
...🍁🍁🍁...
"Bagaimana Sayang? Makanan di Cafe Papi sangat enak, bukan?"
Setelah menjemput kedua anak kembarnya, Dhana langsung membawa mereka ke Cafe untuk makan siang bersama. Wulan yang terlihat sangat senang pun mengangguk saat lidahnya menyentuh makanan yang dibuatkan khusus oleh chef Cafe sang papi. Begitu juga dengan Damar yang tak kalah antusias untuk memakan semua menu makan siang hari ini.
"Makanan di sini paling best lah pokoknya, Pi. Kenapa sih tidak setiap hari Papi membawa kami ke sini? Papi takut bangkrut ya?" cercah Damar yang tergelak melihat sang papi.
"Kamu ini ada-ada saja, Nak. Mana mungkin Papi takut bangkrut hanya karena mengajak kalian makan siang setiap hari di sini." jawab Dhana seraya menggelengkan kepalanya.
"Bisa saja, Pi..." ujar Damar yang terkikik.
Dhana pun menggelengkan kepalanya melihat tingkah Damar. Sementara Wulan yang sejak tadi asyik berkutat dengan sendok pun juga dibuat terkikik melihat tingkah sang kembaran.
"Besok kalian masih sekolah?" tanya Dhana yang membuka pembicaraan lagi.
"Besok hari terakhir, Pi. Sebelum ujian naik kelas dimulai minggu depan." jawab Damar.
"Lalu persiapan kalian bagaimana? Apa perlu Papi datangkan guru private untuk membantu kalian belajar lebih maksimal?" tanya Dhana.
"Tidak perlu, Pi. Lagi pula Adek 'kan ada yang akan menjadi guru private Damar buat belajar." jawab Damar seraya menoleh ke arah Wulan.
Jawaban Damar dibalas senyuman manis yang disertai dengan anggukan cepat oleh sang adik, membuat Dhana dan Damar ikut tersenyum.
"Oh iya, Papi cerita dong tentang Onty Dhina. Tiba-tiba Damar rindu mendengar cerita Papi tentang Onty. Apa Papi dan Onty juga sering makan di luar seperti ini bersama Opa?" ujar Damar seraya menikmati makanannya.
"Hmmm, kalau Papi dan Onty makan siang di luar, kami tidak pernah pergi dengan Opa atau Oma. Tapi Papi hanya pergi berdua saja, naik motor seperti orang berkencan." jawab Dhana yang melihat kedua anak kembarnya.
"Ih, Papi bucin!!!" sungut Damar.
Gelak tawa Dhana dan Wulan seketika pecah bersamaan saat mendengar perkataan Damar. Sesaat memori tentang kenangan bersama sang adik kembali berputar di kepala Dhana, dan membuatnya berhenti menikmati makan siang lalu memperhatikan kedua anaknya itu. Pikiran Dhana pun menerawang jauh, melihat Damar dan Wulan yang menjadi cermin untuk dirinya sendiri.
"Papi kenapa diam saja? Makanannya tidak dihabiskan?" tanya Damar yang merasa heran.
"Melihat kalian seperti ini, Papi seperti sedang bercermin. Damar Wulan mirip sekali dengan Dhana Dhina. Papi jadi merindukan onty kalian." jawab Dhana yang mengambil kembali sendok makannya dan lanjut makan siang.
"Kalau Onty Dhina masih hidup, pasti beliau sayang banget sama kita. Iya 'kan Dek?" ujar Damar seraya menyikut lengan sang adik.
Wulan yang menoleh ke arah mas kembarnya pun mengangguk seraya mengulas senyum. Sementara Dhana hanya tersenyum getir saat menikmati kembali makan siangnya. Pikiran Dhana menerawang lagi ketika teringat dengan kejadian di rumah sakit sebelum ia menjemput Damar dan Wulan ke sekolah.
Onty kalian pasti sangat menyayangi kalian, Sayang. Tapi onty kalian pasti sedang sedih saat ini karena melihat kalian, Ziel, Al, Syahal dan Syahil sedang tidak akur. Papi pun juga sedih melihat sikap Al dan Syahil yang tidak menyukai Wulan. Karena itu, antara Ziel, Al bahkan Syahal dan Syahil menjadi tidak akur. Papi bingung harus berbuat apa, Nak. Gumam Dhana dalam hati.
Melihat sang papi yang kembali diam dan melamun, membuat Damar dan Wulan saling melempar pandangan heran. Sejak tadi sang papi terlalu sering melamun seakan sedang memikirkan suatu beban berat di kepalanya.
"Papi....." ujar Damar seraya menggoyang tangan sang papi yang tengah termenung.
"Ah iya, Nak. Maaf Papi melamun lagi ya. Gara-gara kamu minta cerita tentang Onty Dhina, membuat pikiran Papi tertuju padanya." jawab Dhana yang terkejut dan lanjut makan.
"Nah kalau begitu kita bicara hal lain saja, Pi. Kebetulan ada sesuatu yang ingin Damar katakan pada Papi." ujar Damar yang merogoh sesuatu di dalam tasnya.
__ADS_1
Dahi Dhana mengeryit heran tatkala melihat sang putra yang tengah mengambil sesuatu di dalam tasnya. Sementara Wulan yang sudah mengetahui apa yang ingin disampaikan oleh sang mas kembar, hanya tersenyum simpul.
"Papi setuju 'kan kalau Damar ikut mendaftar untuk menjadi ketua osis di sekolah?" tanya Damar seraya memperlihatkan secarik kertas formulir pada sang papi.
"Kamu ingin menjadi ketua osis Nak?" tanya Dhana ulang untuk memastikan lagi.
"Iya, Pi. Itu formulir copiannya, sedangkan yang aslinya sudah Damar serahkan ke pembina di saat jam pelajaran terakhir. Pendaftaran untuk ketua osis akan berakhir besok. Di saat ujian naik kelas dimulai, di saat itu pula para calon ketua osis yang lolos seleksi akan diberi kebebasan untuk mensosialisasikan diri secara mandiri melalui media sosial maupun aplikasi sendiri, Pi." tutur Damar yang memberikan penjelasan.
"Kenapa Papi merasa ada yang berbeda ya dengan pemilihan ketua osis di zaman Papi dulu?" tanya Dhana yang melihat keduanya.
"Memang berbeda, Pi. Bahkan sangat berbeda dari periode sebelumnya. Pemilihan yang kali ini spesial dan Damar harus bisa menjadi ketua osis!!!" jawab Damar yang penuh semangat.
"Spesial? Maksud kamu spesial apa Damar?" tanya Dhana yang dibuat semakin penasaran.
Sesaat Damar pun menoleh dan tersenyum ke arah sang adik yang ikut tersenyum ke arahnya. Lalu Damar menghela nafas panjang seraya mengumpulkan tenaga untuk menceritakan semuanya pada sang papi. Karena ia merasa, saat ini waktu yang tepat untuk menceritakan niat terpendamnya selama ini pada sang papi.
"Pembina osis mengadakan sayembara, Pi. Bagi siapa saja yang berhasil menjadi ketua osis di periode selanjutnya, maka ketua osis diberi kebebasan untuk merekomendasikan salah satu siswa atau siswi yang berbakat dalam bermain alat musik. Siswa/i yang terpilih itu akan menjadi pemain musik di acara festival kelulusan nanti tanpa harus melakukan tes. Dan yang paling Damar suka adalah rewards dari festival itu, Pi. Ketua osis yang berhasil mendapatkan satu saja siswa berbakat, maka ketua osis dan siswa yang terpilih itu akan mendapat rewards berupa beasiswa untuk masuk ke SMA Jaya Mandiri tanpa di tes lagi serta beasiswa untuk melanjutkan study ke luar negeri sesuai bakat minat kita. Bagaimana keren sekali, bukan?" cercah Damar yang panjang kali lebar kali tinggi dengan semangatnya.
Tercengang, seperti itulah ekspresi Dhana tatkala mendengar penuturan sang putra. Pasalnya ia tidak pernah mendengar adanya pemilihan ketua osis yang sangat meriah seperti itu, bahkan sampai menjamin dan memberikan beasiswa pada ketua osis yang menjabat hingga ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Sungguh, Dhana dibuat terkejut dengan semua cerita Damar.
Berbeda dengan Wulan yang tampak berbinar mendengar penjelasan mas kembarnya itu. Ia tidak bisa membayangkan, betapa beruntung dirinya jika Damar benar-benar berhasil dalam ajang pemilihan ketua osis periode ini. Wulan sangat berharap, dengan cara seperti ini ia bisa membuka hati sang mami dan membuat sang mami bangga memiliki putri seperti dirinya.
"Kamu serius? Pemilihan ketua osis seperti ini tidak pernah ada loh di masa Papi dulu. Kamu yang benar saja, Nak. Jangan-jangan ini hanya sekedar penyemangat agar kalian ikut serta!!! Lagi pula menjadi ketua osis itu sibuk dengan kegiatan. Nanti kamu ketinggalan pelajaran!!!" ujar Dhana yang malahan terlihat ragu-ragu.
"Tidak, Pi. Ini serius!!! Bahkan Ibu kepala sekolah sendiri yang menyampaikan hal itu pada kami semua di saat upacara kemarin." jawab Damar yang meyakinkan sang papi.
"Papi... Papi kenapa melamun terus sih? Papi lagi ada masalah besar ya? Masalah dengan Mami lagi?" ujar Damar seraya meraih tangan sang papi yang melamun lagi.
"Papi khawatir sama kamu, Damar! Pasti akan banyak siswa/i yang mengikuti ajang acara itu. Kamu akan punya banyak lawan, Nak!!!" jawab Dhana yang berusaha meyakinkan sang putra.
"Itu bukan masalah untuk Damar, Pi. Memang akan banyak lawan, bahkan musuh sekaligus. Tapi Damar bisa kok menghadapi mereka, Pi. Papi harus percaya sama Damar. Damar ingin membuat satu kejutan besar untuk Papi dan Mami di acara festival kelulusan Damar nanti." ujar Damar yang meyakinkan sang papi lalu menoleh ke arah Wulan.
Dhana pun menghela nafas kasar, entah harus mengalah atau terus berusaha membujuk sang putra untuk tidak mengikuti acara itu. Namun Dhana yang tau betul dengan karakter putranya itu pun akhirnya memilih untuk mengalah saja. Hanya akan menjadi sebuah kesia-siaan kalau Dhana tetap kekeuh membujuk Damar.
***
"Sayang... kamu tidak apa-apa 'kan?"
Sepulang dari rumah sakit dan mengantarkan Ammar pulang ke rumahnya bersama Ibel, Bu Aini, Pak Aidi dan Aiziel, kini Sadha dan Vanny pun juga sudah sampai di rumah mereka.
Melihat sang istri yang termenung dan diam selama di perjalanan pulang, membuat Sadha khawatir. Sejak pertengkaran singkat di depan rumah sakit tadi, raut wajah Vanny terlihat tidak baik dan selalu memijat pelipisnya. Sepertinya Vanny sangat stress menghadapi sikap sang putra kembar yang semakin tidak terkendali.
Seraya memapa sang istri berjalan masuk ke dalam rumah, Sadha yang cemas pun melirik Vanny. Namun yang lirik masih terlihat sedih dan masih bungkam, tidak ingin bicara. Lalu Sadha membawa Vanny masuk ke kamarnya agar bisa beristirahat dan menenangkan hati dan pikiran yang kacau karena ulah putranya.
"Aku ambilkan minum dulu ya. Kamu duduk seraya bersandar lah!!! Biar kamu bisa lebih tenang." tutur Sadha yang membantu Vanny bersandar di headboard tempat tidurnya.
Vanny yang terlihat kacau hanya mengangguk pasrah, tidak ada senyuman ceria di wajahnya nan masih terlihat sangat cantik itu. Di usianya yang sudah menginjak kepala empat saat ini, tidak sedikit pun merubah kecantikan Vanny. Namun karena masalah yang datang, kali ini Vanny terlihat sangat frustasi dan pusing.
Tidak berselang lama, Sadha pun kembali seraya membawakan segelas air mineral. Bergegas Sadha duduk di tepi tempat tidur, menyodorkan segelas air mineral pada sang istri tercinta. Vanny pun meminumnya dan berharap setelah minum pikirannya akan jauh lebih tenang.
__ADS_1
"Terima kasih Mas..." ujar Vanny.
"Tidak perlu berterima kasih, Sayang. Aku suami kamu dan sudah seharusnya aku merawat dan menjaga istriku sendiri." jawab Sadha seraya meletakkan gelas minuman di atas nakas.
Seutas senyum pun timbul di bibir Vanny dan memancing senyum Sadha yang ikut merekah.
"Kamu jangan terlalu memikirkan Syahil. Dia sudah dewasa, dia tau mana yang baik dan mana yang buruk untuk dirinya. Syahil hanya butuh waktu untuk menenangkan diri." tutur Sadha seraya menggenggam tangan Vanny.
"Tapi aku takut Syahil salah langkah, Mas. Sekarang ini dia sedang cemburu karena semua perhatian kita tertuju pada Wulan. Aku takut dia terpengaruh pergaulan bebas di luar sana. Apalagi dia tidak sendiri, ada Al. Kamu tau sendiri 'kan bagaimana kerasnya Al?" ujar Vanny yang menatap lekat manik sang suami.
"Kamu tenang saja ya, Sayang. Tanpa Al dan Syahil ketahui, aku dan Mas Ammar sepakat untuk memasang kamera CCTV tersembunyi di dalam apartment Al. Sebenarnya semua ini ide Mas Ammar yang sudah sejak lama menyadari perubahan sikap Al, dan kebetulan Al sering mengajak Syahil ke sana untuk menginap jika Al sedang bertengkar dengan Ziel. Jadi kamu tidak perlu khawatir lagi. Kapan pun aku, Mas Ammar dan kita semua bisa melihat keadaan mereka di sana dengan kamera CCTV itu." ujar Sadha yang memberitahu Vanny.
Vanny menghela nafas lega saat mendengar penjelasan Sadha. Seketika raut wajah Vanny yang tadinya murung, menjadi lebih tenang. Setidaknya sudah ada tindakan dari Ammar dan Sadha untuk menangani masalah kedua putra mereka itu. Melihat Vanny yang terlihat sudah tenang membuat Sadha ikut tenang.
"Assalamualaikum..."
Sadha dan Vanny saling melempar pandang tatkala terdengar suara bariton yang sangat lantang menyeruak ke langit-langit rumahnya itu. Vanny yang sangat mengenali suara itu hendak beranjak namun Sadha mencegahnya.
"Biarkan saja dia ke sini!" ujar Sadha yang tersenyum seraya meraih tangan sang istri.
Vanny pun menurut. Dan benar saja dengan yang dikatakan oleh saja, tidak berselang lama sang pemilik suara bariton itu menyembulkan kepalanya masuk ke dalam kamar mereka.
"Assalamualaikum Pa, Ma..."
"Wa'alaikumsalam Sayang... kamu baru pulang dari kampus? Kenapa telat?" jawab Vanny yang tersenyum pada pemilik suara bariton itu.
"Maaf ya, Ma. Tadi Syahal ada jam kuliah tambahan dan Syahal lupa memberitahu Mama dan Papa." jawab si pemilik suara yang ternyata Syahal, kakak kembar Syahil.
Bak pinang dibelah dua, Syahal dan Syahil yang terlahir sebagai anak kembar identik memang tidak diragukan lagi kemiripan keduanya. Tapi semirip apa pun wajah Syahal dan Syahil, sifat mereka tetap saja berbeda. Syahil yang terlihat dingin, cuek dan keras kepala sangat berbeda jauh dengan Syahal. Putra kembar Sadha dan Vanny yang satu ini sangat lembut dan selalu menuruti apa pun yang dikatakan kedua orang tuanya.
Sebenarnya saat mereka masih kecil, Syahal maupun Syahil merupakan sosok anak kembar yang sangat baik dan sering dijadikan panutan karena kekompakan mereka. Namun seiring berjalannya waktu dan pertambahan usia, sifat Syahil berubah menjadi sangat keras dan selalu bertentangan dengan Syahal. Perubahan itulah yang membuat dua anak kembar yang awalnya selalu kompak, menjadi tidak akur dan sering bertengkar. Ditambah lagi dengan kehadiran Wulan yang semakin menarik perhatian Syahal hingga Syahil merasa tersisihkan oleh saudara kembarnya sendiri.
"Lebih baik kamu masuk ke kamar, Syahal. Mandi lalu istirahat!!!" timpal Sadha seraya mengusap lengan sang putra yang duduk di dekatnya.
Alih-alih melakukan apa yang sang papa perintahkan, dahi pria yang wajahnya sangat mirip dengan Syahil itu malah mengeryit. Ia tatap lekat wajah kedua orang tuanya itu dan sukses membuat Sadha dan Vanny saling melempar pandangan heran.
"Papa sama Mama habis bertengkar lagi dengan Syahil?"
.
.
.
.
.
Happy Reading All 😇😇😇
__ADS_1