
...🍁🍁🍁...
"Damar, Wulan... kalian di mana Nak?"
Duduk termangu di taman belakang, seraya memegangi sebuah bingkai foto kedua anak kembarnya yang tampan dan cantik, Dhana meracau, mengkhawatirkan kedua anaknya yang sampai detik ini belum ada kabar. Hari yang cerah tapi tidak secerah wajah Dhana, frustasi yang mendera karena kehilangan dua malaikat kecil dalam hidup, membuat wajahnya lesu dan pucat, tidak mau makan sejak tadi pagi hingga siang menjelang.
"Dhana... kamu makan dulu ya, Dik. Biar Kakak ambilkan makanan untuk kamu. Ya?" ujar Vanny seraya meraih bahu Dhana.
"Dhana tidak lapar, Kak." jawab Dhana.
Sadha dan Vanny saling pandang cemas, melihat kondisi Dhana yang tidak mengisi perutnya sejak tadi pagi.
"Dhana... kamu jangan seperti ini, Dik!!! Kamu harus yakin kalau anak-anak kamu baik-baik saja. Mas dan Imam akan balik lagi ke kantor polisi. Kamu jangan khawatir karena Mas akan membantu kamu sampai Damar dan Wulan kembali ke pelukan kita." ujar Sadha yang berusaha membujuk sang adik.
"Jangan sampai di saat Damar dan Wulan pulang nanti, mereka melihat kamu seperti ini, Dhana! Mereka pasti akan sangat sedih dan merasa bersalah! Kamu mau membuat mereka merasa bersalah karena kamu yang tidak mau makan?" timpal Vanny nan tegas.
Hati Dhana tersentil, mengingat bahwa saat ini Aifa'al tengah mencari keberadaan kedua anak kembarnya. Itu artinya, tidak lama lagi kedua anaknya itu akan segera pulang dan sebagai ayah, ia tidak boleh lemah apalagi menyerah begitu saja.
"Maaf Kak... Maaf Mas... Dhana terlalu khawatir memikirkan Damar dan Wulan." ujar Dhana mendongak, melihat keduanya.
"Kamu makan ya! Kakak akan menyiapkan makanan untuk kamu. Tunggu sebentar ya." ujar Vanny tersenyum lega, hendak pergi.
"Kak... Mala bagaimana?" tanya Dhana yang menghentikan langkah sang kakak ipar.
"Mala sedang tidur setelah Kakak berikan sarapan tadi pagi. Kakak... Kakak terpaksa memasukkan obat tidur ke dalam sarapan istrimu agar dia bisa istirahat. Maaf Dhana, kalau Kakak lancang tapi Kakak tidak tega melihatnya menangis terus dan memanggil Damar. Jadi Kakak terpaksa melakukannya agar Mala tidak sakit." tutur Vanny merasa bersalah pada adik iparnya itu.
"Dhana percaya sama Kakak. Terima kasih karena Kakak sudah menjaga dan merawat istri Dhana." jawab Dhana yang tersenyum.
Vanny tersenyum getir, tidak menyangka kalau Dhana akan menerima caranya yang absurd untuk Mala, membuat raut wajahnya yang penuh rasa bersalah seketika berbinar.
"Kalau begitu, Kakak akan menyiapkan makanan untuk kamu." ujar Vanny girang.
Vanny beranjak dengan semangat, berjalan menuju dapur untuk membuatkan sang adik ipar makanan, mengundang senyum Sadha dan Dhana yang melihatnya.
"Kakak iparmu yang satu itu memang agak bar-bar, jadi kamu maklumi saja ya Dhana!" ujar Sadha yang berbisik.
"Bukan agak lagi, Mas. Tapi Kak Vanny itu memang bar-bar sejak dulu." jawab Dhana yang terkikik mendengar perkataan Sadha.
Sadha tersenyum lega, melihat kekehan sang adik yang sesaat melupakan masalah dan kesedihan karena Damar Wulan hilang.
"Mas tinggal sebentar ya." ujar Sadha.
Dhana mengangguk, membiarkan Sadha beranjak pergi, mungkin ada urusan pribadi atau kantor yang harus diselesaikan.
"Den Dhana... maaf Den, Bibi ganggu ya?" ujar Bi Iyah yang tiba-tiba datang.
"Tidak, Bi. Ada apa?" tanya Dhana heran.
"Bibi menemukan dompet ini di dalam keranjang baju kotor Den Dhana dan Non Mala. Untung saja mata Bibi masih sehat, jadi dompetnya tidak ikut masuk ke dalam mesin cuci." ujar Bi Iyah yang memberikan dompet itu pada Dhana.
"Terima kasih, Bi." ucap Dhana tersenyum.
"Sama-sama, Den. Bibi ke dalam dulu ya." jawab Bi Iyah yang izin pergi lalu beranjak.
Dhana tersenyum, menoleh ke arah benda yang berada di tangannya. Sebuah dompet misterius yang sempat ia temukan di depan pintu Cafe-nya minggu lalu, belum sempat ia buka untuk melihat siapa pemilik dompet itu.
Kenapa aku lupa ya dengan dompet ini? Padahal aku penasaran sekali, siapa nama pemilik dompet mahal ini. Lebih baik aku periksa saja. Jika Damar dan Wulan sudah ditemukan, aku akan memberikan dompet ini pada pemiliknya. Gumam Dhana dalam hati.
__ADS_1
Perlahan Dhana membuka dompet itu, memeriksa satu per satu credit card yang sepertinya masih aktif, mencari kartu nama yang bisa menunjukan siapa pemilik dari benda mahal berisi uang dan credit card itu, hingga akhirnya Dhana menemukan sebuah kartu identitas si pemilik dompet mahal itu.
"Ah, ternyata dompet ini punya Pak Gibran. Ternyata dia ceroboh juga ya, sampai tidak sadar kalau dompetnya jatuh."
Namun sejurus kemudian, mata Dhana yang semula mencari kartu identitas dari pemilik dompet, kini teralih pada sebuah foto kecil yang terpampang di dompet itu, membuat darahnya berdesir seketika, tidak percaya dengan sosok yang ada di dalam foto itu.
Dugaan yang sempat keliru, seakan benar ketika matanya melihat bagian belakang foto kecil itu, terdapat tulisan cantik yang menyebutkan 'Istirku Sayang'. Mata Dhana semakin terbuka lebar karena tulisan itu.
"Mira?"
Mata yang membulat sempurna membawa pikiran melayang seketika, mengingatkan dirinya pada perkataan sang putra minggu lalu, seakan membenarkan dugaan hatinya.
Jadi istri Pak Gibran sebelum Kinan adalah Kak Mira? Dan ibu kandung Zivana yang sudah meninggal itu adalah Kak Mira? Itu artinya, dugaanku terhadap sikap Zivana benar. Anak itu menuruni sifat jahat Mira, dan ternyata Kak Mira sudah meninggal. Gumam Dhana dalam hati.
Bayang-bayang kejahatan sosok wanita yang pernah menyakiti adik kembarnya seakan berputar, membuat Dhana tidak percaya akan kebenaran bahwa wanita yang pernah jahat itu sudah meninggalkan dunia ini untuk selamanya, meninggalkan keturunan yang hampir sama dengannya, mengingatkan nasib sang putri yang telah menjadi korban bullying dari putri kandung wanita itu.
"Dhana... ini makanan untuk kamu ya." timpal Vanny yang datang, meletakkan nampan berisi makanan dan minuman di atas meja untuk adik iparnya itu.
Dhana bergeming, tidak sadar dengan kedatangan kakak iparnya yang membawa makanan, membuat Vanny mengeryit heran, menggiring matanya ke benda yang ada di tangan adik iparnya.
"Ini foto Mira? Kamu dapat dari mana?" tanya Vanny yang memekik kaget, saat matanya menangkap foto sosok wanita itu.
"Kak Vanny..." jawab Dhana yang kaget.
"Ini Mira 'kan Dhana?" tanya Vanny lagi.
"I-iya, Kak. Itu foto Kak Mira." ujar Dhana.
"Ada apa Sayang? Kenapa suara kamu terdengar sangat keras sampai terdengar sampai ke ruang keluarga?" timpal Sadha yang datang karena terkejut.
"Ada apa Kak?" timpal Imam yang datang, baru sampai di rumah dan bertemu Sadha, hingga suara Vanny membuatnya terkejut.
"Kamu lihat ini, Mas!!!" ujar Vanny seraya memberikan foto kecil itu pada suaminya.
Tanpa melihat kertas kecil itu, menatap heran wajah sang istri yang seperti marah pada Dhana, tangannya terulur mengambil kertas kecil itu dari tangan sang istri.
"Ini 'kan Mira? Kamu dapat dari mana foto ini Sayang?" tanya Sadha yang tercengang.
"Sepertinya Dhana menyimpan foto..."
"Bukan, Kak!!! Foto itu Dhana dapatkan dari dalam dompet ini. Dompet ini terjatuh tepat di depan pintu Cafe Adek minggu lalu dan Dhana menemukannya. Ternyata dompet ini milik Pak Gibran, Mas!!!" potong Dhana yang tidak ingin Sadha salah paham.
"Gibran? Gibran pemilik Jaya Mandiri itu? Kenapa dia menyimpan foto ini di dalam dompetnya Dhana?" tanya Sadha heran sekaligus penasaran.
"Ternyata Pak Gibran itu suaminya Mira, Mas. Dan Mira sudah meninggal setelah melahirkan anak mereka." jawab Dhana.
Sadha, Vanny dan Imam terperangah, mendengar kabar berita yang pastinya sangat membuat mereka terkejut hebat.
"Lalu istrinya yang menjadi kepala sekolah itu?" tanya Sadha yang belum paham.
"Itu istri keduanya setelah Mira meninggal, Mas. Dan istri keduanya Pak Gibran adalah Kinan." jawab Dhana yang tidak ingat kalau Sadha belum tau siapa Kinan, menurutnya.
"Kinan? Kinan cinta pertama kamu yang pernah kandas itu? Dhana... kamu serius?" tanya Sadha yang semakin dibuat terkejut.
"Mas Sadha tau tentang siapa Kinan dari siapa?" tanya Dhana yang baru menyadari.
Sadha terkikik gemas, teringat masa lalu ketika Dhina memberitahunya dan Ammar tentang kisah patah hati mas kembarnya dengan sangat semangat, terbayang pula bagaimana raut wajah sang adik tercinta saat itu, sangat lucu dan menggemaskan.
__ADS_1
"Tanpa kamu ketahui, Adek pernah cerita tentang masalah kamu pada Mas dan Mas Ammar. Tapi Adek meminta Mas dan Mas Ammar untuk merahasiakan hal ini darimu. Jadi kamu bertemu dengannya lagi? Dan Zivana, anak yang sudah membuli Wulan ternyata anaknya Mira?" jawab Sadha.
Dhana berdecak gemas, mengetahui bahwa sang adik telah membongkar kisah kelam percintaannya yang sempat kandas pada kedua masnya. Sementara itu, Vanny dan Imam yang mendengar itu hanya terdiam, mendengar cerita lama yang kini terkuak.
"Jadi kamu pernah suka sama Kinan?" timpal Imam yang baru tau rahasia sang sahabat, dan Kinan juga teman kuliahnya.
"Sudahlah, Mam. Itu sudah lama sekali! Bagiku Kinan hanya masa lalu yang buruk. Iya, Mas. Sifat Zivana yang menjengkelkan turun dari sifat ibunya." jawab Dhana yang melihat ke arah Imam, lalu menoleh ke arah Sadha.
"Kakak kira kamu menyimpan foto wanita jahat itu, Dhana!!! Kamu sudah membuat darah Kakak mendidih melihat foto wanita jahat itu! Syukurlah, kalau dia sudah tidak ada lagi di dunia ini!" timpal Vanny jengah.
"Sstttt! Kamu kok seperti itu sih Sayang? Mira 'kan sudah bertaubat, bahkan di saat dia akan pergi ke luar negeri, dia sudah minta maaf pada kita atas perbuatannya pada Adek." ujar Sadha seraya merangkul pinggang sang istri.
"Tapi tetap saja Mas, maafnya itu tidak mampu mengembalikan Adek pada kita. Karena dia, penyakit Adek tambah parah dan kita harus kehilangan dia selamanya. Aku memang sudah memaafkan wanita itu, tapi kejahatannya pada Adek tidak pernah aku lupakan sampai detik ini!!!" ujar Vanny.
Sadha, Dhana dan Imam tersenyum getir, melihat kasih sayang dan rasa kehilangan Vanny yang teramat besar pada mendiang Dhina, seakan membuka luka lama yang sampai saat ini masih meninggalkan bekas, tidak bisa hilang seiring berjalannya waktu. Ditambah lagi dengan kebenaran baru yang menambah luka nan baru pula, kebenaran kalau Zivana yang jahat ternyata anak Mira.
"Adek akan sedih kalau dia mendengar perkataan kamu, Sayang. Ikhlaskan ya!" tutur Sadha yang menenangkan Vanny.
Vanny bergeming, menyeka air matanya yang entah sejak kapan terjatuh di wajah cantiknya.
"Sebaiknya kamu kembalikan dompet itu pada pemiliknya, Dhana." timpal Sadha.
"Pasti, Mas." jawab Dhana tersenyum dan menyimpan dompet itu di saku celananya.
"Lebih baik kamu segera makan, Dhana. Kakak tidak ingin melihatmu sakit!" timpal Vanny yang parau, hendak beranjak tapi...
Bruk!
Syahil yang berlari terburu-buru menabrak sang mama, membuat sang mama hampir jatuh. Untung Sadha cepat tanggap ketika melihat sang istri hampir jatuh karena salah satu putra kembarnya. Tidak hanya Syahil yang datang, Aiziel dan Syahal juga berlari, menyusul Syahil yang berlari kencang.
"Syahil... kamu kenapa lari-lari sih Nak? Mama hampir jatuh karena kamu tabrak! Kalau berlari pakai mata dong!!!" sungut Vanny yang berdecak, kesal pada Syahil.
"Mana bisa mata dibawa lari, Ma. Mama aneh-aneh saja." jawab Syahil, berdecak gemas mendengar sungutan sang mama.
"Kalian semua kenapa lari-lari ke sini?" timpal Sadha yang heran melihat ketiga anaknya itu.
"Mas Al, Pa!!! Mas Al ingin bicara dengan kita semua." ujar Syahil, terengah-engah.
"Al sudah menemukan keberadaan Damar dan Wulan, Syahil?" tanya Imam terkesiap.
"Entahlah, Paman. Tapi Mas Al hanya mengirimkan voice note dengan sebuah foto dan alamat lengkap dari Whatsapp. Syahil, Mas Ziel dan Mas Syahal berlari ke sini ingin menemui Papa, Uncle, dan Paman agar kita bisa mendengar apa yang Mas Al katakan." tutur Syahil yang menjelaskan.
Sadha, Vanny, Imam dan Dhana saling pandang. Rasa penasaran tampak jelas di wajah keempatnya yang tidak muda lagi.
"Kalau begitu putar voice note itu, Syahil." ujar Dhana yang tidak bisa membendung rasa penasarannya lagi.
Syahil mengangguk, melihat ke arah layar ponselnya yang masih menyala, menekan tombol play pada voice note yang Aifa'al kirimkan padanya dari aplikasi Whatsapp.
"Syahil... beritahu Uncle, Paklik Sadha dan Paman Imam. Mas sudah menemukan keberadaan Damar dan Wulan! Mereka tengah disekap di dalam sebuah ruangan gelap dan sempit! Kamu pasti akan kaget saat mendengar siapa pelakunya, Syahil! Dugaan kamu benar! Bima yang menculik Damar dan Wulan! Ternyata Bima bekerja sama dengan Pak Gibran, pemilik sekolah!" tutur Aifa'al dalam bentuk voice note yang terengah-engah dengan suara pelan.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Happy Reading All 😇😇😇