
...🍁🍁🍁...
"Wulan..."
Pekikan suara itu, mengundang senyuman manis di wajah cantik yang terlihat kacau, menciptakan langkah lebar, berlari ke arah pekikan itu, menghambur ke pelukannya, tidak menyangka kalau sang papi juga ada di sini. Tangisnya pecah, dekapan hangat yang ia rindukan sejak menyadari sebuah kesalahan setelah mengambil langkah dan pergi dari rumah, membuatnya menyesal.
"Kamu dari mana saja Nak? Papi hampir frustasi karena mencari keberadaan kamu. Kita semua panik, Sayang." tutur Dhana.
Wulan semakin membenamkan wajahnya ke dalam pelukan sang papi, menenangkan diri yang terlanjur merasa bersalah karena membuat sang papi khawatir dan frustasi. Melihat adegan itu, membuat hati Sadha bersorak lega dan bersyukur karena sang keponakan perempuannya sudah kembali.
"Pa..."
Suara bariton sang pengantar Wulan pun membuyarkan lamunan Sadha, mengenali suara itu membuatnya menoleh tajam dan menatapnya dengan tatapan penuh selidik. Sementara yang ditatap hanya tersenyum kikuk, berusaha menghilangkan canggung saat berhadapan dengan sang papa.
"Masuk! Kamu punya utang penjelasan pada Papa!"
Dengan tatapan datarnya, tanpa melihat ke arah sang putra, Sadha pun berjalan masuk, disusul Syahil, serta Dhana dan Wulan yang melerai pelukannya. Sementara itu, Vanny, Aiziel dan Syahal yang masih tertidur duduk di sofa ruang tamu dibuat terkejut, melihat kedatangan Syahil dan Wulan bersamaan.
"Adek..."
Aiziel dan Syahal beranjak, menghampiri sang gadis kecil yang tersenyum ke arah mereka. Memeluk tubuh sang gadis kecil, menyalurkan kehangatan dan kasih sayang. Secara bergantian, Aiziel dan Syahal tidak sabar untuk segera memeluk tubuh mungil sang adik yang hampir mengering setelah terguyur hujan deras.
"Ya Allah, Sayang. Bulik benar-benar tidak tenang mendengar kamu kabur dari rumah. Bulik khawatir sama kamu, Nak."
Hati Wulan menghangat tatkala sang bulik menangkup wajahnya yang kacau dengan sayang, bahkan sang bulik sangat berbeda dengan sang mami yang belum pernah satu kali pun menangkup wajahnya seperti ini. Sungguh menenangkan hati bagi Sadha, Dhana, Aiziel dan Syahal. Namun tidak dengan Syahil yang hanya terdiam, berdiri canggung di dekat sofa melihat adegan itu.
"Duduklah!!! Kamu harus menjelaskan sesuatu yang seharusnya memang kamu jelaskan tanpa Papa memintanya, Syahil!!!
Masih dengan tampang datar, Sadha yang sudah duduk di sofa, siap mendengarkan penjelasan sang putra. Sementara Vanny yang mengerti dengan kecanggungan di wajah sang putra kembar, memilih diam, membiarkan sang suami yang menangani semua ini dengan tegas sebagai ayahnya.
Syahil mengangguk, menuruti perkataan sang papa lalu duduk di samping Syahal, Aiziel dan Wulan. Hening, suasana yang haru biru setelah kepulangan Wulan, kini menjadi hening dan canggung. Bingung untuk memulai cerita yang sebenarnya.
"Syahil... kenapa kamu diam saja? Ayo, ceritakan! Bagaimana kamu bisa pulang bersama Wulan dengan motornya Al?" tanya Sadha dengan tatapan menyelidik.
"Syahil dan Mas Al melihat Wulan di jalan sepi setelah perempatan jalan menuju ke apartment, Pa. Syahil dan Mas Al berniat untuk membeli makanan yang tidak jauh dari jalan sepi itu. Tapi di saat kami ingin pulang ke apartment, Syahil melihat Wulan yang sedang dikejar dua orang preman. Kedua preman itu ingin melecehkan Wulan lalu Syahil dan Mas Al menolongnya. Lalu membawanya ke apartment. Mas Al tidak ingin Wulan berada di sana lama-lama, jadi terpaksa Syahil mengantar Wulan ke sini."
Hening, namun semuanya saling melempar pandangan tidak menyangka dengan nasib Wulan selama beberapa jam di luar. Wulan tersenyum simpul ke arah Syahil yang sejak tadi menatapnya sendu, entah kasihan atau apa, hanya Syahil yang tau.
"Tapi kamu baik-baik saja 'kan Sayang?" tanya Dhana yang masih merangkul bahu sang putri dan mengusapnya sesekali.
"Wulan baik-baik saja, Uncle. Preman itu belum sempat melecehkan Wulan." jawab Syahil yang tertunduk, canggung melihat netra sang uncle.
"Baik bagaimana? Apa kamu tidak melihat darah segar yang berlumuran di lututnya?" timpal Syahal yang menatap tajam Syahil.
Syahil terkesiap, mengangkat kepalanya yang tertunduk, menatap lekat lutut Wulan yang memang benar, berlumuran darah.
__ADS_1
'Adek tidak apa-apa, Mas. Luka di lutut Adek hanya luka kecil karena terjatuh saat berlari menjauhi kedua preman mesum itu'
Dengan bahasa isyarat, Wulan berusaha menjelaskan pada Syahal dan semuanya, berharap agar mereka tidak menyalahkan Syahil atau Aifa'al dalam hal ini. Mereka yang mengerti dengan bahasa itu tampak menghela nafas lega, walaupun luka kecil itu harus tetap diobati. Namun Syahil tidak. Pria kembaran Syahal itu tampak terpaku, menatap semuanya penuh tanda tanya.
"Adik kamu bilang, kita semua tidak perlu khawatir karena luka itu hanya luka kecil karena terjatuh di saat dia berusaha untuk kabur dari preman-preman itu." ujar Vanny yang mengerti dengan raut wajah Syahil.
Syahil terhenyak, menggiring matanya ke arah sang adik yang tersenyum ke arahnya. Heran, bingung dan merasa tidak peka dengan keadaan sang adik yang jauh dari kata baik-baik saja, membuatnya terdiam.
Wulan... bagaimana bisa dia menahan luka di lututnya sedangkan, dia mengobati luka yang ada di tanganku. Bahkan dia tidak mengeluh sakit sedikit pun di saat berlari. Wulan mengabaikan lukanya, tapi Wulan mengkhawatirkan lukaku. Gumam Syahil dalam hati.
Semua mata tertuju ke arah Syahil, heran melihat sikapnya yang aneh dan berubah drastis, tidak seperti Syahil yang tadi siang. Sementara Syahil sibuk bermonolog, memahami perasaan apa yang ia rasakan saat ini. Apa mungkin Syahil sudah luluh?
"Syahil..." ujar Sadha seraya menjangkau lutut sang putra, membuatnya tersentak.
"Syahil mau ke atas sebentar, Pa. Syahil ingin mengambil sesuatu di kamar lalu kembali lagi ke apartment Mas Al." jawab Syahil yang tersentak, membuatnya gugup.
Sadha dan Vanny saling pandang, heran melihat tingkah sang putra yang berbeda. Begitu pula dengan Dhana, Aiziel dan juga Wulan. Namun tidak dengan kembarannya.
"Syahal ke atas dulu ya, Pa, Ma." timpal Syahal yang beranjak ingin melangkah.
"Kamu mau apa Sayang? Jangan bilang kalau kamu ingin..." sahut Vanny terkejut, melihat tindakan Syahal yang tiba-tiba.
"Bukan, Ma. Mama tenang saja. Syahal hanya ingin bicara empat mata dengan Syahil." potong Syahal seraya tersenyum, meyakinkan sang mama yang khawatir.
Syahal beranjak, mengambil langkah seribu menuju lantai atas menemui sang kembaran yang terlihat berbeda setelah mengantarkan Wulan pulang ke rumahnya. Lalu...
"Iya Mas... Ayo, Sayang!" jawab Dhana, lalu mengajak sang putri untuk beristirahat.
Wulan mengangguk patuh, ikut beranjak mengikuti sang papi menuju kamar tamu yang sudah disiapkan oleh Vanny.
"Kamu tidak tidur, Ziel?" tanya Sadha yang menggiring matanya ke arah Aiziel.
"Ziel tidur di sini saja, Paklik. Lagi pula rasa kantuk Ziel sudah hilang saat melihat Adek Wulan pulang dengan selamat." ujar Aiziel seraya membaringkan tubuhnya di sofa.
"Eittsss, kamu tidak boleh tidur di sini Nak! Ayo masuk ke kamar itu! Di rumah ini masih banyak kamar yang kosong untuk dipakai. Bulik tidak mau kena marah oleh mommy kamu, saat dia tau putranya dibiarkan tidur di atas sofa ruang tamu!!!" cercah Vanny yang membangunkan putra kakak iparnya.
Suara kekehan kecil pun keluar dari mulut Sadha dan Aiziel saat melihat sikap Vanny, cerewet dan tegas, namun menenangkan.
"Siap Bulik!!!" ujar Aiziel seraya hormat.
***
"Syahil..."
Suara bariton sang mas kembar sukses menghentikan kegiatan Syahil yang tengah sibuk berkutat dengan buku-buku kuliah, hingga beberapa buah baju. Memasukkan semua benda itu ke dalam tas besar.
__ADS_1
"Ada apa Mas? Syahil sedang malas ribut dengan Mas Syahal!!!" ujar Syahil enggan untuk menoleh ke arah Syahal dan terus melanjutkan aktifitasnya.
Syahal menghela nafas panjang, beranjak masuk mendekati sang adik yang enggan menatap, bahkan untuk melihat ke arahnya.
"Kamu salah, Syahil! Mas datang ke sini untuk mengatakan ucapan terima kasih karena kamu dan Mas Al sudah bersedia membantu Adek saat dia dalam bahaya." ujar Syahal yang duduk di tepi tempat tidur.
"Sudah menjadi kewajiban Syahil, Mas. Menolong saudara yang membutuhkan bantuan. Jadi tidak perlu berlebihan!!!" jawab Syahil dengan dinginnya.
Syahal tersenyum tipis, memperhatikan gelagat sang adik yang memang sangat berbeda kali ini. Tepatnya setelah Wulan kembali, datang bersama Syahil tanpa ia duga.
"Ya, kamu benar! Memang sudah menjadi kewajiban kita sebagai saudara, atau yang lebih tepatnya sebagai kakak untuk Adek. Namun, jika orang yang kamu temukan di jalan sepi itu bukan Adek, apakah kamu akan melakukan hal yang sama seperti ini?" tutur Syahal yang menatap sang adik.
"Tergantung!!! Sesuai situasi dan kondisi! Kalau situasi dan kondisinya berbahaya, mungkin Syahil lebih memilih untuk pergi dari pada harus terlibat dengan masalah orang lain. Tapi kalau sebaliknya, Syahil berani mempertimbangkan hal itu." jawab Syahil yang masih sibuk mengemas baju dan buku-buku kuliahnya.
Kedua sudut bibi Syahal terangkat, membentuk senyum simpul saat mendengar penuturan sang adik kembar. Sementara itu, Syahil masih menyibukkan dirinya sendiri.
"Jika situasi dan kondisinya berbahaya, namun Adek yang berada di sana, apakah kamu masih mempertimbangkan hal itu? Apakah kamu yakin ingin meninggalkan Adek di saat dirinya dalam bahaya? Lalu apa yang telah kamu lakukan malam ini? Bahkan kamu melupakan bahaya itu dan tetap menolong Adek, Syahil!" ujar Syahal.
Syahil tertegun, berusaha mencerna perkataan sang kembaran yang semakin membenarkan apa yang tengah ia rasakan saat ini. Bahkan ia melupakan keselamatan diri sendiri untuk menolong Wulan. Artinya, Syahil menyayangi Wulan tanpa ia sadari. Namun ego yang tinggi meruntuhkan kasih sayang yang sebenarnya sudah ada sejak dulu.
"Sebenarnya apa yang ingin Mas Syahal katakan? Syahil tidak ingin berdebat!" ujar Syahil yang membelakangi Syahal.
"Mas yakin sekali kalau kamu sudah bisa menerima kehadiran Adek. Sebenarnya kamu sangat menyayangi Adek seperti Mas, Mas Ziel dan Damar. Tapi semua itu hancur karena ego kamu, Syahil! Buktinya, ini!!!" tutur Syahal seraya mengangkat tangan sang adik kembar.
Syahal berdiri tepat di depan sang adik, menghentikan segala aktifitasnya yang sebenarnya sudah selesai sejak tadi. Tapi Syahil kekeuh, memilih untuk tetap berada pada pendiriannya bersama Aifa'al, bahwa Wulan hanya bisa membawa sial untuknya, membuatnya malu karena mempunyai adik bisu seperti Wulan. Mata Syahil memanas, menatap nanar luka yang terbalut perban.
"Kamu lihat luka ini! Kamu pasti terluka saat menolong Adek dan Mas sangat mengenali kamu, Syahil! Sejak kecil sampai sekarang, kamu tidak pernah bisa mengobati lukamu sendiri serapih ini! Tidak mungkin juga Mas Al yang mengobati kamu!!! Ini pasti Adek!!! Adek mengobati lukamu dan mengabaikan lukanya sendiri. Apakah kamu tidak bisa merasakan betapa perhatian dan besarnya sayang Adek sama kamu, Syahil?" tutur Syahal yang berusaha menyadarkan Syahil.
Syahil bergeming, berusaha mencerna baik-baik perkataan sang mas kembar, membuat hatinya mencelos seketika. Sementara Syahal, menatap nanar sang adik, berharap sang adik akan berubah setelah menyadari sikapnya pada Wulan yang tidak bisa dipungkiri. Jiwa penolong yang tiba-tiba menggebu di saat melihat sang adik dalam bahaya, membuatnya beraksi tanpa memikirkan bahaya, asal nyawa sang adik selamat. Itulah yang telah dilakukan Syahil dan Aifa'al tanpa sadar.
"Syahil berangkat dulu, Mas. Titip salam untuk Papa dan Mama. Maaf, jika Syahil belum bisa pulang untuk sementara. Syahil akan tetap tinggal di apartment Mas Al." tutur Syahil yang enggan menatap Syahal.
Untuk sesaat Syahil termenung, namun sejurus kemudian ia beranjak, mengambil langkah lebar keluar dari kamarnya tanpa melihat dan menjawab perkataan Syahal. Sementara Syahal menghela nafas berat, menatap nanar punggung sang adik yang tak kunjung mengakui kepedulian dirinya pada Wulan.
"Semoga kamu bisa merenung, Syahil!!! Agar kamu menyadari kepedulian kamu pada Adek dan kamu sayang sama dia!!!"
.
.
.
.
.
__ADS_1
Happy Reading All 😇😇😇