TAKDIR KU

TAKDIR KU
81.SEPEDA MINI BARU


__ADS_3

Tidak tahan melihat pemandangan di depannya, Anah segera berbalik membelakangi Monik dan Nenek. Dengan segera menghapus air matanya, lanjut lagi tidur. Walau tidak bisa pulas lagi, setidaknya dia tidak merasa sesak di dadanya.


Setelah sarapan Monik hendak berangkat sekolah, dan dia melihat mbaknya masih tidur. Jam menunjukkan setengah 7 pagi, Monik memegang lengan Anah.


"Mbak sudah siang, aku berangkat sekolah ya."Pamit Monik.


"Eem iya hati-hati kalau jalan di pinggir Taku banyak motor ya."Anah menginginkan adiknya.


"Iya mbak dada" Monik melambaikan tangannya.


"Dada"


Anah bangun langsung menuju lemari untuk mengambil baju yang lagi di beli pas pernikahan pamannya. Lalu anah menuju ke sumur, untuk mandi namun nenek menyiapkan air hangat supaya tidak dingin.


Yang kebetulan air yang nenek masak belum mendidik tapi cukup panas.


"Sebentar nduk nenek ambil air panas, biar airnya hangat." Langsung jalan ke arah dapur mengambil air panas.


Anah hanya diam melihat nenek menyiapkan air hangat, Anah melepaskan bajunya. Anah mencuci baju yang di pakainya. Dengan hanya diam saja, setelah selesai baru mandi. Selesai mandi dia menjemur pakaian yang di cucinya.


Dia naik ke atas kursi dan menyalakan radio. Nenek datang membawa piring yang sudah nasi dan sayur.


"Nduk ini sarapan dulu ya, Nenek kebelakang dulu."Piring di letakkan ke meja, dengan senyum dan langsung pergi.


"Ya Nek terima kasih."Ucap dengan senyum datar, terlihat jika terpaksa.


Nenek segera ke belakang mencuci pakaian semua kecuali baju yang anah pakai tadi. Sambil memikirkan tentang Anah yang berwajah datar dan cuek.


"Apa itu anak masih takut ku marah lagi ya? tapi wajar sih selama ini aku tidak pernah senyum padanya. Aku tidak akan marah lagi jika dia tidak bikin kesalahan. Aku juga tidak mau Jumadi tambah marah lagi."Kata Nenek dalam hati.


Anah yang merasa bosan pun berjalan-jalan di halaman rumah. Dan bermain di bawah pohon jambu dengan main masak-masakan. Jenuh dan tidak ada serunya lagi, karena dia sudah pandai masak beneran.


sekarang jam setengah 10 pagi pak Jumadi dan bu Sarinem pulang dari pasar. Bu Sarinem membawa sepeda mini baru untuk Anah beserta baju baru, dan mukena baru dan buku turutan.

__ADS_1


Anah melihat ibunya menaiki sepeda baru warna merah, dan keranjangnya penuh dengan bawaan.


"Sini nduk ini sepedanya bisa tidak menuntun?" tanya pak Jumadi.


"Bagus sepedanya, coba aku mau naik pak, tapi tuntun ya."kata Anah.


Dengan semangat 45 Anah langsung naik sepeda. Namun ternyata kakinya masih belum sampai jika Anah duduk di sadel sepeda. Pak Jumadi minta Anah turun dan di turunin sadel hingga paling rendah. Bu Sarinem sengaja milih yang besar, biar bisa di pakai sampai besar nanti agar tidak beli lagi.


Setelah dipendekkan sadelnya Anah lebih nyaman naiknya. Anah di tuntun berkeliling halaman 20 putaran.


"Sudah ya bapak capek istirahat nanti sore kita belajar sepeda lagi."Kata pak Jumadi, yang sudah ngos-ngosan.


"Ya pak aku juga capek."kata Anah langsung turun dari sepeda dan masuk rumah lalu minum dan makan.


Monik yang sudah pulang dari tadi, tak lama dari bapaknya. Belum berani mau naik sepeda mbaknya, selain takut gak di kasih adalah gede sepeda dari pada Monik.


"Mbak enak gak belajar sepeda?"tanyanya


"Enak tapi susah."Jawab Anah singkat dan lanjut makan dengan lahap bahkan sampai nambah.


"Ya aku masih lapar, belum kenyang, ya aku nambah lah."Jawab Anah dengan santai.


"Biar mbak Anah cepat sembuh dan bisa sekolah lagi harus makan yang banyak." Kata Nenek yang baru muncul dari dapur.


"Iya nanti aku kalau gak sekolah terus aku gak boleh naik kelas 2 lagi." timpal Anah.


...****************...


Dua hari kemudian Anah sudah berangkat ke sekolah di antar pak Jumadi. Dan di kelas Anah di temani Monik yang ikut mengerjakan soal di papan tulis. Bu guru membiarkan Monik ikut supaya jadi tambahan nilainya.


Sementara teman teman Anah lagi mengikuti olahraga yang akan di hidung nilai di rapot.


Tak terasa Anah sudah mengikuti ulangan susulan selama 5 hari. Dan hari Sabtu pak Jumadi dan orang tua lain pada ambil rapot.

__ADS_1


"Anah kamu naik kelas 2 apa gak?" tanya Angga.


"Alhamdulillah mas tapi Monik tidak mas."Jawab Anah.


"Monik naik kelas juga apa gak?"tanya Angga.


"Ya tidak naik kelas, kan dia belum bisa kenali huruf dan sekarang juga baru bisa nulis yang benar. kan kalau bapak bilang Monik itu anak titipan, jadi ikuti saja perkembangan Monik dalam belajar."kata Anah.


"kok kamu ngomong nya kayak bu guru sih An. Bahasanya yang bikin aku sulit paham."Kata Angga sambil garuk-garuk kepala yang tidak gatal.


"Kalau aku yang jadi guru mas Angga tak wajib kan tidak kelas. Sini lihat rapot mu, dan apa yang bikin mas naik kelas." Langsung melihat rapot punya Angga "Aku rasa Bu guru harus kasih rengking satu ini." Kata Anah.


"Lah kan tadi yang rengking satu sudah Ramadhan."Kata Angga yang tidak paham.


"Harus ada dua mas yang satu Rama dari depan dan yang satu mas Angga dari belakang. Hahahaha"Anah tertawa lepas bahagia rasanya bisa kerjain sepupunya itu.


"Semprul kamu An, adek sepupu kurang asem. Ini rasain hukuman buat adek seperti mu." Angga menggelitiki Anah, sampai anah minta ampun.


"Ah..... hahahaha, ampun mas ge li udah aku gak kuat...."


"Biarin ...... aku belum puas kasih hukuman buat kamu.


"Hahahaha... beneran mas aku gak kuat ampun mas."Anah sudah berlinang air akibat tertawa karena kegelian.


Belum sempat Angga menjawab pak Jumadi menghentikan kegiatan Angga.


"Angga sudah Kasihan Anah," berhenti sejenak dan membenar duduk. Sedangkan Anah membenarkan baju yang berantakan dan menghapus air matanya. "Ngga Anah baru sembuh dan mau makan. Kalau kamu gelitiki nanti Anah tak mau makan, kalau sakit lagi gimana."Kata pak Jumadi memberi pengertian Angga.


"Em maaf lek aku lupa, lagian Anah ngerjain aku."Adu Angga pada pak Jumadi.


"Anah minta maaf sama mas Angga. Tidak boleh mengejek teman jika nilai mu bagus ya."Pak Jumadi menasehati Anah.


"Iya pak, tapi jadi orang jahil ternyata seru. Pantesan Johan sering jahili aku, sekarang aku jahili mas Angga hahahaha."Ujar Anah.

__ADS_1


"Jangan menirukan yang tidak baik Anah, kalau yang di jahil nanti orang males berteman. Lihat mas Angga, dia punya teman karena main sama kamu."Kata pak Jumadi agar tidak menjadi anak nakal dan jahil.


*****Bersambung.


__ADS_2