TAKDIR KU

TAKDIR KU
128.NGINTIP GADIS MANDI


__ADS_3

"Iya ya aku masak. Nanti sore aku puas-puasin lihat pemandangan pasti lebih ini apa lagi warna langit yang jingga."Ucap Anah, sambil menyalakan api di tungku untuk masak.


"Ya puas-puasin deh asal kerjaan mu beres, kami yang kerja tidak akan kelaparan. Dan satu lagi, yang penting cuaca cerah kamu bisa lihat matahari tenggelam."Ucap pak Jumadi.


"Iya juga, tapi masih ada hari esok. Semangat.... Walau di ajak ke puncak cuma jadi babu. Tapi dapat bonus melihat pemandangan yang indah dan sangat menakjubkan."Ucap Anah.


Secara dia memang menjadi tukang masak untuk para pekerja. Tapi tidak merasa keberatan berada di hutan itu. Yang mana sekarang jarak rumah lebih dari 200 meter, paling dekat. Namun di kawasan ini hanya dia yang gadis.


Di bukit seberang sana ada rumah 2 dengan jarak 20 meter saja. Dan di sana ternyata banyak bujang nya dan salah satunya teman sekolah Anah.


Yang memang kebun orang tuanya Wagito sebelahnya dengan kebun pak Jumadi. Tapi yang Wagito jarang ikut ke kawasan. Yang sekarang ikut ada Suranto bujang berusia 17 tahun yang dulu satu sekolah dengan Sarwadi.


Dan rumah sebelahnya, Orang Sunda berasal dari Jawa barat. Dan transmigrasi sejak muda. Dahulu juga sempat ikut serta menggarap kawasan. Namun belum pernah menghasilkan, sehingga ia mencari pekerjaan di desa.


Sampai saat ini punya anak 7 laki-laki semua. Karena 2 tahun lalu masih hutan sekali satu keluarga di boyong ke kawasan kecuali yang masih sekolah. Namun sekolahnya tidak di sekolah Anah, sebab mereka kejauhan.


Dari jendela rumahnya dua bujang kakak beradik. Memperhatikan Anah yang sedang berangkat ke kali. Yang tidak agak jauh dari rumahnya, tapi kali itu berada di kebun orang tuanya Sutanto.


"Anah ya temannya Gito?"tanya bu Hesti.


"Iya bude, lagi nyuci ya?" tanya Anah.


"Ibu mu tidak ikut?" tanyanya bu Hesti.


"mboten bude. Apa bude di kebun cuma berdua pakde aja?"tanya Anah.


"Dari kemarin memang sendiri solarnya Ranto lagi nganter Gito pulang. Sore ini juga balik ke sini, sekalian ke pasar belanja." Jawab bu Hesti.


"Yang belanja mas Ranto bude?"tanya Anah.


"Ya gak lah mana mau anak laki-laki di suruh belanja. Paling nanti kalau sudah punya istri dan istrinya melahirkan baru mau belajar. Kalau bujang begitu paling beli keperluan sendiri."Jawab lagi.


"Kirain bude, hehehe,"Anah tertawa kecil.

__ADS_1


"Ya sudah bude duluan ya." Ucap bu Hesti pamit pada Anah.


"Ngeh bude."Sahut Anah, segera dia melakukan pekerjaannya. Karena masi pertama di sini, Anah agak merinding.


"Aduh sendiri begitu berada merinding, aku orang baik kok jangan di ganggu ya."Anah bicara sendiri, sebab merasa ada yang berbeda.


"Bismillahirrahmanirrahim." Ucap Anah mulai mandi dengan cepat dan singkat.


Dari atas bukit ada yang berdiri melihat ke arah kali. Seorang perempuan lagi berkemben (pakai kain batik sebatas dada, untuk menutupi sebagian tubuh perempuan).


Author tidak tau bahasa yang pas untuk di tulis. Itu pakai bahasa author sehari-hari deh.😁😁😁😁🙏


*


"Itu yang orang baru, tapi kak bude Hesti habis dari kali juga. Mungkin tahu bisa kita cari tau namanya."Ucap Ujang, sang kakak.


"Iya kang dia memang sudah gadis bener tapi kelihatannya masih kecil." Ucap Ade sang adik kedua.


"Iya nanti saja jangan sekarang tidak enak. Eh itu ada bapak-bapak melihat arah kita, sudah Yo masuk." Memberi kode dengan lirikan matanya.


*


Beberapa menit kemudian Anah sudah selesai ia merasa kedinginan membawa air seember dan membawa piring dan gelas yang sudah di cuci bersih.


Tampak jalan pelan dengan bibir warna biru dan gemetar. Pak Jumadi yang melihat Anah kedinginan akhirnya memberi nasehat.


"Mulai besok jam setengah sudah mandi biar tidak kedinginan. Duduk dekat tungku sambil bikin bakwan enak tu. Minum air anget dulu, supaya nanti badan juga anget juga."Nasehat pak Jumadi.


"Iya pak,"kata Anah sambil menuang air anget yang baru beberapa menit lalu matang.


Kemudian melaksanakan tugas dari bapaknya, yang meminta Anah buat bakwan.


Dengan memotong semua sayuran yaitu kok, wortel, daun bawang dan seledri. Lalu di racik dengan bumbu, di aduk jadi satu tepung terigu, sayuran dan bumbu.

__ADS_1


Setengah jam kemudian sudah siap itu kopi teh dan bakwan. Setelah selesai dengan tugasnya, Anah keluar duduk di teras.


Dengan cuaca mendung, bertanda akan hujan turun. Bahkan terasa sejuk karena, kabut mulai menutup gunung bukit Punggur.


Sungguh mata di manjakan dengan pemandangan yang sangat indah dan menakjubkan.


Anah menatap ke arah desa nya ada yang masih di sinari oleh matahari. Ada juga yang sudah mulai hujan, namun Anah tidak tau.


"Pak, bapak"Panggil Anah dari luar.


"Ada apa to?"tanya pak Jumadi.


"Itu di desa jadi ada awan agak putih, ya kok warna itu seperti dari langit. Maksudnya apa ya?"tanya Anah.


"Oh itu yang terlihat terang artinya wilayah itu panas dan cerah. Kalau yang putih terlihat jalan arah ke sini, artinya itu hujan mulai turun. Beberapa menit lagi di sini pun ikut hujan. Ini juga kabut mulai menutup sebagian wilayah kawasan."jawab pak Jumadi.


Anah hanya mengangguk tanda mengerti dengan jawaban bapaknya. Anah tetap melihat pemandangan itu, yang menjadi hiburan Anah.


...****************...


Ya bulan terakhir berlalu Anah saat ini lagi sakit sementara persediaan obat-obatan sudah habis.


Yang Anah rasakan dingin menggigil, pusing dan mual rasa ingin muntah. Namun tidak muntah sama sekali tapi Anah sering membuang ludah. Sebab mulut selain rasa pahit, serasa berlendir sekali. Jika Anah menelan ludah, langsung muntah tapi tidak ada yang di muntahkan.


Jika ada yang tidak tau Anah sebenarnya maka akan di anggap lagi hamil muda. Padahal Anah belum mengalami menstruasi yang pertama.


Sebab melihat postur tubuh Anah yang sekarang ini lebih gendut. Badan Anah melar, bajunya pada sempit. Karena memang sekarang gendut, dari kepala sampai kaki.


Bagaimana tidak, di sini selain Anah merasa senang mendapat hiburan. Karena dapat melihat segerombolan kera yang kepala putih. Ada beruang yang suka nangkring di pohon dan tertidur. Sesekali melihat kingkong, elang juga sering hinggap di pohon besar depan rumah. Lebih tepatnya di hutan yang ada depan rumahnya. Bahkan babi hutan pun sering mondar-mandir di depan rumahnya.


Anah saat ini memakai dress lengan pendek, panjangnya selutut. Dan cepat pendek selutut juga, baju yang ia kenakan membuat Anah terlihat lebih bulat. Serumah itu yang rata-rata laki-laki Anah saja yang perempuan. Tidak berani berkomentar, hanya berkata dalam hati saja. Takut menyinggung perasaan Anah, yang mana tidak ada teman atau tempat mengadu.


"Aku pulang dulu ya mas, ini nganter Anah. Mau di sini terus juga tidak ada obat pusing atau meriang. Kemarin kan sudah di minum yang pada sakit. Giliran Anah yang sakit ya mau gak mau pulang. Ayo bantu dulu bawa kayu yang kemarin kita kumpulkan."Ajak pak Jumadi pada pekerjanya.

__ADS_1


"Sampean mau pulang bawa gerobak lek? Apa bisa...."


*****Bersambung...


__ADS_2