TAKDIR KU

TAKDIR KU
103.PAHIT


__ADS_3

Sebisa mungkin Anah menahan diri, supaya bisa sampai rumah sambil menuntun sepeda. Tepat di depan sekolahannya, dia bertemu teman barunya.


"Heru...." Panggil Anah sedikit teriak namun terdengar lemah.


Heru, merupakan murid baru pindahan, dan sekelas dengan Anah. Anaknya baik dan jadwal piket nya pun sama. Yang rajin piket cuma Anah dan Heru di kelompok Anah. Padahal di dalam satu kelompok ada 6 orang.


"Ya An, kenapa?"tanya Heru saat sudah di dekat Anah.


"Her nanti tolong sampaikan sama pak Joni ya, aku gak sekolah."Ujar Anah.


"Memang kamu kenapa? dan ini dari mana? kan masuk jam 7 ini baru jam 6 lewat 20?"tanya Heru bertubi-tubi.


"Aku gak kuat Her, Aku gak enak badan, ini rasanya aku gak kuat untuk pulang. Ini habis dari rumah pak lek, nenek lagi saki di sana. Tadi niatnya mau pulang buat sekolah, tapi aku lemes begini. Yang ada nanti di suruh pulang juga, kalau maksa sekolah."Jawab Anah panjang lebar.


"Oh begitu ya," lalu Heru memegang lengan Anah "iya badan mu juga panas An, ya sudah nanti aku sampaikan."Ujar Heru setelah memastikan bahwa Anah memang sakit. Dan wajah Anah memang terlihat pucat.


"Terima kasih ya Her, Aku sudah gak kuat pusing banget. Aku pulang salah sama teman-teman terutama pada mas Angga."Ucap Anah, setelah itu mendorong sepeda untuk pulang.


"Iya kamu hati-hati."Ucap Heru.


Sebisa mungkin Anah menahan sakit. harusnya kalau mendorong sepeda itu berkeringat, tapi ini malah menggigil.


Sampai di rumah bu Kokom lagi nyapu di di bawah pohon mangga. Melihat Anah pulang langsung bertanya, dan memperhatikan kondisi Anah yang pucat.


"Anah kamu pulang sekolah, nenek gak ikut?"tanya bu Kokom.


"Nenek lagi sakit mbah, jadi aku pulang sendiri. Aku masuk dulu ya mbah,"pamit Anah.


"Apa kamu gak sekolah?"tanya bu Kokom yang masih terus menatap wajah pucat Anah.


"Karena aku pusing mbah, jadi gak sekolah."Ujar Anah.


"Oh ya sudah kamu bawa tidur saja. nanti kalau belum sembuh bilang ya."Ujar bu Kokom.


"Iya mbah."Anah langsung masuk ke rumah, dan langsung men cari selimut.


Setelah itu Anah mencari minum, tapi rasanya jadi pahit. Akhirnya ia minum hanya sedikit, dan langsung naik ranjang yang ada di rumah tamu.

__ADS_1


Anah sekarang merasa sendiri ya memang sendiri. Karena pusing sekali dan badan pun terasa dingin, hingga rasanya tembus ke tulang.


Tanpa di minta air matanya pun mengalir deras. Anah menangis dalam diam, sampai ia tertidur dengan mata sembabnya.


Jam 10 bu Kokom datang, dengan membawa sepiring nasi berserta lauknya. Langsung mendorong pintu, dan masuk memeriksa suhu tubuh Anah. Langsung pulang ke rumahnya untuk mengambil obat penurun panas.


Tak lama kembali lagi, dan membangun Anah untuk makan dan minum obatnya.


"Anah... Anah... bangun yuk," Anah membuka matanya menatap bu Kokom "ini Mbah bawa nasi kamu belum makan. Ayo makan setelah itu minum obat biar gak pusing lagi."Ujar bu Kokom.


Setelah Anah duduk bu Kokom memberikan piring itu di depan Anah. Anah memakan makanan itu, namun hanya beberapa suap saja.


"Kok cuma sedikit makanya, sini mbah suapin ya."Bujuk bu Kokom, sambil mengambil sendok dan menyodorkan ke mulut Anah.


Anah menggeleng terucap satu kata "pahit"


"Itu karena Anah lagi sakit, harus di paksakan supaya cepat sembuh."Bujuknya bu Kokom.


Akhirnya Anah menerima suapan itu, hanya tiga suap saja.


"Ya sudah, mbah tumbuk dulu ya obatnya, habis itu minum."Ujar bu Kokom, yang langsung menumbuk pakai batu ulekan. Setelah itu mencampur dengan air minum, di dalam sendok dan memberikan pada Anah.


Selesai bu Kokom pamit pulang dengan membawa piring bekas makan Anah. Langsung di berikan pada ayam yang ada di halaman itu sisa makan anah.


Anah tidak menyangka masih ada yang perduli. Angga, Johan dan Warto tidak seperti dulu lagi. Sekarang Warto juga sudah jahil, pada Anah suka menakut-nakuti.


Anah merasa sekarang sepi, sepintas ia mengingat masa-masa bersama dulu. Bercanda gurau, di jahili Johan dan Angga, tapi selalu di bela Warto. Kini Anah lebih sering main dengan Nana, jika ada waktu kosong.


Jam 2 siang bu Marni datang bersama bu Kokom. Ya bu Marni di jemput bu Kokom, karena bu Marni adalah bude nya. Melihat Anah meringkuk di atas ranjang, dengan wajah pucat.


"Iya mbak, ini panas sekali, gimana saya mau mengurus nya. Biar aku bawa ke rumahnya Susi saja. Karena nenek di sana sekalian saja,"Ujar bu Marni.


"Apa mereka tidak terlalu kerepotan mengurus dua orang sakit?"tanya bu Kokom.


"Nanti aku akan saranin Parno buat jemput Jumadi mbak."Ujar bu Marni.


"Ya sudah gimana baiknya saja, aku cuma gak tega sama Anah. Tak pulang ambil nasi nanti kamu yang suapin ya. Sama kasih obat, tuh di meja masih ada sisa obat tadi."Ujar bu Kokom.

__ADS_1


"Baiklah aku mau siapkan pakaian Anah, untuk ganti di sana nanti." Yang langsung cari kantong plastik hitam untuk pakaian Anah.


Bu Kokom pulang mengambil nasi dan lauk juga sayur bening.


Bu Marni mengambil sapu ijuk, lalu nyapu dalam rumah sambil nunggu bu Kokom kembali.


"Mar ini nasinya, jangan nunggu dia bangun, harus di bangunin. Aku tak pulang mau beberes rumah, nanti aku kesini lagi ambil piring."Ujarnya bu Kokom sambil meletakkan piring di meja.


"Iya mbak aku tak selesai ini dulu, nyapu dapur."Sahut bu Marni.


"Oh ya sudah,"langsung pulang mengurus rumah.


Setelah selesai menyapu, bu Marni nimba air untuk cuci tangan dan mandinya. Bu Marni berencana membawa Anah setelah mandi sore.


"Anah ayo bangun makan dulu ya."Ujar bu Marni.


"Aku malas bude, pahit mulut ku."Kata Anah.


"Kamu harus minum obat, habis makan anah boleh tidur dulu. Nanti setelah jam Setengah 5 bude antar ke rumah pak lek Parno."Ujar bu Marni.


"Aku gak kuat jalan bude, emang bude kuat gendong aku sampai rumah lek Par?"tanya Anah dengan nada lemah.


"Kan ada sepeda Anah nanti baru bude pulang jalan saja. Sekarang ayo makan dulu, terus minum obatnya biar cepat sembuh."Jawab bu Marni.


"Nanti dulu bude, aku pengen pipis dulu."Tolak Anah karena kebelet.


"Ayo bude anterin pelan-pelan."Ujar bu Marni.


Anah di papah ke kamar mandi untuk buang hajat dan cuci muka.


Setelah selesai Anah kembali duduk di ranjang, dan makan di suapi oleh bu Marni. Kali ini nasinya lebih sedikit, karena bu Kokom tidak mau kalau buang makanan lagi.


Selesai itu Anah merebahkan diri, sedang bu Marni men cuci piring dan mandi.


Setelah mandi bu Marni mencari kain panjang, untuk persiapan di jalan.


*****Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2