TAKDIR KU

TAKDIR KU
28.SEKOLAH YANG RAJIN


__ADS_3

Kini saatnya pak Jumadi berangkat untuk mengadu nasib. Setelah di tunda hampir 2 minggu, karena pernikahan adiknya. Dan harus meninggalkan putrinya di rumah selain putrinya sekolah, juga harus jadi teman ibunya yang sendiri di rumah. Bu Sarinem juga mengajari anaknya cara pakai baju seragam dan sepatu. Anah sangat senang dan tidak sabar. Harus nunggu hari senin, karena mulai ajaran baru dan pertama ia masuk sekolah.


"Anah kalau sekolah yang rajin ya, jangan suka bolos. Kan Anah mau jadi anak yang pintar, harus semangat dan rajin sekolah. supaya nanti naik kelas 2 ya, bapak sama ibu berangkat, cari uang untuk bayar sekolah."Nasehat pak Jumadi pada Anah.


"Siap pak, aku udah gak sabar pengen masuk sekolah ini."Kata Anah dengan antusias.


"Pintar besok berangkat bareng lek Warto ya. Jangan nakal, jangan genit, kalau di kilas belajar ya." kata bu Sarinem.


"Ya bu, aku itu gak genit, kata Johan aku tu centil." Kata Anah, dengan wajah polosnya.


"Lah apa bedanya centil itu sama artinya nduk."Kata bu Sarinem.


"Eh emang iya, aku baru denger tu bu."Kata Anah yang mencerna perkataan ibunya.


"Sama tingkahnya seperti kamu dek,"bisik pak Jumadi pada istrinya.


"Eh aku tu ga kaya gitu ya mas. yang ada situ yang suka cari perhatian cewek. Masak orang lagi sekolah di intipin dari atas pohon."Kata bu sarinem, balas bisikan suaminya.


"Iih bapak dan ibu ngapain bisik bisik sih!"kaa Anah dengan nada tinggi dan kesal.


"Siapa yang bisik bisik, bapak cuma bilang kamu cantik seperti ibu."Kata pak Jumadi, sambil memberikan ciuman di pipi istrinya lalu mencium pipi Anah dan kabur. Sebelum istrinya ngoceh, dan memberikan cubitan.


"Ih mas!....."kesal bu Sarinem. Melihat suaminya yang sudah kabur sebelum ia mencubit. "Bilang aku yang genit, enak saja padahal dia" lanjut ngedumel.


"Bu, kapan ibu dan bapak berangkat?" tanya Anah.


Sebentar lagi nunggu mobil pak Mul dateng. Ingat yo nduk, jadi perempuan itu harus kalem jangan pecicilan."Kata bu Sarinem kembali menasehati anak sulungnya.


"Ya bu. Aku tu cuma gak betah kalau diam aja bu. Bosen kalau diam aja, jadi lama waktunya.


"Dek ayo siap tu mobil mas Mul dah mau sampai!" tariakan pak Jumadi dari pinggir jalan. Mereka hanya bawa kantong plastik isi bekel buat makan di jalan nanti. Biar mereka tidak berhenti di warung makan. Bu Sarinem bergegas sambil menuntun Monik. Anah memandang bapak ibu dan adiknya naik mobil, dan melambaikan tangannya.

__ADS_1


"Dada" teriak Anah sambil melambaikan tangan.


Anah baru berpisah dengan kedua orangtuanya dan adiknya. Kini ia harus menghadapi kehidupan sehari-hari yang keras. Tidak ada yang bisa membuat dia lepas dari kekangaan neneknya. Pak lek yang selalu melindunginya kini punya kehidupan sendiri. Dan rumahnya cukup jauh, karena berbeda berapa RT. Dia belum punya keberanian, buat ke rumah baru pak lek nya.


"Anah cepat itu baju di cuci, jangan cengar cengir di latar. Sana ke sumur itu baju sudah Nenek rendam dari tadi."Kata Nenek dengan nada ketus.


"Nenek mau ke sawah, jangan keluyuran, habis nyuci bersihin rumput samping rumah itu." Lanjut Nenek.


"Iya nek," jawab Anah.


"Mulai lagi ni nenek."gumamnya Anah.


Anah mencuci bajunya, nenek dan seprai ya bekas tidur bapak dan ibunya saja.


Ya hal apapun yang mengenai menantunya harus bersih. Pada dasarnya nenek orang yang bersih. Bahkan seprai yang nenek pakai seminggu dua kali ganti. Tapi Anah lah yang mencuci, ia hanya menimba air dari sumur. di tampung di bak dan ember untuk Anah gunakan mencuci.


Setelah menjemur pakaian Anah mencabut rambut liar di samping rumah, sesuai instruksi nenek. Kini ia mengerjakan dengan semangat, karena bayangan ia masuk sekolah.


Membuat dia semangat jika tidak selesai hari ini, maka ia akan kerjakan esok sepulang sekolah. Dia mencabut rumput sambil bernyanyi, mengikuti lagu yang ada di radio.


Duh aduh-aduh pusing mikirin duit


Duh aduh-aduh bingung nggak punya duit


Duh aduh-aduh puyeng kepala puyeng


Nyut nyut-nyut


Mabuk, mabuk, mabuk, mabuk duit


Semua orang mabuk duit

__ADS_1


Siang dan malam mikirin duit


Yang sudah kaya mabuk duit


Yang miskin pusing mencari duit


Mau pacaran pake duit


Cari kerjaan pake duit


Mau dikubur pake duit


Mabuk, mabuk, mabuk, mabuk duit


Kepala botak karena duit


Badannya kurus karena duit


Duit bisa jadi penyakit


Banyak yang stress karena duit


Banyak yang gila karena duit


Akhirnya masuk rumah sakit


Mabuk mabuk duit-wit


Mabuk mabuk duit


Mabuk, mabuk, mabuk, mabuk duit

__ADS_1


~Erie Suzan


*****Bersambung...


__ADS_2