TAKDIR KU

TAKDIR KU
46.MASA LALU JUMADI & SARINEM 3


__ADS_3

"Par itu mbak yu mu kenapa? dan kamu kenapa gak jadi sekolah, apa yang sudah terjadi?"tanya salah satu tetangganya.


"Bibi lihat mamak pergi tidak? sejak kemarin mamak gak pulang bi. Kalau mbak yu aku gak tau kenapa. Tadi aku lihat mbak yu habis mandi, jalan kebelakang seperti biasa buka kandang ayam. Setelah itu mbak yu masuk lagi ke kamar sambil nangis dan memegang dadanya. Aku bingung mau sekolah gimana dengan mbak yu. Terus mau makan pun tidak ada yang bisa di makan, gak ada yang masak. Mana aku gak punya duit, buat beli bahan makanan di warung bi, huhuhuhuhu." Adu Parno, yang memang belum dewasa masih labil.


"Astaghfirullah......"kompak menyebut istighfar.


"Kebangetan amat itu Irah. Kamu tunggu sini biar bibi ambil nasi di rumah kebetulan udah mateng tadi sayurnya." Tetangganya yang sebelah kanan rumah. Kebetulan mereka datang dengan suaminya. Kini suaminya merangkul Parno, agar Parno tenang.


"Biar bibi yang ngurus Inem, malangnya nasibmu Nem. Punya mertua gak waras."Gerutunya sambil jalan masuk rumah.


"Ooeek ooeek ," suara bayi nangis.


"Huhuhuhuhu"Inem menangis bersamaan dengan bayinya.


"Assalamualaikum"dan itu tidak di jawab oleh Inem, ia hanya menoleh dan menunduk lagi.


"Astaghfirullah Inem, istighfar nduk." Sambil mengangkat bayi di depannya dan ternyata popok bayi itu basah. Ia menggantikan popok nya, setelah itu ia meminta Inem menyukai dulu.


"Nih kamu susui dulu anak mu Inem. Jangan kamu tangisi lagi yang sudah terjadi. Sekarang kamu harus bersemangat buat besarin anakmu."Petuah ia berikan


"Iya bener itu Inem, kamu jangan lagi tangisi mertuamu itu. Tak akan berubah dalam sekejap, tapi aku gak yakin orang itu bisa berubah. Kalau pun berubah pasti karena ada maunya. Bukti sekarang di tidak pernah pergi hampir setahun, dan sekarang pergi di saat cucunya lahir. Harusnya kalau dia waras lebih baik ngurus kamu. Kemarin dia juga jual beras yang sudah dia giling. Tak pikir buat besok persiapan sepasaran(syukuran pemberian nama bayi), gak taunya mau di bawa pergi. Sudah nih kamu harus makan biar bayi mu sehat, kamu juga sehat. Buka mulut mu aaa."Titahnya yang menyuapi Inem, setelah memberikan nasehat panjang lebar.


"Tapi kenapa mamak tega bi. Kenapa gak dari seminggu lalu aja. Kenapa harus sekarang, bertepatan bayi ini lahir. Yang membuat saya lebih sedih lagi mas Jum, belum pulang sampai sekarang. Apa dia gak mikir aku sudah waktunya lahiran."Ia berkata sambil makan dan sesekali mengusap air matanya.


"Yang sabar Nem, kalau hari ini pak lek berencana mau nyusul Jumadi. Diah harus tau apa yang sudah di lakukan mamaknya pada mu dan Parno. Sekarang Parno lagi memanggil mbak yu mu Yani. Biar kamu gak sendirian di rumah. Ada yang bantuin masak, dan bersih bersih rumah. Biar parno bantuin sebisanya. Kamu anak yang kuat, pak lek salut dan kagum sama kamu. Kamu harus bersemangat untuk anak mu ini. Dia perempuan tapi dia kuat, saat masih di dalam perut. Kalau dia lemah dari Jumadi berang, ia tidak akan bertahan sampai sekarang."Inem membenarkan ucapan tetangganya itu. Dan dia yakin tidak ada yang tidak mungkin, bahwa anaknya, anak yang tegar.

__ADS_1


"Iya lek, terima kasih untuk semua dukungan nya. Maafkan saya yang selalu merepotkan kalian. Bahkan saat kami dalam kesulitan, kalian yang selalu di depan." kata Inem.


"Sudah jadi tanggung jawab kita sebagai tetangga. Dan saudara terdekat memang tetangga, setelah itu saudara kandung mu."Kata itu terlontar dari salah satu tetangganya.


"Benar itu."Kompak semua sudah ada di kamar, baik itu perempuan atau laki-laki.


Tak lama datang Yani, dan tetangganya itu menceritakan apa yang terjadi pada yani.


"Itu orang kapan sadarnya, sudah jadi nenek kok gak sadar sadar. Jangankan sama mantu, sama anak sendiri saja kejam."Ia berkata penuh emosi sambil memeluk adiknya.


"Kamu sudah makan belum?" tanya Yani pada Inem.


"Sudah Yan, tadi aku bawa nasi sama sayur. Masih ada kalau Parno dan Inem mau makan, tu di dapur nasi sama sayur. Nanti kamu ambil kan ya? kamu bantu masakin buat, belanja kamu belanjakan aja dulu. Nanti di total habis berapa, kalau Jumadi pulang biar di ganti."Ujarnya yang tadi membawakan nasi.


"Iya bi, terima kasih ya, sudah banyak membantu Inem selama ini. Dan selalu membantu Jumadi dan Parno." Biarpun Yani lebih muda dari Jumadi tetap dia akan lebih tua kedudukannya.


"Hati hati lek,"kata Inem, dan di jawab dengan anggukan.


Setelah semua pergi, Yani memasak dan Parno mengantikan tugas masnya. Yaitu mencuci popok bayi ponakannya dan pakai kakak iparnya, kecuali pakaian dalam. Karena Inem mencuci pakaian dalam sambil mandi. Setiap mau mandi Parno yang menimba untuk Inem dan bayinya mandi. Kemarin bidan yang urusin bayi mandi karena memang bayi lahir habis magrib. Kini yang memandikan Yani kakaknya Inem. Parno juga melakukan itu, sebagai bentuk mengabdinya sama kakak, sekaligus bapak baginya.


"Dua hari berlalu Jumadi kini datang ia langsung ke sumur mandi sebelum ketemu anak dan istrinya. Dengan perasaan yang bergejolak, berdebar-debar saat akan bertemu istrinya. Rasa bersalah sudah menyelimuti dirinya dari kemarin. Mendengar cerita tetangganya yang menjemput dirinya.


Sebelum ketemu istrinya, ia sudah bertemu dulu dengan mbak yu iparnya dan adiknya.


"Mbak maaf sudah merepotkan, terima kasih sudah membantu mengurus istrinya, anak dan adikku."Kata Jumadi.

__ADS_1


"Sudah sepantasnya mengurusnya, siapa lagi Jum, kalau bukan aku. Saudara yang dekat cuma aku yang lain agak jauh bahkan jauh sekali pun. Sana temui dulu Inem, agar dia sedikit tenang."Titahnya Yani.


"Iya yu, Par terima kasih kamu sudah jaga mbak yu mu, selama mas tidak ada di rumah. Apapun yang terjadi hanya kamu dan tetangga yang tau. Maaf merepotkan kamu." Lalu pergi menemui istrinya setelah mengusap kepala adiknya.


Parno hanya mengangguk, ia jadi ingat kejadian kemarin. Kini ia mengusap air matanya yang mengalir di pipinya.


"Sudah jangan kamu ingat yang kemarin Par. Semoga kedepannya lebih baik lagi. Aku pulang dulu assalamualaikum,"kata Yani.


"Ya mbak, terima kasih. Wa'alaikumsalam,"jawab Parno. Setelah itu ia memilih belajar untuk mengalihkan pikirannya.


Sementara di dalam kamar, Jumadi melihat bayi yang ia tinggal, masih di dalam perut. Kini ia sedang menyusu pada ibunya.


"Assalamualaikum dek,"ucap Jumadi.


"Wa'alaikumsalam mas,"jawab Sarinem.


Kini ia saling menatap, dengan tatapan kerinduan. Tangan Jumadi mengulur dan di sambut oleh Inem. Setelah itu Jumadi mencium seluruh wajah istrinya dan berganti dengan bayinya.


"Terima kasih telah melahirkan anak pertama kita. Maaf di saat-saat kamu membutuhkan dukungan, mas malah masih dirantau. Sebenarnya mas punya niat pulang hari walaupun tidak di jemput. Nunggu gajian dek, mas mau pulang. Bukannya belum genap 9 bulan ya?"tanya Jumadi.


"Ya mas, dia sudah capek meringkuk di dalam perut. Makanya buru buru keluar, nunggu bapaknya pun tidak mau."Kata Inem.


"Oh mau ikut sambut bapak pulang ya, ih cantiknya sudah kenyang ya sini gendong bapak." Kata pak Jumadi, mengambil dari pangkuan ibunya.


flashback off.

__ADS_1


*****Bersambung.....


__ADS_2