
Seminggu berlalu, sepulang sekolah Anah tak lagi pergi ke sawah. Dua hari ada yang kerja untuk memanen padi di sawah dan pekerja ada yang bagian memetik ada angkut padi ke rumah.
Anah di kasih tugas masak untuk makan buat para pekerja. Dan Anah masak dengan perasaan penuh semangat dengan mendengarkan musik dangdut. Ya Anah suka musik dangdut, bahkan kini ia asik nyanyi sampai tak sadar. Kalau di dengar oleh para lelaki dewasa dibalik pintu menuju dapur.
...****************...
Hidup ini jangan serba terlalu
Yang sedang sedang saja
Karena semua yang serba terlalu
bikin sakit kepala
Terlalu kaya... jangan terlalu
Terlalu miskin... jangan
(Terlalu tinggi?) Jangan!
(Terlalu rendah?) Jangan!
(Terlalu besar?) Jangan!
(Terlalu kecil?) Jangan!
Hoo, sedang-sedang saja
Hidup jangan dibuat susah-susah
Yang sedang-sedang saja
Kamu pilih yang mana? (Kanan, kanan)
Kamu suka yang mana? (Kiri, kiri)
Kalau saya punya usul
Yang tengah-tengah saja ho hoi
Kamu pilih yang mana? (Atas, atas)
Kamu suka yang mana? (Bawah, bawah)
Kalau saya punya usul:
yang tengah-tengah saja
Bagaimana?
(Bagaimana ya?… Oke!!
Hidup ini jangan serba terlalu
Yang sedang-sedang saja
Karena semua yang serba terlalu
Bikin sakit kepala
Terlalu keras... jangan terlalu
Terlalu lemah... jangan
(Terlalu gemuk?) Jangan!
(Terlalu kurus?) Jangan!
__ADS_1
(Terlalu panjang?) Jangan!
(Terlalu pendek?) Jangan!
Hoo, sedang-sedang saja
Hidup jangan dibuat susah-susah
Yang sedang-sedang saja
Kamu pilih yang mana? (Depan, depan)
Kamu suka yang mana? (Belakang, belakang)
Kalau saya punya usul:
Yang tengah-tengah saja
Bagaimana?
(Bagaimana ya?… Oke!!)
Hidup ini jangan serba terlalu
Yang sedang-sedang saja
Karena semua yang serba terlalu
Bikin sakit kepala
Terlalu kaya… jangan terlalu
Terlalu miskin… jangan
(Terlalu tinggi?) Jangan!
(Terlalu rendah?) Jangan!
(Terlalu besar?) Jangan!
Hoo, sedang-sedang saja…
Hoo, sedang-sedang saja…
Sedang-sedang saja…
Sedang-sedang saja…
"Aduuuuh yang lagi seneng manis banget."Kata Parno, sambil jongkok dan menopang dagunya, lalu tersenyum.
Anah menoleh, melihat parno dan gengnya pada jongkok berbaris dengan gaya yang sama. Tersipu malulah Anah, dan langsung bangun untuk lari. Namun Parno langsung mengangkat Anah dalam gendongan. Membuat Anah jadi gak bisa kabur, dan kompak dengan yang lain. Yaitu Sugi, Jono, Yanto, dan Parno sendiri, dengan mengendong anah ia bernyanyi.
Yang lagi masak (Anah)
Yang lagi nyanyi (Anah)
(yang pintar) Anah.
(yang cantik) Anah.
(yang manis) Anah.
(yang centil) Anah.
OOO bikin gemes aja.
AAA sayang masih kecil.
__ADS_1
"Hahahaha, lek aku suka deh, dinyanyiin lagi bolehlah.
"Aku yang gak mau Anah, aku lagi lapar nih. apa sayurnya udah matang."Sugi bertanya.
"Sudah tu.... lek, aku mau siapin makan buat pak lek dan yang lain, turunin aku." Kata Anah, langsung turun.
Dan menyendok sayur lalu di bawanya ke ruang tamu. Di letakkan di meja, lalu di susul nasi, kerupuk, dan perlengkapan alat makan. Kini Anah masak nangka muda campur ayam, di masak gulai. Mereka makan dengan lahap, karena memang masak Anah enak. Bahkan Susi istri Parno saja kalah, dari masakan Anah.
"Wah Anah pintar masak yah, tadinya aku gak percaya Anah bisa masak seenak ini."Kata Jono.
"Oh ini jangan di tanya, bisa di bilang bakatnya masak."Kata Sugi.
"Sayang masih kecil, kalau dah remaja kaya Imah langsung tak lamar."Kata Yanto.
"Sebelum kamu aku duluan,"sahut Sugi.
"Kenapa kamu gak lamar Imah aja atau Izah. kan mereka sudah pantes dan pas buat di peluk."Kata Jono.
"Bener tu apa kata Jono." Kata Parno.
"Ah males aku orang tua sama anak sama. Tapi mungkin kalau kamu Gi, gak akan di tolak. Secara kamu kan lumayan punya ladang, yang luas. Petani cabe pula, lah aku kerja tepat orang terus punya sawah aja nggak, ladang apa lagi."Kata Yanto pada Sugi.
Memang mbak yu Marni termasuk pilih pilih gitu?" Parno yang memang belum tau, memang Parno dan bu Marni terikat saudara dari kakak iparnya.
"Ya gitu lah."Jawab Yanto singkat.
Mereka ngobrol tentang jodoh sambil makan. Begitu selesai langsung mereka anter ke dapur. Anah juga sudah menyiapkan bekal buat di bawa ke sawah untuk nenek dan yang lainnya.
"Nduk bekelnya sudah siap?"tanya Parno.
"Sudah lek tu di meja."Jawab Anah, Sambil menunjuk ke meja. Mereka berempat langsung berangkat, ke sawah sebelum dhuhur. Nanti pas balik lagi baru sholat, sebagai kewajiban umat Islam. Karena saat ini jam menunjukkan pukul 11:50 belum dhuhur.
"Ayo ini sudah hampir dhuhur, kita kelamaan. Harusnya juga makan di sawah, karena lapar jadi di sini kita. Mudah mudahan tidak di ceramahin sama mamakku." Kata Parno.
"Yok"kompak mereka.
Sedangkan Anah di rumah langsung mencuci piring bekas mereka makan. Serta perabotan lainnya yang tadi di pakai buat masak.
Tak lama ada suara motor 2 berhenti di depan rumah. Namun anak masih asik nyanyi sambil membereskan piring ke dalam rak.
"Assalamualaikum"ucap pak Jumadi dan bu Sarinem sedikit berteriak.
"Wa'alaikumsalam,"jawab Anah dan langsung lari ke ruang tamu. Saat mendengar suara yang tak asing, di kupingnya.
"Ya Allah, aku kangen bapak sama ibu. Langsung memeluk bapaknya, bergantian dengan ibunya. Lalu adiknya itu di tuntun di ajak naik ke atas ranjang yang ada di ruang tamu.
"Bapak dan ibu lapar tidak, aku masak sayur nangka dan ayam?"tanya Anah
"Mbak aku lapar, ibu aku mau makan."Kata Monik.
"Memang Anah bisa masak?" di anggukan oleh Anah "ah bapak mau makan,"lanjut pak Jumadi, yang langsung berjalan ke dapur di ikuti bu Sarinem.
Bu Sarinem membawa piring dua. menghampiri Anah dan Monik. Lalu memberikan pada Anah dan Monik, melihat wajah lelah Anah. Bu Sarinem yakin bahwa Anah belum sempat makan.
"Anah sudah makan?"tanya ibunya, Anah menggeleng.
"Belum tadi habis cuci piring aku mau makan. Tapi bapak dan ibu datang, belum jadi deh hehehe," jawab Anah.
"Ya sudah ni Anah dan Monik makan. Ini beneran Anah yang masak?"tanyanya lagi.
"Iya kan aku sudah bisa masak bu. sekarang kita makan yuk bu,"ajak Anah.
"Iya ibu ambil lagi kita makan sama sama ya."Jawab bu Sarinem, lalu berjalan ke dapur.
"Ini beneran Anah yang masak? aku kok bingung ya, ini bocah bisa masak."Kata pak Jumadi pada istrinya.
"Iya mas tadi aku tanya sama dia. Gimana dia didiknya sama mamak ya." kata bu Sarinem, merasa tidak enak hatinya.
*****Bersambung...
__ADS_1