
...☘️☘️☘️...
"Rumi... buka pintunya, Dek!"
Malam yang sunyi menyelimuti kediaman Bram. Bukannya mengistirahatkan tubuh, lelaki yang sudah berkepala empat namun tak pernah sekali pun merasakan indahnya pernikahan itu justru menghampiri kamar sang adik yang telah tertutup.
Tok!
Tok!
Tok!
Untuk kesekian kalinya Bram mengetuk pintu, namun untuk ke sekian kalinya pula Rumi tidak menjawab sahutannya dari dalam, atau bahkan bergegas membukakan pintu kamarnya. Membuat hati Bram didera kegelisahan, takut jika kondisi sang adik kembali drop dan berakhir pingsan seperti tadi.
"Rumi...! Buka pintunya! Kamu harus minum obat, Dek!"
Tak menyerah! Bram terus menggedor pintu kamar Rumi, hingga tersadar lah dirinya, bahwa kamar adiknya itu tidak pernah terkunci sejak Rumi masuk ke dalamnya, membuat Bram gusar seketika.
Brak!
Dengan satu kali hantam saja pintu kamar yang tidak bersalah itu akhirnya berhasil Bram buka secara paksa, menuntunnya untuk bergegas masuk, memastikan keberadaan sang adik yang tidak memberikan jawaban apapun saat dirinya berusaha mengetuk pintu sejak tadi.
"Rumi..."
Bram terbelalak, mendapati kamar sang adik yang porak-poranda, berantakan hingga semua bantal bahkan selimut di kamar itu bertebaran di mana-mana. Bram mengedar, mencari keberadaan sang adik hingga ke kamar mandi tanpa menghiraukan betapa berantakan kamar sang adik yang ia tinggal beberapa menit hanya untuk menyiapkan obat.
"Rumi... kamu di mana, Dek! Rumi...!"
Sahutan demi sahutan mulai bergema lantang tak terkendali di kediaman Bram. Tak mengindahkan rembulan malam yang sedang nyenyak dalam tidurnya. Mungkin para makhluk dunia malam pun ingin mengajukan protes pada lelaki itu karena kepanikannya, mencari keberadaan Rumi yang entah berada di mana saat ini dengan suara baritonnya yang keras.
"Rumi... kamu di mana? Jawab Kakak, Dek!"
Seluruh penjuru rumah telah Bram telusuri, berharap sang adik berada di suatu tempat yang pastinya masih di sekitar rumah. Namun titik terang keberadaan Rumi tak kunjung Bram temukan, membuat lelaki itu semakin panik dan gusar.
Degh!
Langkah kaki yang dibawa Bram terus mencari keberadaan sang adik di kediamannya kini terhenti tepat di depan jendela kamar Rumi, menuntun kepalanya menoleh ke sana, hingga mata terbuka lebar saat mendapati sesuatu yang membuatnya merasa ganjal. Perlahan tangan Bram menyentuh jendela itu, membuatnya sadar kalau ada seseorang yang telah membuka jendela kamar sang adik dari luar menggunakan benda tajam.
Degh!
Jantung yang semula berpacu hebat seakan berhenti, mata yang semula sendu mendadak tajam, tangan yang masih menyentuh daun jendela itu seketika mengepal kuat. Raut wajah Bram berubah seketika, tampak menahan amarah yang siap meledak, seperti Gunung Simeru yang memuntahkan larva panas ke permukaan bumi dan membunuh siapa saja yang berada di sekitarnya tanpa harus memandang bulu.
Drrrrttt!
Bram terlonjak, ketika amarah sedang membuncah seperti sekarang tiba-tiba saja ada yang ingin mengganggunya. Membuat Bram mendengus, berusaha mengesampingkan kekhawatirannya pada sang adik saat ini untuk menerima telepon yang entah dari siapa. Namun dengusan amarah yang sempat menguap kini terdengar kembali, ketika mata melihat dengan sangat jelas nama si penelpon itu, hingga Bram yakin bahwa hilangnya Rumi ada hubungannya dengan sosok itu.
"Hallo..." ucap Bram, berusaha tenang.
"Akhirnya ponselmu aktif juga, Bram!"
"Maaf Tuan, saya lupa mengisi baterai ponsel saya karena saya sedang sibuk merawat adik saya di sini." jawab Bram, tentu saja berbohong untuk menutupi tindakannya dari sang tuan.
"Tidak perlu minta maaf, Bram. Saya tau, kamu adalah sosok seorang kakak yang sangat baik untuk adik kesayangan kamu itu. Saya bisa memakluminya."
"Terima kasih banyak, Tuan. Maaf, jika saya masih belum bisa kembali ke sana dalam waktu dekat, karena saya harus mengurus adik saya yang sedang sakit." jawab Bram, tetap tenang kendati hati berkata lain saat bicara dengan orang itu.
"Ohh, jadi adikmu masih sakit ya? Tapi kenapa yang saya lihat sekarang, dia terlihat sangat sehat? Bahkan saat ini dia terlihat bersemangat, meronta-ronta di depan saya, meminta saya untuk melepaskannya dan mengembalikannya?"
Bram memicing sesaat, helaan nafas beratnya seakan menggambarkan bahwa dugaannya tidak pernah meleset, Sang tuan lah yang telah menculik adiknya di saat ia lengah, entah bagaimana caranya Bram tidak peduli, karena tidak ada gunanya juga memikirkan rencana orang sejahat tuannya yang selalu memiliki cara untuk mendapatkan keinginannya.
"Lepaskan adik saya, Tuan!" seru Bram, berusaha tenang.
"Hahahaha... inilah akibatnya, jika kamu berani menusuk saya dari belakang! Kamu pikir, saya bodoh? Tidak, Bram!"
Penuturan Gibran membuat Bram mengerti, bahwa sang tuan majikannya saat ini telah mengetahui tindakannya, menolong Wulan dari Dimas and the geng, lalu mengantar gadis kecil itu kembali ke rumah orang tuanya dengan selamat tanpa ada kekurangan satu pun. Bram semakin yakin bahwa sang tuan telah menghubungi Dimas, hingga terkuak lah tindakannya.
"Adik saya tidak tau apa-apa, Tuan! Saya harap Tuan tidak berniat untuk memancing emosi saya! Selama ini saya selalu menuruti apa yang Tuan mau, melakukan semua yang Tuan perintahkan walaupun kejahatan sekali pun! Saya mohon, jangan Tuan apa-apakan adik saya! Dia tidak bersalah!!!" tutur Bram, berusaha untuk tetap menghormati sang tuan.
"Justru karena adikmu inilah kamu jadi menusuk saya, Bram!!! Dan dia, harus membayar semua kekacauan ini!"
Bram mendengus samar, mengusap kasar kepalanya yang semula bisa ia bawa tenang, namun tidak dengan sekarang, setelah mengetahui bahwa Rumi berada di tangan sang tuan.
"Seharusnya kamu berpikir panjang terlebih dahulu, sebelum melakukan tindakan bodoh yang jelas-jelas sudah melenceng dari semua rencana saya! Saya kecewa sama kamu, Bram!"
__ADS_1
"Tolong lepaskan adik saya, Tuan!"
"Tidak! Karena adik kamu, kamu jadi berani melawan saya! Karena adik kamu, rencana saya jadi berantakan! Dan karena adik kamu, kamu jadi lemah! Kamu saya pecat hari ini juga!"
"Tapi Tuan, tolong..."
Belum selesai Bram menjawab, dengan seenak jidatnya Gibran langsung memutus sambungan telepon. Bram mendengus, memukul daun jendela kamar sang adik yang masih terbuka itu dengan kerasnya.
"Tuan Gibran... jika sampai terjadi sesuatu pada adik saya, maka saya sendiri yang akan mengantarkan anda ke neraka!"
Bulir peluh dingin dan air mata jatuh bersamaan di wajah Bram, rasa bersalah pada sang adik kini datang menyelimuti, membuatnya menyesal. Secara tidak langsung Bram telah melibatkan sang adik ke dalam pekerjaan kotornya, hingga kini jiwa Rumi pun ikut terancam karena kecerobohannya.
"Aku harus ke rumah Pak Dhana! Pak Dhana pasti bisa membantu saya menyelamatkan Rumi dari tangan Gibran!"
***
"Kenapa kamu baru mengatakan semua ini sekarang Mas?"
Tangis pilu Mala yang menggugu ketika mendengar cerita sang suami tentang Imam, perlahan mereda. Masih tidak percaya kalau Imam benar-benar sudah tiada, bahkan saat dirinya sedang sakit, membuat Mala terkejut dan terpukul.
"Aku minta maaf, Sayang. Aku tidak bermaksud untuk menutupinya darimu, tapi aku sedang berusaha mencari waktu yang tepat untuk memberitahumu tentang Imam." jawab Dhana, menggenggam erat tangan sang istri.
"Tapi aku belum sempat meminta maaf padanya, Mas. Aku juga banyak salah pada Imam. Kenapa dia harus menderita penyakit yang berbahaya seperti itu? Kenapa dia tidak mau berobat?" tutur Mala, air matanya mengalir tanpa henti.
"Mungkin memang sudah jalan Imam seperti itu, Sayang. Bahkan Mas Ammar juga sudah berusaha membujuknya untuk melakukan kemoterapi, tapi Imam tetap menolaknya." jawab Dhana yang berusaha menenangkan hati sang istri.
"Sudahlah, Sayang. Semua ini sudah terjadi dan ikhlaskan Imam. Biarkan dia bahagia bersama Dhina di surga Allah." timpal Bu Aini, ikut menenangkan sang menantu.
"Karena yang penting saat ini adalah Adek, Mi. Kita harus mencari Adek." timpal Damar, tidak tega melihat air mata sang mami mengalir terus karena terpukul.
"Putramu benar, Nak. Kita harus menyelesaikan masalah Gibran secepatnya, jika memang benar dia yang menculik putrimu." timpal Pak Aidi, berusaha menyemangati Mala.
"Tidak salah lagi, Opa. Siapa lagi yang memiliki rencana jahat untuk menculik Adek selain lelaki tua bangka itu!!!" timpal Syahil, menahan diri untuk tidak geram tapi susah.
Dhana menghela nafas panjang, berusaha menenangkan pikirannya yang tengah kacau dan gelisah memikirkan nasib sang putri saat ini. Namun sebagai seorang ayah, ia dituntut untuk tetap tenang dalam menghadapi apapun masalah yang menimpa keluarga kecilnya, dan melindungi semuanya juga.
"Assalamualaikum..."
"Wa'alaikumsalam..."
"Dhana... benarkah Wulan hilang?" tanya Ammar, panik.
"Mas tau dari mana?" tanya Dhana balik seraya beranjak.
"Maaf Uncle, Al yang sudah memberitahu Mas Ziel." ujar Aifa'al yang menimpali, masuk kembali setelah izin keluar.
"Jadi benar Dhana?" tanya Ibel, tak kalah panik.
"Iya, Kak. Wulan hilang dan kamarnya dibobol orang. Kami semua menduga, kalau Gibran lah pelakunya." jawab Dhana.
"Lalu kenapa kamu masih diam di sini Dhana?" pungkas Vanny, panik namun lebih panik melihat ketenangan Dhana.
"Iya, Uncle. Kenapa Uncle masih ada di sini? Uncle tidak khawatir Adek hilang?" timpal Aiziel, sama seperti Vanny.
"Tidak hanya Wulan yang hilang tapi Cafe mendiang Adek juga kebakaran. Dhana bingung sekarang harus bagaimana." ujar Dhana, terduduk lagi seraya mengusap gusar wajahnya.
"Apa? Cafe Adek kebakaran?" sahut Sadha, tak percaya.
"Iya Mas. Tadi Pak Dewa yang memberitahu Dhana." jawab Dhana, menundukan kepalanya yang terasa sangat berat.
"Kita bagi tugas saja, Uncle!" timpal Aifa'al.
"Bagi tugas? Maksudmu apa Nak?" tanya Pak Aidi.
"Uncle, Paklik dan Daddy mengurus Cafe Onty Dhina yang kebakaran terlebih dahulu. Biar masalah Adek, Al yang akan menyelesaikannya." terang Aifa'al, sesuai keinginannya yang tertahan, ingin menghabisi Gibran dengan tangannya sendiri.
"Uncle tidak setuju!" pungkas Dhana yang berdiri kembali.
Aifa'al mendengus berat, berusaha ingin mengelabui sang uncle dengan rencananya yang jelas-jelas akan mendapat penolakan dari semuanya, sedangkan tangannya saat ini sudah sangat gatal, ingin memberikan pelajaran terbaik untuk orang yang sudah berani menyakiti adik perempuannya itu.
"Tapi Syahil setuju dengan usulan Mas Al, Uncle." timpal Syahil yang menoleh ke arah sang mas.
"Itu memang maunya kalian! Bude tidak setuju!" pungkas Ibel, menatap Syahil yang justru membela saran putranya.
__ADS_1
"Tapi Bude..."
"Mama setuju dengan usul budemu, Syahil! Mama juga tidak setuju, jika kalian yang menghadapi psikopat berdarah dingin itu!" timpal Vanny, melihat putra-putranya yang keras kepala.
"Lalu kita harus bagaimana lagi Bulik? Kita harus bergerak cepat, sedangkan kita tidak tau ke mana si tua bangka itu membawa Adek pergi!" ujar Aifa'al, tidak bisa sabar lagi.
"Uncle sendiri yang akan mencari adik kalian! Kalian semua di sini saja. Masalah ini berawal dari masa lalu istri Uncle, jadi Uncle lah yang harus mengakhiri semuanya sendirian!" jawab Dhana, meyakinkan tekad yang memang sudah kuat.
"Aku akan ikut, Mas! Karena aku, kamu dan keluarga besar kita menjadi korban kegilaan lelaki itu! Dia dendam padaku. Aku juga harus menyelesaikannya, dan membawa putri kita kembali ke rumah ini dengan selamat." timpal Mala, tegas.
"Mas akan menemani kamu, Dhana! Mas juga akan ikut!" timpal Sadha, tak ingin membiarkan sang adik pergi sendiri.
"Tidak perlu, Mas. Dhana tidak ingin membahayakan Mas. Mas Sadha dan Mas Ammar cukup bantu Dhana mengurus Cafe Adek yang terbakar. Masalah ini biar Dhana dan Mala yang akan menyelesaikannya." tutur Dhana, meyakinkan Sadha.
"Tidak, Dhana! Mas tidak akan membiarkan kamu pergi sendiri bersama Mala! Kamu lupa, waktu itu kamu hampir meregang nyawa karena ulah Gibran yang gila! Kamu hampir mati ditabrak kereta api! Apa kamu ingin mengulangi itu lagi? Dan membuat kami semua kehilangan kamu? Iya?" tandas Sadha, geram melihat tekad sang adik yang terlalu kekeuh.
Dhana terdiam, membenarkan perkataan mas tengahnya, mengingatkan kejadian nahas yang hampir membuatnya bertemu dengan sang adik kembar di alam baka keabadian. Namun berkat keberanian putrinya, Dhana berhasil selamat dari maut yang ingin menjemputnya atas keinginan Gibran.
"Dhana... Sadha ada benarnya. Jika kamu pergi bersama Mala, tidak hanya Wulan yang harus kamu lindungi tapi istrimu juga! Begini saja Nak, pergilah bersama Ammar, Sadha dan Mala! Dengan begitu, tanggung jawabmu tidak terlalu besar untuk menjaga dua wanita yang kamu sayang ketika berhadapan dengan Gibran! Biar Ayah yang akan mengurus masalah Cafe adikmu di sini. Ayah akan minta bantuan Ziel, Al, Syahal dan Syahil." tutur Pak Aidi yang menengahi perdebatan kedua putranya.
"Itu berarti Damar boleh ikut dengan Papi, Opa?" timpal Damar, merasa namanya tak disebut oleh sang opa untuk mengurus Cafe sang onty yang mengalami kebakaran.
"Tidak, Sayang. Tidak ada cucu-cucu Oma yang boleh ikut dengan papi kamu! Bahaya! Oma tidak ingin kamu celaka!" pungkas cepat Bu Ain, mematah keinginan Damar.
Damar menghela panjang, mengutuki dirinya sendiri yang ingin sekali menyelamatkan sang adik dari cengkraman gila seorang psikopat seperti Gibran, namun ditolak oleh sang oma. Membuat Syahal-Syahil mengusap bahunya serentak, berusaha menenangkan kegelisahan hati Damar.
"Opa... kalau boleh, Ziel ingin ikut bersama Daddy, Paklik dan Uncle untuk menyelamatkan Adek. Bukan bermaksud lain. Tapi Ziel yakin, di sana Gibran pasti tidak sendiri. Dan Daddy, Paklik maupun Uncle pasti membutuhkan generasi muda seperti Ziel." ujar Aiziel, berusaha membujuk opanya.
"Ziel... Mommy tidak ingin kamu celaka, Nak. Mommy tidak ingin kejadian yang terjadi pada Al, juga terjadi pada kamu!" timpal Ibel.
Perkataan Ibel disambut anggukan oleh Vanny. Setelah mendengar semua cerita dari suami mereka masing-masing tentang kejadian yang hampir menimpa Wulan, namun berakhir menimpa Aifa'al, membuat keduanya khawatir. Tidak ingin lagi jika anak-anak mereka terlibat langsung masalah dengan orang seperti Gibran yang sangat berbisa.
"Mommy, Oma, dan Bulik tenang saja. Ziel janji akan baik-baik saja. Ziel akan menjaga Daddy, Paklik, Uncle dan Anty. Ziel juga akan membawa Adek kembali ke rumah ini." ujar Aiziel, meyakinkan sang mommy, oma dan buliknya.
Pak Aidi terdiam, berusaha menimbang permintaan cucu sulungnya. Bagaimana pun juga pemikiran anak muda seperti Aiziel bahkan Aifa'al dan Syahal-Syahil, memang sangat dibutuhkan dalam menjalankan rencana dadakan seperti ini. Namun karena Aifa'al sedang terluka kakinya, sedangkan Syahal-Syahil tak cukup jago dalam ilmu bela diri mereka, dan Damar masih terlalu muda, menjadikan peluang besar bagi Aiziel untuk maju selangkah, berdiri di depan sebagai pemegang tombak perperangan yang akan terjadi malam ini.
"Opa akan mengizinkan jika mommy, oma, dan bulik kamu mengizinkan juga. Kalau tidak, Opa pun tidak bisa memberi izin padamu Ziel." ujar Pak Aidi, melihat Bu Aini, Ibel dan Vanny.
Aiziel menoleh, menatap lekat sang mommy yang gamang, lalu beralih pada sang oma yang juga demikian, dan beralih pada sang bulik yang tak kalah gamang melepasnya ikut. Sementara Aifa'al, Syahal-Syahil dan Damar menghela pasrah. Tidak punya pilihan lain, selain mengikuti perintah sang opa yang mutlak dan tidak bisa diganggu gugat lagi.
"Tapi kamu harus janji, kamu harus hati-hati!" seru Ibel.
"Do'a Oma akan menyertaimu, Sayang!" timpal Bu Aini.
"Cepat kembali dan bawa adikmu pulang ya, Nak!" ujar Vanny.
"Siap, Mommy! Terima kasih, Oma! Pasti, Bulik!" jawab Aiziel, tersenyum lega setelah mendapatkan izin semuanya.
"Ayo kita berangkat sekarang!" seru Ammar.
"Ayo Mas...!" jawab Sadha dan Dhana serentak.
Ammar, Sadha, Dhana, Mala dan Aiziel beranjak, berjalan keluar dari kamar Dhana. Diikuti Pak Aidi, Bu Aini, Ibel, Vanny, Aifa'al, Syahal-Syahil dan Damar, mengantarkan mereka keluar sampai ke gerbang, melihat mereka pergi, menyelamatkan Wulan dari kegilaan Gibran yang saiko.
"Pak Dhana...!"
Mobil Ammar yang hendak melaju harus terhenti kembali, membuat semua orang terperangah, melihat Bram yang tiba-tiba datang dan menghadang mobil Ammar yang ingin keluar. Dhana pun menghambur keluar. Disusul Ammar, Sadha, Mala dan Aiziel. Begitu pula Pak Aidi, Bu Aini, Ibel, Vanny dan anak-anak yang tak kalah ingin tau, kenapa Bram bisa muncul seperti ini.
"Ada apa Pak Bram?" tanya Dhana, heran.
Bram terengah-engah, berusaha menenangkan kekhawatirannya terhadap sang adik yang entah ada di mana saat ini, kendati ia datang dengan mobil namun sesak yang mendera pernafasannya tidak mampu ia tampik. Sementara semuanya mengeryit heran seraya saling pandang, melihat tingkah Bram yang datang tiba-tiba seperti sesosok hantu.
"Rumi... Rumi diculik Tuan Gibran, Pak!"
.
.
.
.
.
__ADS_1
Happy Reading All 😇😇😇