
"Mamak mau petik daun singkong buat sayur nanti." Kata Nenek, dan langsung ke belakang untuk mencari daun singkong. Yang sengaja di tanam pak Jumadi dan bu Sarinem. Kini tumbuh dengan subur, bisa diambil beberapa kali seminggu. Di patok buat sendiri, berhari-hari saat di tidak ada sayuran.
"Iya nanti Parno berikan pada mbak yu."Jawab Parno.
Parno mengangkat cacing yang sudah kering, lalu di ambil piring keramik dan langsung di haluskan. Setelah halus ia memasukkan ke gelas, dan di tutup dengan tutup gelas.
Lalu ia berjalan menuju ruang tamu, dan di sana mbak yu iparnya lagi menyuapi Anah air putih di bantu istrinya.
"Mbak yu ini sekalian kasih berapa sendok gitu."parno memberikan gelas isi perasan air daun pepaya.
"Boleh,"dengan suara pelan karena takut suaminya bangun. Lalu memberikan pada Anah beberapa sendok, tapi karena lagi tidak sadar tak protes. Mungkin jika dia sadar, dapat di pastikan pakai drama dulu ketika memberikan ramuan itu.
Setelah itu membaringkan Anah kembali dengan perlahan. Parno pun pamit akan pergi memanggil mbah Darmi dan mencari madu.
"Dek aku berangkat ya."Pamit parno pada Susi.
"Iya mas hati-hati di jalan."kata Susi.
"Sugi ayo berangkat."Ajak Parno.
"Siap mas par."Kata Sugi.
Mereka berangkat menyusuri jalan kurang lebih 5 km. Untuk menemukan mbah Darmi dan madu murni yang baru di ambil dari hutan. Hanya mengunakan sepeda ontel milik masing-masing.
Satu jam setengah mereka menempuh perjalanan berbatu dan menanjak. Yang membuat mereka lama ya jalan yang menanjak dan turun yang curam berbatu. Karena tidak mau membahayakan dirinya sendiri, mereka harus menuntun sepeda mereka.
Mereka sampaikan di depan rumah mbah Darmi, namun pemilik rumah sedang menangani orang berobat. Di seberang rumah mbah darmi, ada orang yang sedang menyaring madu. Yang baru ia hasilkan dari hutan, siap untuk di jual.
Parno melihat itu mengajak Sugi menghampiri penghasil madu itu. Agar ia segera mendapatkan pesanan masnya.
"Assalamualaikum mas,"sapa Parno dan Sugi bersamaan.
"Wa'alaikumsalam mas. Ada apa ya?"tanya si tukang madu.
__ADS_1
"Begini mas, saya lagi cari madu, kalau boleh tahu sebotol berapa ya mas."Parno langsung pada inti tujuannya.
"Oh ini, masnya perlu berada botol madunya?"tanya tukang madu.
"Sebenarnya saya juga tidak tau mas, berapa banyak madu yang di butuhkan. Karena ini madu untuk keponakan saya, yang lagi sakit keras. Saya di minta mas saya cari madu, di bawain uang 20 ribu. Kira-kira dapat berapa botol mas?"tanya Parno.
"Kebetulan ini saya lagi tidak ada pesanan. Tapi kalau mas mau ini saya baru menghasilkan 3 botol lebih ini. Di dalam ada 5 botol mas, masnya mau yang kemarin apa yang sekarang? kalau harga biasa saya jual 3 botol itu sepuluh ribu. kalau perbotol saya jual 4 ribu mas, nah masnya mau berapa?"tanya tukang madu.
"Mas, madu itu saya mau 20 ribu biar tidak bolak-balik. lumayan jauh mas biar lah buat setok."Kata Parno.
"Ngomong aja entar, kamu mau minta buat di bawa pulang mas,"ledek Sugi.
"Lah buat apaan aku Gi."Ketus Parno.
"Biar tambah kuat lah main sama Susi."Tersenyum menggoda Parno.
"Ah itu otakmu aja yang ngeres Gi, kamu itu terlalu banyak mikir begitu. Tapi istri aja kamu belum ada."Kata Parno sambil menoyor kepala Sugi.
"Nggak mau aku, gak perlu pakai madu aku masih bisa bikin Susi loyo. Nanti kalau aku pakai jamu plus madu, dia gak mau keluar kamar. Alasan gak bisa jalan, yang biasa aja lah gak perlu begitu. Lagian ini untuk Anah biar dia cepat bisa bangun dan bisa sekolah lagi."Kata Parno.
"Mas gimana bisa di bungkus yang aman, biar gak benturan dan pecah. Itu sepeda saya, di sana di depan rumah mbah Darmi."Ujar Parno
"Siap nanti saya gulung pakai kardus, baru nanti di masukin kardus mie. Setelah itu di ikat di sepeda mas. Ini tiga depan ini tak tandai pakai karet gelang ya mas."Tukang madu memberi tau Parno.
"Iya mas biar nanti yang digunakan lebih dulu yang di dalam. Terima kasih ini uangnya, dan sini biar saya bantu mas."Ujar Parno.
Lalu Parno bantu tukang madu. Bahkan ikut masuk mengambil madunya. Dan tukang madu membawa kardus karet gelang dan satu botol madu.
Setelah selesai mereka membawa madu ke rumah mbah Darmi. Lalu segera mengikat di sepeda Parno, kebetulan Parno membawa tali karet yang diikat pada boncengan.
Mbah Darmi ternyata sudah selesai dan kini mereka keluar dengan pasien nya itu. Sepasang suami istri dan satu anak, yang masih menangis sesenggukan.
"Oh ternyata ada yang datang, sudah dari tadi lee?"tanya mbah Darmi, yang menatap Sugi. Karena mbah Darmi memang sudah kenal dengan Sugi.
__ADS_1
"Lumayan mbah," yang langsung menyalami mbah Darmi. "Karena mbah lagi ngurut, saya nemuin mas ini dulu beli madu mbah."Jawab Sugi.
Kayaknya banyak berapa botol lee? apa ada yang mau berobat lee sampai kamu ke sini?"tanya mbah Darmi.
"Iya mbah, itu rumah depan saya, butuh bantuan mbah. Anaknya sakit keras mbah, tadi di bawa ke puskesmas kecamatan itu mbah. Dokter bilang harus di rawat di rumah sakit besar mbah. Karena kalau menurut dokter harapan tipis, jika tidak dirawat khawatir tidak selamat. Tapi karena tidak punya uang, akhirnya di bawa pulang. Dan di rumah sedang tidak sadarkan diri, menurut hasil pemeriksaan dokter tipes mbah."Ujar Sugi panjang lebar.
"Oh ya sudah, tapi ini sudah sore, besok pagi saya kesannya sampai kan ya."Kata mbah Darmi.
"Iya nanti biar saya sampaikan pada mas saya. Kebetulan sekalian cari madu sore ini mbah."Kata Parno.
"Kalau begitu kami pamit mbah soalnya takut kemalaman di jalan, nanti gelap repot."Pamit Parno.
"Oh ya, hati-hati ya lee."Tutur mbah Darmi.
"Ngeh mbah,"jawab Parno dan Sugi, lalu menyalami, sebelum mereka meninggalkan rumah mbah Darmi.
"Sudah hampir magrib Parno dan Sugi sampai, karena sempat mampir warung makan tadi. Dan mereka berdua makan, setelah makan mereka lanjutkan perjalanan singgah lagi di warung. Yang jualannya komplit dengan apa yang warga sekitar butuhkan.
Parno membeli susu kaleng bendera 3 kaleng, sisanya di beliin gula pasir dan teh. hingga uang yang di berikan pak Jumadi, habis tanpa sisa.
Parno menurunkan kantong plastik hitam, yang ia sangkutkan di setang sepeda. Lalu membuka tali di boncengan, dengan hati-hati. pak jumadi menghampiri parno, dan membantunya.
"Lah dapat berapa botol Par, kok pakai kardus?"tanya pak Jumadi.
"Dapat enam mas. Sengaja aku borong, biar tidak bolak-balik kesana jauh banget mas kurang lebih 5 km. Jalannya mulus mending mas, sama kayak ke tempat mbak parti."Keluh Parno.
"Ya sudah, tidak apa-apa. Kalau belum sholat mandi dan sholat dulu. Lah itu kantong plastik apa?"baru lihat pas Parno yang bawa kantong.
"Ini susu kaleng, gula dan teh mas, duitnya habis aku beliin semua. Terus yang buat makan juga habis tadi sisanya tak beliin rokok dan buat Sugi mas."Laporan Parno.
"Ya sudah gak papa, sudah sana mandi."Titah pak Jumadi.
*****Bersambung....
__ADS_1