
Kini mereka semakin dekat, semakin jelas juga jika itu orang berdiri di pertigaan.
"Orang Mon sepertinya itu bapak." Kata Anah saat ada cahaya kilat dan mengejutkan mereka.
DUUUAAR...
''Aaaaa Bapak" teriak Anah dan Monik bersamaan dan mereka bergetar jantung serasa mau copot.
"Sini cepat ayo pulang ke buru gede hujannya."Ajak pak Jumadi, mengandeng tangan keduanya.
Dapat di rasakan kedua kaget, tapi yang lebih terasa gemetar tangan Anah bahkan anah tidak bisa jalan cepat akibat petir tadi.
Bayangkan bagaimana anah tidak syok petir itu serasa di depan matanya. Dan suaranya serasa bumi bergetar, maka Anah merasa lemas sekujur tubuhnya. Di gandeng bapaknya seperti ada kekuatan untuk melangkah agar sampai rumah.
Pak Jumadi menuntun Anah yang masih lemas itu dengan pelan. Namun Monik Anah yang kuat jadi hanya sekedar kaget saja.
Monik melihat mbaknya berjalan pelan, akhirnya dia protes.
"Mbak lama jalannya tu obor udah mati karena kena hujan gede. Kita kan sudah basah nanti keburu ada geledek lagi mbak."Protes Monik.
"(....)"
"Kamu lihat jalan kan duluan aja terus ganti baju ya."perintah pak Jumadi pada Monik.
Apa"Ya deh" langsung jalan cepat, meninggalkan bapak dan mbaknya.
Pak Jumadi dan Anah sudah sampai rumah, pak Jumadi langsung memberikan minum pada Anah.
Setelah minum Anah ganti baju dan langsung tidur di ranjang kamar bapaknya. Dengan selimutan karena dingin, habis kehujanan.
...****************...
Pagi hari jam Setengah 7 Anah dan Monik berangkat sekolah bareng pak Jumadi. Yang ingin kerumahnya Parno, sekalian mau ke desa sebelah. Tepatnya mau beli semen untuk bangun kamar mandi.
Setelah menurunkan Anah dan Monik, pak Jumadi langsung ke rumah pak Iman.
Kebetulan Parno lagi nganggur hari ini. Karena sedang tidak ada kerjaan, jadi begitu masnya minta tolong pada nya pun sangat senang.
Akhirnya waktu terus berlalu, apa yang di rencanakan pak Jumadi sudah selesai.
Saatnya pak Jumadi kembali pada istrinya, yang ia tinggalkan selama 10 hari. Pak Jumadi pun sangat merindukan putranya, sampai kini mereka jarang berkunjung pada kedua putrinya.
__ADS_1
Kini anah sudah kelas 3 dan Monik kelas dua. Dan di desa tempat Anah tinggal sedang gempar dengan ada hewan gila.
Ya bisa berbahaya jika bertemu, entah dari mana asal hewan itu berkeliaran.
Jika ada yang tergigit langsung sakit bahkan tidak tertolong jika itu manusia. Jika sesama hewan tersebut maka akan menjadi gila juga.
Sang pemilik harus rela jika hewan peliharaan mereka di racuni. Karena tidak ingin0 keluarganya jadi korban dari hewan peliharaan nya itu.
"Anah kamu sekolah bawa sepeda dan segera pulang." perintah Nenek.
"Emang aku kan, selalu pulang langsung. Memang ada apa sih?"tanya Anah.
"Lagi ada Anji*g gila, kamu dan Monik harus hati-hati."Jawab Nenek.
"Baik Nek" kedua bocah itu berangkat ke sekolah naik sepeda.
Nenek tidak menjelaskan secara detail untuk sekarang ini. Karena tau sifat Anah yang harus di jawab secara detail. Hal itu akan membuat buat bocah itu terlambat ke sekolah.
Anah sudah sampai sekolah sepada di masukkan di gang gedung tepat di samping perpustakaan.
"Anah kamu sekarang bawa sepeda ya tumben?"tanya Wahyudi.
"Iya Yud di suruh Nenek, eh Yud emang bener gak sih sekarang lagi ada Anji*g gila?"tanya Anah.
yang Memeng rumahnya di TKP.
"Terus kalian pada gak nolong gitu? tega banget kalian."Kata Anah, gak ada yang mau nolong pikir Anah.
"Kami semuanya gerak cepat masuk rumah biar tidak di gigit lah. Kamu mau tau gak Anji*g itu seperti apa?"tanya Wahyudi.
"Emang seperti apa Yud?"perkataan Wahyudi sudah membuat Anah penasaran.
"Kayak serigala tau An."Jawab Wahyudi.
"Apa jangan-jangan itu beneran serigala lagi Yud, serem ih."Kata Anah.
"Ye kalau serigala, itu orang gak cuma di gigit pasti di makan."Kata Wahyudi.
"Hah? emang serigala makan orang Yud?"tanya Anah.
"Sok tau kamu Yud."Kata Angga.
__ADS_1
Belum sempat Wahyudi menjawab bu guru masuk.
"Pagi anak-anak." Sapa bu guru.
"Pagi bu." Jawab semua murid.
"Maaf anak-anak ibu terlambat datang karena harus melayat dulu."Bu guru meminta maaf karena terlambat.
"Melayat ke mana bu? perasaan tadi tidak ada yang meninggal deh?"tanya Wahyudi yang kebetulan bertetanggaan dengan bu guru Rina.
"Oh jadi kamu tadi sudah berangkat Wahyudi.
Itu yang kemarin yang di gigit Anji*g meninggalkan dunia."Kata bu guru.
"innalilahi wa innailaihi rojiun"
"Menurut kabar yang beredar ini yang kesekian kalinya. Minggu kemarin desa sebelah dua orang."
"Untuk kalian jangan main dulu ya sampai kondisi aman. Bukan apa-apa, ini sangat bahaya. Coba kalian bayangkan lagi di jalan atau lagi main tiba-tiba berjumpa. Bukan niat menakut-nakuti kalian, ini kita semua harus waspada dan hati-hati. Cukup sampai sini pembahasan soal musibah di kampung kita. Sekarang kita mulai belajar ya." penjelasan bu guru panjang lebar.
"Baik bu"jawab semua murid.
...****************...
Dua bulan berlalu kini keadaan kampung sudah kembali aman seperti semula.
Bulan ini adalah musim rambutan di sekitar Anah. Ada yang memiliki kebun salak, rambutan, ada yang pisang, ada yang punya lengkap banyak buah seperti orang tua Nuri.
Di belakang rumah Nuri, ada kelapa, rambutan, pepaya, kedondong, pisang dan belimbing.
Pak Jarno, yang pohon mangga depan rumah, samping, dan belakang. Ada juga belimbing depan rumah, dan sekitar rumah ada pohon pisang berbagai jenis.
Pak Rudi yang paling banyak pohon rambutan. Bahkan yang di jadikan pembatas ladang pohon rambutan. Di belakang rumah ada pohon sukun nangka pisang. Yang paling banyak jenis rambut yang paling di sukai rambutan Aceh.
Karena Anah hanya punya pohon pisang, pepaya, dan kelapa. Setiap muslim rambutan Anah mencari rambutan yang sudah jatuh.
Rambutan yang jatuh di anggap tak layak bagi orang yang punya pohon.
Dan hal itu yang paling Johan benci, baginya Anah adalah seorang yang munafik. Dengan alasan mencari rambutan yang jatuh, padahal kalau tidak ada yang punya pasti dia akan metik yang di pohon.
Terlebih pohon rambutan pak Rudi di sekeliling rumah, buahnya sangat lebat dan pohonnya rendah. Jangan kan orang dewasa anak-anak pun bisa metik dengan mudah.
__ADS_1
"Woeee maling!"teriak Johan.
*****Bersambung.....