tujuh bulanan Susi, tinggal 2 hari lagi. Susi juga memberi kabar mertuanya, bahwa mereka akan mengadakan syukuran tujuh bulanan lusa. Namun mereka tidak menyangka semua hanya rencana saja, acaranya gagal sekaligus duka buat Parno dan Susi.


Susi bangun tidur lebih dulu, ia berbalik badan terasa ringan dan tidak merasa ada pergerakan juga di perutnya. Ia bingung lalu tangannya meraba perutnya. Kaget bukan kepalang, langsung histeris lah Susi.


"HUUUUUAAAAA, MAAAS BANGUN."Semua seisi rumah pada kaget masih jam 4 pagi.


"Ada apa ini masih pagi bahkan masih gelap."Kata Parno sambil melihat cahaya di jendela dan melihat jam dinding.


"Iya Susi ada apa?" ini mamak nya yang sudah berada di kamar, pak Iman dan Supri juga.

__ADS_1


"HUUUUUAAAAA, perut ku kempes kemana anak kita mas. Apa dia sudah lahir, lalu mana bayinya? kok aku gak berasa apa-apa!"Parno langsung meraba perut Susi dan langsung memeluk Susi ia ikut menangis.


Para tetangga yang di sekitar sudah ramai menggedor pintu depan. Yang anak tertua nya pak Iman pun ikut dobrak pintu. Setelah terbuka langsung lari ke kamar Susi di ikuti para tetangga.


"Ada apa pak? kenapa mereka menangis? mamak juga kenapa pak?"pertanyaan beruntun dari anak tertuanya.


"Susi bayinya hilang, padahal besok malam mau di adakan syukuran tujuh bulanan."Penjelasan pak Iman.


"Innalilahi wa innailaihi rojiun."Serentak para tetangga.


"Kok bisa ya? tapi ada darah gak? apa ada sakit Sus?" berbagai pertanyaan terlontar kembali. Susi hanya menggeleng sebagai jawaban, dan masih terus menangis.


Pak Iman melihat Parno dan Susi masih menangis. Karena kehilangan anak yang sudah di nanti. Perkiraan 2 bulan lagi lahir, tapi kini sudah tidak ada entah kemana. Hanya Allah SWT yang maha tahu, apa yang terjadi pada pasangan suami istri ini alami.


💮Ini kisah nyata. Andaikan bayi itu lahir kini usianya kurang lebih 28 tahun.


💮 Apakah teman-teman pernah mendengar kejadian seperti ini. Di daerah kalian tinggal, atau pernah mengalami sendiri mungkin. Author pernah dua kali mendengar dan menyaksikan orang yang hamil besar. Dan itu semua kejadian pada kehamilan anak pertama. Sama hamil sudah tujuh bulan hilang tanpa jejak. Atau mungkin yang mengalami kejadian aneh. Tiba-tiba hamil besar dan tak lama melahirkan. Nauzubillah ya, semoga tidak terjadi pada kita, dan anak cucu kita. Aamiin.


"Iya pak" singkat dia menjawab dan segera berangkat ke rumah Anah.


Supri pergi menggunakan sepeda, supaya cepat sampai. karena kalau jalan kaki lumayan jauh.


tok tok tok


"Assalamualaikum mak."Ucap Supri.


tok tok tok


"Wa'alaikumsalam" Jawab nenek buka pintu dan masih menggunakan mukenah karena baru selesai sholat subuh.


"Supri, masuk dulu mak mau lepas ini dulu duduk."Kata Nenek sambil jalan ke dalam kamar khusus buat sholat.

__ADS_1


"Iya mak"jawab singkat dan nafas ngos-ngosan.


Nenek kembali memberikan air putih." nih minum pasti capek." Pasti capek ia naik sepeda masih gelap antara takut dan tidak. Karena daerahnya masih belum ada listrik, sudah pasti gelap.


"Ada apa pagi-pagi sudah sampai di sini?"tanya Nenek.


"Eem saya di suruh bapak mengabari mamak, kalau Parno dan Susi berduka."Jawab Supri.


maksudnya gimana to Supri?" nenek belum paham "kemarin mereka baru pada dari sini siang. Apa Susi jatuh terus keguguran?"tebak Nenek.


"Susi gak kenapa-napa mak, tapi tidak tahu ini apa maksudnya. Bayi yang dalam kandungan Susi hilang, tanpa bekas atau apa."Supri menjelaskan pada nenek.


"Innalilahi wa innailaihi rojiun. Tapi Susi gimana keadaannya sekarang?"tanya keadaan Susi, karena bisa di pastikan sedih. Tinggal dua bulan lagi, menimang cucu ketiga malah tidak jadi.


"Susi dan Parno tadi lagi nangis mak."melihat nenek menangis, Supri punya menetes air matanya. Karena tadi belum bisa ngomong apa-apa dan langsung jalan. Biar adiknya yang mau punya anak. dia sebagai kakaknya juga merasa kehilangan. Apa lagi tinggal satu atap, setiap hari membayangkan. Akan punya ponakan, namun hanya khayalan saja.


"Nenek kenapa nangis? mas Supri juga?"tanya Anah bingung, pagi-pagi sudah ada Supri di rumah nangis lagi.


"Sudah mandi, habis ini kamu mau sekolah kan. Nenek mau ke rumah pak Iman sama mas Supri sekarang, nanti pintunya di kunci. Makan masih ada nasi yang kemarin, tapi lauk gak ada ambil telur di kandang aja ya."Ujar nenek panjang lebar.


"Iya nek. Tapi kenapa nenek nangis?" bertanya lagi karena belum dapat jawaban.


"Lek Parno sama bibi Susi lagi berduka. Dedek bayi di perut bibi hilang tiba-tiba. Nanti kalau nenek belum pulang kamu boleh kesana."Jawab Nenek, dan pesannya untuk Anah.


"Hah? kok hilang di ambil siapa nek? apakah maling bisa ambil dedek bayi yang di perut?"pertanyaan aneh memang, tapi itu anak-anak jadi belum tau urusan orang dewasa.


"Ya gak tau Anah. Kalau ketahuan malingnya sudah di tangkap sama pak Iman, lek Par, dan mas Supri."Jawab Nenek agak kesal, dengan pertanyaan cucunya.


Sedangkan Supri mengangguk sebagai jawaban. Sambil tersenyum penuh arti pada Anah,"Aku aja tidak tau, tuh bayi hilang kemana. Ini bocah ada-ada saja pertanyaannya."Berkata dalam hati Supri


Nenek ke dalam mengambil sesuatu di kamar. Lalu mengajak Supri segera jalan, karena ingin segera tau, keadaan anak dan mantunya.

__ADS_1


*****Bersambung....


__ADS_2