Takdir Si Gadis Bisu

Takdir Si Gadis Bisu
Episode 95 ~ Ingin Menyusul Dhina


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


"Lo kenapa sih Bim?"


Sesampainya di sebuah rumah yang tak kalah besar dan mewah, Bima bukannya mengajak Dimas yang notabene sebagai pemilik rumah mengobrol, pria itu justru sibuk melamun, berkutat dengan isi pikiran yang berkelana jauh entah ke alam mana. Membuat sang empunya rumah berdecak, sebal dengan tingkah aneh sang kapten.


"Bim..."


"Bima..."


"Bimantara... hello...."


Bima tersentak, lamunan jauh berkelana buyar dalam sekejap mata, pekikan suara Dimas yang bergema sukses mengejutkan jantungnya, membuatnya menoleh cepat.


"Lo kenapa sih Bim? Melamun terus!"


"Yang gue lakukan benar 'kan Dim?"


"Maksud lo apa?"


"Gue... gue merasa ada yang aneh saja."


"Kalau bicara yang benar, Bim!!!"


Bima menghela nafas berat, mengusap kasar wajahnya yang frustasi, entah karena apa dan sejak kapan, Bima yang sekarang tidak seperti Bima yang biasanya.


"Apa tindakan yang gue lakukan sama Damar dan Wulan... maksud gue sama si bisu sudah benar? Seumur-umur, baru kali ini gue menculik orang, bahkan gue berani menyekap orang. Tindakan gue kelewatan ya Dim?" tutur Bima, mendadak ragu akan perbuatan yang sudah terlanjur membesar.


"Lo merasa bersalah sama mereka?" tukas Dimas, terperangah mendengar keluh Bima.


Bima terdiam, berusaha membuang jauh sekelebat pikiran yang melintas, menoleh cepat ke arah Dimas yang seakan tengah memancing sesuatu di dalam pikirannya.


"Tidak mungkin gue merasa bersalah!"


"Lalu? Kenapa lo jadi seperti ini?"


"Ya lo 'kan tau, sebangor-bangornya gue, seberandal-berandalannya gue, gue tidak pernah yang namanya menculik anak orang. Jadi wajar dong kalau gue seperti ini." tutur Bima, mengelak dari dugaan Dimas.


"Lo yakin? Tidak merasa bersalah?"


"Ya... yakin lah! Sudahlah! Jangan bahas masalah itu lagi! Mungkin karena gue lagi panik saja kali. Gue kepikiran ancaman Al tadi malam!!!" sungut Bima, mengalihkan.


Alih-alih menjawab, Dimas tergelak lepas. Menertawakan Bima yang tampak tegang, menoleh ke arahnya yang masih tertawa.


"Sejak kapan seorang Bimantara takut dengan ancaman anak buahnya, hah? Bukan anak buah, tapi mantan anak buah! Hahahah... lo berhasil membuat perut gue geli, tau tidak? Hahaha...." seloroh Dimas.


"Ck!!! Lo seperti tidak kenal Al saja!!! Anak sialan itu tidak pernah main-main dengan ucapannya!" sungut Bima, melirik jengah teman seperjuangan nya itu.


"Hahahah... tidak mungkin, Bim! Aifa'al sekarang lagi sibuk mengurus adiknya itu. Jadi mana mungkin dia bisa melaporkan semuanya ke Polisi. Dia tidak punya bukti." seloroh Dimas yang percaya diri.


"Kalau ucapan Al benar, bagaimana? Lo juga harus ikut sama gue masuk ke dalam sell tahanan!" ujar Bima, menunjuk Dimas.


Tawa yang tadinya menggelegar, seketika berhenti mendadak. Mendengar kata sell, membuat bulu kuduk Dimas berdiri sesaat.


"Loh, kenapa lo jadi bawa-bawa gue? Dengar ya, Bima!!! Posisi gue di sini tuh cuma membantu lo!!! Gue saja tidak kenal sama bos lo yang bernama Pak Gibran itu! Jadi, jangan pernah lo bawa-bawa nama gue! Gue tidak tau apa-apa tentang ini!!!" tandas Dimas yang mengancam Bima.


"Loh, kok lo jadi mengancam gue sih?" sungut Bima yang berubah jadi marah.


"Gue bukan mengancam! Gue hanya memperingatkan kalau gue tidak salah!" jawab Dimas yang penuh penekanan.


Bima mendengus kesal, membuang muka sesaat efek kesal dengan perkataan sang teman, membuatnya semakin gelisah dan dirundung rasa cemas yang tak bertepi, memikirkan bagaimana nasib dirinya jika ancaman Aifa'al benar-benar terjadi.


Gue harus menemui Pak Bram. Cuma dia yang bisa membantu gue sekarang kalau sewaktu-waktu Polisi tiba-tiba datang. Gumam Bima dalam hati yang gelisah.


***

__ADS_1


"Kenapa kamu menutupinya Mam?"


Di pelataran taman rumah sakit Medika, terlihat tiga pria dewasa yang berbincang, duduk berhadapan seperti tengah mencari tau sesuatu yang membuat salah satu dari mereka terkejut hebat. Tiga pria dewasa itu adalah Dokter Ronald, Ammar dan Imam.


Imam terbelalak sempurna, tatkala mata menangkap sosok kakak ipar sulungnya yang ternyata tengah ada kunjungan ke rumah sakit Medika, bersama kakak ipar angkatnya yang tidak lain adalah Dokter Ronald. Membuatnya tidak berkutik ketika sang kakak ipar menghujani dirinya dengan rentetan pertanyaan yang memojokan.


Imam sempat mengelak, mengalihkan pembicaraan dengan menyapa keduanya karena mereka belum sempat bertemu. Namun Ammar yang penasaran tidak bisa dibohongi begitu saja, membuat pria dua anak itu menarik tangan sang adik ipar ke taman, dan disusul Dokter Ronald yang tak kalah penasaran dan cemas dengan Imam. Mengajaknya bicara enam mata di taman.


Pertahanan Imam runtuh, membuatnya yang sudah terpojok harus mengatakan semua tentang penyakitnya pada Ammar dan Dokter Ronald. Membuat Ammar dan Dokter Ronald terkejut hebat, tidak pernah bermimpi kalau kini Imam juga menderita penyakit yang mematikan, sama seperti mendiang sang adik tercinta di masa lalu.


"Sejak kapan Imam? Jawab pertanyaan Mas!!!" tandas Ammar, marah sekaligus kecewa dengan sikap sang adik ipar yang tidak ada bedanya dengan adik bungsunya.


"Imam minta maaf, Mas." jawab Imam, lirih.


"Jadi yang dikatakan Dokter Mitha benar?" timpal Dokter Ronald yang menatap Imam.


Imam mengangguk samar, namun masih dapat dilihat dengan jelas oleh keduanya.


"Ayah dan Ibu sudah tau?" tanya Ammar.


"Belum, Mas. Dan mereka tidak boleh tau." jawab Imam yang masih tertunduk, sedih.


"Abi dan Umi di Cairo? Mereka tau 'kan?" tanya Ammar lagi yang menatap sang adik ipar dengan penuh harap.


Imam menggelengkan kepala lagi, hanya tindakan itu yang bisa ia lakukan saat ini. Membuat Ammar geram dan ingin marah, namun masih ditahannya, mengingat pria yang ada di depannya itu adalah adik ipar bungsunya, suami dari adik perempuannya.


"Kanker hati, Mam!!! Stadium tiga!!! Dan kamu hanya meminum obat tanpa mau kemoterapi!!! Bagaimana bisa sembuh? Kamu lupa, kalau mendiang istrimu juga pernah menderita sakit kanker, bahkan nyawanya terenggut karena penyakit itu? Tapi kenapa kamu masih terlihat tenang! Kenapa Dik? Kenapa????" tandas Ammar.


Ammar terduduk lemas, mengurut dada yang terasa sesak, seperti dihimpit batu besar yang enggan berpindah, terus dan terus menghujam dadanya, tidak percaya jika sang adik ipar juga menderita penyakit yang sangat mematikan. Sementara Imam, tersenyum getir di dalam tunduk, menahan bulir kristal yang hendak mengalir sederas mungkin, menumpahkan kepiluan di depan kakak iparnya, namun semua ditahannya.


"Imam ingin menyusul Dhina, Mas. Imam sudah sangat merindukan istri Imam, dan Allah menjawab semua do'a Imam dengan memberikan penyakit ini. Imam bukannya pesimis, tapi Imam pasrah. Imam serahkan semuanya pada Allah. Cinta untuk Dhina akan Imam bawa ke surga-Nya, menemui Dhina yang sudah menunggu lama. Imam akan bertemu Dhina sebentar lagi, Mas!!!" tutur Imam, mengalir sudah air matanya.


Ammar dan Dokter Ronald terperangah, mendengar perkataan Imam yang sangat menyayat hati, membuka luka lama yang telah terkubur, kisah Dhina akan kembali terulang dan telah terjadi pada suaminya.


"Kamu harus kemoterapi!!!" seru Ammar.


"Kamu tidak boleh seperti ini, Mam! Pesimis dengan pasrah tidak jauh berbeda!!!" timpal Dokter Ronald yang meyakinkan Imam.


"Berbeda, Mas. Imam sudah berusaha dengan mengonsumsi obat-obatan dan waktunya Imam untuk berserah diri pada Allah. Jika Allah menakdirkan Imam untuk sembuh dengan obat-obatan itu, maka Imam akan sembuh atas izin-Nya, Mas. Namun jika yang terjadi sebaliknya, Imam akan ikhlas, bahkan Imam sangat ikhlas." jawab Imam, melihat keduanya bergantian.


"Tapi Mam, kamu harus..."


"Imam mohon, Mas. Kini Mas Ammar dan Mas Ronald sudah mengetahui kebenaran tentang penyakit Imam yang sudah parah. Jangan sampai Ayah, Ibu dan yang lainnya tau kalau Imam sedang sakit keras. Apalagi anak-anak, mereka pasti akan khawatir." potong Imam yang meraih tangan Ammar.


Ammar menghela nafas berat, bulir kristal dari matanya jatuh tanpa izin, melihat adik iparnya seperti ini, membuatnya teringat dengan mendiang sang adik kesayangan. Menoleh sejenak ke arah Dokter Ronald yang hanya bisa bungkam, tidak tau harus melakukan apa pada Imam yang sudah ia anggap seperti adik kandungnya sendiri.


"Imam... Mas tidak mungkin bisa melihat kamu sakit parah seperti ini. Mas seorang dokter!!! Mas tidak mungkin membiarkan kamu sakit! Tolong, biarkan Mas dan Mas Ronald mengobati kamu! Mas tidak ingin kamu pergi! Kamu tidak memikirkan Ayah, Ibu, Abi dan juga Umi? Bagaimana dengan perasaan mereka kalau mereka tau? Tadi kamu yang memohon pada Mas, kini Mas mohon! Izinkan Mas mengobati kamu. Ya?" tutur Ammar, membujuk Imam yang pasrah.


"Ammar benar, Mam. Setidaknya kamu berusaha lah lebih kuat terlebih dahulu!!! Sebelum benar-benar pasrah. Masih ada harapan untuk kamu bisa sembuh, asalkan kamu yakin dan percaya kalau kamu pasti akan sembuh!" timpal Dokter Ronald.


"Tapi Imam ingin cepat pergi, Mas." ujar Imam yang mendongak, menatap kedua kakak iparnya itu.


"Buang jauh-jauh pikiran kamu itu!!! Kita semua pasti akan pergi tapi bukan dengan cara yang seperti ini!!! Bukan kah Allah mengajarkan pada kita untuk berusaha? Bukan kah kamu mengerti dengan hal itu? Tapi kenapa kamu seperti ini sekarang?" tukas Ammar, menyadarkan adik iparnya.


Imam mengangguk samar, membenarkan perkataan Ammar, membuatnya terpekur. Mempertimbangkan tawaran sang kakak ipar yang berniat ingin membantunya.


"Kamu mau? Mas akan mengatur jadwal kemoterapimu secepatnya!!!" ujar Ammar.


"Baiklah, Mas. Tapi jangan sekarang, karena Imam tidak ingin menambah masalah baru di dalam keluarga kita." jawab Imam yang mengangguk patuh.


"Masalah keluarga kita? Keluarga siapa yang kamu maksud?" tanya Ammar.


Imam menghela nafas berat, memicing sesaat untuk mengumpulkan energi untuk memberitahu sang kakak ipar. Terpaksa mengatakannya, untuk mengalihkan pikiran Ammar yang tengah panik karena ulahnya.


"Dhana, Mas! Dhana sedang ada masalah besar saat ini." ujar Imam, melihat Ammar.

__ADS_1


"Dhana? Dhana ada masalah apa?" tanya Ammar yang belum mengetahui semuanya.


"Lebih baik Mas ikut dengan Imam. Kita akan menemui Dhana. Biar Dhana yang akan mengatakannya pada Mas Ammar." jawab Imam seraya beranjak dari duduk.


Imam beranjak, disusul Ammar dan Dokter Ronald yang tak kalah terkejut, mendengar sang adik ada masalah besar saat ini. Lalu mereka bergerak, masuk ke dalam rumah sakit, menuju kamar rawat Mala dan Wulan.


***


"Paman kalian di mana Nak?"


Di kursi tunggu yang berjejeran di depan kamar rawat Mala dan Wulan, terlihat Bu Aini, Pak Aidi dan keempat cucu tampan tengah duduk. Memilih untuk menunggu di luar kamar setelah mendengar penjelasan sang uncle tentang kondisi keduanya, termasuk kebenaran tentang sindrom yang diderita oleh sang anty. Membuat mereka tidak ingin mengganggu waktu istirahat keduanya yang belum sadar, membiarkan Dhana dan Damar tetap berada di dalam, menemani mami dan adiknya yang masih tertidur.


"Tadi Paman bilang mau bicara sebentar sama temannya, Oma. Tapi entah kenapa Paman Imam belum sampai juga ke sini." jawab Aiziel, mengedar pandangannya.


"Mungkin Imam sedang ada urusan sama temannya itu, Sayang. Lagi pula dia sudah dewasa bukan? Menantu kita itu tidak akan tersesat. Nanti dia juga ke sini. Sabar ya!!!" timpal Pak Aidi, menenangkan sang istri.


"Rasa-rasanya kita di sini hanya jadi obat nyamuk untuk Opa dan Oma yang sedang kasmaran lagi." celetuk Syahal, menggoda sang opa dan oma yang saling merangkul.


"Kamu iri sama Opa ya?" seloroh Pak Aidi, menahan geli di perutnya melihat Syahal.


"Bukan iri lagi, Opa. Tapi ngenes, hiks..." jawab Syahal seolah-olah tengah sedih.


Gelak tawa semuanya bergema, seakan memecah keheningan yang terjadi sejak tadi, membuat rasa bosan kian mendera, namun hati tetap ingin berlama-lama, menunggu kabar perkembangan kondisi Mala dan Wulan yang tak juga membuka mata.


Ceklek!


Suara gagang pintu terdengar, membuat semuanya yang tergelak menoleh cepat, mendapati Dhana dan Damar yang keluar bersamaan, membiarkan Mala dan Wulan istirahat lebih tenang dan lama di dalam.


"Paman Imam belum datang juga Mas?" tanya Damar, mencari sang paman yang ternyata belum terlihat juga.


"Belum, Damar. Mas juga heran, Paman Imam pergi ke mana ya?" jawab Aiziel.


"Memang paman kalian tadi ke mana? Kenapa kalian tidak datang bersamanya?" timpal Dhana, melihat kelima jagoan itu.


"Tadi Paman Imam bertemu temannya, Uncle. Lalu menyuruh kami duluan karena Paman ingin bicara dengan temannya itu." timpal Syahil yang ikut mengedar matanya.


"Mungkin Paman Imam lagi ada urusan sama temannya itu, Uncle." timpal Aifa'al.


"Itu jawaban Opa tadi, Al!" celetuk Pak Aidi.


"Al tau, Opa!" celetuk Aifa'al balik.


Kekehan renyah keluar begitu saja dari mulut semuanya yang melihat candaan cucu dan opanya itu, memancing gelak yang ingin bergema sekali lagi, namun karena situasi dan kondisi yang tidak mendukung, membuat mereka urung.


"Kenapa kalian semua ada di sini?"


Kekehan renyah Pak Aidi, Bu Aini, Dhana, Aiziel, Aifa'al, Syahal, Syahil dan Damar terhenti seketika, saat suara bariton yang sangat familiar itu bergema di ujung lorong. Membuat mereka terbelalak sempurna, menoleh cepat ke arah sumber suara itu, semakin memperbulat mata yang sudah terbuka lebar, melihat ketiga pria di sana.


"Ronald, Ammar, Imam..."


"Mas Ammar, Mas Ronald, Imam..."


"Daddy, Om Ronald, Paman..."


"Pakde, Om Ronald, Paman Imam..."


.


.


.


.


.

__ADS_1


Happy Reading All 😇😇😇


__ADS_2