
...🍁🍁🍁...
"Kenapa kamu baru mengatakan hal ini sekarang Damar?"
Damar terhenyak, mengangkat kepalanya, menoleh ke sumber suara bariton yang tak lain adalah Dhana. Sang papi yang baru saja selesai mandi, dan sempat mencari keberadaan kedua anaknya di dalam kamar namun tidak ada. Dan di saat Dhana menemukan keduanya, ia malah mendengar sesuatu yang belum cukup ia ketahui, bahwa dalang dari pembulian putrinya itu tidak sendirian dalam beraksi.
Damar tertunduk, merasa bersalah kalau selama ini ia dan Wulan selalu menutupi semua masalah dari sang papi, menjalani semuanya berdua tanpa membebankan pikiran sang papi. Namun kini, semuanya sudah diketahui oleh sang papi dan para masnya.
"Jadi Uncle baru tau kalau Adek menjadi korban bullying di sekolahnya?" tanya Aiziel yang menoleh ke arah sang uncle.
"Uncle mengetahuinya kemarin dan itu pun Rainar yang memberitahu Uncle saat Damar belum sadar." jawab Dhana yang menatap kecewa sang putra.
Damar masih bergeming, tertunduk sedih karena tidak terbuka pada sang papi demi mengikuti permintaan sang adik. Melihat diamnya sang mas kembar, rasa bersalah pun menyelimuti hati Wulan. Lalu Wulan beranjak, menghampiri sang papi yang masih berdiri menatapi putranya dengan guratan kekecewaan. Wulan mendekati sang papi, meraih tangannya yang masih terdiam menatap Damar.
Dhana menggiring matanya, menoleh ke arah sang putri yang sudah berdiri tepat di sampingnya, menggenggam tangannya dengan tatapan teduh, meyakinkan sang papi bahwa semuanya baik-baik saja.
'Papi jangan marah pada Mas Damar. Adek yang salah. Adek yang meminta Mas Damar untuk tetap diam, tidak mengadukan semua ini pada guru termasuk Bu Kinan, dan tidak memberitahu Papi, Opa, Oma dan semua keluarga kita. Karena Adek tidak ingin menambah beban pikiran Papi. Papi sudah cukup lelah dalam menghadapi sikap Mami. Jadi biar Adek sendiri yang menanggung masalah ini, tanpa melibatkan siapa pun termasuk Papi'
Dhana terhenyak, matanya berkaca-kaca, menatap sendu sang putri yang selama ini sudah terlalu menderita dalam menjalani ketidaksempurnaan dari sejak ia lahir. Dari kebencian sang mami hingga dibuli teman sekolahnya. Dan Dhana baru mengetahui semua itu dengan jelas hari ini. Wulan pun menatap sang papi, berharap besar kalau sang papi akan menerima penjelasannya yang ia gunakan dengan bahasa isyarat.
"Damar... Papi minta sekarang juga kamu ceritakan semuanya! Jangan ada lagi yang kamu tutupi dari Papi!" ujar Dhana yang penuh penekanan tegas.
Damar yang sejak tadi tertunduk sedih, mengangguk. Sesaat ia menghela nafas sebelum akhirnya ia menceritakan semua yang selama ini dialami oleh sang adik di sekolah. Mulai dari pembulian, siapa yang menjadi dalang, siapa Zivana dan Bima sebenarnya, kenapa mereka membenci Wulan sekaligus dirinya, hingga kejadian terserempet motor kemarin siang.
Dhana tertegun, mendengar dengan baik semua cerita sang putra tentang semuanya yang telah terjadi. Begitu pula dengan Aiziel, Syahal dan Syahil yang masih setia di sana. Untuk sesaat Dhana terdiam, namun sesaat kemudian dahinya mengerut heran tatkala sang putra menjelaskan sesuatu yang ada kaitannya dengan Zivana.
Kenapa aku merasakan sesuatu yang tidak asing dengan Zivana, putrinya Kinan? Sifat Kinan sangat berbeda dengan Zivana yang merupakan anaknya, apalagi Pak Gibran. Mereka orang yang cukup ramah. Tapi aku heran kenapa cara yang dilakukan Zivana, mengingatkan aku dengan seseorang, 20 tahun yang lalu? Iya, sifat gadis itu sangat mirip dengan sifat......... Ah, tidak mungkin. Wanita itu sudah pergi jauh dari negara ini dan bertaubat. Gumam Dhana dalam hati.
Dhana yang terdiam sibuk bermonolog sendiri dengan berbagai macam rentetan pertanyaan di dalam kepalanya, berbicara tentang biang keladi dari pembulian sang putri malah membawanya pada kenangan buruk puluhan tahun yang lalu. Sementara semuanya pun, ikut terdiam. Sibuk dengan arguments di dalam pikiran masing-masing.
"Damar... kamu tidak salah bicara 'kan tentang Zivana? Kenapa Papi merasakan keanehan? Kenapa sifat Zivana dan Ibu kepala sekolah kalian itu sangat berbeda? Bahkan saat kamu di rumah sakit kemarin, Pak Gibran juga ada di sana loh. Dia baik dan juga ramah, sangat berbeda dengan Zivana yang kamu ceritakan itu?" timpal Dhana yang masih menyilangkan tangan.
"Sebenarnya Zivana bukan putri kandung Bu Kinan, Pi. Bu Kinan adalah ibu sambung Zivana, sedangkan ibu kandungnya sudah meninggal dunia setelah melahirkan dia, Pi." jawab Damar yang kembali bercerita.
"Maksud kamu, sebelum dengan Bu Kinan, Pak Gibran pernah menikah dan Zivana itu anaknya? Kamu tau semua ini dari mana?" tanya Dhana yang semakin penasaran dan ingin tau tentang sosok Zivana.
"Damar mengetahui semua itu dari teman-teman, Pi. Dan itu sudah lama sekali karena semua orang merasa heran, seperti Papi saat ini hingga pada akhirnya, salah seorang teman di kelas Damar mendapat kabar bahwa Zivana bukan anak kandung Bu Kinan yang baik hati." jawab Damar lagi.
__ADS_1
Dhana terdiam lagi, memangku tangan dan terlihat tengah berpikir keras, mengingat sesuatu yang mungkin memiliki keterkaitan.
Jadi Pak Gibran sudah pernah menikah sebelumnya dan mempunyai anak gadis yang dia beri nama Zivana. Tapi siapa istri Pak Gibran yang meninggal itu? Apakah dugaanku ini benar, kalau Zivana adalah anak kandung Kak...... Ah, tidak mungkin. Aku terlalu berpikir jauh sampai menuduh orang yang sudah bertaubat dan sudah lama menjauh dari kehidupan keluargaku. Astagfirullah... Gumam Dhana dalam hati.
Damar dan Wulan saling pandang, heran melihat sang papi yang hanya diam saja. Sementara Aiziel, Syahal dan Syahil juga masih sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Papi... kenapa Papi diam saja? Damar sudah menceritakan semuanya pada Papi. Jadi Damar mohon, maafkan Damar, Pi." ujar Damar seraya meraih tangan sang papi.
Dhana tersentak, menggiring matanya ke arah putra putrinya yang masih berdiri dan menatapnya sendu, berharap sang papi tidak akan marah atau bahkan kecewa. Seutas senyum pun mengembang indah, mensejajarkan tinggi dengan kedua anak kembarnya, mengelus wajah keduanya dengan sayang, dan memberikan sinyal ketenangan.
"Papi tidak marah. Papi hanya sedikit kesal saja karena kalian menutupi sesuatu yang selama ini kalian hadapi sendirian. Untuk saat ini, Papi maafkan tapi tidak berikutnya! Apa pun yang terjadi, kalian harus ceritakan pada Papi! Papi tidak suka ada sesuatu hal penting yang menyangkut dengan masalah kalian, tapi kalian menutupinya dari Papi!!!"
Damar dan Wulan mengangguk, merasakan kehangatan dari belaian tangan sang papi di wajah mereka, meresapi petuah yang baru saja dilontarkan sang papi sebagai sebuah ancaman ringan namun bersifat tegas. Tidak ada negosiasi untuk masalah seperti ini karena Dhana yang sangat mengenal sifat keduanya yang turun dari sang onty, membuatnya untuk selalu waspada.
"Kalian ingat! Di luar takdir, yang menjadi penyebab kedua onty kalian pergi untuk selamanya, ada satu hal yang sampai detik ini masih sangat Papi sesali! Yaitu sifatnya yang tertutup dan tidak jujur!!! Karena kedua sifat itu lah, onty kalian pergi dan tidak tertolong dari sakit kerasnya!!! Sejak saat itu, Papi tidak pernah menutupi masalah apa pun dari keluarga!!! Keterbukaan adalah kunci dari masalah!!! Dan setelah ini, tidak ada lagi yang ditutupi dari Papi!!! Mungkin untuk saat ini, Papi bisa memaafkan Bima dan Zivana karena bukti kejahatan mereka pun kita tidak punya. Tapi jika kejadian seperti ini terulang lagi, kalian tidak bisa mencegah Papi untuk melakukan sesuatu pada mereka!" tutur Dhana yang mengedar pandangan, melihat semua anak-anaknya termasuk Aiziel, Syahal dan Syahil.
Sesaat, perkataan sang papi membuat Damar dan Wulan saling pandang, tidak mampu untuk menjawab, membiarkan sang papi yang mengambil alih kemudi yang akan menuntun perjalanan hidup mereka. Lalu sesaat kemudian, keduanya mengangguk patuh, tidak ingin menentang sang papi. Sementara Aiziel, Syahal dan Syahil hanya dibuat termangu oleh perkataan sang uncle, membenarkan di dalam hati kalau tindakan Damar dan Wulan sudah salah.
"Baiklah, Pi. Mulai besok Damar juga akan lebih berhati-hati dalam menjaga Adek dan menghadapi Bima." jawab Damar yang lirih.
Dhana mengangguk, mengulas senyum seraya mengusap lembut kepala Damar yang masih enggan untuk menatapnya. Untuk beberapa saat, kecurigaan hatinya menguap begitu saja tentang siapa sosok gadis yang bernama Zivana itu. Namun hal itu tidak bertahan lama karena rasa heran bercampur penasaran, menyelimutinya lagi.
Seketika Dhana terlonjak, mendapati benda pipih yang tersimpan di dalam saku bergetar kuat dan mendesak untuk segera diangkat.
"Assalamualaikum, ya hallo Pak Dewa..." ujar Dhana yang menerima panggilan dari sang manager kepercayaannya di Cafe.
"Wa'alaikumsalam, Tuan Muda. Maaf jika saya mengganggu waktu Tuan. Saya ingin memberitahu, kalau kolega kita yang dari Singapore sudah datang, Tuan. Dia sudah datang dan ingin bertemu dengan Tuan." jawab Pak Dewa, manager kepercayaan Cafe Dhana.
"Kolega dari Singapore? Bukankah kita sudah membuat perjanjian untuk bertemu besok Pak Dewa? Kenapa bisa mendadak berubah seperti ini?" ujar Dhana heran.
"Saya juga kurang tau, Tuan. Saya juga sempat terkejut melihat kedatangannya. Tapi sepertinya dia memang kekeuh ingin bekerja sama dengan Cafe Tuan Muda." jawab Pak Dewa di seberang sana.
"Ya sudah, 20 menit lagi saya akan tiba di sana. Saya akan bersiap-siap. Dan tolong berikan pelayanan yang baik untuk mereka! Assalamualaikum." ujar Dhana.
"Baik Tuan Muda..."
Dhana menutup telepon, menghela nafas kasar lalu menoleh ke arah Damar Wulan yang melihatnya dengan penuh keheranan.
__ADS_1
"Papi minta maaf ya. Sepertinya siang ini Papi harus pergi ke Cafe untuk menemui kolega Papi dari luar negeri. Tapi Papi janji akan pulang lebih awal dan menemani kalian belajar lagi. Papi pergi dulu ya, Nak." ujar Dhana seraya memeluk kedua anaknya.
"Papi hati-hati ya." jawab Damar.
"Iya, Sayang. Papi titip adikmu ya. Kalau Mami marah-marah tanpa sebab, cepat hubungi Papi." ujar Dhana yang melerai pelukannya, menatap keduanya.
Damar mengangguk, mengerti dengan maksud sang papi yang tidak ingin melihat sang mami menyakiti hati adiknya lagi.
"Ziel, Syahal, Syahil... Uncle pergi dulu ya. Tolong jaga Wulan kalau sewaktu-waktu anty kalian berbuat ulah yang aneh-aneh." ujar Dhana yang menoleh ke arah ketiga keponakannya.
"Oke Uncle... jawab ketiganya serentak.
Dhana tersenyum, melirik kedua anaknya sebelum beranjak pergi dan bersiap pergi menuju ke Cafe untuk menemui koleganya. Sementara Aiziel dan keempat adiknya itu kembali duduk di taman.
"Mas... katanya ingin membantu Damar untuk melakukan kampanye mandiri lewat media sosial. Mas Syahal harus membantu Damar!" ujar Damar seraya meraih ponsel.
"Memang harus hari ini ya? Apa tidak bisa diselesaikan dulu ujian naik kelas kamu ini?" tanya Syahal yang melirik Syahil dan Wulan.
"Kalau ditunggu sampai selesai ujian, yang ada Damar bisa kalah. Seharusnya Damar sudah melakukan kampanye mandiri sejak kemarin, tapi karena Bima semuanya jadi kacau." jawab Damar yang berdecak kesal.
"Tidak perlu terobsesi dengan jabatan itu lah, Dik. Taruhannya nyawa kamu loh! Si Bima itu bisa mencelakai kamu dan akan terus menggagalkan rencana kamu." ujar Aiziel yang menimpali.
"Damar tidak terobsesi, Mas. Damar hanya ingin berusaha untuk menjadi yang terbaik. Itu saja kok!" jawab Damar yang memelas.
Aiziel, Syahal dan Syahil saling pandang, berdiskusi dalam bathin untuk meyakinkan Damar agar berhenti mengikuti pemilihan ketua osis di sekolah. Sementara Damar, tampak berkomat-kamit, berharap Syahal akan membantunya sesuai perjanjian awal.
Wulan yang melihat kesungguhan Damar pun tersenyum getir, merasakan kasih dan sayang yang teramat besar dari sang mas kembar. Beruntung, itulah yang terlintas di dalam pikiran Wulan karena ia mempunyai sosok Damar di hidupnya.
"Baiklah, Mas akan membantu kamu!"
.
.
.
.
__ADS_1
.
Happy Reading All 😇😇😇