
Satu bulan kemudian kemudian Susi yang di kabarkan telah mengandung. Parno juga sedang mengurus sawah di belakang rumah. Yang sangat luas, sehingga makin susah dia bertemu mamaknya di siang hari. Ia juga rindu dengan Anah sejak terakhir ketemu. Anah selalu ingin ketemu, namun ia tidak bisa datang, makanya ia sangat lelah. Tapi malam ini ia bertekad, mau kerumahnya Anah.
"Mas sudah rapi mau kemana?"tanya Susi.
"Mau kerumahnya Anah aku kangen, semenjak kita pulang belum nengokin. Apa kamu ikut mas mau nginep disana. Kalau bolak balik, mas capek banget ini."Keluh Parno.
"Sudah tau capek kepada kesana sih mas, mending istirahat."dengan nada sedikit tinggi, seakan tak rela suaminya terlalu dekat dengan Anah.
"Di sana itu ponakan ku, aku memang menyayangi dia seperti anak ku sendiri.
Sepertinya kamu itu lupa ya, aku kalau bukan karena bapak Anah. Tak mungkin kamu bisa hamil seperti sekarang. Karena aku tidak mau mas ku kecewa, makannya aku bertahan sama sekarang. Bahkan kalau bukan karena mas ku kamu tidak ketemu sama aku. Aku gak hidup sampai sekarang, karena itu jangan menghalangi aku ketemu Anah."Kata Parno lebih tinggi dari Susi. Hingga orang tuanya yang di dapur pun, langsung mendekati kamar mereka. Yang memang kamar mereka tak jauh dari kamarnya.
Susi pun sudah menangis, sambil duduk di ranjang. Parno yang melihat pun, menghela nafasnya dengan kasar. Kalau dia tak mikirin bayi yang di dalam perut istrinya. Dia sudah tidak peduli lagi pada istrinya itu.
"Maaf, aku gak bermaksud marah. Kamu kan tau mas lagi capek, jangan ngajak debat. bukan aku tak peduli dengan mu, tapi jangan egois. Aku masih punya keluarga, juga deket tidak jauh, masih ke jangkau dengan berjalan kaki. Tidak juga Berjam jam kan, kalau gak mau mas tinggal. Ya kamu ikut ya, mau apa gak?"kata Parno mencoba bernegosiasi dengan istri.
"Aku juga minta maaf ya mas? aku mau ikut aku gak mau tidur sendiri."Kata Susi, dengan sendu.
"Boleh tapi jangan nangis lagi ya." Menghapus air mata istrinya "ganti bajunya yang panjang, ini untuk ganti di sana ya," lanjutnya.
Susi menjawab dengan anggukan, pada dasarnya Susi gadis yang baik. Hanya bapak tiri selalu menjadikan burung di dalam sangkar. Kalau nurut ya aman buat Susi, jika tidak maka ia pun tanggung sendiri akibatnya.
Yang di luar kamar langsung buru buru pergi sebelum penghuni kamar keluar. orang tua Susi sempat tegang, kini bernafas lega. sempat berpikir bahwa anak dan mantunya bertengkar besar. maka dari itu mereka pura
pura tidak tahu, apalagi pak Iman yang cukup sulit mengikat Parno dengan caranya.
__ADS_1
Parno dan susi keluar dari kamar, dan izin menginap kerumahnya Anah.
...****************...
"Nek, kok lek Parno, gak ke sini sini ya. Aku kangen sama lek parno. Aku juga ada banyak PR kan, kalau ada yang aku gak bisa."Kata Anah.
Pak lek mu lagi repot sama kayak kita. Jaga sawah yang menjelang panen. Harus jaga padi supaya tidak di makan burung empret. Kita aja sampai rumah magrib begitu pun pak lek mu."Kata nenek.
"Kan sawah pakde Iman itu gak jauh, kita kan yang sawah jauh nek."Kata Anah.
Itu kita cuma tau yang kelihatan aja, yang gak kelihatan masih luas. Kata lek par itu luasnya 2 hektar itu lek mu jaga sawah sambil urus ladang jagung. Makanya capek gak kesini, kamu minta ajarin Warto sono, biasanya juga sama dia. Ambil buku, nanti nenek lihat dari pintu, kalau udah minta anter sama Warto."Kata Nenek.
"Ah gak mau nanti ketemu lek Sugi, males aku."Kata Anah.
"Males kenapa? apa kamu habis di marahin lagi?"tanya Nenek.
"Makanya kamu itu juga jangan manja, sama siapa aja yang dekat, kecuali bapak dan ibu.
Jadi orang yang sayang sama kamu, itu akan tambah sayang sama kamu. Jadi di bilang pacaran, kamu kan masih kecil, emang kamu tau pacaran itu apa?"tanya Nenek.
"Lah kan aku gak pacaran, tapi orang bilang aku pacaran. Bukannya pacaran itu buat orang yang udah gede ya? kayak lek Parno itu yang sekarang udah jadi pengantin?"tanya Anah, dengan polosnya bocah 7 tahun itu.
"Ya memang pacaran buat yang udah gak sekolah. Yang masih sekolah dan kecil tidak boleh, belajar yang benar biar jadi orang pinter."Jawab Nenek.
"Ya udah lah, aku tar aja di sekolah, kerjain PR nya. Sama mas Angga, kan pasti dia bisa udah di ajari sama mbak Imah."Kata Anah.
__ADS_1
"Terserah kamulah nenek gak bisa,"kata Nenek yang memang buta huruf.
Tok tok tok
Ada yang ketuk pintu, pintu Anah model atas dan bawah. Anah buka yang atas, dia senang bukan main. Orang yang ia harapkan datang juga.
"Assalamualaikum cantik,"ucap Parno
"Wa'alaikumsalam, Alhamdulillah lek cepat masuk. Aku mau minta ajarin nulis sambung, aku belum kerjain PR soalnya."Kata Anah dengan muka gembira dan antusiasnya.
"Waduh leknya dateng, bukan di sambut sama teh manis semanis yang buat. Ini malah di sambut dengan PR gimana sih, gak jadi deh cantik gak ada teh manis." Candaan Parno.
"Hehehe, ya ya aku bikin teh deh yang manis" berlalu pergi ke dapur.
"Mamak sehat kan?" tanya Susi mendahului suaminya.
"Alhamdulillah, sehat nduk. Sini duduk sini, senderan, terus kakinya luruskan. Pasti capek jalan, Par besok besok kalau kesini itu jangan malam malam. Tidak baik buat istrimu, untung cuacanya, bagus terang bulan. Lah kalau hujan, kasihan buat kesehatan ibu dan bayi." Nasehat Nenek pada anaknya.
"Ya mak, tadi sebelum jalan aku lihat dulu keluar. Gak mendung ya langsung kesini, udah kangen sama Unyil.
"Dia itu nanyain terus dari kemarin ngarep ngarep lek Parno nya. Ya begitulah apa lagi dasarnya manjanya pol kalau sama leknya."Adu nenek.
"Lek, bi, ini teh manis, semanis yang buat, hehehe."Kata Anah yang muncul dari dapur, menyerahkan teh manis. Karena Parno tidak minum kopi, ia tidak bisa minum kopi. Jika ia minum pun untuk menghargai orang yang menyediakan. Dan pasti dia akan menanggung akibatnya, yaitu perutnya kembung dan perih.
"Nah ini baru cantik," ujar parno.
__ADS_1
"Sekarang ajari aku ya lek."Dan Parno hanya mengangguk.
*****Bersambung...