Takdir Si Gadis Bisu

Takdir Si Gadis Bisu
Episode 57 ~ Terkepung


__ADS_3

...☘️☘️☘️...


"Aku harus menemui Mas Al di Apartment!"


Riuh pikuk kendaraan siang hari terdengar begitu kerasnya, memekakkan telinga orang yang tidak terlalu menyukai suasana ramai. Tidak berbeda jauh dari yang lain, Syahil pun demikian. Melajukan motor sang mas kembar dengan kecepatan angin, melebihi kecepatan normal demi untuk bertemu dengan Aifa'al.


Dari rumah, Syahil berniat ingin meluruskan masalahnya dengan Aifa'al, ingin membujuk sang mas sepupu agar tidak bergabung lagi dengan geng motor yang diketuai oleh Bima.


"Semoga saja Mas Al mau mendengarkan perkataanku kali ini!"


Di pelantaran parkir Apartment, Syahil akhirnya sampai. Memarkirkan motornya dengan rapih sesuai dengan posisi yang telah ditentukan. Setelah itu Syahil berjalan, masuk ke dalam lift Apartment, menuju kamar sang mas sepupu.


Ting Nong...


Ting Nong...


Ting Nong...


Syahil menghela nafas kasar, tidak ada sambutan sedikit pun dari sang mas sepupu saat ia menekan tombol bel berulang kali.


"Mas Al ke mana ya? Tidak biasanya Mas Al keluar dari Apartment hari ini. Apa mungkin Mas Al lagi di Basecamp? Apakah aku harus menyusulnya ke Basecamp?"


Syahil meracau, berjalan ke sana ke mari, mencari solusi untuk masalahnya saat ini. Berusaha menepis keraguan yang melanda hati, haruskah ia pergi ke Basecamp di mana Bima dan Dimas ada di sana bersama dengan yang lainnya?


"Ah, aku memang harus ke sana! Aku harus bicara dengan Mas Al! Aku tidak ingin kalau Bima dan Dimas akan memanfaatkan Mas Al! Saat ini Bima pasti sudah tau kalau Mas Al membenci Wulan, dengan begitu Bima akan menggunakan Mas Al. Ya, aku harus ke sana!"


Syahil beranjak, berlari kecil memasuki lift Apartment, turun dari lantai di mana kamar sang mas sepupu berada. Dengan langkah lebar, setelah pintu lift terbuka, Syahil pun menghambur keluar, berlari cepat kali ini, tidak ingin membuang banyak waktu lagi.


***


"Zivana... Zivana..."


Kinan berteriak, memanggil sang putri yang pastinya sedang berada di rumah karena ia enggan untuk datang ke sekolah. Untuk apa lagi Zivana datang? Toh raport hasil nilainya pun sudah ada di tangan sang bunda saat ini.


Kinan berjalan cepat, meninggalkan Gibran yang berjalan di belakang sang istri dengan langkah melas, membiarkan sang istri untuk memberi hukuman pada putri tunggalnya itu.


"Zivana... turun kamu! Bunda ingin bicara!!!" seru Kinan yang berdiri di ambang tangga.


"Suara kamu cempreng juga ya, Sayang." celetuk Gibran yang memilih duduk di sofa, menatap kegiatan sang istri di dekat tangga.


"Ck! Aku sedang serius, Mas! Kamu jangan menggoda aku!" sungut Kinan yang melirik jengah sang suami.


Gibran terkekeh renyah, menggeleng kepala tatkala melihat kelakuan sang istri.


"Ada apa Bunda?"


Kinan menoleh ke arah atas, melihat Zivana yang keluar dalam keadaan kusut dan belum mandi, menggarut kepalanya yang mungkin saja tidak gatal, berjalan menuruni tangga dengan malasnya, sesekali tampak menguap, sepertinya anak itu baru bangun tidur.


"Ayo sini! Bunda ingin menanyakan sesuatu pada kamu!" seru Kinan dengan penekanan.

__ADS_1


Zivana menguap, berjalan santai menuju ruang tamu dan duduk di sisi sang papa yang sedang memperhatikan dirinya. Kinan mendengus lirih, mengayunkan kaki menuju sofa ruang tamu.


"Bunda ingin bicara apa sih? Zivana masih mengantuk, Bunda!" sahut Zivana yang lesu.


"Bunda sudah mengeluarkan Bima!" ujar Kinan.


Zivana terperangah, rasa kantuk yang sangat mendera tiba-tiba hilang begitu saja, musnah tanpa jejak, membulatkan mata yang menyipit karena kantuk, menatap tak percaya bundanya.


"Kenapa Bunda?" tanya Zivana tercengang.


"Bima sudah sangat keterlaluan! Kamu dan Bima sangat-sangat keterlaluan! Apa yang sudah kamu lakukan pada Wulan selama ini? Kamu dan Bima membulinya, bukan? Kamu bersama Bima yang telah menghasut semua teman-teman kalian untuk membenci Wulan! Dan kemarin, kecelakaan yang terjadi pada Damar, kamu dan Bima 'kan yang membuat rencana? Bunda sudah tau semuanya, Nak!" tukas Kinan yang tercekat, sesak di dadanya begitu menyiksa namun ia harus tetap tenang.


Zivana mendengus kesal, melirik sang papa yang hanya diam di samping sang bunda di saat seperti ini, tidak ada suara dari sang papa, apalagi pembelaan, membuatnya makin kesal.


"Siapa yang sudah membuat kesaksian palsu seperti ini pada Bunda? Memang orang yang sudah mengatakan kesaksian palsu itu punya bukti, kalau Zivana membuli Wulan di sekolah?" tandas Zivana yang geram, marah dan emosi.


"Orang yang memberi kesaksian itu adalah ayahnya Wulan! Damar sudah menceritakan semuanya pada keluarga mereka, Zivana!!! Apakah kamu tidak mempunyai rasa simpati sedikit saja pada Wulan? Dia tidak sempurna dan dia membutuhkan teman, bukan bullying!" jawab Kinan dengan nada kesal yang rendah.


"Kalau memang iya, lalu Bunda mau apa? Bunda ingin menghukum Zivana seperti Bima? Seharusnya Bunda melontarkan pertanyaan itu pada ibunya Wulan terlebih dahulu, sebelum Bunda menanyakannya pada Zivana! Ibunya saja membenci Wulan, apalagi Zivana yang bukan siapa-siapa! Bunda lucu sekali! Jangan terlalu naif lah, Bun!" celetuk Zivana dengan santainya tanpa rasa bersalah sedikit pun.


Kinan dan Gibran saling pandang, mengeryit heran dengan perkataan sang putri baru saja.


"Apa maksud kamu Zivana?" tanya Gibran.


"Ck! Ibunya Wulan itu membenci anaknya. Zivana sering melihat ibunya datang untuk menjemput. Tapi ternyata yang dijemput itu hanya Damar sedangkan Wulan ditinggalkan begitu saja oleh ibunya. Bukankah sikap ibu mereka itu bukan benci namanya? Mana ada sih seorang ibu yang meninggalkan putrinya sendiri di sekolah kalau bukan karena benci!" jawab Zivana dengan santai dan tenang.


"Kamu sangat keterlaluan, Zivana! Jika kamu sudah mengetahui hal itu seharusnya kamu merangkul Wulan, berteman baik dengannya! Bukan malah semakin membulinya!" tandas Kinan yang tidak percaya dengan sikap sang putri.


"Zivana!!! Bunda belum selesai bicara, Nak!" sahut Kinan yang berakhir sia-sia lagi.


Kinan menghela nafas kasar, menyandarkan tubuhnya ke sofa, memijat pelipisnya dengan lembut, menghilangkan rasa nyeri di kepala yang datang mendera tatkala mendengarkan langsung dari mulut sang putri kalau dirinya benar-benar membuli Wulan dan ikut terlibat dalam rencana kecelakaan Damar satu pekan yang lalu. Beruntung Dhana masih berbaik hati, tidak membawa masalah ini ke jalur hukum.


"Lebih baik kamu istirahat, Sayang. Toh, anak kita sudah mengakuinya, bukan? Setidaknya, apa yang dikatakan Pak Dhana saat itu sudah terbukti kalau Bima dan Zivana memang ikut terlibat. Tidak ada alasan lagi untuk Zivana, saat kamu menghukumnya nanti." ujar Gibran.


Kinan menghela nafas kasar lagi, meraih tas dinasnya dengan lesu, mengangguk sesaat sebelum akhirnya ia menuruti perkataan sang suami. Gibran menghela nafas, namun sesaat kemudian seringai tipis kembali terbit di kedua sudut bibirnya.


Betapa banyak informasi yang aku dapatkan tentang keluargamu, Mala. Ternyata Wulan, si gadis bisu nan malang itu juga mendapatkan kebencian dari ibunya sendiri. Sifat kejammu sungguh mengingatkan aku pada seseorang yang tidak jauh berbeda kejamnya dari kamu, Mala. Sepertinya aku tidak akan salah, kalau aku menggunakan sedikit tenaga Bima untuk rencanaku. Gumam Gibran dalam hati.


***


"Bima... motoran yuk! Mumpung masih siang! Bosan banget nih duduk di Basecamp terus!!"


Di pelantaran Basecamp, Bima duduk sendiri, menyendiri tanpa siapa pun duduk di sisinya. Rasa kesal bercampur amarah seakan enggan pergi dari hatinya, semakin bergelayut kuat, membuatnya terlihat sangat frustasi hari ini.


"Bima... lo kenapa sih? Melamun terus? Nanti kesambet kuntilanak loh!" celetuk Dimas dari arah dalam Basecamp, berjalan ke arah Bima.


"Gue dikeluarkan dari sekolah, Dim! Semua ini karena si bisu dan kakaknya itu! Damar sudah memberitahu ayahnya dan ayahnya mengadu pada Bu Kinan di depan Pak Gibran!" ujar Bima.


"Sudahlah! Tidak ada gunanya juga lo tetap bertahan di sekolah itu, bukan? Walaupun lo dikeluarkan dari sekolah, lo tetap kapten gue! Cus lah, kita motoran! Biar otak lo bisa jernih lagi seperti sedia kala!" jawab Dimas seraya beranjak dan membantu Bima untuk berdiri.

__ADS_1


"Ya sudah, ayo!!!" sahut Bima.


Bima dan Dimas berjalan, menaiki motornya masing-masing lalu diikuti pula oleh semua anggota geng motornya yang terlihat banyak hari ini. Sesuai rencana, Bima yang notabene sebagai kapten oleng melajukan motornya di depan terlebih dahulu lalu diikuti Dimas dan yang lainnya dari belakang. Bermotoran pun mereka lakukan, mengitari ruas jalan nan sepi.


"Bim, Bim, Bim... Bima! Stop dulu deh!"


Bima pun menepikan motornya, begitu pula dengan semua anggota geng motornya yang sepertinya lebih dari 10 orang itu, membuka helm dan menoleh ke arah Dimas yang tengah terpaku pada sesuatu di ruas jalan.


"Kenapa sih Dim? Tadi minta motoran, giliran sudah motoran lo minta berhenti! Kacau otak lo!" sungut Bima yang jengah melihat Dimas.


"Heh! Lo lihat tuh siapa yang gue temukan? Itu bukannya Syahil, kenapa arah jalan motornya mengarah ke Basecamp kita?" ujar Dimas yang menolehkan kepala Bima ke arah Syahil berada.


Bima bergeming, mengingat sesuatu yang belum sempat ia tuntaskan kepada Syahil, keluar dari anggota geng tanpa persetujuan darinya, membuat darah Bimantara mendidih seketika tatkala mata tajamnya melihat Syahil.


"Kejar bocah tengik itu!" sahut Bima.


Dengan cepat dan gencarnya, Bima kembali pada motornya, menghidupkan motornya lalu melaju dengan kecepatan kilat bagaikan petir siang bolong, diikuti oleh Dimas yang tampak menyeringai, tidak sabar ingin memukul dan membalas Syahil yang pernah memukulnya saat itu. Tidak hanya Dimas, anggotanya pun tidak kalah gencar, mematuhi perintah sang kapten seperti mematuhi seorang Raja yang mempunyai singgasana berhiaskan permata.


Ciittttt!


Syahil terperanjat tatkala mendengar suara decitan rem beberapa motor berhenti tepat di depan jalannya, menutupi setiap sisi ruas jalan, membuatnya sulit untuk menghindari beberapa motor yang sangat familiar baginya.


"Apa kabar Syahil?" sahut Bima, masih duduk santai di atas motornya dengan seringai licik.


Syahil mematikan mesin motornya, membuka helm yang melindungi kepalanya dari masalah apapun termasuk masalah kali ini. Rasa kesal bercampur emosi, dengan sekuat mungkin ia tahan agar tidak memancing emosi orang lain yang sebenarnya sudah membara tanpa harus ia pancing.


"Di mana Mas Al?" sahut Syahil, mengedar ke beberapa anggota geng motor, mencari Aifa'al.


"Hahahah... untuk apa lo mencari kakak lo itu? Dia sudah tidak ingin bertemu dengan lo lagi!" jawab Dimas menimpali dengan seringai licik.


"Bukan urusan lo! Mas Al adalah kakak gue! Mau atau tidak dia bertemu dengan gue itu bukan urusan lo semua! Kalau Mas Al tidak ada, lebih baik lo semua minggir! Jangan lo halangi perjalanan gue!" tukas Syahil dengan beraninya, tanpa gentar apalagi takut.


"Ckckckck! Bocah tengik satu ini sepertinya sudah berani melawan kita nih, Bim!!! Lebih baik kita kasih pelajaran saja nih bocah satu! Dia sudah seenaknya keluar dari anggota geng tanpa memberitahu lo sedikit pun! Tidak bisa dibiarkan, Bimantara!" sahut Dimas yang kesal, namun memprovokasi Bima untuk memulai.


Bima menyeringai, turun dari motor seraya menatap Syahil dengan tatapan membunuh, darah yang sudah mendidih dibuat semakin panas, menjalar hingga ke ubun-ubun, mata tajamnya memerah dengan tangan yang ikut mengepal kuat, siap untuk menghajar Syahil.


Syahil menghela nafas jengah, mengerti dengan arah pembicaraan Dimas yang tengah memprovokasi kapten geng motornya itu, lalu turun dari motor dengan tenang, meletakkan helm di atas jok motor dan membiarkan motor dalam keadaan on walaupun mesinnya mati.


"Gue tidak akan melepaskan lo, Syahil!"


.


.


.


.


.

__ADS_1


Happy Reading All 😇😇😇


__ADS_2