
Pagi hari setelah sarapan, pak Jumadi pamit pada pak Harto dan bu Partini.
"Mas, mbak yu aku pamit ya, takut kesiangan ketinggalan mobil. Kalau dari sini cuma ada pagi saja soalnya."Pamit pak Jumadi.
"Oh, aku pengen sebenarnya juga ke sana. Tapi tidak tau kapan Jum ini sekedar buat tambah berobat anah, semoga bisa meringankan mu. Salam buat bibi sama Inem. Semoga Anah cepat sembuh dan kamu bisa segera kembali."Ucap bu Parti.
"Ya jum salam buat bibi dan Inem, hati-hati di jalan ya. Semoga selamat sampai rumah."Timpal pak Harto.
"Ya mas, mbak terima kasih, repot segala. Ya sudah aku jalan dulu assalamualaikum."Pak Jumadi mengucap salam, selanjutnya ia mengangkat karung berisi sayuran dan tas sekolah Monik berisi perlengkapan sekolah.
"Wa'alaikumsalam salam"jawab pak Harto dan istrinya, dengan terus memandangi pak Jumadi yang semakin menjauh.
...****************...
Tepatnya jam 12:20 pak Jumadi sampai di rumah.
"Assalamualaikum."Ucap pak Jumadi.
"Wa'alaikumsalam"sambutan dari semua yang di dalam rumah. Yang ternyata hari ini ada Susi dan Parno.
Pak Jumadi masuk menghampiri mamaknya dan menyalami dan mencium tangan itu. Dan yang lain mencium tangan pak Jumadi.
"Mak dapat salam dari mbak yu Partini dan mas Harto, kamu juga dapat salam dek."Ucap pak Jumadi.
"Wa'alaikumsalam" kompak Nenek dan bu Sarinem.
"Oh ya dek ini ada titipan dari mbak yu, mbak yu bilang untuk tambahan berobat Anah."Kata pak Jumadi, sambil memberikan amplop yang di berikan bu Partini tadi pagi.
Bu Sarinem menerima dan segera ia buka ternyata isinya lumayan dari ia kira. Yaitu tiga lembar pecahan 20 ribu rupiah, ya berarti 60 ribu rupiah.
pada jaman 90 an mah gede ya teman-teman.ðŸ¤
"Alhamdulillah..., tak pikir tadi isinya 20 ribu, ternyata 60 ribu."Ucap bu Sarinem
__ADS_1
"Itu rejeki yang tidak terduga, jangan suka buruk sangka itu dak baik."Petuah pak Jumadi pada istrinya.
"Ya mas, maaf, soalnya mbak yu itu pelit.
Eh, waktu ngasih ini amplop mbak yu bilang apa sama mas?"tanya bu Sarinem.
"Semoga dapat meringankan dan kita cepat bisa kembali ke sana dek."Kata pak Jumadi.
"Tuh kan, Ini namanya ada udang di balik rempeyek mas!"Nampak kecewa di wajah bu Sarinem.
"Di mana-mana udang di balik batu dek."Pak Jumadi membalas ucapan istrinya.
"Yee mas kalau di balik batu itu gak enak, kalau di balik rempeyek itu gurih dan enak, apa lagi kalau tinggal leb...."Kata bu Sarinem, mengusap perutnya, yang mulai terlihat membesar.
"Dek, kenapa jadi ngomongin makanan, kan mas jadi berasa lapar. Ya sudah mas mau makan itu uang simpan buat tambahan. Untuk ucapan mbak yu Partini ada benarnya. Kalau Anah cepat sembuh kan bisa cepat sekolah, dan kita bisa balik kesana. Biar bagaimanapun itu juga tanggung jawab kita pada tugas kita. Kalau nanti Anah belum bisa di tinggal mas saja yang kesana adek di rumah saja."Ujarnya pak Jumadi pada istrinya.
"Ya sudah kalau begitu kita lihat saja nanti mas. Ayo aku temani makan aku juga lapar, tapi aku simpan ini dulu."Bu Sarinem pun berjalan menuju kamar.
Pak Jumadi berjalan menuju dapur, ia menyiapkan nasi sayur dan lauk. Lalu menyiapkan kursi kayu pendek yang tersedia di dapur.
"Baiklah lagian sudah lama kita tidak makan sepiring berdua. Tapi jangan seperti lagu dangdut ya mas, itu sungguh tidak enak pasti menyakitkan."Kata bu Sarinem.
"Insya allah, kita sampai tua bersama, sampai jadi kakek dan nenek."Lalu pak Jumadi mengulurkan sendok yang sudah ada makanan di depan mulut istrinya.
"Dengan senang bu Sarinem menerima suapan dari suaminya. Dan tanpa mereka sadari ada tiga pasang mata menyaksikan keromantisan mereka berdua. Karena tak mau mengganggu mereka kembali ke ruang tamu.
Bukan tidak menyadari, bahwa apa yang mereka lakukan telah di lihat oleh tiga pasang mata. Pak Jumadi sengaja, pura-pura tidak tau, ia melakukan hal itu.
"Mas nambah aku masih lapar,"bu Sarinem minta nambah lagi.
"Baiklah sayang, kamu harus makan yang banyak, supaya sehat dan dedek juga sehat."Ucap pak Jumadi, sambil mengelus perut istrinya.
Di ruang tamu, Nenek dan Parno membongkar karung yang di bawa pak Jumadi tadi. Di keluar kan isinya semua, ada cabe rawit, terong, kacang panjang dan biji kopi. Untuk di buat bubuk kopi, karena kemarin sebelum berangkat bu Sarinem bilang bubuk kopi tinggal sedikit. Dan pak Jumadi lebih puas minum kopi buatan sendiri, dari pada beli bubuk kopi jadi di warung.
__ADS_1
"Jum kacang panjang sama terong banyak banget. Apa boleh mak bawain Susi? sama bu Kokom, kalau buat kita aja takut pada busuk."Kata Nenek.
"Ya mak, itu sudah tak ikat, bagi seikat kacang panjang, terong 7 buah, cabe nya satu mangkok bubur Anah kemarin. Buat 4 bungkus mak, nanti itu buat Susi, mbak yu Marni, mbak Ning dan bu Kokom."Kata pak Jumadi.
"Lah, terus besok siapa yang panen mas kacang sama terong nya mas?"Tanya bu Sarinem.
"Semalam sudah mas serahkan sama mbak yu Parti, biar di petik selama kita di sini. Kemarin banyak yang kering di pohon dan sudah kuning tu ada di karung. nanti bagi ke Susi dan bu Kokom juga biar buat bibit. Oh ya mbak yu Marni juga jangan lupa. Sayang kalau di buang buat sayur juga boleh, itu sayur krecek."Kata pak Jumadi.
"Oalah yang paling bawah dah pada tua to. Ya wes nanti di buat krecek, tapi kalau yang kacang muda dan terong habis."Sahut Nenek.
Sekarang semua sudah di ruang tamu dan sedang membungkus sayuran dan cabe. Dan Nenek lah yang mengantarkan di bu Kokom dan Ning. Sedangkan ke bu Marni Parno yang akan mengantarkan.
...****************...
"Assalamualaikum mbak yu"ucap Parno saat sampai rumah bu Marni.
"Wa'alaikumsalam masuk Parno, sudah makan belum sekalian sini."Bu Marni menjawab dan mengajak Parno makan siang.
"Sudah makan tadi mbak, ini saya antar oleh-oleh dari mas Jum."Sambil menaruh kantong kresek hitam di atas kursi sebelah bu Marni.
"Memang Jumadi dari mana kok bawa sayuran banyak gini?"Tanya bu Marni.
"Kan mas Jum dari desa mbak yu Parti mbak, kemarin berangkat sekarang pulang."jawab Parno.
"Kok tumben cepat biasanya lama, apa mau di sini dan tidak balik lagi?"tanya bu Marni lagi, karena heran tidak seperti biasanya.
"Karena cuma urus surat pindah sekolah Monik mbak yu. Ya jadi cepat, sekalian izin sama mbak yu Parti."Jawab Parno.
"Oh gitu, sampai kan terima kasih ya Par, berarti si Monik di sini ya dengan Anah."Ada rasa khawatir akan bernasib sama dengan Anah.
"Iya mbak yu, ya sudah saya pamit ya, saya juga mau pulang kerumah mertua. Assalamualaikum"ucap Parno.
"Iya Par, terima kasih. Wa'alaikumsalam"Bu Marni hanya memandangi Parno yang keluar rumahnya.
__ADS_1
*****Bersambung....