
...☘️☘️☘️...
"Mas Syahil tidak apa-apa 'kan?"
Setelah geng motor Bima pergi kocar-kacir karena panik dan takut dengan Polisi, Damar mendekati Syahil yang masih berpegangan pada bahu Wulan. Ingin memastikan kondisi sang mas kembar baik-baik saja karena ulah Bima si pria bangor itu.
"Mas tidak apa-apa. Terima kasih ya. Kamu sudah menolong Mas." jawab Syahil seraya berdiri sendiri setelah kondisinya lebih kuat.
"Damar sama Adek kebetulan lewat sini menuju Cafe, Mas. Adek yang pertama kali melihat saat Bima dan anggota geng motornya mengeroyoki Mas Syahil." ujar Damar yang melirik sang adik.
"Terima kasih ya, Sayang. Mas utang nyawa sama Adek. Kalau Adek tidak melihat ke sini, mungkin Bima dan teman-temannya sudah mengeroyok Mas sampai mati." timpal Syahil.
Wulan menggelengkan kepalanya, meraih tangan Syahil untuk digenggam, mengulas senyum manis yang menenangkan. Syahil ikut tersenyum, walaupun ia belum bisa mengerti dengan setiap perlakuan sang adik, namun ia bersyukur bisa selamat dari kegilaan Bima.
"Kita antar Mas pulang ya. Mas naik taksi itu sama Adek, biar Damar yang bawa motornya. Kondisi Mas Syahil seperti ini tidak mungkin bisa untuk mengendarai motor sendiri." ujar Damar seraya menunjuk taksi dan motor itu.
"Tapi Damar..."
"Damar tidak ingin ditolak, Mas. Ya?" potong Damar yang kekeuh, meyakinkan sang mas.
Syahil menghela nafas kasar, mengangguk pelan tanda pasrah dengan permintaan sang adik yang kekeuh. Damar dan Wulan berjalan, memapa Syahil menuju taksi yang sempat keduanya tumpangi tadi. Setelah memastikan Syahil dan Wulan masuk ke dalam taksi, pria kembaran Wulan itu pun bergegas menuju ke arah motor Syahil. Lalu melajukannya dengan cepat, mengikuti taksi yang membawa Syahil dan Wulan di depannya. Tanpa Damar sadari, sejak tadi pergerakannya diperhatikan sosok pria yang duduk manis di dalam mobilnya.
"Apa yang harus saya lakukan Tuan? Apakah saya harus mengikuti kedua anak kembar itu lagi?" tanya sosok pria itu yang menghubungi seseorang di balik telepon.
"Jangan!!! Ikuti anggota geng motor itu!!! Lalu bawa ketua mereka ke hadapan saya!!! Saya akan menunggu di ruang kerja rahasia. Kamu tau, bukan?" jawab seseorang di balik telepon.
"Baiklah, Tuan. Saya akan segera datang satu jam lagi!" ujar pria yang duduk di dalam mobil.
Panggilan pun berakhir. Sosok pria itu meraih kemudi, menyalakan mesin dan mengikuti arah geng motor Bima pergi.
***
"Terima kasih, Pak supir!"
Damar tersenyum ramah, mengucapkan rasa terima kasihnya pada supir taksi yang tadinya sempat menolak ajakannya untuk mendekati Syahil yang dikeroyok. Berkat Pak supir taksi juga Syahil terselamatkan dari geng motor, dan itulah yang membuat Damar sangat bersyukur.
"Sama-sama, Den. Kalian hati-hati ya." jawab Pak supir taksi yang tak kalah ramah.
"Pasti, Pak!" sahut Damar.
Suara klakson taksi berbunyi, sebagai tanda perpisahan sebelum pergi. Damar tersenyum, melambaikan tangan setelah Pak supir taksi melajukan mobilnya, menjauh dari halaman rumah Syahil. Setelah taksi pergi, Damar dan dibantu oleh sang adik memapa Syahil masuk ke dalam rumahnya.
"Assalamualaikum... Paklik, Bulik, Mas Syahal!" sahut Damar yang masuk bersama Syahil dan Wulan.
"Sepertinya mama dan papa Mas belum pulang." timpal Syahil yang sesekali masih meringis kesakitan.
"Kita duduk dulu saja, Mas." ujar Damar.
Damar dan Wulan memapa Syahil ke dekat sofa, mendudukkan Syahil yang kesakitan secara perlahan agar tidak menimbulkan rasa sakit pada bagian tubuh yang lain. Wulan pun beranjak, berlari ke arah dapur, mengambil air minum untuk Syahil yang membutuhkan energi.
"Damar, Adek..."
Syahil, Damar dan Wulan menoleh, melihat sosok pemilik suara bariton yang tak lain adalah Syahal. Dengan langkah lebar, Syahal menuruni tangga, mendekati ketiga adiknya.
__ADS_1
"Syahil... kamu kenapa? Kenapa wajah kamu babak belur seperti ini? Apa kamu berkelahi? Dengan siapa? Jawab Mas, Syahil!" ujar Syahal yang bertubi-tubi, khawatir pastinya.
Syahil menghela nafas panjang, meletakkan gelas minum yang diberikan oleh sang adik.
"Syahil minta maaf, Mas. Sebenarnya Syahil pergi keluar bukan untuk membeli sesuatu, melainkan Syahil ingin menemui Mas Al di Apartment. Tapi saat Syahil datang ke sana, ternyata Mas Al tidak ada dan Syahil berniat untuk menemuinya di Basecamp. Saat Syahil dalam perjalanan ke Basecamp, tiba-tiba saja Bima dan anggotanya mencegat jalan Syahil. Lalu berakhir babak belur seperti ini. Untung saja ada Damar dan Adek. Mereka kebetulan lewat jalan di mana Bima mengeroyok Syahil." tutur Syahil yang menceritakan semuanya.
"Jadi kamu berbohong pada Mas dan Mama?" tanya Syahal yang tercengang tidak percaya.
Syahil mengangguk lemas, menundukkan kepala karena merasa bersalah pada sang mama dan Syahal. Damar dan Wulan saling pandang, terkejut saat mendengar penuturan Syahil yang menjadi penyebab kondisinya ini.
"Lalu bagaimana kalian bisa lepas dari Bima? Kalian baik-baik saja 'kan?" tanya Syahal lagi, melihat Damar dan Wulan.
"Damar sama Adek baik-baik saja, Mas. Bima langsung kabur saat Damar menggertak anak itu dengan wallpaper di ponsel Damar." jawab Damar yang berusaha menahan tawanya.
"Wallpaper ponsel? Bukankah tadi kamu itu sempat menghubungi kantor polisi? Kenapa malah jadi wallpaper ponsel?" tanya Syahil seraya melihat Damar lalu menoleh ke Wulan.
Wulan terkikik geli, melihat ekspresi Damar yang masih berusaha menahan rasa geli di dalam perutnya, membuat Syahal dan Syahil saling pandang heran tidak mengerti dengan tingkah kedua adik kembarnya itu. Seketika gelak tawa Damar bergema, memenuhi seisi ruang tamu rumah Syahal dan Syahil.
"Kamu kenapa sih Damar? Mas jadi bingung sendiri melihat tingkah kamu." sungut Syahil.
"Sebenarnya ini semua idenya Adek, Mas. Sebelum kami turun dari taksi, Adek merebut ponsel Damar dan mencari wallpaper ponsel yang seakan ponsel Damar ini tersambung ke nomor kantor polisi. Adek menduga kalau si Bima juga akan menyerang Damar. Jadi hanya dengan cara menggertak anak itu melalui cara inilah, Damar bisa menghadapinya tanpa harus melawannya balik. Sebenarnya Damar tidak menghubungi kantor polisi, Mas. Itu hanya lah sebuah wallpaper ponsel yang unik. Entah dari mana Adek bisa mendapatkan wallpaper itu."
Kelakar Damar semakin menjadi, memancing gelak tawa Wulan yang membuat kedua anak kembar dewasa itu berdecak gemas serentak.
"Adek cerdas sekali sih. Adek bisa melihatnya, bukan? Ekspresi Bima saat melihat ponsel ini. Sungguh menggelitik perut Mas, Dek." celetuk Damar yang semakin terpingkal-pingkal lepas.
Wulan pun ikut terpingkal-pingkal melihat Damar, membayangkan betapa takutnya si Bima saat melihat ponsel sang mas kembar yang seperti nyata.
"Pantas saja sejak tadi Mas selalu berpikir, mana Polisi yang kamu hubungi itu. Tidak taunya, hanya wallpaper ponsel. Adek, Adek..." ujar Syahil yang menggelengkan kepala.
"Kalian ini membuat Mas cemas saja sih. Lain kali jangan seperti ini lagi!!! Untung saja, Bima tidak sadar, kalau dia sadar, kalian bisa bahaya." timpal Syahal yang memperingati ketiganya.
Wulan mengangguk patuh, mengangkat jari telunjuknya pada Syahal dan mengulas senyuman, seakan memberitahu kalau cara ini tidak akan ia lakukan lagi, hanya sekali ini saja. Membuat Syahal ikut mengangguk, tersenyum pada sang adik kalau dirinya sangat percaya.
"Kalau begitu Damar sama Adek pulang dulu ya, Mas. Sudah mau sore nih. Nanti Papi dan Mami malah cemas. Takut Mami marah lagi sama Adek dan malah menuduh Adek." ujar Damar, melihat jam yang melingkari tangan.
"Mas antar kalian ya." jawab Syahal.
"Tidak perlu, Mas. Kalau Mas mengantar kami, lalu Mas Syahil sama siapa di rumah? Damar dan Adek bisa pulang naik taksi kok, Mas. Mas Syahal di sini saja menemani Mas Syahil. Nanti Bima malah ke sini dan menghajar Mas Syahil lagi." ujar Damar yang mengkhawatirkan Syahil.
"Mas bisa menjaga diri, Damar. Lebih baik kalian diantar Mas Syahal ya. Mas malah khawatir, jika Bima mengejar kalian saat di jalan pulang." ujar Syahil yang meyakinkan Damar, menoleh ke arah Wulan.
Wulan menggelengkan kepala, meyakinkan Syahil jika ia dan Damar akan baik-baik saja. Namun Syahal dan Syahil yang takut terjadi sesuatu pada kedua adiknya itu malah saling pandang, mencari solusi terbaik dan tetap melindungi keduanya sampai dengan selamat.
"Atau kalian di sini saja dulu? Sampai mama dan papa Mas pulang, setelah itu Mas akan mengantar kalian pulang?" tanya Syahal yang masih berusaha membujuk kedua adiknya itu.
"Terlalu lama, Mas. Bisa-bisa Adek yang akan terkena masalah di rumah. Mami 'kan sudah pulang. Damar tidak ingin mengambil resiko untuk hal ini, Mas." jawab Damar yang kekeuh.
"Tapi Damar..."
"Ayolah, Mas! Damar sama Adek sudah besar! Kami sudah kelas 3 SMP! Kami bisa menjaga diri kok! Mas kembar yang tampannya belum melampaui ketampanan Damar harus percaya. Percayalah pada adikmu yang handsome ini, Mas!" potong Damar yang memainkan alisnya.
Syahal dan Syahil mendengus geli, menetap jengah adik kembarnya yang sangat narsis di saat seperti ini, membuat Wulan terkikik geli.
__ADS_1
"Ck! Dasar adik tidak ada akhlak! Yang ada ketampanan kamu yang belum melampaui ketampanan Mas!" sungut Syahal, jengah.
"Hahahaha... Iya deh! Semua cucu Oma Aini dan Opa Aidi tampan, kecuali yang satu ini!!!" jawab Damar seraya merangkul bahu Wulan.
"Nah itu baru adik yang baik!" celetuk Syahal.
Damar terkikik gemas, melihat ekspresi sang mas kembar yang tidak terima di kala tingkat ketampanan mereka harus dibandingkan. Membuat Syahil dan Wulan tertawa tatkala menyaksikan perdebatan teramat receh itu.
"Ya sudahlah Mas, Damar sama Adek pulang sekarang ya." ujar Damar yang puas tertawa, beranjak dari duduknya seraya meraih tangan sang adik di sampingnya.
"Kamu tetap ingin pulang sekarang? Entah kenapa tiba-tiba perasaan Mas tidak enak melepaskan kalian berdua pulang sendirian. Nanti saja ya pulangnya." jawab Syahil yang masih berusaha dan berharap agar keduanya luluh.
"Mas Syahil jangan khawatir ya. Damar akan menjaga Adek baik-baik. Setelah kami sampai di rumah, Damar akan langsung menghubungi Mas Syahil." ujar Damar yang tersenyum.
Syahil menghela nafas kasar, berusaha untuk menepis kegelisahan hati yang tiba-tiba hadir, entah mulai sejak kapan, rasanya seperti ada bongkahan batu besar yang menghimpit dan membuatnya terasa sangat sesak. Entah rasa apa itu, khawatir yang berlebihan atau hanya rasa takut jika Bima datang namun menyerang Damar dan Wulan saat dalam perjalanan nanti.
"Mas Syahil... Damar sama Adek pulang ya." ujar Damar yang memegang bahu sang mas.
"Iya... Tapi kalian harus tetap waspada dan hati-hati! Kalian naik taksi yang dipesankan Mas Syahal ya. Biar Mas Syahal bisa melihat dan memastikan kalau supir taksinya baik." jawab Syahil yang tersentak, melihat Syahal dan Damar Wulan secara bergantian.
Syahal mengulas senyum. Terbesit ada rasa kagum terhadap sang adik kembar, membuat Syahal semakin yakin kalau Syahil memang sudah berubah, bahkan jauh lebih baik dari yang sebelumnya. Begitu pula dengan Wulan. Gadis itu tersenyum getir, merasakan betapa perhatian dan khawatirnya mas kembarnya itu pada dirinya, membuat hatinya menghangat.
"Mas akan memesan taksi untuk mereka!!!" timpal Syahal seraya menepuk bahu Syahil.
Syahil mengangguk, diiringi dengan helaan pasrah yang keluar dari mulut Damar. Tidak lama kemudian, Syahal pun kembali setelah menghubungi supir taksi online dan tidak berselang lama, ponsel Syahal mendapatkan notifikasi bahwa taksi online yang dipesan sudah tiba di depan gerbang rumahnya.
"Damar pulang ya, Mas. Assalamualaikum." ucap Damar seraya masuk setelah Wulan.
"Wa'alaikumsalam, hati-hati Dik! Nanti kasih kabar ya, kalau kalian sudah sampai rumah!" jawab Syahal yang mengantar hingga depan.
"Siap Mas!!!" sahut Damar.
Taksi pun berjalan, bersamaan dengan Damar yang melambaikan tangan keluar jendela kaca mobil, meninggalkan Syahal yang masih berdiri melihatnya seraya melambaikan tangan pula, melepas kepergian kedua adik kembarnya itu dengan rasa yang tiba-tiba mendera tak jelas.
Huff... kenapa perasaanku yang kini malah tidak enak sama seperti Syahil. Semoga di perjalanan pulang tidak terjadi apa-apa pada kedua adikku itu. Gumam Syahal dalam hati.
Syahal melangkah, masuk ke dalam rumah setelah menutup pintu gerbang, memastikan kondisi di luar rumah aman dari mara bahaya. Namun Syahal tidak sadar, jika ada someone yang tengah memperhatikan dengan ponsel di telinga, seperti sedang menelepon seseorang.
"Mereka sudah jalan! Next step!"
.
.
.
.
.
Happy Reading All 😇😇😇
Siapkan hati ya wkwkwk author akan mulai masuk konflik 😅 kok lama amat sih Thor, masuk ke konfliknya? Wkwkwkwk, maafkan author yang gampang buntu ini ya kakak🤭 selain sering buntu, author juga ngak bisa membuat cerita yang ngak panjang dan detail wkwkwk, nanti malah nge-blank sendiri🤭🤭
__ADS_1
Siapa yang kangen sama Imam? wkwkwk, Imam udah datang tuh semoga rindunya terbayar ya 🤗🤗🤗
Terima kasih kakak semuanya yang selalu menyempatkan waktu untuk mengikuti kisah Wulan dan keluarganya 🤗 maaf ya kalau ada cerita yang bikin kalian penasaran (ah author lagi PD banget yak wkwk) biar ngak penasaran, ikuti terus ya kisah Wulan 🤗