Takdir Si Gadis Bisu

Takdir Si Gadis Bisu
Episode 96 ~ Tidak Ditutupi Lagi


__ADS_3

...☘️☘️☘️...


"Mas Ammar, Mas Ronald, Imam..."


Dhana terperangah, melihat sang mas sulung berada di rumah sakit. Padahal sudah sebisa mungkin ia menghindari, namun nyatanya Ammar memang harus diberitahu tentang semua masalah yang sudah terjadi sejak kemarin lusa.


Ammar, Dokter Ronald dan Imam berjalan, melangkah lebar ke arah keluarganya yang melihatnya terperangah, beranjak dari kursi bersamaan karena sangking terkejutnya.


"Apa yang telah terjadi Dhana? Kenapa kamu tidak memberitahu Mas kalau kamu sedang ada masalah besar?" tukas Ammar, menatap tajam sang adik lalu mengedar.


Dhana tercekat, menoleh ke arah Imam yang hanya tertunduk di samping Ammar, membuatnya mengerti kalau Imam sudah memberitahu Ammar tentang masalahnya dengan terpaksa setelah menangkap sinyal penyelasan di wajah yang disembunyikan.


"Dhana tidak bermaksud untuk tidak ingin memberitahu Mas Ammar. Dhana hanya tidak ingin Mas kepikiran dengan masalah Dhana." jawab Dhana, meraih tangan sang mas sulung yang sepertinya tengah marah.


"Tenangkan diri kamu, Am. Dengarkan dulu penjelasan Dhana. Dhana pasti mempunyai alasan yang kuat, kenapa dia menutupinya dari kamu." timpal Dokter Ronald, berusaha menenangkan adik angkatnya itu.


"Iya, Nak. Jangan emosi dulu. Adikmu punya alasan kenapa dia melakukan ini." timpal Bu Aini, mengusap lengan Ammar.


Ammar berdecak lirih, melihat semua yang sangat dikenalnya berada di sini, membuat hati yang terus berkecamuk, ingin marah.


"Apa cuma Ammar yang tidak tau masalah adik Ammar sendiri Bu? Bagaimana dengan Sadha? Apa semua ini ada hubungannya dengan yang Ayah, Ibu dan Vanny katakan kemarin? Kalau Dhana, Sadha, Imam dan anak-anak sedang liburan?" tandas Ammar.


"Daddy... semua yang Daddy pikirkan itu tidak benar!!! Berikan Uncle Dhana waktu untuk menjelaskan semuanya agar Daddy mengerti." timpal Aiziel yang menenangkan.


Ammar tersenyum miring, menatap sang putra sulung dan bungsu yang ada di sisi sang ibu, tidak percaya kalau anak-anak lebih mengetahui segalanya dibandingkan dirinya. Membuatnya merasa terasingkan.


"Bahkan anak-anak saja mengetahui semuanya!!! Apakah Ammar sudah tidak dibutuhkan lagi di dalam keluarga ini?" jawab Ammar, tersenyum miring pada Dhana yang menatapnya penuh sesal.


"Jangan bicara seperti itu, Nak!!! Dengar dulu penjelasan adikmu." timpal Pak Aidi.


Dhana menghela nafas berat, memicing mata sesaat, menghirup kembali oksigen yang lebih segar, berharap jiwa yang kini tegang akan tenang, menjelaskan semua yang telah terjadi pada sang mas sulung.


Membuat Dhana beranjak setelah terdiam, bergerak mendekati sang mas sulung yang menatapnya kecewa. Diraihnya tangan itu. Tangan kekar yang tak lagi sekekar dulu. Tangan kuat yang selalu melindunginya, Sadha dan Dhina dari kejahatan apapun. Tangan yang selalu menjadi sahabat saat dibutuhkan. Tangan yang yang dulunya pernah menimang dirinya dan Dhina waktu bayi hingga berebut dengan Sadha. Tangan yang memeluk, mengelus bahkan menjitak di kala masa dewasa itu telah tiba. Tangan yang selalu mengajarkan dengan tegasnya, perjalanan hidup yang tidak lah mudah.


"Mas... Dhana minta maaf. Tapi Dhana mohon jangan berpikiran seperti itu dulu. Dhana melakukan ini karena Dhana tidak ingin darah tinggi Mas naik hanya karena memikirkan masalah Dhana!!! Dhana tidak bermaksud untuk menutupi masalah ini dari Mas. Dhana memang menutupinya, tapi itu hanya sementara. Setelah masalah Dhana selesai, Dhana berniat untuk memberitahu Mas. Tolong, Mas. Jangan katakan kalimat itu lagi! Karena Mas dan Mas Sadha selalu Dhana butuhkan di saat situasi dan kondisi apapun!" tutur Dhana, menggenggam erat tangan sang mas sulung yang termangu.


Ammar terhenyak, melihat Dhana yang menatapnya penuh harap, membuatnya tidak tega. Teringat dengan masa lalu di mana sang adik pernah terpukul, terjatuh bahkan sangat sulit untuk bangkit kembali. Lalu menggiring matanya ke arah ayah, ibu dan anak-anak yang memperhatikannya lekat, berharap agar dirinya tidak kecewa.


"Apa yang telah terjadi?" tanya Ammar, dingin dan masih enggan melihat Dhana.


"Kemarin Damar dan Wulan diculik, Mas." jawab Dhana, masih betah menunduk.


Ammar terbelalak, menoleh cepat ke arah Damar yang mengangguk, membenarkan perkataan sang papi yang masih tertunduk. Tidak hanya Ammar, Dokter Ronald pun tak kalah terkejut. Mendapat berita buruk yang sama sekali tidak pernah terpikirkan.


"Siapa yang menculik mereka?"


"Gibran!!!"


"Dia!!! Apa sih mau orang itu?"


"Dia bukan orang biasa, Mas."


"Maksud kamu?"


Dhana menghela nafas kasar, mengangkat kepala yang menunduk sejak tadi. Melihat Ammar yang menatapnya geram, menuntut jawaban segera yang membuat penasaran.


"Gibran adalah suaminya Kak Mira, Mas."

__ADS_1


Mata yang terbuka, tampak semakin lebar. Menoleh ke arah Dokter Ronald yang tidak kalah terperangah, mengingat nama yang pernah menjadi benalu, bertaubat setelah ganjaran dan karma menimpa diri, menjadi bumerang yang akan merugikan diri sendiri.


"Jadi karena itu?" tanya Ammar.


"Bukan, Mas. Itu hanya fakta lain tentang siapa Gibran sebenarnya." jawab Dhana.


"Mira itu siapa Uncle?" timpal Aifa'al.


Dhana menoleh, disusul Ammar dan Dokter Ronald yang masih termangu, melupakan sesuatu yang belum diketahui Aifa'al dan Damar. Mendengar cerita dari sang ayah dan ibu, bahwa Aiziel, Syahal-Syahil sudah mengetahui semuanya tentang masa lalu.


"Mira itu mantan kekasih Daddy di masa lalu, Al. Dia orang yang pernah menyakiti Onty Dhina sebelum onty kita meninggal!!!"


Ammar semakin terperangah, mendengar penuturan sang putra sulung yang seakan sudah mengetahui seluk beluk di masa lalu. Memang benar dan itu membuatnya cukup terkejut karena selama ini masa lalu itu tidak pernah terkuak lagi setelah puluhan tahun. Sementara Aifa'al dan Damar terdiam, tidak menyangka kalau ada sesuatu di masa lalu.


"Ziel..." ucap Ammar, tercekat.


"Ayah yang memberitahu anak-anak!!! Semuanya terjadi begitu saja dan semua saling berhubungan! Ayah tidak ada pilihan lain, selain memberitahu anak-anak agar mereka tidak bingung." tutur Pak Aidi yang menimpali, mengusap bahu sang putra.


"Lalu apa hubungan dengan Dhana, Yah? Jelas-jelas masalah ini berakar dari Ammar. Pasti wanita itu kembali lagi dan dia sudah menghasut suaminya untuk membalas lagi dendamnya yang belum tuntas!!!" tukas Ammar, terbawa emosi teringat nama itu.


"Kak Mira sudah meninggal, Mas. Dan masalah kali ini tidak ada hubungannya dengan Kak Mira ataupun Adek di masa lalu." timpal Dhana yang melihat Ammar.


Lagi!!! Ammar dan Dokter Ronald dibuat terperangah, baru mengetahui kalau wanita jahat yang pernah ada di masa lalu kini telah tiada, menyusul sang adik di alam sana.


"Kak Mira meninggal setelah melahirkan putrinya dan Zivana itu adalah anak Kak Mira bersama Gibran." ujar Dhana.


"Jadi nama ibu kandung Zivana adalah Mira? Dan dia pernah jahat pada Onty? Pantas saja kalau anaknya seperti itu!!!" timpal Damar, tersenyum miring teringat betapa liar dan jahatnya sosok Zivana.


Dhana terdiam, membenarkan perkataan sang putra dalam hati. Sifat Zivana berasal dari Mira yang pernah jahat, walaupun Mira sempat bertaubat, namun sifat asli akan tetap melekat setiap saat. Sementara itu, yang lain pun ikut termangu, mendukung perkataan Damar tentang putrinya Mira.


"Lalu di mana masalahnya? Kenapa Gibran menculik Damar dan Wulan? Kenapa Mala juga menjadi korban?" tukas Ammar, heran.


Tidak hanya Ammar dan Dokter Ronald yang terperangah kali ini, tapi juga Aiziel, Aifa'al, Syahal-Syahil dan terlebih Damar. Membuat semua mata itu terbuka sangat lebar, menatap Dhana yang terdiam lagi, teringat semua penuturan Gibran tentang masa lalu kelam sang istri.


"M-maksud Papi, nenek Damar dan Adek adalah seorang pembunuh?" tanya Damar, tercekat sesak mengetahui kebenarannya.


"Itulah kenyataannya, Nak." jawab Dhana.


"Pak Gibran pasti bohong 'kan Pi? Nenek tidak mungkin membunuh orang? Tidak!!! Damar tidak percaya dengan semua itu!!! Nenek tidak mungkin membunuh orang!!!" cercah Damar, mendadak histeris setelah mengetahui kebenaran tentang sang nenek.


Dengan cepat Aifa'al mendekap Damar, membawanya ke tempat lain agar bisa ditenangkan, diikuti oleh Aiziel dan Syahal-Syahil yang menjauhi pembicaraan berat para orang tua tentang masa lalu. Membuat Dhana tercekat, namun dengan cepat pula Bu Aini menenangkannya.


"Biarkan saja Damar bersama dengan para masnya. Dia pasti syok setelah mendengar kebenaran yang seharusnya tidak ia dengar sekarang." tutur Bu Aini, menenangkan hati sang putra bungsu yang menjadi kacau lagi.


"Lalu bagaimana kondisi Mala dan Wulan? Apa yang terjadi pada mereka Dhana?" timpal Dokter Ronald, melihat sekilas ke dalam kamar rawat melalui jendela bening.


Dhana menghela nafas panjang, terduduk lesu di kursi tunggu. Mengumpulkan energi untuk menceritakan semuanya yang terjadi. Hingga tak ada lagi yang ditutupi oleh Dhana, membuat Ammar sangat merasa bersalah setelah mengetahui semuanya karena sempat menuduh sang adik yang tidak-tidak, menganggap diri yang tidak lagi dibutuhkan padahal sangat diperhatikan.


"Mas minta maaf, Dhana." ujar Ammar.


"Mas tidak salah. Semua masalah yang sedang Dhana hadapi kali ini cukup sulit. Mala trauma karena masa lalunya, bahkan karena trauma itu dia membenci anaknya. Dhana hanya bisa berharap agar Mala bisa kembali normal dan menyayangi putri kami, Mas." jawab Dhana yang tersenyum getir.


"Apa yang bisa Mas bantu? Kamu bilang saja!!! Mas akan membantu kamu, Dhana!" ujar Ammar, meraih kedua tangan Dhana.


"Mas harus tetap sehat!!! Jangan biarkan masalah Dhana melekat di dalam pikiran Mas!!! Hanya itu, dan Mas tidak perlu lagi melakukan apapun!!! Dhana hanya butuh dukungan dan do'a Mas!!! Itu saja sudah lebih dari cukup Mas membantu Dhana!!!" tutur Dhana, menatap lekat mata Ammar.


Ammar terhenyak, merengkuh tubuh sang adik ke dalam dekapan, memeluknya erat efek terharu, sang adik lebih memikirkan kesehatannya dibandingkan hal lain yang sebenarnya lebih pantas untuk dipikirkan. Sementara Pak Aidi, Bu Aini, Dokter Ronald dan Imam yang melihat adegan itu hanya tersenyum getir. Kasih sayang yang selalu ada tak akan pernah terkikis dimakan usia.

__ADS_1


Usia yang tak lagi muda, ditambah dengan penyakit turunan yang diturunkan sang ibu. Hipertensi!!! Penyakit yang harus dikontrol. Jika tidak, fatal akibatnya di kemudian hari. Bisa stroke, bahkan bisa berakhir kematian. Itulah yang membuat Dhana mencemaskan Ammar, memilih menutupi setiap masalah yang bisa menguras pikiran dan perasaan.


"Mas ingin membantumu seperti Sadha. Jangan pilih kasih seperti ini, Dhana!!!" ujar Ammar masih kekeuh ingin ikut membantu.


"Dhana tidak mau kehilangan Mas seperti kehilangan Adek!!! Mas cukup diam saja di rumah dan turuti permintaan Dhana. Titik!!!" jawab Dhana, terdengar gemas tapi cukup mengandung makna yang sangat berarti.


Ammar berdecak kesal, melerai pelukan yang menampakan guratan kekecewaan.


"Dasar adik-adik egois!!!" sungut Ammar.


"Asalkan Mas selalu sehat." jawab Dhana.


Kekehan renyah keluar begitu saja dari mulut Ammar, memancing kekehan lainnya yang menyaksikan adegan dramatis kakak adik itu. Namun tidak dengan Imam yang hanya diam sejak tadi, memilih bungkam, takut salah dalam berbicara yang dapat memancing sesuatu terucapkan lebih jauh.


"Mas dan Mas Ronald harus kembali ke rumah sakit pusat. Kalau terjadi sesuatu pada Mala dan Wulan, beritahu Mas cepat!" ujar Ammar seraya beranjak dari duduknya.


"Mereka sudah membaik dan Mas tidak perlu khawatir lagi." jawab Dhana.


"Kalau begitu beritahu Mas kalau mereka sudah sadar! Dan Mas tidak ingin ditolak!" ujar Ammar lagi, menunjuk hidung Dhana.


Dhana mengangguk, dengan seringai jahil pada wajahnya, mengiyakan sebelum sang mas kembali mencercahnya dengan ribuan kalimat nasihat yang panjang melebihi tesis.


Ammar dan Dokter Ronald beranjak pergi, setelah pamit pada ayah dan ibunya serta Imam yang masih diam terbungkam. Hanya tersenyum sebagai pengantar mereka pergi, menjauh dari lorong kamar rawat, membuat hati Ammar yang tidak tenang kian menjalar, merasuki diri setelah mengetahui kalau adik iparnya itu tengah sekarat melawan derita.


"Kamu kenapa Am?" tanya Dokter Ronald.


"Kepikiran Imam, Mas." jawab Ammar.


Dokter Ronald menghela nafas, mengerti dengan kecemasan sang adik angkat yang sebenarnya tengah ia rasakan juga saat ini.


"Kamu ingat permintaan Dhana tadi?"


"Tapi Imam juga adik Ammar, Mas!"


"Berarti adik Mas juga!!!"


"Ya, Ammar tidak ingin Imam seperti Adek!"


"Mas juga dan Mas akan membantumu!"


"Tapi tetap saja, Mas! Penyakitnya sudah stadium tiga dan itu akan sangat susah!!!"


Dokter Ronald menghela berat, berusaha menenangkan sang adik angkat yang dilanda kecemasan yang sama seperti dulu. Membuat Dokter Ronald harus ekstra sabar, membujuk Ammar agar mendengar perintah Dhana, tetap tenang dalam situasi apapun.


Setelah lebih tenang, keduanya beranjak. Namun kaki yang baru dibawa melangkah, terhenti. Terjingkat saat melihat dua sosok yang menatap terkejut ke arah mereka. Membuat keduanya saling pandang, takut. Apakah dua sosok itu sempat mendengar pembicaraan mereka tentang sakit Imam?


"Sadha, Vanny..."


.


.


.


.


.

__ADS_1


Happy Reading All 😇😇😇


__ADS_2