TAKDIR KU

TAKDIR KU
102.KESEDIHAN ANAH


__ADS_3

"Sama pak lek gak kangen gitu? kan sudah lama kita tidak tidur bareng. Kamu juga sekarang jarang nginep, kalau main juga sebentar. Apa benar yang kamu pikirkan itu cuma bapak mu?"tanya Parno, karena melihat tatapan Anah ada yang beda.


"Iya lah, kan bapak sekarang tidak lagi perduli sama aku lagi. Sejak aku sakit bapak lebih jarang pulang ke sini. Aku juga ingin bersama bapak dan ibu, seperti orang lain."Keluh Anah.


Parno menarik Anah dalam dekapannya, memeluk memberikan kekuatan. Parno pernah dalam posisi Anah sekarang.


"Kamu tidak boleh berpikir buruk pada bapak dan ibu mu. Ingat, kamu masih bisa ketemu dengan kedua orang tua mu. Coba kamu ingat Angga, bagaimana dia bisa ketemu bapaknya. Dia hanya bisa berdoa untuk bapak, dan hanya bisa datang ke kuburan. Foto pun tidak punya, kamu harus bisa sabar." Kata Parno panjang lebar memberi pengertian keponakan.


Anah mencerna setiap ucapan pak leknya, dia juga memikirkan posisi Angga. Kemudian dia mendongak menatap wajah pak leknya. Dia memikirkan perasaan pak leknya, yang memiliki nasibnya dengan sepupunya Angga.


Dan dia bisa melihat dari raut wajah itu, menyiratkan kesedihan. Apa lagi yang dia tau, kalau orang yang ada di depannya ini. Sejak bayi tidak pernah melihat seperti wajah bapaknya alias kekeknya.


"Iya lek, cuma sekarang itu yang ku rasakan, bapak sudah tidak lagi sesayang dulu. Sebelum Udin lahir bapak sering pulang, dan kalau pulang pasti lama. Tapi sekarang setahun hanya dua kali, dan di sini cuma beberapa hari. Apakah aku selalu menyusahkan mereka, karena aku jauh. Sehingga harus memiliki uang yang banyak buat kesini." Menangis sejadi-jadinya, karena tidak bisa berkata apa-apa lagi.


Parno mengusap kepala Anah dan terus memeluknya dengan erat. Tanpa berkata apa pun, membiarkan Anah menangis.


Tanpa mereka sadari di balik pintu Susi mendengar ucapan mereka berdua. Susi pun ikut merasakan betapa perihnya hati Anah. Dirinya pun sama tidak punya bapak, tapi punya bapak tiri yang begitu menyayanginya. Sehingga dia tidak merasakan kurang kasih sayang seorang bapak.


Setelah Anah tenang, Parno menatap wajah Anah. Dulu dia bisa leluasa memeluk dan mencium kening dan pipi Anah. Tapi sekarang Anah sudah beranjak remaja, yang usianya sudah 10 tahun lebih.


Maka ia urungkan niat ingin mencium kening dan pipi. Untuk membuat Anah tenang ia mencium ubun-ubunnya. Setelah itu ia juga berpikir, dengan penolakan Anah. Yang tidak mau lagi tidur dengan, mungkin itu juga karena Anah merasa sudah besar.


"Apa kamu yakin sekarang masih tidur dengan nenek. Sekarang sudah nyaman di dalam pelukannya pak lek lo?"tanya Parno.


"Heem aku mau tidur dengan nenek saja, lagian sekarang pak lek bisa kembali ke kamar sama bibi."Jawab Anah, dan menyuruh Parno kembali.


"Ya sudah kalau Anah tetap mau tidur di sini. Tapi pak lek tidak akan kembali sebelum Anah tidur. Sekarang tidur, ini sudah setengah 12 nanti kamu kesiangan. Besok senin kamu harus sekolah kan."Ujar Parno.

__ADS_1


"Iya, tapi aku mau pipis dulu, anterin ya lek takut."Kata Anah.


"Ya sudah ayo turun dan ke belakang."Parno segera melepaskan pelukannya dan berdiri untuk mengantarkan Anah ke belakang.


Susi mendengar mereka hendak keluar, dia langsung masuk ke dalam kamarnya.


Anah berjalan ke belakang di ikuti Parno, Anah mengambil air segayung untuk cebok.


Saat menunggu ponakannya lagi buang air kecil Parno ingat beberapa tahun lalu saat dirinya datang ke gubuk masnya. Untuk menjemputnya karena Anah lagi sakit.


Dia tersenyum mengingat itu "sungguh memalukan" gumamnya dalam hati.


"Sudah ayo tidur, jangan di pikirkan lagi, nanti kamu sakit kepala kalau banyak pikiran."Ujar Parno.


"Iya lek dah sana pak lek tidak usah kesini lagi aku mau tidur." Kata Anah.


Belum juga Parno jawab ucapan Anah, nenek memanggil Parno.


"Iya mak ayo, pelan-pelan saja. An kamu naik dan tidur."Menjawab mamaknya dan memerintah Anah tidur.


"Iya ya" kata Anah, langsung naik ke ranjang menarik selimut sampai leher. Setelah dari buang hajat Anah merasa dingin sekali.


Beberapa saat Parno kembali mengantarkan mamaknya untuk tidur lagi. Parno menatap wajah Anah sekilas, Anah sudah tertidur walau pun belum pulas betul.


"Dari tadi Anah belum tidur?"tanya Nenek setengah berbisik.


"Belum mak, seperti nya ada yang di pikirkan. Anah tertekan lagi, mamak tidak siksa dia lagi kan?"tanya Parno pada mamaknya.

__ADS_1


"Tidak, dia sekarang cukup di tunjuk juga sudah tau. Tidak perlu di marahi, kecuali dia buat salah. Terkadang mamak masih suka kelepasan marah dan nabok. Tapi belakangan ini dia sering aneh, ngomong sudah seperti orang dewasa saja. Terlebih seminggu lalu habis di marahin Sugi. Dia bilang masih untung dia masih hidup."Adu Nenek. Karena memang tidak merasa membuat Anah tertekan seperti dulu.


"Ada hal lain lagi mak, itu yang dia tutup dari kita. Tapi aku yakin mas tau ini, karena aku ingat waktu Anah sakit itu. Mas bilang kalau pun tidak di jemput hari itu juga pulang. Karena kontak batin nya kuat, atau mungkin hal lain. Yang aku belum tau apa itu, ucapan Anah hampir sama dengan mas. Jika mengucapkan sesuatu pasti benar, entah itu kebetulan atau gimana."Kata Parno panjang lebar.


"Iya, tapi mamak juga gak tau apa yang dia alami saat ini. Memang tadi bilang apa Anah?" tanya Nenek.


"Yang tadi dia katakan kalau kangen bapak ibunya. Sampai dia nangis, begitu menyedihkan dan aku bingung harus bagaimana. Aku cuma takut Anah kembali seperti dulu, karena banyak beban pikiran."Ujar Parno.


"Ya besok lagi di bahas mamak juga lagi sakit harus istirahat."Lanjut Parno.


"Iya sana kamu tidur suara anak mu bangun, istrinya gak denger."Ujar Nenek.


"Ya aku tinggal mamak harus tidur."Langsung keluar kamar dan menuju kamarnya.


Sampai kamar Susi baru duduk dan akan menyusui anaknya.


"Uluh-uluh anak bapak haus ya?"tanya Parno pada anaknya, sambil mencium pipi nya.


Lalu pindah mencium pipi Susi, setelah itu dia merebahkan tubuhnya. Tangan memeluk paha istrinya, karena istrinya sedang menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang.


Pagi hari tepat jam 6, Anah pamit pulang untuk sekolah. Karena tidak membawa seragam dan buku Anah harus pulang.


Tapi Anah sejak bangun tidur tadi badannya lemas. Anah menggowes sepeda nya, baru beberapa 100 meter. Anah merasa tambah tidak kuat lagi menahan kepala yang pusing. Dan juga badan yang semakin lemas.


"Ya Allah..., aku tadi sudah sarapan, kenapa aku pusing dan lemas." Kata Anah dalam hati.


Sebisa mungkin Anah menahan diri, supaya bisa sampai rumah sambil menuntun sepeda. Tepat di depan sekolahannya, dia bertemu teman barunya.

__ADS_1


"Her...


*****Bersambung....


__ADS_2