TAKDIR KU

TAKDIR KU
121.DARI MASIH DI DALAM PERUT


__ADS_3

Di siang hari di tengah kebun pak Jumadi Seswanto, bu Sarinem dan Anah.


Udin sudah tidak ikut ke kebun pagi hari lagi. Karena sekarang sudah masuk sekolah, sama dengan Monik masih 5 tahun sudah sekolah. Karena postur tubuhnya yang kecil tinggi. Dan rasa ingin sekolah yang tinggi, yang lucunya lagi.


Beberapa minggu lalu Udin minta antar ke sekolah. Ikut daftar sekolah, saat di bilang belum cukup umur. Udin langsung nangis kejer gegulungan di rumah pendaftaran. Di rayu bagaimana pun dia tidak bisa, dia akan diam jika di terima sekolah.


Akhirnya bu Sarinem membuat kesepakatan, jika Udin tidak dapat mengikuti pelajaran. Maka Udin hanya ikut-ikutan sekolah, atau lebih dikenal anak bawang.


Ternyata dalam seminggu Udin selalu dapat nilai bagus. Tidak di ragukan lagi oleh kepala sekolah, maka langsung di terima.


Kembali lagi pada Anah, yang sudah istirahat sesaat. Bu Sarinem mengunakan waktu yang ada untuk berbicara dengan Anah.


"Anah, maafkan ibu kemarin marah sama kamu, sampai melampaui batas. Ibu cuma tidak ingin ada masalah baru lagi sama bude Parti. Terlebih saat ini kamu lagi menjadi bahan gosip mulut turah. Yang tidak ada kerjaan nya selain mengomentari orang lain. Baik itu salah atau benar, bagi mereka adalah mendapatkan keseruan. Bahkan tidak perduli, itu menyakiti perasaan orang yang sedang mereka bicarakan."Ucap bu Sarinem.


"Sudah aku maafkan dari kemarin, mungkin ini sudah menjadi TAKDIR KU. Sejak aku masi kecil juga selalu jadi bahan omongan orang. Dan menjadi sumber masalah orang, aku orang tidak bisa marah pada siapa pun. Jika masalah sudah berlalu, karena bagi ku kemarin ya kemarin, sekarang ya sekarang. Itu yang membuat aku sulit untuk membenci siapa pun. Meskipun yang sudah hampir membuat nyawa ku melayang." Ucap Anah dengan tatapan kosong ke depan.


"Kalau cuma Kapala benjol, memar, dan bengkak. Itu cuma hal kecil, **** begitu seumur hidupku. Tak akan pernah bisa hilang dari ingatan ku. Karena setiap ucapan itu sudah tertanam di otak ku. Bahkan bertumbuh subur dan sempurna. Tidak akan bisa dicabut, dari ingatan ku kecuali aku mati."Lanjut Anah, membuat ibunya kaget.


"Apa kamu sering di pukuli sama nenek saat tinggal di kampung yang dulu?" tanya bu Sarinem, Anah hanya mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan ibunya.


Bu Sarinem semakin berasa bersalah, ia mengakui. Bahwa dirinya selama ini tidak menyayangi Anah seperti ia menyayangi Monik. Tapi sebelum ia tidak pernah main tangan pada Anah.


Kemarin terjadi karena bu Sarinem terlampau emosi. Dan itu juga karena bu Sarinem sedang tidak enak badan. Di tambah lagi saat sampai rumah tidak menemukan anak-anaknya.

__ADS_1


Setelah mencerna semua cerita anak, sebagai ibu ada yang namanya sakit hati. Kok bisa? tentu saja, karena tidak ada seorang ibu yang rela anak di lukai atau sampai terluka.


Dari sini bu Sarinem berjanji pada dirinya sendiri, tidak akan terjadi lagi perbuatan kejam mertuanya pada anak-anaknya. Terlebih pada Anah, dari masih di dalam perut Anah sudah menderita. Cukup sampai di sini dia menderita batin dan fisik.


"Kamu tau apa alasan bapak tidak mau menyekolahkan mu?"tanya bu Sarinem.


"Pasti karena takut tidak bisa bayar sekolah yang mahal. Tapi bapak itu kalau gak mampu, harusnya tidak usah bilang 'iya' kalau aku minta sekolah. Jadi tidak membuat aku sakit hati dan kecewa bu. Bagiku siapa pun yang sudah mengucapkan sesuatu untuk ku. Itu semua adalah sebuah janji, ya harus di tepati.


Itu artinya bapak orang munafik, karena bapak ada dalam kategori orang munafik." Ucap Anah pada ibu.


Biar mereka jauh dari pak Jumadi, akan tetapi pak Jumadi tahu. Dengan semua ucapan dua perempuan yang ia cintai itu.


Ya memang apa yang posisi pak Jumadi ada dalam poin, golongan orang munafik.


*Bila berkata ia berdusta.


*Bila berjanji tidak di tepati.


*Bila di percaya iya menghianati.


Itu yang selalu ada dalam pikiran Anah. Karena semua ucapan bapaknya atau siapa pun. Itu akan langsung terkunci di dalam otak Anah.


"Tidak semua ucapan adalah janji Anah, karena itu memang berbeda nduk. Kamu jangan menyalah artikan ucapan dan janji. Coba kamu ingat-ingat, apa waktu itu bapak bilang janji akan menyekolahkan mu."Ucap bu Sarinem, memberi pengertian pada anaknya.

__ADS_1


Yang masih berusia remaja ini, masih butuh pengarahan. Karena anak seusianya Anah, memang masih mencari jati diri. Salah pengertian dan pertemanan, maka akan terjerumus di dalam kesalahan besar.


Anah mencerna ucapan ibunya, lalu dia mengingat obrolannya dengan bapaknya. Saat ia masih sakit, di kelas 4 dulu. Kini ia mengingat, bahwa bapaknya mengucapkan 'Insya Allah' bukan janji.


Yang ia tau dari makna kata tersebut, jika Allah berkehendak. Maka ia akan bersekolah, jika tidak, itu juga tidak dapat di ganggu gugat.


Hal itu membuat Anah sadar bahwa dirinya terlalu egois. Akhirnya Anah lebih baik menerima jalan hidup, yang sudah di tetapkan oleh yang maha esa. Dan kembali lagi pada takdir kehidupan yang harus ia lalui. Semua harus di jalani dengan lapang dada, maka suatu saat nanti. Tidak ada yang tidak mungkin jika Allah sudah menghendaki.


"Bapak waktu bilang 'Insya Allah' bu."Anah dengan nada rendah dan menunduk karena tidak dapat dipungkiri bahwa dirinya sudah salah.


"Nah sekarang kamu tau kan mana janji dan bukan. Maaf ya kalau kami orang tua yang tidak bisa, memberikan kebahagiaan lebih dari yang kamu mau. Tapi kami akan memberikan semampu kami, jika tidak mampu maka seperti ini yang ada."Ucap bu Sarinem.


"Iya bu, aku paham. Aku juga sudah biasa, meski aku masi kecil. Tapi semua yang orang dewasa lakukan dan jalani. Aku juga sudah jalani, kecuali menjalani pernikahan saja."Ungkapan Anah pada ibunya.


Bu Sarinem merangkul pundak Anah, lalu berkata. "Sebentar lagi kamu juga akan merasakan kehidupan yang namanya pernikahan. Dan bisa jadi orang tua, seperti ibu sekarang ini. Karena bapak mu itu sudah siap kan jodoh untuk mu."Kata bu Sarinem, membuat Anah langsung menatap ibu, lalu bapaknya.


"Enak aja aku di suruh nikah cepat. Kalau aku tidak sekolah maka juga tidak ada nikah. Sebelum aku berumur 18 tahun. Dan seumuran dengan yang sekolah SMA lulus. Kalau sampai itu terjadi berarti aku membenarkan gosip orang-orang bu."Kata Anah dengan tatapan sinis pada bapaknya.


Dan sekilas pak Jumadi menatap Anah, yang sedang menatap penuh dengan kekesalannya.


"Emang siapa yang sudah bapak siapkan untuk menjadi suamiku bu?"tanya Anah.


"Itu yang lagi sama bapak mu, sama mas Sar."Jawab bu Sarinem.

__ADS_1


"Hah? .....


__ADS_2