
...☘️☘️☘️...
"Jadi Anty Mala mencambuk Adek di dalam toilet rumah sakit?"
Tak jauh berbeda dengan Pak Aidi dan Bu Aini ketika mendengar cerita Dhana. Aiziel, Syahal, Syahil dan Rainar pun tak kalah terkejut ketika mendengar penuturan Damar di dalam kamar.
"Iya, Mas. Karena itulah bekas luka memar di punggung Adek terbentuk. Mami gelap mata, menuduh Adek sebagai sebab Damar celaka. Padahal Mami belum mendengar semuanya, tapi kebencian Mami yang membuatnya jadi seperti ini, Mas." jawab Damar yang menoleh, menatap sang adik yang masih tertunduk.
"Andai saja aku tau, Mar. Kalau Tante Mala ingin bertindak keras pada Wulan, mungkin saat itu aku akan menghentikan aksinya." timpal Rainar yang tidak menyangka kalau Wulan akan mendapat perlakuan keji dari Mala.
"Tapi semuanya sudah terjadi, Nar. Papiku saja tidak bisa menghentikan Mami, apalagi kamu." jawab Damar yang mengerti niat baik Rainar.
"Dulu Anty Mala tidak kasar seperti ini, Mas. Anty Mala memang membenci Adek, tapi dia tidak pernah bermain kasar 'kan? Tapi kenapa sekarang Anty Mala semakin membabi buta? Apa tidak ada harapan lagi untuknya berubah?" timpal Syahal yang sejak dulu mengetahui itu.
"Entahlah, Syahal. Mas pun juga tidak percaya kalau anty kita itu bisa senekat ini. Sepertinya, sudah saatnya kita untuk diam." jawab Aiziel.
Syahal, Syahil, Damar, Rainar dan Wulan saling pandang. Tidak mengerti dengan maksud sang mas sulung yang sejak tadi terlihat lesu ketika mengetahui penyebab luka panjang kemerahan di punggung sang adik tersayang. Ternyata itu semua tidak terlepas dari perbuatan sang anty.
"Diam maksud Mas Ziel apa?" tanya Syahil.
"Sudah saatnya kita membiarkan anty kalian dan tidak memaksanya untuk terus berubah!"
Aiziel, Syahal, Syahil, Damar, Rainar dan Wulan terperanjat. Mereka menoleh serentak, melihat tiga sosok yang berdiri di ambang pintu kamar.
"Papi, Opa, Oma..." ujar Damar.
Pak Aidi, Bu Aini dan Dhana tersenyum simpul, berjalan maju mendekati kelima anak muda itu. Ikut duduk di tempat tidur, bergabung dengan mereka semua untuk menenangkan mereka.
"Ziel benar! Mungkin, dengan diam masalah hati anty kalian perlahan akan berubah. Biar waktu yang menjawabnya karena jika terus dipaksakan, tidak akan bagus untuk Wulan." tutur Dhana yang meyakinkan semuanya.
"Kalian tidak perlu memikirkan terlalu jauh masalah ini ya, Sayang. Biar Oma, Opa dan papimu yang menghadapi semua masalah ini. Jangan terlalu banyak menangis nanti kamu sakit, Nak." timpal Bu Aini seraya memeluk tubuh mungil sang cucu kesayangan.
"Tapi Oma, sekarang Mami pergi ke mana?" tanya Damar yang tidak bisa membohongi kekhawatiran hatinya pada sang mami.
"Kamu tenang saja, Nak. Mami tidak akan ke mana-mana. Dia pasti pergi ke apartment. Itu satu-satunya tempat yang bisa mami kamu tempati. Maaf kalau Papi tidak pernah bilang tentang apartment itu. Apartment itu adalah apartment peninggalan onty kalian yang dia berikan pada Papi sebagai hadiah pernikahan. Onty kalian memberikannya pada Opa tanpa Papi ketahui. Apartment itu dia berikan pada Opa di saat-saat terakhir hidupnya karena dia tau kalau hidupnya tidak akan lama lagi dan dia tidak bisa mengantar Papi menuju meja akad nikah seperti yang dia lakukan pada daddy Ziel dan papa Syahal ke meja akad nikah." jawab Dhana yang tersenyum getir mengingat hal itu.
"Onty Dhina sebaik itu pada Mami, bahkan sebelum Onty bertemu dengan Mami sekali pun. Tapi Mami... Mami malah bilang kalau Onty Dhina penyakitan di depan Papi." ujar Damar yang menghela nafas kasar.
Pak Aidi dan Bu Aini menghela nafas kasar, tak kalah sakit hati mendengar perkataan Damar yang sudah mereka dengar dari Dhana, bahwa Mala telah berani berkata buruk tentang Dhina. Sementara Aiziel, Syahal, Syahil, Rainar terlihat sangat terkejut mendengar kebenaran baru itu.
__ADS_1
"Kapan Anty Mala berani bicara buruk seperti itu tentang onty kita, Damar? Apakah dia tidak ada rasa utang budi, kalau tidak karena restu Onty Dhina, Uncle Dhana pun tidak akan mau menikah dengannya! Kalau Daddy dan Paklik tau, Anty Mala bisa habis! Anty Mala semakin keterlaluan!" serkas Aiziel yang emosi, tidak terima penghinaan untuk almarhumah Dhina.
"Tenang, Ziel! Tenangkan dirimu! Tenang, Nak!" ujar Pak Aidi yang mengusap punggung Aiziel.
"Uncle juga marah, Ziel. Tapi mau bagaimana lagi. Semuanya sudah terjadi. Anty-mu pulang dalam keadaan mabuk dan mengatakan hal itu. Kalau onty-mu melihat kamu emosi seperti ini pun, dia tidak akan suka, Nak. Tenang!!!" timpal Dhana yang menenangkan kearoganan Aiziel.
"Ziel, Syahal, Syahil... lebih baik kalian pulang ya, Sayang. Tadi daddy dan papa kalian titip pesan pada Oma untuk meminta kalian pulang. Biarkan Damar dan Wulan tenang dulu ya, Nak. Kalian mengerti maksud Oma, bukan?" timpal Bu Aini yang melihat ketiga cucu tampannya.
Aiziel terdiam, berusaha menenangkan emosi yang membuncah, tidak terima kalau onty-nya dihina bahkan dibilang penyakitan oleh orang lain, termasuk Mala. Beruntung saat ini Mala sudah pergi, kalau tidak entah apa yang akan dilakukan oleh putra sulung Ammar itu. Aiziel terdiam, sementara Syahal dan Syahil saling pandang. Mengangguk patuh seakan menuruti perkataan sang oma yang memang benar.
"Oma... Syahil minta maaf ya, atas tindakan Syahil tempo hari di rumah sakit. Syahil yakin pasti Opa dan Oma sakit hati saat mendengar perkataan kasar Syahil dan Mas Al." ujar Syahil yang menghambur, memeluk sang oma.
Bu Aini terkesiap, mendapat pelukan dadakan dari sang cucu kembarnya itu. Melirik Pak Aidi yang tersenyum seraya menganggukan kepala, seakan meminta sang istri memaafkan Syahil.
"Iya, Sayang. Oma sama Opa tidak pernah marah sama kamu, Nak. Kamu cucu Oma, mana mungkin Oma bisa marah sama kamu. Sekarang, kita jalani semuanya sama-sama. Bantu adikmu untuk membuka hati maminya dan bantu Oma untuk menyadarkan masmu, Aifa'al. Ya, Sayang?" tutur Bu Aini yang masih memeluk Syahil, mengusap punggungnya.
"Syahil janji, Oma. Syahil akan membawa Mas Al pulang ke rumah. Syahil janji." jawab Syahil.
"Oma percaya sama kamu, Sayang." ujar Bu Aini, melerai pelukan lalu mengecup hangat kening sang cucu kembar tersayang.
"Ya sudah Oma, Opa, Uncle. Kalau begitu Ziel dan si kembar pulang dulu ya. Jangan minta Ziel untuk diam lagi. Ziel akan memberitahu Daddy dan Mommy! Semuanya!!!" ujar Aiziel.
Kini tinggal Rainar. Sahabat Damar dan Wulan itu pun ikut beranjak dari duduknya, mendekati Pak Aidi dan Bu Aini yang sudah menganggap dirinya seperti cucu sendiri, sama seperti sang papa yang sudah dianggap anak oleh mereka.
"Opa, Oma, Om Dhana... kalau begitu Rainar juga pamit pulang ya. Biar Damar dan Wulan bisa lebih tenang." ujar Rainar yang berdiri di hadapan kedua paruh baya itu.
"Opa minta maaf ya, Nak. Padahal kita baru bertemu hari ini, tapi situasinya kurang baik. Opa masih kangen sama cucu Opa satu ini. Tapi kalau kamu maunya seperti itu, biar Opa antarkan pulang ya." jawab Pak Aidi seraya mengusap lembut kepala sang cucu angkat.
"Saat liburan nanti Rainar janji, akan sering main ke rumah Opa dan Oma. Tapi Rainar membawa motor, Opa. Jadi Opa tidak perlu repot-repot mengantar Rainar. Nanti Papa malah marah karena Rainar menyusahkan Opa." ujar Rainar seraya cengir kuda.
Suara kekehan renyah keluar begitu saja dari mulut Dhana, Damar, Wulan dan Bu Aini saat melihat tampang konyol Rainar. Suasana pun ikut berubah, Rainar sukses memancing gelak tawa semuanya yang berselimut kabut haru.
"Ya sudah, Opa titip salam untuk papa dan mama kamu ya Nak. Hati-hati bawa motornya! Jangan terlalu kencang! Kalau jatuh, bangun sendiri loh!" celetuk Pak Aidi yang menggoda Rainar balik.
"Siap Opa!!!" jawab Rainar seraya hormat.
Gelak tawa semakin bergema, Rainar senang melihat keluarga angkat sang papa kini sudah kembali ceria walaupun ia tidak tau, apakah keceriaan ini akan bertahan lama atau tidak.
"Damar, Wulan... aku pulang dulu ya. Terima kasih karena sempat mengajari pelajaran di sekolah yang tertinggal. Semoga kita bertiga bisa naik kelas dan satu kelas di kelas tiga ya." ujar Rainar yang menepuk keras bahu Damar.
__ADS_1
"Santai saja, Nar. Kalau begitu sampai jumpa besok di sekolah ya. Belajar yang benar, Bro! Jangan mikirin cewek terus." celetuk Damar.
"Ck!!! Kalau bukan saudara, sudah kudepak anak satu ini! Dasar menyebalkan!!!" celetuk Rainar yang mendengus kesal melihat Damar.
Seakan hiburan, kehadiran Rainar memang selalu bisa merubah suasana hati Damar dan Wulan. Suara kekehan Pak Aidi, Bu Aini dan Dhana kembali terdengar ketika menyaksikan percakapan receh keduanya. Setelah itu, anak bungsu Dokter Ronald itu pun pamit pulang.
"Ayah, Dhana dan Damar... lebih baik kalian istirahat ya. Biar Wulan di sini sama Ibu. Ibu akan mengobati luka merah di punggungnya terlebih dahulu." ujar Bu Aini yang melihat ke arah Pak Aidi, Dhana dan Damar, bergantian.
Ketiganya mengangguk patuh, seperti terkena hipnotis. Pak Aidi, Dhana dan Damar beranjak, keluar dari kamar Wulan, meninggalkan Wulan bersama dengan Bu Aini.
Hening. Wulan duduk termangu di tepi tempat tidurnya, memainkan buku-buku jari yang sejak tadi mengepal. Bu Aini tertegun, menatap lekat punggung sang cucu yang naik turun tak stabil. Diraihnya tubuh mungil itu, didekap sekuat dan seerat mungkin, berusaha menjadi tempat yang paling nyaman dan aman untuk sang cucu.
"Menangis lah, cucuku! Menangis lah!!! Oma ada di sini untukmu, Sayang!!!" tutur Bu Aini yang tercekat, menangis dan memeluk Wulan.
Menangis, Wulan benar-benar menangis sesegukan di dalam dekapan sang oma. Dekapan yang beberapa hari ini ia rindukan di saat tubuh mungilnya mendapatkan perlakuan buruk dari sang mami. Tubuh mungil yang rapuh, tubuh mungil yang menjerit kesakitan, tak sanggup menahan rasa sakit akibat siksaan sang mami. Namun sang pemilik tubuh mungil hanya bisa berpasrah diri, diam adalah caranya, walaupun meracau bahkan meraung sekali pun sang mami tidak akan menghiraukan itu.
"Ibu... Wulan..."
Hening sesaat. Hembusan semilir angin yang merembet masuk melalui celah-celah jendela begitu terasa, menusuk kulit, membangunkan bulu kuduk yang semula tertidur lelap. Tangis Wulan terhenti, terdengar suara seseorang di dalam kamarnya yang asing. Wulan melepas pelukannya, mendongak dan menatap Bu Aini yang tercengang. Walaupun usianya tidak lagi muda, namun indera pendengarnya masih bisa berfungsi dengan jelas. Menangkap suara itu, suara yang sangat familiar di telinganya sejak lama dan tak akan pernah bisa terlupakan.
"Kamu mendengar suara itu Sayang?" tanya Bu Aini yang menangkup wajah sang cucu kembar.
Wulan mengangguk cepat, mulai mengedar pandangan mencari pemilik suara lembut itu. Sama halnya dengan sang cucu, Bu Aini pun juga ikut mengedar, melihat sekeliling kamar yang dahulu menjadi kamar mendiang sang putri tercinta dan kini ditempati oleh cucunya.
"Dhina..."
Wulan terbelalak, menatap sang oma yang tertegun ke arah lain, menangkap sosok cantik bergaun dan berhijab putih berkilauan seperti batu permata. Wajahnya bersih, kedua sudut bibirnya terangkat sempurna hingga terbentuk sebilah bulat sabit tak kasat mata yang manis. Bu Aini termangu, sementara Wulan menoleh ke arah yang sama dengan tatapan sang oma.
"Aaaa... aaaaa..." (Onty Dhina)
.
.
.
.
.
__ADS_1
Happy Reading All 😇😇😇