Takdir Si Gadis Bisu

Takdir Si Gadis Bisu
Episode 123 ~ Kalah Cepat


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


"Ck!!! Gara-gara dosen botak itu aku jadi terlambat menjemput adikku di sekolah!"


Syahal menggerutu, menggeram dalam bathin efek kesal pada dosen yang masuk dan memberikan materi perkuliahan hari ini. Janji hanya satu jam untuk mengganti mata kuliah yang sempat terabaikan, justru makin bertambah dan terus lanjut hingga tiga jam berlalu, membuatnya mendengus kesal.


"Mas Syahal...!"


Syahal yang menggerutu menoleh cepat, melihat ke sumber suara yang ada Syahil.


"Maaf Mas, Syahil baru keluar juga nih! Dosen kiler malah lanjut terus kuliahnya!" umpat Syahil yang menahan kekesalan.


"Ck! Ternyata nasib kita tidak beda jauh!" timpal Syahal yang melanjutkan langkah.


"Kita sudah telat lebih dari tiga jam, Mas. Damar sama Adek pasti sudah kelelahan menunggu kita di sekolahnya." ujar Syahil.


"Mas mau menghubungi Damar dulu!!!" jawab Syahal, menghentikan langkahnya lalu merogoh saku dan mengambil ponsel.


Syahil pun ikut menghentikan langkah, berdiri di samping Syahal, menunggu jawaban Damar saat telepon tersambung. Namun setelah tiga kali Syahal menelepon Damar, tidak satu kali pun diangkatnya, membuat Syahal mendadak cemas jika terjadi sesuatu pada kedua adik kembarnya.


"Bagaimana Mas?" tanya Syahil.


"Tidak diangkat Damar." jawab Syahal.


"Kita ke sana saja lah, Mas! Syahil jadi cemas!" seru Syahil yang ikut khawatir.


Syahal mengangguk cepat, mengambil langkah selebar mungkin untuk mencapai tempat parkir bersama Syahil yang tak kalah cepat saat berjalan. Mereka bergegas naik, menghidupkan mesin motor lalu melesat. Beranjak dari kampus yang membuat hari mereka terkurung oleh kuliah tambahan.


Perjalanan panjang dibuat sesingkat mungkin, menelusup ke dalam jalan tikus demi menghindari adanya kemacetan ruas jalan yang diduga akan padat di saat waktu makan siang seperti ini. Syahal dan Syahil saling mengejar waktu dan target, teringat kedua adik kembarnya di sekolah.


Ciittttt!


Sangking kencang laju motor, membuat mereka hilang kendali hingga pedal rem ditariknya dengan kuat, membuat kedua anak kembar identik itu terjingkat ke depan. Namun mereka sama-sama tak mengubris hal itu, yang ada di kepala mereka saat ini hanya Damar dan Wulan jika teringat akan bahaya yang masih mengintai jiwa mereka.


"Sepi, Mas!" sahut Syahil, mengedar mata ke dalam pekarangan sekolah yang sudah tertutup gerbang tinggi.


"Ck! Kita benar-benar terlambat, Dik!!!" timpal Syahal, berdecak kesal pada diri sendiri lalu meraih ponselnya kembali.


"Mas mau apa?" tanya Syahil, heran.


"Menghubungi Damar lagi!" ujar Syahal.


Syahal terdiam, meresapi nada di balik telepon yang sedang menyambungkan panggilan darinya pada Damar. Namun lagi-lagi, Damar yang dihubungi justru tidak mengangkat teleponnya. Membuat Syahal gemas, lalu berusaha menghubungi sang adik yang entah ada di mana lagi dan lagi.


"Bagaimana Mas?" tanya Syahil, cemas sejak tadi melihat kegelisahan sang mas.


"Ck! Damar ke mana sih? Ponselnya aktif, tapi dia tidak mengangkat panggilan Mas!" umpat Syahal, mendengus gemas seraya terus menghubungi sang adik.


"Coba Mas hubungi Uncle! Siapa tau mereka, Damar dan Adek sudah pulang!" seru Syahil, berusaha untuk tetap tenang.


"Jangan! Kalau mereka sudah pulang, mereka pasti memberitahu kita! Kalau Mas menghubungi Uncle, tapi mereka tidak ada di rumah, semua orang akan khawatir!" ujar Syahal, masih terus menghubungi Damar.


"Mas Al! Coba Mas hubungi Mas Al!" seru Syahil, teringat pada Aifa'al.


"Oke..." jawab Syahal, serius.


Syahal menghela sejenak, mengontrol hati yang dilanda kekhawatiran, teringat kedua adik kembarnya yang entah ada di mana.


"Mas...!" sahut Syahal.


"Ada apa Syahal? Suaramu panik sekali!" tanya Aifa'al yang mengangkat telepon.


"Gawat, Mas!" sahut Syahal, gelisah.


"Gawat apa? Bicara yang benar!" seru Aifa'al.


"Damar dan Adek tidak ada di sekolah!" sahut Syahal lagi.


"Kalian di mana?" tukas Aifa'al.


"Di sekolah mereka." jawab Syahal.


"Tunggu di sana! Lima menit lagi Mas akan sampai!" seru Aifa'al, menutup sambungan.


Syahal mengangguk kendati panggilan telepon sudah diputuskan sepihak oleh Aifa'al yang sepertinya bergegas datang menyusulnya ke sekolah Damar Wulan. Sementara Syahil yang ikut mendengar pembicaraan kedua masnya via telepon, semakin tidak bisa diam, gusar dan gelisah.


Keheningan tercipta di antara keduanya setelah sambungan terputus, menggiring mata ke seluruh arah sekolah dan berharap kedua adik kembarnya masih ada di sana. Namun sekolah itu sudah sangat sepi, tak ada orang bahkan security sekali pun.


Ke mana mereka? Apa terjadi sesuatu pada Damar dan Adek seperti waktu itu? Tidak, tidak, tidak! Kamu tidak boleh berpikiran buruk dulu, Syahil. Mereka pasti baik-baik saja. Gumam Syahil dalam hati yang panik.


***


"Wulan...!"


Wulan beranjak cepat, menjatuhkan kursi duduk yang tak bersalah, menatap nanar sosok lelaki yang ada di depannya saat ini.

__ADS_1


"Wulan... kamu kenapa? Ini kakak saya." ujar Rumi, melihat Wulan yang ketakutan.


Detak jantung Wulan kian berpacu, tidak menyangka kalau wanita yang ia tolong bersama Damar tadi adalah adik dari lelaki tersebut. Membuat guratan ketakutan pada wajah cantiknya terlukis jelas dengan bulir peluh yang membingkai, manik teduhnya pun terlihat berkaca-kaca tidak percaya.


Wulan beringsut mundur, perlahan ingin menjangkau gagang pintu kamar rawat yang tertutup, ingin lari secepatnya dari kamar itu dan menyelamatkan nyawanya.


Drap!


Wulan melangkah lebar, keluar dari sana tanpa mengatakan kalimat apapun pada Rumi yang melihatnya bingung. Sementara lelaki bertubuh tegap itu hanya terbungkam, melihat gadis kecil itu dengan tatapan yang tak terbaca. Terkejut mungkin, karena gadis yang ia kenal itu adalah penolong sang adik.


Kembali lagi pada Wulan! Gadis kecil itu berlari sekencang mungkin, menjauh dari lelaki yang membuat dirinya dan kedua masnya celaka, hampir meregang nyawa.


Bruk!


Wulan terlonjak hebat, mendapati tubuh seseorang yang ditabraknya, membuatnya semakin ketakutan dan terpekik kencang.


"Adek...!"


Deru nafas kian berpacu, membuatnya terengah-engah saat melihat tubuh siapa yang ia tabrak itu. Ternyata Damar, yang baru kembali dari kantin seraya membawa kantong kresek berisi makanan untuknya.


Damar yang melihat sang adik ketakutan pun mengeryit, menatap heran wajah sang adik yang sudah dibasahi oleh bulir peluh, nafasnya terengah seperti sedang dikejar seseorang yang membuatnya ketakutan.


"Adek kenapa? Kenapa berlarian seperti orang ketakutan seperti ini? Ada apa Dek?"


Wulan mengurut dada, mengatur deru nafasnya yang tidak mau stabil, kendati posisinya saat ini sudah jauh dari kamar itu. Sementara Damar semakin mengeryitkan dahi, menatap lekat wajah berkeringat itu.


"Adek tenang dulu ya. Mas ada di sini!!!" tutur Damar, mengelus kepala sang adik.


Wulan mengangguk, berusaha mengatur nafas yang mulai stabil dan bersahabat.


"Ada apa? Kenapa Adek berlarian?" ujar Damar, menggenggam tangan sang adik.


"Ada Pak Bram, Mas!" jawab Wulan.


Damar terperangah, mendengar nama seseorang yang selama satu minggu ini menghilang tanpa jejak bersama Zivana beserta Gibran yang berstatus buronan sampai sekarang. Namun hari ini, nama lelaki yang cukup dekat dengan buronan Polisi itu terlontar begitu saja dari mulut Wulan dengan bahasa isyaratnya.


Kendati Bram bukan buronan Polisi, tapi statusnya yang merupakan asisten Gibran, membuat lelaki dewasa itu juga dicari Polisi.


"Di mana Dek?" sahut Damar.


"Di kamar rawat Tante Rumi!" ujar Wulan, berusaha memberitahu sang mas kembar.


"Di kamar Tante Rumi?" tanya Damar, mengulangi jawaban Wulan.


Damar menelan saliva nya kuat. Jawaban Wulan seakan membenarkan perasaannya yang terus berkecamuk tidak mau tenang ketika pertama kali menemukan wanita itu. Membuatnya terpekur sesaat, masih tidak percaya bahwa wanita yang ia dan Wulan tolong tadi adalah adik Bram, asisten dari lelaki yang ingin mencelakainya dan Wulan.


"Mas mau ke sana, Dek!" sahut Damar, beranjak dengan tatapan membunuh.


"Jangan, Mas!" seru Wulan, berusaha menghalangi Damar dengan susah payah.


"Kita harus menangkapnya, Dek! Dia pasti tau, di mana Pak Gibran sekarang!" sahut Damar, menahan kesal yang ingin meletup.


Wulan menggeleng kuat, berusaha untuk menenangkan Damar yang tersulut emosi. Menepis tangannya dengan kuat lalu ingin pergi, menghampiri Bram di kamar Rumi.


"Damar, Wulan...!"


Wulan menoleh cepat, melihat ke arah sumber suara yang bergema memanggil. Sementara Damar menghentikan langkah, berbalik badan untuk melihat siapa orang yang memanggilnya dan Wulan baru saja.


"Pakde..." ujar Damar.


Ternyata yang memanggil mereka adalah Ammar. Terlihat Ammar pun menghampiri kedua keponakannya yang mematung.


"Kenapa kalian di sini Nak?"


"Kebetulan ada Pakde di sini!"


"Ada apa Damar? Wajahmu gusar sekali!"


"Di sini ada Bram, Pakde!"


"Bram? Asistennya Gibran itu?"


Damar dan Wulan mengangguk serentak, melihat sang pakde yang tampak terkejut mendengar perkataan mereka tentang itu.


"Di mana dia sekarang?"


"Ikuti Damar, Pakde!"


Ammar pun mengangguk, melangkah lebar mengikuti Damar yang berjalan cepat tanpa melepaskan genggamannya dari sang adik, menyusuri lorong rumah sakit menuju kamar rawat wanita yang ia dan Wulan tolong tadi.


Ceklek!


Daun pintu kamar rawat itu terbuka keras, menampakan seisi kamar namun tak ada seorang pun di dalamnya. Kosong! Kamar rawat yang ditempati oleh Rumi sudah tak berpenghuni. Ammar, Damar dan Wulan yang mendapati kamar itu sudah kosong pun saling pandang, pergerakan mereka kalah cepat dengan Bram dan adiknya itu.


"Kamu yakin, dia ada di sini?" ujar Ammar.

__ADS_1


"Yakin sekali, Pakde! Bram datang untuk menjenguk adik perempuannya! Adiknya yang sempat Damar dan Adek tolong di jalan saat dia pingsan karena sakit keras!" terang Damar, memberitahu sang pakde.


"Bram punya adik yang sedang sakit?" timpal Ammar, mengeryit melihat Damar.


Damar mengangguk, menghela panjang sebelum menceritakan semuanya pada sang pakde yang mendengarkan dengan seksama. Membuat memori lama Ammar berputar kembali, mendengar cerita sang keponakan membuatnya teringat dengan almarhumah adiknya yang bernasib sama.


"Mungkin mereka sudah pergi, Damar." timpal Ammar, berusaha menenangkan.


"Tapi Bram harus ditangkap, Pakde! Dia pasti tau di mana Gibran berada saat ini!" serkas Damar, tidak bisa menahan emosi.


"Iya Nak, Pakde mengerti! Tapi percuma saja kalau kita kekeuh mengejarnya, saat kita tidak tau ke mana arah perginya! Kita terlambat satu langkah! Bram pasti sudah membawa adiknya keluar dari rumah sakit." ujar Ammar, menenangkan emosi Damar.


"Tapi Pakde..."


Ucapan Damar terpangkas oleh tangan Wulan yang mengelus lembut lengannya, berusaha menenangkannya yang emosi, tidak bisa meringkus musuh yang sudah jelas di depan mata, tinggal satu langkah namun tetap saja ia kalah cepat lagi kali ini.


"Sudah hampir sore, papi kalian pasti mencemaskan kalian di rumah saat ini! Pakde akan mengantar kalian pulang ya." tutur Ammar, mengusap kepala keduanya.


Wulan mengangguk patuh, sedangkan Damar hanya diam. Karena kemunculan Bram yang tiba-tiba, membuat rencana makan siangnya dengan sang adik jadi berantakan. Bahkan pertemuan singkatnya dengan Rumi, yang tak lain adiknya Bram, harus terpisah tanpa ada salam perpisahan.


"Aaaaa... aaaaa...!" sahut Wulan.


Ammar menghentikan langkah, memutar tumit menoleh ke arah Wulan yang masih setia menggandeng kuat tangan masnya.


"Ada apa Sayang?" tanya Ammar.


"Wulan baru ingat sesuatu, Pakde!!! Lebih baik, Mas Damar menghubungi Mas Syahil atau Mas Syahal dulu! Wulan takut, kalau mereka ke sekolah dan tidak menemukan kami, mereka akan cemas!" jawab Wulan.


"Jadi Syahal-Syahil yang bertugas menjemput kalian hari ini?" tanya Ammar.


Wulan mengulas senyum lebar, seraya mengangguk sebagai jawab untuk sang pakde. Sementara Damar yang tertunduk sejak tadi seketika mendongak, menoleh cepat ke arah sang adik yang mengulum senyumnya. Teringat dengan kedua mas kembarnya yang mungkin saat ini tengah mencari mereka hingga pelosok ibu kota.


***


"Syahal, Syahil...!"


Syahal berdecak kesal. Lima menit yang dijanjikan oleh sang mas justru melebihi batas hingga 6x lipat, membuat kakinya pegal berdiri di depan gerbang sekolah, menunggu sang mas yang tak kunjung datang menampakan puncak hidungnya.


Sementara Syahil bergegas mendekati Aifa'al yang tak kalah bergegas turun dari motor tanpa melepas helm di atas kepala.


"Bagaimana Syahil?" tanya Aifa'al.


"Sekolah sudah tutup, Mas!" ujar Syahil, menggeleng lemas karena tidak ada titik terang tentang keberadaan kedua adiknya.


"Mas Al ke mana saja, hah!? Sejak kapan lima menit serasa seperti setengah jam!!!" timpal Syahal yang menyela pembicaraan, mendengus samar menatap tajam Aifa'al.


"Ck! Tidak ada waktu untuk mengumpat, Syahal! Kalau kamu pegal berdiri, kenapa tidak duduk seperti Syahil! Ayo kita masuk! Siapa tau masih ada orang yang bisa kita tanyakan di dalam sana!" tukas Aifa'al, tak mengubris sungutan sang adik yang kesal.


Syahal mendengus kesal, menggeram dalam bathin melihat sikap Aifa'al yang tanpa rasa bersalah sedikit pun padanya. Sementara Aifa'al dan Syahil mendekati gerbang, mencari celah agar bisa masuk.


Drrrrttt!


Syahal terjingkat, mendapati ponselnya yang bergetar dari dalam saku jaketnya. Lalu tangannya meraih ponsel, terbelalak seketika, melihat nama di layar ponselnya.


"Damar, Mas...!" sahut Syahal, girang.


"Cepat angkat!" seru Aifa'al, tegas.


Syahal mengangguk patuh, nama Damar yang tertera di layar ponsel membuatnya lupa dengan kekesalannya pada Aifa'al. Sementara Syahil yang mendengar kalau yang menelepon adalah Damar, tak kalah terkejut, membuat rasa khawatirnya hilang.


"Assalamualaikum... kamu di mana Dik?" pekik Syahal sangking kesal pada Damar.


"Wa'alaikumsalam... bisa tidak suara Mas yang melengking itu dipelankan!!!" umpat Damar yang gemas dengan suara Syahal.


"Sorry, Mas panik mencari kamu sama Adek! Kalian di mana sih? Mas, Syahil bahkan Mas Al sudah di depan sekolah kalian nih, tapi kalian tidak ada! Gerbang sekolah sudah tutup dan sunyi, seperti kuburan!" cercah Syahal, bergidik ngeri.


Tidak ada jawaban dari Damar di balik telepon, hanya semilir hembusan nafasnya yang dihela berat, seberat masalah saat ini. Membuat Syahal mengeryit sesaat seraya menoleh ke arah Aifa'al dan Syahil.


"Damar sama Adek di rumah sakit, Mas!"


.


.


.


.


.


Happy Reading All 😇😇😇


Untuk kakak-kakak semua yang udah ngak sabar menantikan Mala dan Wulan saling bertemu setelah sekian hari walau mereka tinggal serumah, sabar dulu ya. Dina jamin mereka bakal ketemu kok, tapi mesti sabar, oke...👌👌👌 jangan timpuk dina karena dina suka bikin cerita gantung 😂😁✌️


 

__ADS_1


__ADS_2