Takdir Si Gadis Bisu

Takdir Si Gadis Bisu
Episode 107 ~ Video Terakhir


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


Pekikan keras suara ambulance bergema, mengiringi perjalanan dari rumah sakit ke rumah duka yang tidak terlalu jauh, hingga kini mobil ambulance itu berhenti tepat di depan gerbang rumah duka yang sudah dipenuhi banyak orang berpayung tenda.


Isak tangis pun terdengar lagi, mengiringi langkah Ammar dan Aiziel beserta para petugas mobil ambulance yang tengah mengangkat peti jenazah Imam masuk ke dalam rumah duka. Rumah yang beberapa tahun lalu juga pernah berselimut duka, kini suasana itu seakan kembali terulang nyata.


Disusul oleh langkah Damar yang masih setia memeluk sang adik, sementara itu tampak pula Aifa'al yang memapa sang mommy masuk menuju rumah sang oma. Lalu di mana Dhana? Tentu saja dia lebih dulu sampai di rumah, membawa sang istri dalam keadaan tertidur karena pengaruh kuat obat bius, membiarkannya tertidur di saat proses pemakaman Imam berjalan.


Peti jenazah pun diletakkan dengan baik, dikelilingi oleh orang banyak yang datang memberikan ucapan turut berduka cita.


"Imam..."


Isak tangis Bu Aini kembali pecah, tatkala melihat dengan jelas wajah tampan yang rupawan sang menantu bungsu tercinta. Wajah sosok yang dikenal sholeh, terlihat pucat namun berbinar, seakan memberitahu semua orang yang berada di sekelilingnya, bahwa kini ia tengah tidur dengan tenang.


"Imam, Mas... Hiks... Hiks..."


Tak berbeda jauh dengan sang ibu mertua, Vanny pun tak bisa membendung air mata dan kesedihan, membenamkan wajahnya dalam pelukan Sadha. Mendengar berita yang tak dapat dipercaya dari sang kakak ipar saat dirinya dan Sadha tengah meeting di kantor, membuat keduanya bergegas untuk pulang, memastikan kalau berita duka itu tidak lah benar. Namun apalah daya takdir yang berkata, bahwa sang adik ipar benar-benar sudah pergi ke alam baka.


"Ikhlaskan Imam, Sayang." lirih Sadha, tangisnya pun juga tak dapat dihentikan.


"Tapi kemarin dia masih sehat-sehat saja, Mas! Aku benar-benar tidak bisa percaya, kalau Imam sudah pergi meninggalkan kita." ujar Vanny, meracau dalam pelukan Sadha.


Sadha hanya diam, takdir seakan kembali mempermainkan keluarganya yang belum bisa sembuh sepenuhnya dari duka atas kepergian sang adik tersayang, namun kini duka itu kembali membalut seakan enggan memberikan kebahagiaan walau sesaat.


"Bahkan dia belum sempat menemuiku, Mas! Kenapa dia pergi secepat ini?" ujar Ibel, meracau sedih dalam pelukan Ammar.


"Kepergian Imam sudah menjadi takdir, Sayang! Aku sudah gagal menjadi dokter! Dulu aku gagal menyembuhkan adikku dan sekarang aku juga gagal menyembuhkan adik iparku!" tutur Ammar, berusaha untuk menahan, namun air matanya tetap jatuh.


Tangis Ibel semakin pecah, membuatnya terus mendekap Ammar, dibalas tak kalah erat oleh yang dipeluk, tidak ada yang bisa mereka lakukan saat ini selain mendo'akan, mengiringi perjalanan Imam menuju Surga.


"Kita harus segera memakamkan jenazah, Pak Aidi. Mengingat waktu ashar sebentar lagi akan masuk, kasihan jenazah jika kita menangisinya seperti ini." ujar Pak Ustadz.


"Baik Pak Ustadz..." jawab Pak Aidi.


"Jika dari pihak keluarga ada yang ingin melihat almarhum sebelum peti kembali ditutup, maka silakan dilihat dulu. Karena setelah peti ditutup, kalian tidak bisa lagi melihat almarhum." ujar Pak Ustadz.


Semua anggota keluarga mengangguk, perlahan bergerak maju mendekati peti, melihat wajah Imam untuk yang terakhir kali.


"Tenanglah di sana, Paman." ucap Syahil.


"Semoga Paman mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah bersama Onty Dhina." ucap Syahal, berusaha menahan tangis.

__ADS_1


"Selamat jalan, Paman. Paman adalah orang baik. Ziel titip salam untuk Onty ya." ucap Aiziel parau, air matanya pun jatuh.


"Al minta maaf, Paman. Di pertemuan kita kemarin, sifat Al masih dingin dan sekarang Al sangat menyesal. Terima kasih atas kasih sayang dan kepercayaan Paman pada Al. Semoga Paman tenang di sana. Al sayang Paman Imam." tutur Aifa'al yang menangis.


"Damar masih tidak menyangka, Paman akan pergi secepat ini padahal kita baru bertemu kemarin. Damar sudah banyak mendengar cerita tentang Paman dari Papi. Paman orang baik dan sholeh. Semoga Paman tenang di sana dan bertemu lagi dengan Onty. Selamat jalan Paman." tutur Damar, air matanya pun deras mengalir.


Wulan semakin terisak pilu, tidak kuat untuk mengatakan apapun seperti kelima masnya. Bukan tidak kuat, melainkan memang tidak mampu untuk bicara karena keterbatasan. Membuatnya hanya bisa terisak di dalam dekapan sang papi yang berdiri di sisi Damar, menoleh sesaat ke peti di mana sang paman terbujur kaku tak bernyawa.


"Sudah ya, Sayang. Kasihan Imam." ujar Pak Aidi, berusaha menenangkan sang istri.


Bu Aini masih terisak, namun ucapan sang suami membuatnya sadar kalau sang putra menantu harus segera dimakamkan.


"Ibu akan selalu mendo'akanmu, Sayang. Kamu yang tenang di sana ya, Nak." tutur Bu Aini, mengelus wajah nan rupawan itu.


"Ayo, Sayang. Kita harus segera menyolatkan dan memakamkan Imam." timpal Pak Aidi, membawa Bu Aini berdiri.


Bu Aini mengangguk patuh, berusaha mengontrol perasaannya yang masih terkoyak, kehilangan putra menantunya seakan membuatnya kembali ke masa lalu.


Selamat jalan Imam, sahabat terbaik, adik ipar terbaik. Terima kasih karena selama ini kamu selalu ada untukku, tak memandang jarak, tak memandang waktu, kamu tetap ada di saat aku butuh. Tidak aku sangka, kamu akan pergi secepat ini menyusulnya, bahkan tidak ada kata perpisahan yang terucap sebelum kamu benar-benar pergi. Aku sudah ikhlas, Mam. Ikhlas melepasmu pergi, menyusul adikku di surga-Nya. Aku hanya bisa menitipkan pesan untuk adikku. Semoga kalian bahagia di sana tanpa harus merasakan sakit lagi. Gumam Dhana dalam hati.


Peti jenazah Imam pun ditutup kembali, menuntun semua yang ingin menyolatkan jenazah untuk bersiap. Setelah semuanya siap, shalat jenazah pun dilakukan di dalam hingga pekarangan rumah, shalat jenazah berlangsung hikmat selama beberapa menit, hingga tiba saatnya pada proses terakhir, mengantar Imam ke tempat peristirahatan abadi ke pangkuan Sang Maha Pencipta.


***


Proses pemakaman pun berakhir, semua orang perlahan beranjak, meninggalkan keluarga Pak Aidi yang masih setia duduk mengelilingi makam.


"Sama-sama Pak Aidi. Kalau begitu saya pamit dulu. Assalamualaikum..." ujar Pak Ustadz, menyambut uluran tangan Pak Aidi.


"Wa'alaikumsalam..." jawab Pak Aidi.


Pak Ustadz beranjak pergi, membiarkan keluarga besar Pak Aidi yang masih syok dengan kepergian Imam. Sepulang Pak Ustadz, Pak Aidi pun menghampiri anak, cucu dan istrinya yang masih termangu di antara pusara Imam dan pusara Dhina.


"Ayo kita pulang sekarang. Kasihan Mala ditinggal sendiri bersama Bi Iyah di rumah." ujar Pak Aidi, meraih kedua bahu sang istri seraya melihat anak, menantu dan cucunya.


"Wulan masih mau di sini, Opa!" jawab Wulan, tangannya memberikan isyarat namun matanya masih tertuju pada dua nama di nisan yang berdampingan itu.


"Kita harus pulang ya, Sayang. Kasihan Mami sendirian di rumah." timpal Dhana, membujuk sang putri yang masih terisak.


Wulan bergeming, berusaha menahan tangis namun hatinya terlalu rapuh untuk bisa kuat. Matanya yang basah masih saja menatap nanar pusara keduanya yang kini telah bersanding seperti seorang pengantin.


Kenapa Paman pergi? Kenapa Paman tidak membawa Wulan? Wulan capek, Paman!!! Wulan capek!!! Wulan lelah menghadapi semuanya!!! Percuma Wulan hidup kalau Mami masih membenci Wulan. Kenapa? Kenapa orang yang menyayangi Wulan harus pergi? Kenapa Paman? Kenapa? Gumam Wulan dalam hati yang menjerit.

__ADS_1


Isak tangis Wulan berlanjut, membuat semuanya bingung karena Wulan tidak mengatakan apapun, hanya menatap nama Imam di papan nisan membuatnya tergugu.


"Sebaiknya kita pulang sekarang, Uncle. Kasihan Adek. Mungkin dia masih syok." ujar Aiziel, menatap iba sang adik tercinta.


"Ziel benar, Dhana. Kondisi Wulan pun masih belum pulih dan tangannya juga masih memakai penyanggah. Ayo!!! Kita bawa dia pulang!!!" timpal Sadha, tidak tega melihat Wulan yang semakin tergugu pilu.


Dhana mengangguk, lalu beranjak cepat seraya menggendong tubuh sang putri, membawanya ke mobil dan bergegas pulang.


***


Matahari merangkak pergi, kini hanya sang bulan yang terlihat, sendiri tanpa ada teman, ribuan bintang yang biasanya bersinar kini enggan menampakan wujudnya nan indah. Membiarkan sang bulan bekerja sendirian, menahan kantuk yang datang menyerang.


Setelah proses pemakaman Imam selesai, dilanjutkan dengan acara tahlilan bersama di rumah duka. Namun acara tahlilan yang berlangsung hikmat pun juga telah selesai. Kini tinggal lah keluarga besar yang tengah berkumpul di ruang keluarga, duduk santai bersama, saling menguatkan satu sama lain.


Sementara Dhana yang tidak terlihat di ruang keluarga, kini tengah duduk di tepi tempat tidur kamarnya, menatapi wajah tenang sang istri yang masih belum sadar.


"Imam sudah pergi, Sayang. Aku harap, kamu tidak syok saat mengetahui hal ini karena kami semua pun tak kalah syok. Imam pergi tanpa mengatakan apapun, tanpa memberi firasat apapun pada kita. Belum lagi masalah Gibran yang sampai sekarang masih belum ditemukan! Imam pergi di saat aku masih membutuhkannya. Kamu cepat sembuh ya. Kasihan Wulan."


Dengan setia tangan itu masih mengelus wajah tenang sang istri yang tertidur pulas karena pengaruh obat bius. Namun sesaat kemudian, Dhana terkesiap saat terdengar suara alarm ponsel yang ada di atas nakas.


"Video terakhir?"


Dahi Dhana mengeryit, menatap layar ponsel Imam yang masih berbunyi kuat, membuatnya penasaran lalu mematikan alarm itu dengan menekannya. Bukannya berhenti, layar si benda pipih yang semula terkunci itu justru terbuka, memperlihatkan sebuah video yang telah siap untuk diputar setelah bunyi alarm itu dimatikan. Perlahan tangan Dhana bergerak, menekan tombol play pada video yang tertera di depan layar.


Sepersekian menit berlalu, mata Dhana memanas, menitikkan sumber telaga bening yang tertumpuk saat menyaksikan langsung video terakhir yang dibuat oleh sang adik ipar sebelum pergi meninggalkan dunia ini. Membuatnya bergegas keluar dari kamar, melangkah lebar menuju ruang keluarga.


"Dhana... ada apa Nak?" tanya Pak Aidi.


"Ada sesuatu yang harus kalian semua saksikan!!!" jawab Dhana, berjalan ke arah televisi lalu menyambungkan nya dengan ponsel Imam yang masih menyala terang.


Pak Aidi, Bu Aini, Ammar, Sadha, Ibel, dan Vanny saling pandang. Heran melihat sikap Dhana yang sedang tergesah. Sementara hal yang sama pun juga terjadi pada Aiziel, Aifa'al, Syahal-Syahil dan Damar-Wulan. Mereka saling bergidik, melihat sikap aneh Dhana yang baru saja keluar dari kamarnya.


"Video terakhir dari Imam!!!"


.


.


.


.

__ADS_1


.


Happy Reading All 😇😇😇


__ADS_2