TAKDIR KU

TAKDIR KU
69.KOMPAK KAYAK SUPORTER


__ADS_3

Tamu yang datang silih berganti, tadi dari para teman Anah yang perempuan. Saat ini yang datang para laki-laki, yang tidak cuma dari teman sekelasnya saja. Teman Warto dan beberapa anak sekitar yang berbeda kelas. Ada kelas 2, 3, 5 dan 6 ini ada laki-laki dan perempuan. Mereka datang ada yang sama orang tuanya ada yang sendiri.


"Hai.... Anah kami rindukan canda tawa mu menghiasi sekolah lagi."Mereka mengatakan itu dengan serentak sehingga terlihat kompak.


Hal itu membuat senyum manisnya Anah terlihat oleh mereka, yang pada dasarnya inginkan Anah semangat untuk sembuh. Karena pengalaman dari kakak atau adik kelas mereka. Tidak bisa sembuh jika ada yang sakiiit seperti Anah. Makanya mereka merencanakan membuat yel yel untuk memberikan semangat Anah.


"Nah ini dia yang selalu ceria, dan selalu kami rindukan, semangat ya makan yang banyak agar cepat sembuh dan sekolah ya."Kata Anita yang tak lain teman Imah.


"Ya Anah, kamu tau gak Wati itu selalu cerita tentang kamu. Meskipun aku tidak pernah main dengan kamu, tapi saat tidak ada kamu di sekolah. Seperti ada yang kurang, karena biasanya kamu selalu bersama Wati."Cerita Sarah yang tak lain Kakak Wati. Ya tadi dia sudah janjian di sekolah dengan kakak kelas.


"Bener banget itu Anah."Kompak dari yang lain.


"Mas kenapa aku tadi tidak di ajak bareng kan seru tu. Kalau ngomongnya kompak kayak suporter ya ko,"Kata Angga pada Warto dan Eko yang di sebelahnya.


"Iya ih mas War, kami seperti terhimpit oleh suara merdu kalian."Timpal Johan.


"Yah nih bocah, di pikir Anah itu pemain bola voli yang lagi ada di pertandingan apa."Jawab Warto.


"Yee mas kalau Anah itu bukan pemain bola voli!"Kata Rama.


"Lah terus apa dong yang di teriaki sama penonton?"tanya Ari yang sering ikut kemana pun Warto pergi.


"Lah Anah kan penyanyi mas, coba dia lagi gak sakit dan lemas pasti udah nyanyi tu."protes Rama.


"Benar tu."Kompak para teman Anah yang berjumlah 8 orang.


"Emang Anah suka nyanyi?..." Tanya Ari di angguki Warto dan yang lain. Tentunya yang sudah sering mendengar Anah menyanyi. Memang suara tidak bagus namun pedenya di akui oleh teman-temannya.


"Emang Anah suka nyanyi lagu apa aja tu?"tanya Yono teman Warto yang memang tidak tau keseharian Anah.


"Banyak yang paling sering dinyanyikan itu lagunya, mabuk duit, aduh buyung, yang sedang sedang saja, boneka cantik. Dan masih banyak deh dia itu kalau di rumah tu sambil nyanyi ikuti lagu di radio."Celoteh Angga dan di benarkan Warto dan Johan.

__ADS_1


"Gak di rumah aja tau, lagi jalan pergi dan pulang ke ladang dan sawah sepanjang jalan nyanyi. Kalau gak percaya tanya tu mamak ku."Timpal Rama, dan mamaknya pun mengangguk.


"Memang benar karena kami sering ketemu sama Anah di jalan."Kata mamak Rama.


"Anah semangat ya ini sudah mau magrib. dada Anah, cepat sembuh kami pulang ya." Pamit mereka.


"I-ya te-ri-ma ka-sih."Kata Anah dengan lemah.


"Terima kasih ya ibu-ibu dan anak-anak atas kunjungannya dan sudah menyemangati Anah."Ucap pak Jumadi.


"Sama-sama mas Jum, kami bisa ikut merasakan apa yang mas Jum alami." Jawab salah orang tua dari kakak kelas Anah. yang memang anak sudah tiada, beberapa bulan lalu.


Akhirnya di ruang tamu tersisa Angga dan Johan beserta orang tuanya. Dan Johan ingin meminta maaf sebelum pulang.


"Anah aku minta maaf ya? waktu itu aku udah membuat kamu jatuh."Ucap Johan sambil menunduk.


"I-ya joo ga-ak pa-pa."Itu jawab Anah, karena bagi Anah tidak ada masalah yang ia simpan berhari-hari. Walau pun Johan tidak meminta maaf pun Anah sudah melupakan dan memaafkan.


"Kamu ini kebiasaan nakal gak hilang-hilang,"omel pak Rudi sambil menjewer kuping Johan.


"Iya pak,"cuma itu yang di katakan Johan. "selalu kalau urusan sama anah aku pasti di omelin sama bapak. Yang anaknya itu Anah apa aku sih."Kata Johan dalam hati. Kesal juga selalu Anah yang di bela sama bapaknya.


"Ya sudah mas Jum saya pamit ya, sudah mau magrib ni."Langsung beranjak pulang sambil menarik tangan Johan.


"Dada An, cepat sembuh ya tar kita berantem lagi."Kata Johan sambil tertawa.


"Anah pun ikut tertawa walau lemah. Menurut nya Johan selalu ada aja tingkahnya, baru minta maaf sudah ngajak berantem lagi.


"Kamu ni baru minta maaf sudah ngajak berantem lagi."Geram pak Rudi pada Johan.


"Biar Anah cepat sembuh pak, bapak kenapa sih marah-marah terus. Anah aja ketawa, lah bapak, bapaknya bukan dah marah melulu cepat tua lo pak."Celoteh Johan sambil berjalan pulang.

__ADS_1


"Iya bapak cepat tua itu karena punya anak kayak kamu ini, bikin malu dan pusing aja tiap hari."Sambil menjewer kuping Johan.


"Aaaahh... pak ni kuping ku nanti putus lo."Pekik Johan karena dapat jewer dua kali.


"Biarin putus, punya kuping pun, kamu gak mau dengar nasehat orang tua."Omel nya pak Rudi, dan kini melepaskan tangannya dari kuping Johan.


"Iih bapak ini sudah kayak neneknya Anah."Kata Johan sambil manyun.


"Kamu ini Han kalau di bilangin jawab terus."Akhirnya si ibu ikut ngomel.


"Lagian kalau urusan sama Anah bapak dan ibu itu galak sama aku. Huhuhuhuhu emang yang anak bapak dan ibu itu Anah. Kalian selalu marah sama aku."Johan mengeluarkan unek-unek di hatinya.


"Dari pada kamu di marahin sama orang, mending kami yang marahin dan mendidik mu. Kamu harus tau mana yang baik dan tidak, makanya jangan nakal dan jahil."Sang ibu pun memberikan pengertian pada Johan.


"Sudah bu tu magrib dah berlalu. Cepat sholat ladenin Johan tidak ada habisnya."Perintah pak Rudi.


...****************...


Sementara di rumah pak Jumadi, masih ada Angga, Imah, Nana dan mamaknya.


"Bu ma-mau mi-ri-ing."Keluh Anah karena pegel badannya.


"Oh ya sini ibu bantu, apa ada yang sakit?" tanya bu Sarinem.


Anah mengangguk dan menunjukkan bahwa bahu dan punggung yang sangat pegal. Bu Sarinem mengambil minyak kelapa yang di buat sendiri. Lalu mengurut bagian tubuh Anah yang sakit.


Bu Marni dan anak-anaknya pamit pulang karena sudah malam. Dan besok Angga dan Imah harus sekolah.


"Dada Anah besok aku ke sini lagi."Kata Angga, dan di jawab dengan anggukan Anah.


*****Bersambung.....

__ADS_1


terima kasih sudah setia bersama author.


__ADS_2