
...🍁🍁🍁...
Jam delapan tepat. Sesuai dengan rencana yang sudah dibuat bersama, Dhana dan Mala bergegas menuju ke lokasi, tempat penyekapan kedua anak mereka. Ternyata si penculik mengirim alamat itu pada Dhana, alamat yang tidak asing, mempermudah apa yang telah direncanakan. Sementara Sadha dan Imam, menggunakan mobil Sadha, mengikuti sang adik dari belakang, memantau dan terus melihat situasi yang diyakini tidak akan aman selama perjalanan.
Tidak lama kemudian mobil Dhana dan Sadha berhenti, tepat di depan gerbang sekolah ternama dari sejak dulu, namun sepertinya harus tercoreng setelah kejadian hari ini. Dhana menoleh, memperhatikan setiap sisi gerbang yang gelap, tiada siapa pun, hanya pintu besi yang berdiri dengan kokoh, sedikit terbuka seakan memberikan jalan pada tamu spesial agar segera masuk.
"Gelap sekali, Mas. Apa kamu yakin, kalau Damar ada di dalam sana?" tanya Mala, ikut mengedar pandangan, berusaha melihat ke gerbang dengan bantuan sinar rembulan.
"Aku yakin, Sayang. Damar, Al dan Wulan disekap di dalam sana oleh Pak Gibran. Kita harus menyelamatkan mereka." ujar Dhana.
Mala menoleh lagi, menatap lekat gerbang sekolah yang gelap gulita itu. Jika malam ini rembulan ikut bersembunyi, maka tidak ada yang bisa mereka lihat selain kegelapan nan sangat pekat, membuat Dhana selalu siaga.
"Dhana, Mala... apakah kalian bisa mendengar suaraku dengan jelas di sana?"
Dhana dan Mala terlonjak kaget, suara bariton tiba-tiba terdengar dari earphone yang tertempel di telinga masing-masing.
"Iya, Mam. Aku bisa mendengar suaramu." jawab Dhana seraya menoleh ke belakang, melihat mobil Sadha yang tidak terlalu jauh.
"Sekarang kalian masuk ke dalam untuk menemui Gibran dan kamu tidak perlu memakai earphone, Dhana. Biar Mala yang memakainya dan biarkan rambut istrimu tetap terurai agar telinganya tertutup!" ujar Imam yang memberikan instruksi waspada.
Dhana dan Mala saling pandang, terlihat ragu untuk melepaskan earphone sebagai alat petunjuk di telinganya, mempercayai sang istri untuk menerima segala sesuatu yang Imam atau pun Sadha katakan pada misi penyelamatan anak-anaknya malam ini. Membuat Dhana termangu, berusaha menelisik sesuatu di balik mata sang istri yang membuatnya masih tidak mengerti.
"Sayang... apa kamu yakin, kalau kamu tidak mengenal Pak Gibran? Tapi entah kenapa hatiku berkata lain dan firasatku tidak enak, Sayang." tutur Dhana, meraih dan menggenggam kedua tangan sang istri.
"Jadi kamu tidak percaya padaku, Mas?" tanya Mala yang mengambil kesimpulan.
"Bukan seperti itu, Sayang. Tapi..."
Dhana tercekat sesak, menetralkan perasaan yang entah kenapa, membuat pikiran buruk terus menggelayuti kepalanya.
"Tapi kenapa Mas?" tanya Mala, menuntut penjelasan lebih dari sang suami yang tidak mempercayai dirinya dengan sepenuh hati.
"Sudahlah, Sayang. Tidak apa-apa. Aku hanya takut dan khawatir saja pada ketiga anak kita. Lebih baik kita turun sekarang ya." jawab Dhana kikuk, memilih turun dari mobil setelah melepas earphone di telinganya.
Mala berdecak kesal, turun dari mobil dengan perasaan campur aduk, mengikuti Dhana yang memilih berjalan lebih dulu. Sementara Sadha dan Imam yang masih berada di dalam mobil, mendengar semua percakapan Dhana, saling pandang heran.
"Apa mungkin kalau Mala dan Gibran memiliki hubungan khusus di masa lalu Mam?" tanya Sadha yang melambatkan volume suara, takut Mala mendengarnya.
"Kalau Imam lihat dari cara Gibran yang ingin bertemu dengan Mala melalui cara ini, sepertinya dugaan Mas Sadha tidak benar. Imam malah berpikir yang lain tentang diri Mala, Mas." jawab Imam yang ikut lambat.
__ADS_1
"Maksud kamu?" tanya Sadha heran.
"Mungkin ada sesuatu yang belum kita ketahui tentang Mala, Mas. Dan hal itu ada hubungannya dengan Gibran di masa lalu." jawab Imam yang masih melihat ke depan.
"Tapi bisa saja bukan, kejadian yang sama dengan masa lalu Mas Ammar dan Mira terjadi lagi? Gibran ingin balas dendam pada Mala karena Mala tidak menerima cintanya. Lalu menculik anak-anak sebagai alat untuk melampiaskan dendamnya." cercah Sadha, namun masih bisa mengontrol suaranya.
Imam menghela berat, perkataan istrinya saat berkunjung menemuinya dalam mimpi kala itu, membuatnya penasaran dengan siapa Mala sebenarnya, mengingat Dhana yang menikahi Mala secara dadakan tanpa mencari tau terlebih dahulu dari mana Mala berasal dan seperti apa keluarga besarnya. Memilih percaya dengan semua cerita Mala yang saat itu memang sebatang kara, tanpa sanak saudara yang menyayanginya.
Imam terdiam, menerawang jauh ke depan, mengabaikan Sadha yang sejak tadi melihat dirinya dengan tatapan menuntut jawaban.
Ada sesuatu yang tersimpan di balik jati diri Kak Mala, Kak. Aku juga tidak tau pasti apa itu, tapi hal itu berhubungan dengan Wulan dan seseorang yang akan menemuinya di kemudian hari. Seseorang yang sepertinya mempunyai niat buruk pada Kak Mala dan itu berhubungan dengan masa lalunya. Kak Imam... datang lah ke rumah Ayah dan Ibu. Bantu lah Mas Dhana, Kak. Aku yakin, Mas Dhana pasti kesulitan menghadapi orang itu. Bantu mas kembarku, Kak. Aku mohon...
Penuturan mendiang sang istri di alam mimpi terngiang begitu saja, mengingatkan sikap Mala yang tidak baik pada anaknya. Memaksa kepala untuk berpikir, apa semua ini berhubungan dengan masa lalu Mala?
Imam berdecak lirih, menggeleng kepala, menepis prasangka buruk yang menutupi hati, tetap membuka mata, melihat dengan mata kepala sendiri, apakah firasat Dhina benar tentang jati diri Mala sebenarnya.
"Mala bukan wanita seperti itu, Mas. Jujur saja, sejak pertama kali Imam melihat Mala di hari pernikahannya dengan Dhana waktu itu, sebenarnya Mala memiliki karekter yang baik dan sama seperti Dhina. Dia bukan lah wanita yang jahat. Hanya saja......."
Dahi yang semula rata dan datar seketika mengerut, menatap heran sang adik ipar yang melihat lurus ke depan, tidak sabar dengan kelanjutan kalimat sang adik yang menggantung, membuatnya penasaran.
"Hanya saja apa Mam?"
"Imam juga tidak tau pasti, Mas."
Tatapan bingung tak kunjung Sadha putus, masih penasaran dengan maksud sang adik ipar yang tidak jelas, menggantung maksud yang sebenarnya, memilih untuk bungkam.
***
"Damar minta maaf, Mas."
Diam bukan lah caranya yang tepat untuk sekarang, membawa diri yang semula duduk memeluk tubuh sang adik, berharap agar tubuhnya yang dingin kembali hangat, berharap sang adik akan sadar dari pingsan yang berlangsung lama, namun tindakan itu tidak membuahkan hasil. Wulan masih tidak sadarkan diri, membuat kembarannya takut hingga memutuskan untuk segera beranjak, membantu sang mas sepupu yang masih berkutat dengan pintu besi di depan sana.
Aifa'al tertegun, menghentikan aktifitas tangan yang sejak tadi tidak henti-hentinya mengacak kunci pintu besi itu agar rusak, menggiring mata ke arah sang adik yang berdiri di sampingnya, menunduk bersalah.
"Untuk apa minta maaf?"
"Karena Damar sudah berprasangka buruk dan menuduh Mas Al yang tidak-tidak."
"Tidak perlu minta maaf!"
__ADS_1
"Maaf, Mas..."
Hati yang keras tercubit, merasakan perih saat mendengar penuturan lirih sang adik, meminta maaf atas kesalahan yang sudah sewajarnya dilakukan, mencemaskan sang adik yang tak kunjung sadar dari pingsan. Aifa'al tidak mengubris, membuang kasar nafas yang menyesakkan dada tiba-tiba, kembali fokus pada pintu besi di depannya.
Sementara Damar tetap berdiri mematung, memperhatikan gerak-gerik tangan Aifa'al yang tengah bekerja, menangkap sesuatu yang melumuri tangan kekar itu.
"Tangan Mas berdarah!"
Damar terpekik, meraih tangan Aifa'al yang tidak bisa diam, menepis tangannya kasar.
"Tidak apa-apa! Kamu jangan khawatir!" jawab Aifa'al dingin, berkutat lagi dengan gagang pintu besi itu yang tidak berubah walaupun tangannya berusaha merusak.
"Tapi tangan Mas Al berdarah! Mas terlalu memaksakan diri untuk merusak gagang pintu besi itu tanpa alat bantu. Mas Al bisa mati kekurangan darah kalau seperti ini!!!" serkas Damar yang meraih tangan Aifa'al, menariknya untuk beranjak lalu diobati.
Aifa'al bergeming, membiarkan tangan ditarik Damar sesuka hati, membawanya duduk di sisi Wulan yang masih pingsan.
Srek!
Srek!
Srek!
Damar pun merobek baju kaos di tubuhnya, membalut luka di tangan Aifa'al yang belum terlalu besar tapi deras mengeluarkan darah segar. Membuat Aifa'al terhenyak, melihat ketelatenan Damar dalam mengobati luka, sama seperti Wulan yang mengobati Syahil.
Hening. Aifa'al maupun Damar hanya diam, darah yang sudah terbalut berangsur kering, mengubah suasana jadi canggung seketika. Bibir memilih bungkam, tapi tidak dengan hati yang berkecamuk, meronta-ronta ingin segera bebas dari tempat gelap terkutuk ini. Menggiring mata sesaat ke wajah sang adik yang pucat tak berdarah di sisinya. Lalu menggiring mata ke arah adiknya yang lain, Damar yang memilih tertunduk di sisi Wulan, terlihat enggan untuk membuka suara.
Aifa'al menghela nafas berat, menoleh ke arah lilin yang masih tersisa sedikit di sana. Cahaya yang diberikan lilin itu mulai redup, membuatnya harus mengambil keputusan yang tepat dan cermat sekarang juga.
"Damar... kita harus keluar dari sini!!! Mas akan melakukan rencana awal! Mas akan membakar tempat ini agar kita bisa bebas!"
.
.
.
.
.
__ADS_1
Happy Reading All 😇😇😇