
"Terserah mu, sudah sana gabung tu sama para tetua mu."Kata sambil tersenyum mengejek laki-laki dewasa yang ada di ruang tamu.
"Kurang asem kamu ini Zah." Kata Hadi kakak nya Puji.
"Memang mas sudah rasain? belum kan? lagian kalau aku ini kurang asem ya wajar lah. Pohon asam belum berbuah, kalau gak percaya tanya tu sama mas Sugi."Kata Izah, dengan senyum mengejek.
"Ah kamu Zah, kenapa jadi ketularan Anah sih kan aku jadi kangen sama dia." Kata Sugi.
"Aku juga, itu anak berubah cantik dan kalem. Tapi mulutnya tidak berubah, tetap ceriwis. Gemes banget aku sayang itu tidak mudah di dekati." Kata Puji.
"Apalagi sekarang sudah kenal Jakarta, gak bakalan dia mau sama bujang kampung. Contoh nya pun sudah ada, sudah dapat di pastikan." Timpal Hadi, matanya melirik Izah.
"Wes gak usah nyindir-nyindir segala. Bukan karena mengenal orang kota terus tidak mau orang kampung sendiri. Buktinya mbak Kanti nikah sama orang kampung sebelah."Kata Izah.
"Lalu kamu mau sama orang kota apa orang kampung kita apa kamu sebelah?"tanya Hadi.
Kalau aku bukan tidak mau sama orang sini. Tapi kalian itu tidak ada yang membuat jantung berdebar. Kalau menikah tanpa cinta, jadinya nanti rumah tangga nya tak bahagia. Walau tidak cinta tapi ada rasa nyaman, damai dan bahagia. Sama kalian juga tidak punya rasa itu."Jawab Izah.
"Apa ini yang di maksud dengan cinta bertepuk sebelah tangan."Gumam Hadi, Yanto Seswanto pun menyahuti.
"Tidak cuma kamu mas."Sahut ke duanya.
Kemudian Sugi menyanyi.
......................
Akhir kata, tutup cerita
Sebab cinta ogah berdusta
Ho-oh, ha, ha, ha, ho-oh
Pura-pura cinta berat
Padahal bohong
Pura-pura rindu berat
Padahal bohong
Dipikirin, pusing kepala
Diturutin, injak kepala
Akhir kata, tutup cerita
Bertepuk sebelah tangan
Bertepuk sebelah tangan
__ADS_1
Mana mungkin
Bikin capek, ah, ah
Bikin repot, ah, ah
Oh, sayang
Bercinta sebelah hati
Bercinta sebelah hati
Mana tahan
Bikin susah, ah, ah
Bikin repot, ah, ah
Oh, sayang
......................
"Kalian ini mau nonton TV? apa mau konser organ tunggal sih?"Omel bu Marni. Karena film sinetron yang sedang di tonton, jadi tidak kedengaran.
"Iya camer... Maaf kan calon menantu mu ini." Ujar Sugi dengan pedenya.
"Terserah mu lah Gi, mau bilang apa." Kata bu Marni, karena Sugi orang nya sudah kebal tetap saja manggil camer walau pun di tolak Izah Imah.
Siapa yang tidak malu, saat sedang berjalan. Ketika laki-laki malah di godain, dengan memuji dan menyodorkan mbaknya.
"Nana kamu itu masih kecil, tapi saja nimbrung kalau orang gede ngomong."Omel bu Marni.
"Kalau aku bisa milih mending aku yang gede dari pada mbak Izah Mak. La coba Mak lihat laki-laki ganteng-ganteng begitu di biarin. Kalau aku dah gede tak pilih satu, terus nikah deh. Kan kasihan ngantri terus tapi gak membuahkan hasil." Celoteh Nana yang saat ini memasuki usia remaja.
"Nana kamu ini punya mulut mau tak sumpel pakai cabe rawit kali. Masih kecil ngerocos melulu yang melebihi petasan. Bikin malu aja kamu."Izah yang kesal memarahi Nana.
"Nana sini."Panggil Sugi, sambil melambaikan tangan.
"Iya lek ada apa?"tanya Nana, sambil berjalan menuju dekat Sugi.
Kemudian dia duduk di sebelah Sugi yang sudah memberi kode dengan menepuk sebelahnya.
"Memang kalau kamu besar, mau kalau lek Sugi ajak nikah?"tanya Sugi dengan menatap Nana dengan serius.
"Mau lek, kalau mbak-mbak pada nolak."Jawab Nana dengan lantang.
Sungguh jawaban yang bagus bagi Sugi, dia tidak perduli mau di bilang apa. Yang penting dia dapat gadis bu Marni.
Bu Marni cuma menggeleng kepala, mendengar jawaban anak bungsunya itu. Nana memang dewasa sebelum waktunya.
__ADS_1
"Sementara para bujang bersorak mendengar jawaban Nana. "Huuuu parah Sugi," kompak semua.
"Berapa tahun lagi kamu harus nunggu? Mending kamu cari gadis lain kali. Kenapa harus dapat anak dari Marni sih? kecuali tidak ada lagi gadis yang mau sama kamu?"tanya Hadi yang seumuran dengan Sugi.
"Memang kenapa kalau aku mau sama anak baik Marni. Aku pun tidak tau kenapa, aku cuma ingin menikah dengan anak bi marni atau tidak nikah sama sekali."Jawab Sugi.
"Eh kamu masih waras kan Gi?"tanya Hadi.
"Memang selama ini aku terlihat gila apa? Nana sudah ngantuk ya?" tanya saat melihat Nana menguap, Nana hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Tidur sana aku pulang ya sudah malam."langsung beranjak dari duduknya, mengusap kepala Nana. Setelah itu baru berjalan keluar dari rumah bu Marni.
"Bibi calon mantu pulang ya."Pamitnya saat sebelum benar-benar keluar rumah.
"Iya Sugi." Sahut Bu Marni.
Nana menatap Sugi keluar dari rumah nya, ia pun merasa ada yang enak saat tangan Sugi mengusap kepala nya.
"Kenapa rasanya enak ya saat lek Sugi mengusap kepala ku. Ternyata lek Sugi itu baik sama dan kenapa sama Anah dulu galak banget. Aku jadi pengen tidur di usap-usapin kepala ku sama lek Sugi."Berkata dalam hati.
Membayangkan tidur di pangkuan Sugi, usap-usapin kepala nya dengan lembut dan penuh kasih sayang. Lalu mereka bercanda dengan mesranya terasa indah. Dengan membayangkan hal itu Nana jadi senyam senyum sendiri.
Kemudian dia dikagetkan oleh Seswanto, sehingga membuyarkan lamunannya Nana.
"Masih kecil senyum-senyum sendiri, kenapa membayangkan apa?" tanya Seswanto.
"Hehehehe, ganggu aja mas, aku lagi bayangin kalau mau tidur di usap-usapin kepala ku sama lek Sugi."Jawaban gadis kecil polos itu.
Membuat para orang dewasa Menggeleng kepala. Karena Nana ini matang sebelum waktunya. Nana langsung beranjak dari duduknya berjalan menuju kamar, karena sudah ngantuk.
...****************...
Pagi hari jam Setengah Seswanto sudah di depan rumahnya bu Marni bersamaan dengan Nana dan Izah keluar rumah.
"Baru aku mau panggil mbak."Kata Seswanto.
"Tidak perlu di panggil sudah nongol nih."Kata Izah dengan senyum manis.
Mas Ses ada apa sih, kok lek Jum nyuruh mas jemput mbak Izah?"tanya Nana.
"Aku gak ngerti ada apa, tapi aku cuma di minta tolong jemput mbak Izah. Kalau lek Jum yang jemput gak boleh sama Udin."Jawab Seswanto.
"Sudah di jawab kan sekarang sana berangkat. Ini sudah siang yang nanti kamu gak naik lagi sekolah nya."Perintah Izah pada Nana sambil mendorong adiknya untuk berangkat sekolah.
"Gampang kalau gak naik kelas, aku akan naik ke pelaminan saja." Ucapannya dengan senyum gembira.
"Kenapa aku punya adik gila nikah sih, di pikirannya apa coba. Begini dampaknya anak kecil suka nguping pembicaraan orang dewasa. Jadi tua sebelum waktunya, heran di pikir enak apa nikah."Gerutu Izah.
"Ya memang enak mbak, tergantung yang menjalani pernikahan itu bagaimana."Kata Seswanto.
__ADS_1
"Emang...
*****Bersambung....