TAKDIR KU

TAKDIR KU
137.EMANG NYA IZAH BARANG


__ADS_3

"Bibi cuma pamit mau ke sini, katanya mengikuti apa mau Anah yang kangen dengan teman-teman sekolahnya dulu. Ketika di tanya sama lek Jum, mau sampai berapa lama. Bibi bilang mungkin seminggu atau lebih, terserah Anah. Dan ternyata kemarin sebelum pergi, mereka berdua berantem sama nek Irah Mak. Mamak tau sendiri bagaimana nek Irah, pada Anah selama ini. Hal itu tidak dapat di terima oleh bibi, dan memilih untuk pergi."Jawab Seswanto, panjang lebar menjelaskan masalah yang terjadi pada bu Sarinem dan Anah.


"Astaghfirullah...., jadi sampai kayak gitu Inem dan Anah terluka batin. Ya sudah kamu coba tanya saja ke Izah, soalnya dia juga baru pulang 3 hari lalu. Katanya bi Inem dan Anah kemarin juga langsung dapat kerjaan. Dia baru pulang karena mampir tempat saudara dulu. Mau pulang langsung capek, jadi nunggu beberapa hari."Kata bu Maemun, memberi tahu anaknya.


"Wes sekarang kamu makan dulu, urusan itu nanti lagi."Beranjak dari duduknya, lalu menarik tangan anaknya menuju ke dapur.


Seswanto tidak lagi menolak ajakan mamaknya, karena memang dia sangat lapar. Sehingga butuh asupan agar badannya tetap fit dan bisa melanjutkan perintah bosnya. Besok ia harus balik lagi ke rumah bosnya dengan membawa Izah.


Setelah selesai makan ia segera mandi dan istirahat di kamar. Karena lelah dan belum istirahat sejak jam setengah lima pagi. Kini Seswanto tertidur pulas, sampai adzan ashar saja tidak dengar. Padahal rumah dan masjid Han berjarak 100 meter. Apa lagi arah spiker masjid menghadap ke rumah.


Malam hari Seswanto datang ke rumah bu Marni untuk bertemu dengan Izah. Saat sampai rumah bu ramai dengan orang-orang nonton TV. Terutama para bujang yang masih berharap bisa meluluhkan hatinya Izah.


"Assalamualaikum." Ucap Seswanto bersama dengan adik-adiknya yang ikut untuk nonton.


"Wa'alaikumsalam,"jawab semua yang ada di dalam rumah.


"Wah... bujang rantau, kapan kamu pulang Ses?"tanya Puji.


"Tadi siang habis zhuhur mas."Jawab Seswanto.


Seswanto bukan duduk di antara para bujang yang duduk di kursi. Tapi malah mendekati Izah dan bu Marni.


Hal itu membuat para bujang ternganga apa lagi Seswanto langsung menarik tangan Izah. Bahkan tidak perduli dengan tatapan para bujang dewasa itu. Karena Seswanto termasuk bujang muda, menurut mereka Seswanto begitu berani.


"Bi, saya pinjam mbak Izah ya."Langsung menarik tangan Izah keluar dari rumah.


"Eh.... emang ada apa Ses?"tanya Izah, yang kaget karena di tarik dengan kuat oleh Seswanto.


"Iya Ses ada apa sih?"tanya bu Marni sedikit berteriak, karena sudah sampai depan pintu keluar.

__ADS_1


"Sebentar bi paling lama setengah jam aku kembali kan."Langsung membawa Izah ke rumah nya dengan langkah cepat.


"Emang nya Izah barang apa ya main tarik dan bilang pinjam sebentar."Bu Marni ngomel, was-was juga ada apa dengan mereka.


"Bi, Izah memang pacaran sama Ses?" tanya Pujiyanto.


"Aku lo tidak tau apa-apa, ini aja kaget." bu Marni.


"Sarah masmu mau ngapain sih ngajak Iza" tanya bu Marni.


"Saya tidak tau bi, coba nanti kalau sudah balik bibi tanya sama mbak Izah."Jawab Sarah.


Sementara Seswanto sudah sampai rumah, langsung masuk. Dan di ruang tamu sudah ada kedua orang tuanya.


"Duduk mbak. Ada yang harus ku bahas sama mbak."Kata Seswanto.


"Emang kamu itu mau bahas apa sih. Kenapa harus ke sini? kenapa tidak di rumah ku saja?"tanya Izah dengan nada agak kesal.


Sementara kedua orang tuanya Seswanto hanya menjadi pendengar. Tidak akan mengeluarkan pendapat atau suara jika tidak di minta oleh anaknya.


"Sebenarnya bi Inem dan lek Jum ada masalah gitu maksudnya?"tanya Izah, dan di angguki oleh Seswanto.


"Apa masalah yang terjadi?"tanyanya lagi.


"Aku tidak bisa menjelaskan pada mu mbak, karena aku pun hanya di beritahu sebagian saja. Untuk lebih jelasnya lagi sampean ikut aku besok pagi ke rumah lek Jum. Karena aku pulang pun atas perintah lek Jum untuk jemput paksa mbak. Siap tidak siap mbak harus ikut aku, karena ini genting. Dan lek Jum sudah tau sampean ada kaitannya dengan perginya bi Inem dan Anah."Jawaban Seswanto yang panjang lebar itu membuat Izah deg degan.


Deg


Mendengar jawaban itu langsung deg degan gak karuan. Dan terasa panas seluruh tubuhnya, selama ini yang Izah tau pak leknya itu tidak pernah melibatkan saudara. Jika itu tidak terjadi apa-apa, terlebih lagi bibirnya dan sepupunya pergi ia yang mengantarkannya.

__ADS_1


"Kok perasaan ku tak enak ya Ses. Apa bibi pergi tidak pamit sama lek Jum?"tanya Izah dengan perasaan campur aduk. Antara takut, bersalah, penasaran, dengan masalah yang terjadi.


"Katanya pamit ke sini, atas permintaan Anah. Awalnya lek Jum ragu, tapi karena merasa bersalah dengan Anah akhirnya mengizinkan." Jawab Seswanto.


"Merasa bersalah? memang karena apa?"tanya Izah.


Seswanto tidak mau menjawab dia hanya menggeleng kepala tanda tidak tau. Padahal ia tahu tentang Anah, bahkan menjadi buah bibir orang sekampung.


"Masak sih kamu tidak tau? Kan kamu ikut lek Jum sudah lama. Kalau pun tidak di rumah pasti juga tau kalau kamu berada di rumah pak Yatno. Bohong ya kamu?" tanya Izah, tidak percaya jika Seswanto tidak tau apa-apa.


"Aku hampir setahun ikut lek Jum ke kawasan, itu ke pucuk gunung."Jawab Seswanto.


"Serius?" menatap tajam Seswanto.


"Ya serius lah, bahkan Anah juga pernah ikut. Beberapa bulan baru pulang, balik lagi. Kemarin baru di rumah dua minggu sebelum pergi."Jawab Seswanto.


"Eh.. Kenapa jadi aku yang di tanya terus. Harusnya itu kamu mbak. Wes pokoknya besok jam setengah tujuh kita berangkat."Seswanto kembali tegas.


"Hahaha, baru sadar kamu. Ya sudah lah itu urusan nanti aku mau pulang. Ganggu aku nonton mak lampir tau gak."Kata Izah yang langsung berdiri hendak pulang.


Seswanto mengikuti Izah di belakang nya. Izah yang merasa di ikuti pun protes, karena tidak perlu di antar sendiri pun berani.


"Sudah aku pulang sendiri saja tidak perlu kamu antar."Kata Izah tidak mau di anterin pulang.


"Sebagai laki-laki bertanggung jawab dengan ucapannya. Tadi kan aku sudah bilang mau anter pulang. Dan juga mau nonton mak lampir kok memang gak boleh?"balik tanya.


"Terserah mu, sudah sana gabung tu sama para tetua mu."Kata sambil tersenyum mengejek laki-laki dewasa yang ada di ruang tamu.


"Kurang asem kamu ini Zah." Kata Hadi kakak nya Puji.

__ADS_1


*****Bersambung.....


__ADS_2