Takdir Si Gadis Bisu

Takdir Si Gadis Bisu
Episode 24 ~ Lupa Waktu


__ADS_3

...☘️☘️☘️...


"Papa sama Mama habis bertengkar lagi dengan Syahil?"


Seakan mampu membaca pikiran kedua orang tuanya, pertanyaan Syahal sukses membuat Sadha dan Vanny tercengang bukan main. Pasalnya mereka belum mengatakan apa-apa tapi sang putra sudah bisa menebak dengan benar, kalau mereka memang sempat bertengkar lagi dengan adik kembarnya itu.


Sadha dan Vanny yang saling pandang pun terdiam. Sementara Syahal yang merasakan bahwa feeling-nya itu benar, menghela nafas kasar lalu beranjak dari sisi sang mama.


"Syahal... kamu mau pergi ke mana Nak?"


Tidak ada jawaban dari Syahal. Pria itu terus berjalan ke arah pintu keluar, membuat Sadha dan Vanny beranjak lalu mengejar sang putra.


"Syahal... tunggu!!!" sahut Sadha.


Syahal yang terbawa emosi pun menghentikan langkah lalu menoleh ke arah Sadha dan Vanny.


"Kamu mau ke mana Syahal?" tanya Sadha seraya meraih bahu putra kembarnya itu.


"Syahal mau menyusul Syahil ke apartment Al, Pa. Saat ini dia pasti sedang menginap di sana bersama Al sampai tidak pulang dan membuat kalian khawatir. Syahal ingin memberi pelajaran untuk anak yang tidak bisa diatur seperti Syahil! Dan setelah membuat semua orang cemas, dia seenaknya saja pulang lalu bertengkar dengan Papa dan Mama!!! Dasar anak tidak tau diri!!!" cercah Syahal yang sudah tersulut emosi.


"Kamu tenang dulu, Sayang. Jangan emosi!!!" ujar Vanny yang mengusap punggung Syahal.


"Bagaimana Syahal tidak emosi Ma? Syahil benar-benar keterlaluan! Dia tidak memikirkan perasaan kita yang mengkhawatirkan dia!!!" jawab Syahal yang masih terbawa emosi.


"Tenangkan dirimu, Nak. Sebenarnya adikmu belum pulang ke rumah. Kami bertemu Syahil saat di rumah sakit tadi siang." timpal Sadha yang berusaha menenangkan sang putra.


Sontak, Syahal langsung menoleh cepat ke arah sang papa saat mendengar kata rumah sakit. Sementara Sadha dan Vanny yang mengerti dengan keterkejutan sang putra pun berusaha untuk mengajaknya masuk ke dalam rumah.


Sadha dan Vanny pun mengajak Syahal duduk di sofa ruang tamu, mengambil nafas panjang sebelum menceritakan semua yang terjadi di saat mereka hendak pulang dari rumah sakit tadi siang. Sementara Syahal yang tidak sabar hanya menatap lekat keduanya, seakan meminta penjelasan yang jelas tanpa ada yang terlewatkan.


Gemuruh emosi yang sempat memenuhi hati putra kembar Sadha yang satu ini, kini kembali berkobar setelah mendengar penjelasan sang papa. Ia benar-benar terlihat marah dan emosi mendengar betapa kasarnya Aifa'al dan Syahil menghina Wulan tepat di depan Dhana, Bu Aini dan Pak Aidi. Tidak jauh berbeda dengan Aiziel yang emosi ketika mendengar perkataan kasar dari bibir sang adik.


Brak!


Hentaman kuat tangan Syahal yang mengepal sukses menciptakan suara pukulan keras, memenuhi heningnya langit-langit ruang tamu, mengejutkan para penghuni atap yang sedang tidur sore. Bahkan pukulan tangan kekar Syahal bisa terdengar sampai keluar rumah mereka.


"Mereka benar-benar keterlaluan, Pa! Apakah mereka tidak memikirkan perasaan Uncle Dhana saat mendengar perkataan mereka itu? Syahal benar-benar tidak menyangka kalau Syahil semakin berani di depan Uncle Dhana, bahkan di depan Opa dan Oma. Dasar anak kurang ajar!!!" cercah Syahal yang mengepal kuat tangannya lalu memukul meja.


"Sudahlah, Nak. Tidak perlu emosi seperti ini. Karena emosi akan membawa kamu ke dalam penyesalan." jawab Sadha seraya bersandar.


"Maksud Papa apa?" tanya Syahal yang heran.


Sadha menghela nafas berat seraya bersandar ke sandaran kursi. Kejadian tadi siang, saat tangannya melayang menampar pipi Aifa'al membuat rasa bersalah yang menyelimutinya tak kunjung hilang. Tangannya masih terlihat merah, menjadi bekas dan saksi tamparan itu terjadi. Selain merasa bersalah, ada alasan lain yang Sadha simpan di dalam hatinya.


Mas minta maaf, Dek. Sejak kepergian Adek, Mas pernah berjanji untuk tidak main tangan dan bersikap kasar lagi pada Mas Ammar dan Dhana. Tapi hari ini, Mas sudah melanggarnya. Mas melanggar janji dan menampar Al, bahkan di hadapan Mas Ammar dan Kak Ibel. Adek pasti kecewa sekali sama Mas, bahkan Mas telah menampar keponakan Mas sendiri. Gumam Sadha dalam hati.


Melihat Sadha terdiam, Vanny pun mengerti dengan maksud diamnya sang suami. Sebagai seorang istri sekaligus sahabat, Vanny sudah mengenal banyak tentang Sadha, termasuk janji itu. Janji yang Sadha ucapkan setelah pemakaman Dhina karena ia teringat dengan tindakannya yang begitu kasar pada Dhana saat di rumah sakit, sesaat sebelum Dhina dinyatakan kritis lalu meninggal dunia. Vanny pun menghela nafas panjang lalu menoleh ke arah Syahal yang sejak tadi melihat sang papa.


"Papa kamu menampar Al di depan pakde dan bude kamu, Sayang." timpal Vanny yang melihat ke arah sang suami.


"Asalkan Pakde dan Bude tidak marah. Syahal rasa tindakan Papa sudah sangat benar! Anak yang tidak bisa diatur memang harus dikerasi! Kalau tidak dia akan terus melawan, Ma." ujar Syahal yang tidak terkejut sama sekali.


"Mereka memang tidak marah, Sayang. Bahkan pakdemu itu berterima kasih karena papa kamu karena papamu berani menampar Al dan pakde kamu bilang agar Al bisa segera sadar. Namun papa kamu jadi merasa bersalah." timpal Vanny seraya menggelengkan kepalanya heran.

__ADS_1


"Syahal setuju sekali dengan Pakde Ammar!!! Sudahlah, Pa. Tidak perlu merasa bersalah. Al memang pantas menerima itu, bahkan Syahil pun juga berhak menerima tamparan Papa!!!" ujar Syahal yang berusaha meyakinkan Sadha.


"Tapi tindakan Papa sudah terlalu kasar, Nak. Pasti Al membenci Papa saat ini." ujar Sadha.


"Al tidak akan marah, Pa. Paling hanya kesal sesaat saja. Sudahlah, Papa jangan terlalu memikirkan hal itu. Pakde Ammar saja tidak marah pada Papa jadi tidak perlu cemas lagi." tutur Syahal yang meyakinkan sang papa.


Sadha menghela nafas kasar lagi seraya mengacak kasar wajahnya. Sementara Vanny dan Syahal yang melihat itu berusaha untuk menenangkan Sadha.


"Lalu sekarang kondisi Pakde bagaimana Ma?" tanya Syahal yang ingin tau kondisi sang pakde.


"Pakde kamu sudah pulang dan kondisinya baik-baik saja, Sayang. Lebih baik kamu naik dan masuk kamar lalu mandi dan istirahat." jawab Vanny seraya mengelus lengan sang suami lalu melihat ke arah sang putra.


"Tapi Ma..."


"Tidak ada tapi lagi, Syahal!!!" potong Vanny seraya melempar tatapan penuh penekanan.


Tidak bisa melawan dan menolak permintaan sang mama, membuat Syahal menghela nafas pasrah lalu beranjak dari tempat duduknya. Sementara Vanny yang melihat gelagat sang putra hanya mengulas senyum simpul.


***


Mesin penggerak waktu terus berjalan pada jalan yang seharusnya, membuat cuaca yang tadinya sangat terik berubah menjadi gelap. Sang raja siang kini telah bertukar posisi dengan sang rembulan malam yang bertahta menghiasi hamparan luasnya langit bersama ribuan bintang sebagai temannya.


Lupa waktu, gelar itulah yang sangat pantas untuk Dhana yang betah mengajak kedua anak kembarnya jalan-jalan. Setelah makan siang di Cafe, ia mengajak Damar dan Wulan jalan-jalan sore hingga waktu malam pun tiba. Namun karena merasa lapar kembali, mereka pun memutuskan untuk makan malam di luar dan saat ini mereka sedang berada di perjalanan pulang setelah makan malam bersama.


"Oma bisa marah nih, Pi. Karena kita pulang sekolah tapi tidak langsung pulang ke rumah." ujar Damar yang duduk di kursi depan mobil.


"Oma sama Opa sedang menginap di rumah pakde kamu, Damar. Jadi mereka tidak akan marah. Lagi pula kalian pergi dengan Papi dan oma kalian tidak akan bisa marah." ujar Dhana yang sesekali menoleh ke arah sang putra.


"Memang ada acara apa Oma sama Opa menginap di rumah Pakde Ammar, Pi?" tanya Damar yang penasaran seraya melirik Wulan.


Tidak berselang lama, mobil yang dikendarai Dhana masuk ke dalam halaman rumah. Lalu mereka turun dari mobil dan bergegas masuk ke dalam rumah. Tanpa mereka sadari, sosok wanita penghuni rumah sedang berdiri seraya menyilangkan kedua tangannya.


"Dari mana saja kamu, Mas?"


Suara sosok wanita penghuni rumah yang tak lain adalah Mala, sukses mengejutkan Dhana, Damar dan Wulan. Dhana pun menoleh pelan, seakan enggan melihat sang istri yang tengah berdiri dan meminta penjelasan darinya. Lalu diikuti oleh Damar dan Wulan yang menoleh, melihat sang mami yang tampak marah.


"Jalan-jalan!" jawab Dhana dingin.


"Jalan-jalan sampai lupa waktu seperti ini? Kamu tidak memikirkan isi perut Damar. Dia pasti belum makan seharian." cercah Mala.


"Aku lebih memikirkan isi perut kedua anakku!" jawab Dhana yang semakin dingin dan cuek.


"Tapi aku sudah masak banyak untuk Damar dan kamu, Mas." cercah Mala lagi.


"Kamu tidak perlu bersusah payah memasak hanya untuk aku dan Damar. Kalau kamu tidak memprioritaskan putriku ke dalam niatmu itu!" tandas Dhana tanpa melihat ke arah sang istri.


"Bahkan kamu tidak memikirkan betapa lelahnya Damar setelah pulang sekolah." ujar Mala seraya menatap sendu ke arah Damar.


"Kamu pikir aku tidak mampu mengurus anak-anak? Bahkan aku lebih memikirkan dan lebih mengerti dengan perasaan mereka. Tidak seperti kamu!!!" tandas Dhana yang emosi.


Mala mendengus kesal seraya memberikan tatapan tajam pada suaminya itu. Sementara Dhana yang tidak ingin terbawa emosi lebih jauh, menoleh ke arah Damar dan Wulan.


"Damar... kamu bawa Wulan masuk ya!!!"

__ADS_1


Damar pun mengangguk patuh dengan titah sang papi. Bukan karena takut melihat sang mami yang mulai menunjukan gigi taringnya padanya. Tapi karena takut, jika sang mami akan menyakiti hati sang adik, mencercahnya dengan kata-kata kasar dan menyakitkan.


Sementara Wulan yang ditarik tangannya oleh Damar hanya menatap pasrah sang papi. Dari sorot matanya, Wulan terlihat takut kalau sang papi akan berperang lagi dengan sang mami. Namun Dhana yang mengerti dengan maksud tatapan sang putri pun mengangguk kecil dan tersenyum simpul, seakan menenangkannya bahwa semuanya akan baik-baik saja.


"Kenapa kamu masih melindungi anak yang sudah menyebabkan kakakmu sendiri masuk ke rumah sakit, Mas?"


Dhana terperangah, tidak menyangka dengan pertanyaan yang terlontar dari bibir sang istri. Sementara Damar dan Wulan yang baru saja ingin menaiki tangga, tiba-tiba berhenti, diam dan terpaku di posisi mereka saat ini. Wulan yang lebih peka dengan maksud sang mami pun menggiring matanya ke arah sang papi. Begitu pula dengan Damar yang sejak siang tadi, sudah merasa curiga dengan sikap aneh sang papi.


"Damar... cepat bawa adik kamu ke atas!" seru Dhana yang disertai dengan tatapan suruhan.


"Kenapa Mas? Kamu takut kalau anak cacat yang sering kamu banggakan itu mendengar semua perkataanku ini?" timpal Mala seraya menoleh dan menatap tajam putri kecil yang selama ini tidak ia akui keberadaannya.


"Cukup Mala!!! Hentikan apa pun yang ingin kamu katakan sekarang!!! Kalau kamu ingin marah, maka marah lah padaku. Jangan kamu jadikan putriku sebagai alat pelampiasan atas amarahmu itu!!!" ujar Dhana yang bernegosiasi dengan sang istri.


"Aku memang tidak ingin memberitahu anak cacat itu, Mas. Tapi aku ingin memberitahu putraku, kalau pakdenya masuk rumah sakit." jawab Mala yang tersenyum lebar tanpa rasa bersalah sedikit pun pada Dhana.


Dhana memicingkan mata, tidak sanggup untuk melihat betapa terkejutnya Damar dan Wulan mendengar berita yang sejak tadi berusaha ia tutupi. Namun bangkai yang disembunyikan akan tercium juga baunya. Kini Damar Wulan sudah tau dan mereka tampak terkejut bukan main.


"Apa Mi? Pakde masuk rumah sakit? Kenapa?" tanpa Damar yang menghampiri sang mami.


"Darah tinggi pakde kamu naik setelah melihat Ziel berkelahi dengan Al, karena Ziel membela anak itu!!!" jawab Mala yang menunjuk Wulan.


Lolos sudah bulir kristal dari pelupuk mata Wulan yang masih terbelalak tidak menyangka. Gadis itu terlihat syok mendengar perkataan sang mami yang sangat menyakitkan. Wulan terduduk lemas di tepi tangga, bulir matanya terus mengalir membasahi pipi, menyesali nasib diri yang selalu membuat orang lain susah bahkan berkelahi sampai masuk ke rumah sakit. Sungguh menyedihkan. Wulan yang menangis pun beranjak lalu berlari ke lantai atas.


Damar yang melihat itu bergegas mengikuti sang adik. Sementara Dhana yang semakin dibuat emosi sepanjang hari oleh sang istri, tidak bisa lagi menahan rasa kecewanya itu.


"Kamu benar-benar tidak punya hati, Mala! Seharusnya kamu yang meyakinkan Wulan kalau perkelahian di antara Ziel dan Al bukan karena membelanya! Tapi kamu justru malah menyakiti hatinya! Aku benar-benar bingung dengan sikapmu ini. Aku lelah, Mala!!! Aku sudah lelah menghadapi sikap kamu yang seperti ini terus!!! Kamu tidak pantas disebut sebagai seorang Ibu! Kamu itu wanita berhati iblis, Mala!"


"Terus, Mas! Bela saja terus anak cacat dan pembawa sial itu! Sejak anak sialan itu lahir, hubungan kita semakin renggang! Ziel dan Al berkelahi! Bahkan Syahal dan Syahil yang kembar jadi tidak akur hanya karena anak pembawa sial yang cacat itu! Mau berapa banyak kesialan lagi Mas?!" tandas Mala.


Amarah Dhana seketika memuncak hebat tatkala mendengar semua penghinaan keji yang terlontar dari bibir istrinya itu. Tangan Dhana mengepal kuat, rahangnya mengeras dengan sorot mata yang memerah dan tajam. Perlahan, amarah yang memuncak hingga ke ubun-ubun itu memberikan perintah pada tangannya untuk terangkat dan mengayun.


Sreeettt...


Pada akhirnya, Dhana yang tersulut emosi mengangkat tangannya dan bersiap untuk melayang dan mendarat di wajah sang istri.


"Jangan Mas!!!


Dhana terkesiap saat mendapati suara lembut yang tidak asing di telinganya. Walaupun suara itu sudah lama tidak terdengar, bahkan sudah bertahun-tahun lamanya tapi di telinga Dhana suara itu sangat familiar dan terdengar begitu lembut. Sementara itu, Mala terkesiap ketika melihat tangan Dhana hendak menamparnya.


"Aku kecewa sama kamu, Mas!" serkas Mala yang terdengar parau dan berlenggang pergi.


Dhana pun tersadar. Emosi yang memuncak, membuatnya hampir khilaf menampar Mala secara brutal. Dhana yang tersadar dari khilaf pun mengedar pandangannya, mencari suara lembut yang menghentikan aksinya. Sejurus kemudian, Dhana terpaku tatkala matanya tertuju pada sosok bayangan yang berdiri di dekat tangga dan sudah lama tidak terlihat. Bayangan itu tampak mengulas senyuman, sesaat kemudian menghilang tanpa bekas.


"A-adek..." ucap Dhana lirih.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Happy Reading All 😇😇😇


__ADS_2