
Belum sempat Monik jawab menjawab, Anah sudah datang dengan piring berisi nasi dan sayur. Dan memberikan pada ibunya karena dia yakin ibunya sudah lapar.
"Bu makan dulu ya, nih aku bawain makan sekalian."Ujar Anah.
"Wah mbak pintar ya, tau aja kalau ibu lapar. Tapi ibu masih males makan, karena tadi mabuk perjalanan." Ucap bu Sarinem, membuat Anah kecewa. Karena ingin dapat perhatian dari ibunya, sampai harus melakukan itu.
Ibu mana yang tega, melihat anaknya yang selama setahun lebih tidak di jumpai itu sedih
"Tapi kalau Anah mau makan bareng sama ibu, ibu akan makan. Anah mau kan makan bareng ibu? ibu takut tidak habis makannya. Nanti ayam nya mati kalau makan tidak di habis." Ujar bu Sarinem.
*Nah siapa nih dia antara pembaca, yang pernah denger kata-kata bu Sarinem ini, tunjukkan jarimu?*😜😁😁😁
"yeee makan bareng ibu."Ujar Anah sangat senang ketika mendengar ibunya mengajak makan bareng.
"ibu aku juga mau."Rengek Monik.
"Iya, ayo makan bersama-sama."Ajak bu Sarinem.
Akhirnya mereka bertiga makan bersama, dengan bu Sarinem menyuapi kedua putrinya dan dirinya sendiri.
Tanpa terasa mereka makan dengan hikmat, dan habis tiga piring. Bahkan bu Sarinem yang awalnya tidak nafsu makan pun jadi makan dengan lahap.
Anah sangat senang ketika melihat ibunya makan sama banyaknya dengan dirinya.
"Bu katanya tidak nafsu makan?"tanya Anah.
"Hehehe iya ibu jadi lahap makan bareng kalian. Rasanya makan bareng kalian itu eeenak banget."Ujar bu Sarinem.
"Sama bu, kenapa beda ya rasanya makan sendiri tidak seperti ini" Kata Anah.
"Iya bu, aku juga kadang aku males makan, tapi karena takut sakit kayak mbak aku paksa makan."Keluh Monik.
Ya Monik Memeng jarang sakit, kalau pun sakit itu hanya sehari saja. Karena Monik takut di suruh minum obat terus. Jadi ia memilih untuk sembuh dengan cara dia sendiri. Yaitu semangat untuk sembuh, dengan makan dan minum yang banyak dan minum obat dengan terpaksa.
"Ya aku sakit bukan karena gak makan kali Mon. Itu memang karena lagi sakit aja."Kata Anah, karena Anah tidak akan pernah mengatakan yang sudah berlalu.
__ADS_1
"Sudah tidak usah berdebat, sekarang ibu mau mandi dan sholat kalian jagain dedek ya."Perintah bu Sarinem.
"Baik bu"Jawab keduanya.
Bu Sarinem langsung melangkah ke belakang mencuci piring terlebih dahulu. Setelah selesai ia baru mandi dan melaksanakan kewajibannya.
Malam hari Anah Monik dan ibunya pergi nonton bareng ke rumah pak Rudi.
Di sana bertemu dengan muda mudi, dan menanyakan kabarnya bu Sarinem dan pak Jumadi.
Bu Sarinem tak lupa membahas pekerja yang di minta pak Yatno. Ternyata antusias mereka cukup banyak dan yang ikut juga lumayan. bahkan bu Sarinem meminta besok ada yang pesan angkot khusus untuk dirinya ke kota. supaya bisa berangkat bareng dan tidak ada yang tartingal.
...****************...
Satu minggu berlalu, kini bu Sarinem berangkat dengan rombongan 8 orang dan bayi Udin dalam gendongan jadi sembilan orang. Mobil hampir penuh, di belakang itu muat 10 orang jika tidak ada yang gemuk. depan tiga orang dengan supir.
Tapi supir sudah bawa orang tiga, akhirnya bu Sarinem duduk di depan. Karena di belakang semua laki-laki, bu Sarinem tampak sedih. Karena harus meninggalkan putrinya kembali.
"Dada bu hati-hati ya salam buat bapak."Ucap Anah dan Monik bersamaan dan melambaikan tangannya.
Anah dan Monik langsung pamit berangkat sekolah. Mereka mengunakan sepeda, berangkat bareng tapi pulang berpisah. Karena Monik pulang lebih dulu, karena jadwalnya Anah sudah tambah karena sudah kelas tiga.
...****************...
Hari berganti hari bulan berganti bulan tak terasa satu berlalu.
Parno sudah punya anak, anak perempuan yang di beri nama Sekar Asih.
Kini Sekar sudah 7 bulan sedang lucu-lucunya deng pipi gembul nya.
Saat ini pak Jumadi tidak lagi meminta Parno ikut dengannya. Karena Parno sekarang menjadi menantu kesayangan pak lman.
Pak Jumadi dan istrinya sudah di kampung untuk menengok anaknya. Mereka sudah datang beberapa hari lalu, kini sedang ngobrol di ruang tamu.
"Bapak aku ikut ke rumah baru ya, nanti sekolah nya kan lebih dekat. Aku berangkat sen diri deh, dan aku pasti gak akan sendiri lagi. Kan sekarang aku sudah pintar, naik kelas 3 dan sekarang sudah ada dedek Udin."Rengek Monik.
__ADS_1
"Iya boleh besok bapak urus surat pindah nya dulu ya. Apa Anah mau pindah sekalian ke sana sekolah bareng Monik?"tanya pak Jumadi.
Anah mendapat pertanyaan dari bapaknya berpikir. Selama ini ada Monik nenek tidak lagi galak padanya, kecuali dia berbuat kesalahan paling di jewer atau di cubit. Dia sudah tidak lagi di pukul oleh neneknya.
Dan Anah takut jika dia pindah tidak lagi bisa ketemu teman-temannya. Di sana tidak ada yang di kenal selain adiknya.
"Aku di sini aja deh pak, nanti aku pindah kalau sudah lulus kelas 6 aja."Jawab Anah.
"Ya sudah kalau itu mau Anah, bapak cuma menawari tidak akan memaksa."Ujar pak Jumadi.
"Mak tadi aku beli sawah punya pak Sakiyat sebenarnya pak Sakiyat minta sama ladangnya. Tapi ku pikir siapa yang mau ngurus, kalau sawah kan mamak atau gampang."Ujar pak Jumadi pada ibunya.
"Sawah yang di mana?"tanya Nenek.
"Itu yang sebelah sawah mbah Rom, paling ada 7 petak, yang dekat kuburan."Jawab pak Jumadi.
"Pak yang ada rawa nya itu ya?"tanya Anah.
"Iya kok kamu tau, sawah itu ada rawa nya?" tanya pak Jumadi.
"Iya kan pernah ikut cabut singkong di ladang pakde Sakiyat pak, belum lama ini."jawab Anah, di angguki pak Jumadi sebagai tanda mengerti.
"Tapi sepertinya serem deh pak, soalnya dekat kuburan, bahkan genteng rumah kuburan itu kelihatan dari sawah."Kata Anah, sambil membayangkan yang serem.
"Alah kamu aja yang penakut, kalau siang itu gak ada hantu."Kata Nenek.
"Iya kalau kita itu kemana-mana berdoa dan selalu ingat Allah gak ada nama hantu mau dekat dengan kita."Timpal pak Jumadi.
"Oh ya ya, aku tinggal baca saja surat An-Nas. Kalau pak ustadz Musa, surat An-Nas itu untuk ngusir setan."Kata Anah.
"Nah itu sudah tau kenapa harus takut. Ya sudah besok aku cari tukang bajak mak. Nanti kalau sudah dapat tinggal tandur, tadi aku lihat sawah itu sudah ada bibit yang siap tandur. Jadi kalau bisa seminggu lagi tandur, jadi nanti aku berangkat juga sudah selesai."Ujar pak Jumadi.
"Ya wes mamak manut saja."Kata Nenek.
*****Bersambung....
__ADS_1