
...🍁🍁🍁...
"Aaarrrggggghhhh! Kenapa Zivana sulit sekali dihubungi sejak tadi?"
Suara erangan Bima yang marah, bergema. Membanting ponsel ke lantai hingga pecah berserakan ke mana-mana, membuatnya semakin frustasi, gelisah berkepanjangan, memikirkan bagaimana caranya lolos dari kejaran Polisi yang sedang bersiap siaga.
"Tidak ada cara lain!!! Aku harus menemui Pak Bram di Apartment Pak Gibran sesuai dengan yang diarahkan tadi sore."
Bima menoleh, melihat benda bulat yang menempel pada dinding, menunjukan jam yang bertepatan dengan waktu larut malam. Tanpa berpikir panjang lagi, Bima bergerak. Meraih jaket hitam kesayangan lalu keluar dari kamar, membiarkan kamar yang telah porak-poranda akibat kegelisahan hatinya.
***
Drrrrttt...
Mata yang baru saja terpejam, seketika terbuka lagi saat mendengar getaran dari ponsel yang terletak di atas nakas. Bram bergegas duduk, meraih ponselnya yang tidak sabar ingin segera diangkat.
"Kakak... Kakak di mana?" tanya sosok penelepon yang bersuara lembut di sana.
"Kakak masih di Jakarta, Dek. Memang kenapa? Kamu baik-baik saja 'kan?" ujar Bram yang menjawab telepon sang adik.
"Kakak kapan pulang? Sebentar lagi aku harus kemoterapi, Kak. Dokter bilang kalau jadwalnya diundur lagi, nanti kanker yang ada di tubuhku akan semakin parah."
Bram tercekat, menahan rasa sesak yang menggerogoti dada, mendengar penyakit mematikan yang diderita oleh sang adik akan semakin parah jika terlambat untuk ditangani, membuat Bram terpekur sesaat, memikirkan cara membujuk sang adik yang tengah membujuknya agar segera pulang.
"Kakak akan pulang, Sayang. Tapi bukan sekarang ya. Adek jangan cemas, Kakak akan mengirimkan uang untuk kemoterapi. Kakak minta maaf ya, kalau kemoterapi kali ini Kakak masih belum bisa menemanimu." tutur Bram, menahan untuk tidak menangis.
"Iya Kak, Adek mengerti. Kakak baik-baik kerja di sana. Jangan lupa makan, shalat, dan berbuat baik pada orang. Karena kita tidak pernah tau, kapan kita bisa berbuat baik lagi pada orang lain selama raga kita masih bersatu dengan nyawa." tutur sang adik yang memberi nasihat tidak langsung.
Hati Bram mencelos seketika, bagaimana mungkin ia berbuat baik sementara saat ini ia tengah merencanakan rencana jahat lagi untuk membantu sang majikan, demi uang.
"Iya Sayang... kamu baik-baik juga ya di kampung. Jangan terlalu capek ya." ujar Bram yang suaranya mulai tak terkendali.
"Iya Kak... kalau begitu Adek tutup dulu ya, Kak. Maaf Adek mengganggu Kakak larut malam seperti ini. Assalamualaikum Kakak." jawab sang adik yang menutup telepon.
"Wa'alaikumsalam Dek..." ucap Bram.
Pembicaraan singkat berakhir dengan air mata sosok Bram yang terkenal pendiam, lebih banyak bekerja dari pada berbicara, kini luruh membasahi wajah tampannya. Usia yang sudah berkepala empat, yang seharusnya digunakan untuk membangun keluarga, justru digunakan untuk kejahatan.
"Kuat Bram!!! Kamu harus kuat! Demi adik kamu yang sedang butuh biaya untuk beli obat dan kemoterapi!!! Kamu harus kuat!!!"
Ting Nong...
Suara bel pintu unit kamar Apartment sang majikan kembali berbunyi, membuat Bram beranjak cepat seraya mengusap air mata. Tidak ingin sang majikan melihat matanya yang basah, sedih setelah bicara dengan sang adik walaupun hanya sebentar saja.
Bram keluar, melihat Gibran yang sudah membuka pintu, menampakan seorang anak muda berperawakan dewasa yang tidak lain dan tidak bukan adalah, Bima!!!
"Silakan masuk Bima!" seru Gibran.
Bima yang mematung, bergerak maju. Bergegas masuk ke dalam Apartment Gibran yang masih tetap sama seperti awal mula ia datang saat rencana akan berjalan.
"Pak Gibran tidak lupa 'kan?" tanya Bima.
Gibran mengulas senyum, menyeringai dalam hati ketika melihat ketakutan yang teramat jelas di wajah Bima saat ini. Tidak peduli akan ketakutan Bima, yang penting semua rencananya berjalan dengan baik walaupun harus mengorbankan orang lain.
"Tentu saja tidak!!! Saya akan membantu kamu!!! Karena itu, saya meminta asisten saya untuk menyuruhmu datang ke sini!!! Kamu bisa tinggal di sini untuk sementara sampai situasi kembali aman!!! Dan untuk rencana selanjutnya, lebih baik saat ini kita tidak bertemu dulu!!! Kita berpencar untuk mengecoh Polisi yang tengah melacak kita. Kamu jangan khawatir!!! Polisi tidak akan bisa menemukan kamu di sini!" ujar Gibran.
"Kenapa kita harus berpencar? Bukankah kalau kita tetap bersatu akan memudahkan kita untuk melawan? Pak Gibran... tidak sedang mengelabui saya 'kan?" ujar Bima, menelisik Gibran yang cukup mencurigakan.
"Hahahaha... tidak ada istilah berkhianat dalam kamus saya, Bimantara! Jika kamu tidak percaya pada saya, maka silakan keluar dan hadapi Polisi itu sendiri. Saya tidak mau ikut campur dengan masalah kamu!!!" ujar Gibran, menatap tajam Bima.
Bima tercekat, posisinya benar-benar tersudut. Dipaksa untuk mempercayai Gibran yang membuatnya ragu untuk sesaat, namun jika berpaling pun juga tidak akan membuatnya untung, melainkan rugi. Tertangkap oleh Polisi merupakan sebuah mimpi buruk yang selalu dihindari olehnya.
__ADS_1
"Baiklah! Saya harap Pak Gibran tidak menipu saya! Saya pegang semua janji anda!" ujar Bima, meneguhkan hati yang tiba-tiba dirundung kegamangan.
Gibran mengulas senyum, menyeringai tatkala menoleh ke arah Bram yang sejak tadi sudah berdiri di sampingnya. Gibran mengangguk samar, seakan memberikan perintah selanjutnya pada sang asisten.
"Kalau begitu ini kunci Apartment. Saya harus pergi sesuai dengan rencana kita sebelumnya. Kita... harus... berpencar!!!"
Gibran beranjak, memberikan kunci unit Apartment pada Bima yang termenung, meraih jaket hitam di sandaran sofa lalu berlenggang pergi bersama sang asisten. Meninggalkan Bima di dalam keheningan, membiarkannya menikmati unit kamar itu sendirian tanpa ada yang menghalangi.
"Ayo Bram! Kita harus bergerak cepat!"
Bram mengangguk tunduk, mengikuti langkah lebar sang majikan keluar dari Apartment tanpa sepengatahuan orang lain. Menyusuri halaman belakang setelah keluar dari lift, menuju ke tempat persembunyian mobil yang sudah disiapkan oleh Bram.
***
"Baju kamu banyak juga ya, Al!"
Di sebuah unit kamar Apartment yang lain, tampak Aifa'al yang tengah sibuk berkutat dengan bajunya, memasukkan semua baju yang pernah ia bawa dari rumah ke dalam tas, ingin membawa kembali semua baju itu pulang dan masuk ke dalam tempat semula.
Ditemani Aiziel yang hanya duduk bagai seorang bos, memantau kinerja bawahan yang tengah sibuk melakukan pekerjaan. Sementara Imam menunggu keduanya di ruang tamu, merebahkan tubuh yang lelah, meluruskan pinggang yang sering terasa pegal jika terus-terusan dibawa duduk.
"Karena kamu, kita jadi telat sampai di rumah nih!!! Daddy sama Mommy pasti ceramah lagi nanti. Apalagi sudah larut malam seperti ini." tutur Aiziel, meracau.
"Ya maaf, Mas. Al juga tidak menyangka kalau baju Al sebanyak ini. Padahal Al tidak pernah membawa baju sebanyak ini dari rumah." jawab Aifa'al yang terus bekerja, memasukkan baju-bajunya ke dalam tas.
"Kamu memang tidak pernah membawa baju-baju itu sekaligus, tapi kamu malah membawa mereka satu per satu. Sampai baju kamu di dalam lemari di rumah habis." seloroh Aiziel melihat adiknya yang sibuk.
"Dari pada Mas meracau terus seperti itu, lebih baik Mas membantu Al. Biar kita bisa cepat pulang. Jujur, Al capek banget nih!!! Kasihan juga Paman Imam yang duduk di ruang tamu. Paman pasti juga sudah lelah." jawab Aifa'al, melirik sang mas yang hanya duduk memantau pergerakannya sejak tadi.
Aiziel mendengus geli, beranjak dari sofa yang menjadi tempat ternyaman sejak tadi, berjalan mendekati sang adik yang masih fokus pada barang-barang, siap untuk segera dibawa kembali ke tempat asalnya.
***
Ting Nong...
Ceklek!
Suara pintu terbuka menarik mata Gibran, menoleh cepat ke arah pintu, menangkap sosok cantik yang berbinar efek senang.
"Papa..."
"Zivana..."
Gadis kecil Gibran menghambur, memeluk erat sang papa yang hampir membuatnya jantungan saat mendengar cerita dari Bima.
"Kita masuk dulu ya, Sayang. Ada sesuatu hal penting yang ingin Papa katakan sama kamu!" ujar Gibran, melepas pelukan sang putri tersayang.
"Ayo Pa!!!" jawab Zivana.
Zivana, Gibran, dan Bram bergegas masuk, menutup kembali pintu yang tidak tertutup rapat, membiarkan Bram terus memantau di dekat pintu. Sementara Zivana dan Gibran duduk di sofa, tampak tegang dan khawatir.
"Kamu baik-baik saja 'kan Sayang?"
"Zivana baik, Pa. Papa kenapa sih, tidak memberitahu Zivana kalau Papa sedang merencanakan sesuatu untuk membalas dendam. Memang dendam apa sih yang membuat Papa nekat seperti ini?" cercah Zivana, kesal namun lebih penasaran.
"Siapa yang memberitahu kamu kalau rencana Papa ini untuk balas dendam?"
"Bima... tapi Bima juga tidak tau dendam apa yang ingin Papa balaskan. Memang ada dendam apa di antara Papa dengan orang tuanya Damar dan si bisu itu? Ayo cerita, Pa!!! Cerita pada Zivana!!!" cercah Zivana, mendesak sang papa bercerita.
"Kamu yakin ingin tau dendam Papa?"
"Iya, Pa. Zivana juga ingin tau."
__ADS_1
Gibran menghela nafas, sebelum akhirnya semua cerita yang disimpannya sendirian selama ini terungkap di depan sang putri, membuat wajah Zivana memerah padam, menahan amarah yang membuncah jiwa ketika mengetahui bahwa meninggalnya sang nenek dan kakek karena terbunuh. Ditambah lagi setelah mengetahui sosok pembunuh itu, membuat Zivana semakin geram bahkan semakin benci pada dua anak kembar yang menjadi musuhnya di sekolah selama ini, siapa lagi jika bukan cucu dari pembunuh itu, si anak kembar Damar yang cuek dan Wulan yang cacat.
Tidak hanya itu, Gibran kembali membuka suara. Menceritakan semuanya pada sang putri, termasuk rencana jahatnya bersama Bima. Namun...
"Jadi yang Bima katakan kemarin itu?"
"Itu semua tidak benar, Sayang. Anak itu yang sudah memanfaatkan kesempatan ini!!! Awalnya Papa hanya ingin mencari tau informasi tentang Damar dari dia, dan ingin memberikan pelajaran pada ibunya Damar dan Wulan. Tapi justru, Bima ingin Papa melakukan hal yang lebih, hingga akhirnya Papa tertangkap oleh Polisi." tutur Gibran.
Seringai samar terbit seketika, menatap sang putri yang tengah geram menahan amarah, mendengar ceritanya yang jauh dari kejadian sebenarnya, memutarbalikkan fakta yang sesungguhnya, membuat Bima semakin tersudut di mata Polisi bahkan di mata Zivana yang sangat tergila-gila pada anak itu. Membuat Gibran sangat puas, tidak hanya membalas dendam, rencana untuk memisahkan sang putri dari pria itu pun bisa dijalankan secara bersamaan.
"Bima brengsek!!! Berani-beraninya dia memanfaatkan situasi seperti ini! Zivana benar-benar menyesal sudah mengenal, bahkan mencintai pria menjijikkan seperti dia, Pa!" serkas Zivana yang sangat kesal.
Gibran menyeringai, menoleh ke arah sang asisten, memberikan perintah selanjutnya dengan satu anggukan samar tak terlihat. Membuat Bram mengangguk, mengerti.
Tangan yang semula terjuntai, terangkat. Merogoh saku jaket, meraih benda pipih yang sejak tadi tengah bekerja, merekam jelas perkataan Zivana yang memaki Bima. Setelah terekam, jari yang lincah mengirim pesan suara itu pada seseorang yang sudah disiapkan untuk melancarkan rencana jahat.
"Sekarang kamu tidak perlu memikirkan anak itu lagi, Sayang. Kita harus segera pergi dari sini. Papa akan mengajakmu karena Papa tidak ingin kamu tetap di sini. Masalah dendam itu, biar Papa yang akan membalasnya untuk kakek dan nenekmu! Dan Papa sangat bangga sama kamu, Nak. Kamu berhasil mengelabui bundamu agar dia berangkat ke Singapore. Ya walaupun Papa sangat yakin, kalau bundamu itu akan mengetahui semuanya cepat atau lambat."
Zivana mengangguk patuh, memeluk erat sang papa yang sudah beberapa hari tidak ada di rumah. Berkata ingin ke Singapore, ternyata masih ada di kota ini dan sedang menjalankan misi untuk balas dendam.
Brak!
Gibran, Bram dan Zivana terlonjak kaget, menoleh cepat ke arah pintu, mendapati keberadaan sosok yang diduga memang akan kembali lagi dari Singapore, setelah merasa ditipu dengan hasutan Bram yang sebenarnya berasal dari ide Zivana.
"Kinan..."
Gibran beranjak, menatap lekat sang istri yang menatapnya dengan tajam. Cukup lama berdiri di depan pintu yang sedang dijaga ketat oleh Bram. Membuat telinga Kinan yang masih normal dan sangat baik dalam mendengar, mengetahui semuanya.
Masa lalu sang suami yang sempat menyentuh hati, berubah miris dalam sekejap ketika mendengar semua rencana jahat yang sedang dijalankan, melibatkan anak seperti Bima yang tidak tau apa-apa, melampiaskan dendam pada orang yang sebenarnya juga menjadi korban, tersiksa bahkan hampir kehilangan nyawa. Mata yang menatap nanar dibawanya ke arah sang putri, tidak menyangka jika sang putri juga bisa berbuat licik dan mengelabuinya. Membuatnya seperti orang bodoh saat di Singapore, mencari keberadaan suaminya yang jelas-jelas tidak ada di sana. Bodoh!
"Jadi seperti ini sifat asli suamiku?"
Gibran mendengus, menghela nafas panjang sebelum meluruskan semuanya pada sang istri yang terlanjur mendengar.
"Mungkin memang sudah saatnya kamu tau, siapa aku ini sebenarnya, Kinan! Aku bukan lah orang baik!!! Aku adalah orang baik yang teraniaya, dan aku harus tetap membalaskan dendamku!!!" tutur Gibran.
"Tapi kenapa kamu melibatkan anak yang tidak tau apa-apa tentang masalahmu ini? Bahkan secara tidak langsung, kamu juga telah melibatkan putrimu sendiri!!!" tandas Kinan, menahan air yang hendak mengalir.
"Itu hak ku!!! Zivana adalah putriku! Jadi kamu tidak berhak mengaturku!" tandas Gibran, menatap tajam manik sang istri.
"Tapi aku ini istri kamu, Mas! Zivana juga putriku! Kenapa kamu tidak pernah cerita tentang masa lalu kamu? Kenapa kamu berubah jadi pendendam seperti ini Mas?" tutur Kinan, menyerah dengan bulir kristal yang sukses menerobos keluar tanpa izin.
Gibran terkekeh renyah, menatap lekat Kinan yang menggenggam tangannya, menepisnya dengan kasar hingga Kinan terhuyung dan hampir terbentur dinding.
"Mungkin sudah waktunya status itu kita akhiri, Kinan!!!" ujar Gibran, menyeringai.
"Maksud kamu apa Mas?" tanya Kinan, membiarkan bulir kristal terus mengalir.
Gibran menyeringai, meraih kedua bahu Kinan, mencengkram nya dengan kuat, membuat Kinan meringis kesakitan saat kedua bahunya menjadi sasaran Gibran yang berubah 180° seperti sosok monster.
"Aku tidak ingin hidup bersama dengan wanita baik seperti kamu lagi! Aku sudah muak harus berpura-pura baik di depan kamu! Aku akan menceraikan mu, Kinan!"
.
.
.
.
.
__ADS_1
Happy Reading All 😇😇😇
Nah loh, Gibran kok jadi ganas gini ya 😅 haduhhh bikin author pusing aja nih satu tokoh ✌️🤭