
Nenek terkejut dengan kedatangan anak sulungnya. Yang mengikuti adiknya dan pekerja. Ada rasa gugup, di dalam dirinya. Takut anaknya marah karena membuat Anah mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Layaknya orang dewasa, padahal masih anak-anak. Namun ia salah mengira, anaknya datang ke sawah itu karena ingin membatu angkut padi.
"Assalamualaikum mak sehat?"sapa pak Jumadi.
"Wa'alaikumsalam ya begini ke adaan mamak Jum."Kata Nenek dengan gugup.
"Kamu pulang sendiri atau sama anak istri mu?"tanya nenek.
"Ya sama mereka mak, gak tega aku kalau harus meninggalkan mereka di tengah kebun. nanti kalau sudah punya rumah di pedesaan baru aku pulang ke rumah sini sendiri." Ujar pak Jumadi.
"Berarti kamu punya niat buat tinggal di sana ya Jum?"tanyanya lagi
"Insya Allah mak, apa lagi kalau penghasilan di sana lebih baik dari sini. Tetap harus kerja keras juga, dari kerja keras itu juga akan ada hasil yang menjanjikan tentunya."Kata pak Jumadi.
"Dek Jum kapan pulang dari rantau?" tanya pak kardi, salah pekerja ngarit padi. Pak kardi ini usianya kurang lebih 55 an, ia kerja bersama istri dan anaknya yaitu Yanto. Yanto merangkap sebagai kuli panggul. Untuk angkut padi ke rumah pemilik sawah.
Sistem kerja ngarit padi atau bahasanya petik padi. bagi hasil, dengan hasil padi yang di petik. Yaitu 20% atau takaran, kalau pemilik sawah 5 rinjing (bakul yang jamu) maka yang petik 1 rinjing.
"Ya pak, tadi sampai rumah pas dhuhur." Jawab pak Jumadi.
"Apa gak capek, langsung ke sawah dek?"tanyanya lagi.
"Ya kalau di ukur capek ya capek pak, tapi sudah biasa kerja sampai sore. Nganggur sebentar pun gak enak pak."Keluh pak Jumadi.
"Wah memang beda ya' kalau pekerja keras sama pekerja biasa."Ujar pak Kardi.
"Ya gak begitu juga pak, bapak ini bisa saja. Ya sudah ya pak, saya mau bantu mamak nakar. Apa punya bapak sudah selesai?"tanya pak Jumadi.
"Sudah, itu sudah di angkut Yanto. Ini mau lanjut ngarit sebelah sana besok tanggal gebuk aja. Paling setengah hari rampung dek." Kata pak Kardi.
__ADS_1
"Lah yang lain belum selesai bapak sudah selesai ini?"bingung dengan cepat selesai tapi ada bagian yang belum di arit.
Oh itu strateginya Yanto tadi soalnya gantian sama Adit. gebukan punya mbak Marni, di pinjamnya dua hari. Dia yang pinjam Yanto yang bawa."Kata pak Kardi.
"Ya pak ya, saya ke sana dulu."Kata pak Jumadi, dan langsung berlalu. Yang di jawab dengan anggukan sama pa Kardi.
Pak jumadi menghampiri mamaknya, lalu mengambil alih rinjing dari tangan mamaknya. Ia menakar dengan cekatan, sehingga cepat selesai. Dan ia meminta mamaknya pulang duluan. Dia yang pulang belakang, tadi ia pikir mau angkut padi. setelah sampai tak jadi, karena yang di angkut cukup para pekerja dan adiknya.
...****************...
Di rumah setelah kepergian para pekerja dan pak Jumadi, Anah langsung cuci piring. Setelah itu tidur siang dengan ibu dan adiknya. Mereka bangun jam 15:15 Anah langsung menyapu halaman rumah berdua ibunya, ibunya pun sambil masak nasi dan manasin sayur. Dan tak lupa akan pesan suaminya yaitu memisah kan sayur di panci kecil. Bu Sarinem juga heran anaknya bisa cekatan mengerjakan pekerjaan. Anah nyapu halaman depan dan samping kiri yang memang lebih luas. Bu Sarinem bagian belakang dan samping kanan, rumah. Jam 16:00 semua kerjaan selesai tinggal masak lah bu Sarinem. Lebih dulu nimba air, untuk anak-anak mandi, lalu ia lanjut masak. Bu Sarinem terkejut mertuanya pulang tanpa salam. la yungsung ke dapur meletakkan perabotan bekel pagi dan siang.
"Eh mamak, sudah pulang, sini biar Inem yang cuci mak." Mengangkat dan menuju ke sumur untuk di cuci. Namun ia sempat kesel juga dengan mertuanya yang judes itu.
"Ya kalau bukan kamu, apa aku yang harus cuci."Ketusnya pada mantunya yang ini.
Nenek duduk di dekat pintu dapur, mulutnya mengunyah daun sirih (nginang) itu memang sudah jadi kebiasaannya. Katanya kalau tak mengunyah sirih seharian mulut terasa asem. Kalau kau laki-laki merokok, yang sudah biasa merokok mulut asem.
Nenek, nenek makan apa sih?"tanya si Monik.
"Ini namanya sirih" sambil memegang pinang, yang akan di ikut di kunyah.
"Dek jangan mau dekat nenek, bau dan jijik tau."Kata Anah dengan ekspresi wajah jijik.
"Iya iih nenek kayak jaranan yang ngamuk terus makan ayam hidup ih, jorok mulutnya banyak darah." Ujar Monik dengan tatapan jijik ke nenek.
Si nenek bukan marah malah mengejar mereka dengan bibir di monyongkan.
"Hoyo aku jaranan mau cium bocah cilik em em em," sambil berjalan cepat menghampiri bocah dua itu.
__ADS_1
"Anah dan Monik lari memutari meja kursi ruang tamu, sambil tertawa. Mereka bertiga kejar kejaran sampai si nenek tak kuat lagi.
Mereka berhenti karena nafas ngos-ngosan.
"Huff.... huff... dah nenek capek mau mandi dan sholat, kalian main berdua ya."Ujar Nenek, sambil berjalan ke belakang menuju sumur untuk mandi.
Anah tersenyum,"mumpung ada ibu sering kerjain aja. Kapan lagi aku main, bercanda, kalau tidak ada ibu dan bapak aku udah kayak anak tiri eh cucu tiri."dalam hatinya.
Mbak, ayo main boneka yu, boneka mbak mana?"tanya Monik.
"Ada sebentar mbak ambil dulu ya, kamu sini aja ya!"ujar Anah. Lalu Anah berjalan ke kamar orang tuanya, yang sering Anah tiduri. Tak lama ia kembali dan membawa bonekanya.
"Yuk kita main, punya kamu bajunya kotor harus di cuci, nanti mbak cuci ya biar bersih."Kata Anah.
Mereka naik ke atas ranjang yang di ruang tamu. Ranjang kayu yang di buat oleh pak Jumadi untuk mereka santai. Terutama untuk anak anaknya bermain. Karena rumah mereka masih berlantai tanah. Jika sudah sore Anah sudah mandi tak mungkin main di tanah. Bocah dua itu asik main boneka, namun ada mata yang menatap sinis.
"Pak Jumadi sudah pulang bersama parno. pak jumadi langsung ke sumur untuk membersihkan diri. Setelah itu gantian Parno, setelah selesai ia menghampiri ponakannya.
"Wah asik ya ada temannya main boneka. biasanya bonekanya cuma di aja bobok." Kata Parno, sambil menoleh pipi Anah.
Anah hanya tersenyum, sambil melirik yang duduk di pojok ruangan tamu. Tentu Parno tau maksudnya Anah, tak mau orang tuanya tau.
"Lo memang Anah gak main boneka lagi kalau gak ada dedek?" tanya pak Jumadi.
Main kalau mau tidur aja, kalau siang nggak pak. Main sapu, pensil, sama masak di dapur." Kata Anah, ngomong apa adanya.
"Maksudnya?"......
*****Bersambung....
__ADS_1