TAKDIR KU

TAKDIR KU
143.PERLAKUAN MAMAK PADA ANAH


__ADS_3

Akhirnya mereka bertiga tertidur pulas hingga akan ashar. Bu Sarinem bangun lebih dulu dan melihat seisi rumah sepi. Karena Monik ada di belakang rumah sedang menyapu.


Nenek sedang duduk di belakang melihat Monik menyapu. Bu Sarinem berjalan menuju kamar mandi dan menimba air. Sambil melirik ke nenek yang cuek melihat dirinya pulang. Bu Sarinem tidak perduli asal jangan mengeluarkan kata-kata yang menyakiti hati.


Setelah selesai bu Sarinem membangunkan Udin dan Anah. Karena sudah sore, Sebentar lagi bapak nya pulang sudah pada mandi. Sehingga tidak rebutan untuk ke kamar mandi, Bu Sarinem yang menimba air dan memenuhi bak mandi. Tidak perduli dirinya juga capek. Namun untuk melampiaskan kekesalannya ia melakukan hal yang menguras tenaga yaitu menimba air. Yang kedalamannya sumur kurang lebih tiga belas meter.


Jam setengah lima pak Jumadi pulang dari kebun pun tersenyum melihat istrinya sudah di rumah. Namun melihat wajah datar istrinya, langsung sesak nafas. Karena rasa sakit di hatinya ketika melihat perempuan yang sangat ia cintai. Tidak merindukan dirinya, hanya dirinya lah. Yang merindukan istrinya dan kebersamaan dengan keluarga.


"Dek datang jam berapa?"tanya pak Jumadi sambil tersenyum.


"Tadi zhuhur mas."Jawaban dengan muka datar, tanpa ekspresi.


"Ya sudah Alhamdulillah kalau begitu mas mandi ya. Terima kasih sudah mengisi bak mandi nya." Masih dengan senyum walau terpaksa.


"Sama-sama, sudah biasa ini memang sudah kerjaan ku." Kata bu Sarinem yang di tujukan untuk menyindir mertuanya. Tapi secara tidak langsung juga menyinggung perasaan suaminya. Maksudnya supaya suami, bisa memberikan solusi pada anak, istri dan ibunya. Jangan hanya diam tidak ada yang ia tau, jika suaminya memihak pada siapa.

__ADS_1


"Tapi tidak biasa buat mas, dek."Pak Jumadi berkata jujur, tidak pernah menyuruh istrinya menimba, biasanya ia yang nimba. Dan baru kali ini ia mandi air yang sudah di timba oleh istrinya.


Setelah selesai mandi dan melihat istrinya menemani anak-anak makan. Lalu pak Jumadi juga duduk di sebelah Anah, tapi respon Anah juga sedikit berbeda. Seperti sedang marah, hanya diam dan melirik bapak nya sebentar. Hal itu membuat pak Jumadi semakin frustasi.


Anah sendiri ragu melirik bapaknya sebentar kemudian menatap ibunya. Dia yang sudah lebih besar dari adiknya, melihat kedua orang tuanya saling pandang dan diam. Seperti orang ragu dengan apa yang akan mereka tanya kan. Pada ego yang di jadikan andalan.


"Malam ini kita bicara kalau bisa beres tidak ada namanya bertengkar-tengkar lagi. Yang namanya satu rumah itu harus akur, kalau cekcok terus menerus."Kata pak Jumadi dengan nada tegas.


Di rumah tidak ada Monik sama Udin, sebab mereka berdua lagi belum pulang mengaji. Tapi mungkin sebentar lagi mereka pada pulang.


"Mas sebenarnya juga tidak tega, tapi mau bagaimana lagi? Anah sendiri juga tidak ikut dengan kita. Bahkan Anah kan tidak bisa di paksakan untuk ikut kita. Mas juga tidak bisa melihat Anah menangis." Pak Jumadi menjawab yang sebenarnya.


Anah yang mendengar jawaban bapaknya, merasa bersalah karena hidup bersama neneknya. Dulu ia pikir untuk melindungi semua agar tidak begini. Anah selalu menghindari keributan, namun sekarang sudah tidak bisa di hindari.


Tapi Anah juga kecewa dengan keputusan bapaknya, yang bilang jika dirinya tidak bisa di paksa. Dan bapaknya itu tidak tega jika melihatnya menangis. Lalu apa yang di lakukan bapaknya ketika dirinya meminta sekolah. Fakta nya bapaknya tega melihat dirinya menangis bahkan sampai ngambek berhari-hari. Tapi bapaknya biasa-biasa saja, tidak perduli dengan apa yang di lakukan oleh Anah.

__ADS_1


"Kalau mas tidak tega dengan Anah, kalau Anah nangis di depan mas. Tapi saat aku melakukan kesalahan sekali saja mas sindir-sindir terus. Tapi kalau kesalahan mas dan mamak tidak boleh di ungkit. Itu tidak adil mas, Anah menderita karena mas tutup mata dan telinga."


"Dari masih di perut, masih aku gembol ini anak kita sudah menderita mas. Hati ibu mana yang tidak sakit, kalau melihat dan mendengar anaknya menderita selama ini. Aku merasa begitu kejam sama anak sendiri, apa lagi yang membuat aku tidak habis pikir mas mengetahui itu semua."


"Apa mas mau meneruskan kelakuan mamak. Yang tega meninggalkan anak-anaknya, menderita, jangan samakan Anah dengan mu mas. Anah itu perempuan, yang berhak mendapatkan perhatian dan perlindungan. Kalau mas laki-laki sudah pasti kuat, menopang semua beban pikiran dan hidup."


"Anah merasakan semua sendiri, bahkan Anah hampir mati. Aku tidak ingin mendapatkan itu lagi mas, cukup dulu tidak sekarang. Setelah ini jangan harap aku cuma diam, semut pun kan marah jika di injak. Begitu pula aku, aku gak akan tinggal diam. Kalau mas tidak bisa tegas, dan mamak juga tidak akan berubah. Aku akan bawa anak-anak dan kita lebih baik cerai saja. Dan mas ikuti saja kemauan mamak, menikah dengan perempuan seperti keinginan nya." Bu Sarinem mengeluarkan semua unek-uneknya. Yang sudah di tahan selama 3 minggu ini.


Bu Sarinem meluapkan emosi nya, tidak menyadari. Bahwa kedua anaknya sudah pulang dari masjid. Dan keduanya langsung ke kamar Monik, keduanya pun menangis dalam diam.


Anah yang melihat adiknya ke kamar tapi tidak keluar pun menyusul. Dia pergi dari hadapan orang tuanya, dengan derai air mata. Menuju ke kamar adiknya, dan mereka menangis bersama hingga sesenggukan.


"Kamu itu memang seharusnya pergi saja dari dulu. Jangan sekarang sudah punya banyak anak, kamu mulai bertingkah. Apa lagi sudah kenal Jakarta, jadi sudah nemu yang bisa menampung mu dan anak-anak mu. Kamu pulang untuk mengambil anak-anak mu, dan meninggalkan Jumadi begitu." Bukan melerai malah menyalahkan menantunya dan memanas-manasi anaknya.


Pak Jumadi sudah tidak tahan dengan ucapan mamaknya yang sejak kemarin menjelekan istrinya. Dan sekarang menuduh yang bukan-bukan. Pak Jumadi bukan orang yang mudah di kompori. Tapi ia tidak akan bisa kehilangan anak dan istrinya. Apa yang di katakan istrinya memang benar adanya. Kalau dia tegas dari dulu mungkin dia tidak akan gagal menjadi orang tua. Pasti bisa melindungi perempuan yang ia cintai di rumah ini.

__ADS_1


*****Bersambung.....


__ADS_2