Takdir Si Gadis Bisu

Takdir Si Gadis Bisu
Episode 21 ~ Kebenaran Baru


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


Seketika Damar yang tadinya sudah berjalan, menghentikan langkahnya saat Bima berdiri tepat di depannya seraya mengarahkan tangan ke dada bidangnya. Tatapan tajam pun ditolehkan Damar tatkala tangan kotor Bima menyentuh dadanya. Sementara Bima juga demikian, memberikan tatapan tajam dengan seringai licik.


Melihat tatapan tajam Bima, membuat Damar yang was-was langsung menarik tangan Wulan untuk bersembunyi lagi di belakang tubuhnya. Sementara Rainar, ia benar-benar dibuat bingung dengan semua yang terjadi saat ini.


"Minggir!!!" seru Damar dengan tatapan tajamnya yang membunuh.


"Kalau gue tidak mau bagaimana?" jawab Bima dengan seringai tajam dan liciknya.


Kesabaran Damar benar-benar diuji oleh rivalnya itu. Tangannya yang satu mengepal kuat dan siap untuk melayang. Namun Damar berusaha untuk bersikap tenang karena tidak ingin mencari masalah dengan seorang Bimantara yang suka membuat onar di sekolah.


"Sepertinya dia takut melawan kamu, Sayang." timpal Zivana yang masih berdiri sombong di samping sang kekasih.


"Kamu benar sekali, Sayang. Pria itu memang payah dan takut melawanku." jawab Bima yang menolehkan matanya ke arah Damar.


Mata Damar semakin terlihat memerah dan emosi saat mendengar ledekan dari kedua insan manusia yang tidak berakhlak di hadapannya itu. Sementara Wulan dan Rainar yang sejak tadi menyadari akan sikap Damar, berusaha untuk menenangkannya.


"Sudahlah, Mar. Ayo kita pergi saja dari sini." ujar Rainar seraya mengusap bahu Damar.


Damar yang masih berusaha tenang pun mengangguk walaupun terlihat samar bahkan hampir tidak jelas. Tapi sepertinya pikiran Damar masih stabil, hingga ia merespon perkataan Rainar yang tengah menenangkan dirinya. Damar pun melangkah, mengikuti Rainar setelah meraih kembali tangan sang adik yang sempat ia lepaskan sesaat.


"Hanya seorang pengecut yang berani pergi sebelum masalahnya benar-benar selesai!!!"


Perkataan Bima sukses menghentikan kembali langkah Damar yang baru berjalan lima langkah menjauhinya. Dengan gerakan secepat kilat, Damar menoleh ke arah Bima seraya melempar tatapan tajam. Emosi Damar semakin tersulut memenuhi seisi hatinya yang sejak tadi berusaha untuk santai menghadapi pria bangor seperti Bima. Namun kali ini Bima sudah keterlaluan dan memang ingin mencari masalah dengannya.


"Aku titip Adek, Nar!!!" ucap Damar tanpa melihat Rainar dan Wulan.


Damar yang tersulut emosi pun berbalik seraya melempar tasnya ke sembarang arah. Sementara Rainar dan Wulan yang melihat itu hanya mematung, tidak bisa menahannya lagi.


Bugh!


Satu pukulan mentah berhasil mendarat mulus di wajah Bima yang menyeringai licik. Pria itu tampak terhuyung ke belakang dan hampir tersungkur. Namun, dengan cepatnya sang kekasih berhasil memegangi tubuhnya dan memancarkan seringai yang tak kalah licik.


"Dengan cara ini, Damar akan kehilangan kesempatan untuk mendaftar sebagai ketua osis. Lakukan lagi, Sayang! Buat dia marah dan memukul kamu sebanyak mungkin!" ujar Zivana yang berbisik di telinga sang kekasih.


Bima yang menyeringai pun mengangguk lalu menegakkan kembali tubuhnya. Dengan seringai tajam yang masih terukir di wajah, Bima mendekati Damar dan mendorongnya. Berusaha untuk membuat pria itu semakin emosi dan menyerangnya lagi.


"Ayo pukul gue lagi! Kenapa lo diam saja? Lo takut, hah?! Dasar pengecut lo!" tandas Bima yang mendorong bahu Damar.


Deru nafas yang memburu dengan tangan yang mengepal semakin kuat, seakan siap untuk memukul lagi. Namun Wulan yang menyadari kejadian selanjutnya pun berlari menghampiri Damar dan langsung meraih kepalan tangan sang mas kembarnya itu. Damar terkesiap saat tangannya digenggam erat oleh sang adik. Sementara Wulan tampak menggelengkan kepala seakan meminta Damar untuk tidak mengindahkan perkataan Bima yang suka berbuat onar di sekolah.


"Hahaha... Kalian itu sudah seperti sepasang kekasih yang ada di dalam drama. Yang satu, tampan dan kekasihnya si gadis bisu!!!" sahut Bima yang tertawa melihat tingkah Wulan.


"Diam lo!!! Sekali lagi lo bilang adik gue bisu, lo akan mati di tangan gue!!!" tandas Damar yang semakin geram dan emosi.


"Hahahah... Kalau lo berani bunuh gue, ayo dong maju!!! Masa lo berdiri di sana terus!" jawab Bima yang masih tertawa seraya menoleh ke arah Zivana.

__ADS_1


Zivana tersenyum miring saat menyaksikan pertunjukkan yang sangat menyenangkan baginya itu. Karena memang itulah rencana yang ia dan Bima sempat bicarakan sebelum jam masuk pelajaran terakhir dimulai.


Tidak sia-sia gue mengikuti gadis bisu itu ke kantin. Dengan begitu gue bisa mendapatkan sesuatu yang sangat berharga. Kalian lihat saja nanti. Gue dan Bima tidak akan membiarkan jalan Damar lancar untuk menjadi ketua osis. Gumam Zivana dalam hati.


Ternyata sepasang mata yang melihat dan memperhatikan Damar Wulan saat makan siang di kantin tadi adalah Zivana. Setelah mengikuti Wulan ke kantin, dan mendengar semua pembicaraan Damar, gadis itu bergegas menemui kekasihnya yang tak lain adalah Bimantara. Pria bangor yang tak lain adalah musuh bebuyutan Damar selama ini dan dengan tangan terbuka, Bima menerima rencana Zivana untuk menjatuhkan Damar.


"Ayo, Damar!!! Kenapa lo diam saja? Lo takut atau lo memang pengecut dari lahir? Karena adik lo yang bisu itu saja lo langsung luluh? Dasar lemah!!! sahut Bima yang memancing amarah Damar.


"Cukup!!! Gue bilang cukup!!! Selama ini gue diam bukan berarti gue takut sama lo, Bim!!! Gue diam karena gue tidak mau mencoreng nama baik keluarga gue!!! Gue bukan lo yang sukanya membuat onar di sekolah!!!" jawab Damar yang menatap tajam rivalnya itu.


"Pada dasarnya lo itu memang pengecut, Damar!!! Seorang pengecut tidak pantas menjadi ketua osis di sekolah ini!!!" sahut Bima yang tawanya semakin membahana.


Suasana yang semakin tegang dan panas benar-benar membuat kedua pria remaja itu tersulut emosi. Wulan dan Rainar yang kini berdiri di sisi Damar, berusaha menyurutkan emosinya. Namun di sisi depan sana, Bima masih berusaha untuk memancing amarah Damar. Sementara Zivana yang berdiri seraya menyilangkan kedua tangan di depan dada hanya tersenyum miring, melihat betapa seru dan asyiknya pertunjukkan ini.


"Ayo Damar!!! Kalau lo berani, kita duel sekarang juga. Gue tantang lo!!! Kalau lo menang, gue janji tidak akan mengganggu adik lo yang bisu itu! Tapi kalau gue yang menang, lo harus bersujud di kaki gue dan memohon agar gue tidak mengganggu adik lo lagi! Bagaimana? Cukup adil, bukan? Hahaha..."


Gelak tawa Bima yang membahana itu sukses membuat emosi Damar memuncak seketika. Tanpa mengindahkan Wulan dan Rainar yang sejak tadi berusaha memegangi tangannya sejak tadi, Damar bergerak maju hendak menghampiri rivalnya yang masih tertawa di depan sana. Wulan yang melihat pun beranjak dan berlari mengikuti Damar.


Dengan gerakan cepatnya, Damar langsung mencekam kerah baju Bima dan seketika itu juga gelak tawa pria bangor itu berhenti.


"Lo pikir gue bodoh, akan terpancing begitu saja dengan semua perkataan lo itu? Tidak akan, Bimantara!!! Gue masih waras, bahkan lebih waras dari pada lo!!! Gue peringatkan sekali lagi, jangan pernah lo hina adik gue!!! Karena gue tidak akan membiarkan hidup lo tenang kalau lo masih kekeuh mengganggu adik gue!!! Lo ingat itu!!!" ujar Damar seraya mencekam kerah baju Bima lalu mendorong pria itu dengan kasar.


Damar yang tersulut emosi ternyata tidak terpancing dengan perkataan Bima karena Damar sangat mengetahui niat busuk pria seperti Bima itu. Damar pun menyeringai puas tatkala melihat raut wajah Bima yang berubah menjadi pias. Pria itu terlihat pias karena pancingan yang ia lempar, tidak membuahkan hasil apa-apa.


Dengan seringai tajam, Damar pun berbalik arah hingga berpapasan dengan sang adik yang hendak menghampirinya. Sementara Bima yang terdiam, menggiring matanya ke arah lain, mencari sesuatu yang entah untuk apa. Seketika seringai tipis terbit saat mata tajamnya melihat sebuah batu bata. Dengan cepat, Bima yang naik pitam pun berlari ke arah Damar seraya membawa batu bata itu.


"Zivana, Bima..."


Sahutan suara lembut itu tiba-tiba terdengar sangat lantang dan memenuhi langit-langit lapangan yang semakin terik. Seketika Zivana, Damar, Wulan dan Rainar menggiring matanya ke arah sumber suara. Sementara Bima yang hendak memukul Damar dengan batu bata, tersentak dan langsung berhenti di posisinya saat ini saat melihat pemilik suara itu.


"Zivana... Sedang apa kamu di sini? Bunda mencari kamu sejak tadi! Dan kamu, Bima! Kenapa kamu membawa batu bata? Kamu ingin berbuat onar lagi di sekolah ini, hah?!" tandas sosok wanita berhijab yang berstatus sebagai ibunda dari Zivana.


"Bunda... K-kenapa Bunda masih ada di sini?" tanya Zivana yang mendadak gugup melihat kedatangan sang bunda.


"Maaf, Bu Kinan. Saya, Rainar dan Wulan ingin pulang tapi kedua anak ini menghalangi jalan kami. Bahkan Bima juga ingin mengajak saya berduel di lapangan ini, Bu." timpal Damar yang menjawab seraya melirik Bima dan Zivana.


"Tidak, Bun. Damar berbohong. Zivana tidak pernah menghalangi jalan mereka. Bunda jangan percaya sama mereka." jawab Zivana yang semakin gugup namun tatapan tajam tetap ia tolehkan ke arah Damar.


"Bunda benar-benar kecewa dengan sikap kamu hari ini, Zivana. Saat pelajaran tadi, bahkan kamu sudah meremehkan Wulan dan sekarang kamu ingin membuat onar bersama Bima? Ayo, ikut Bunda pulang sekarang!!! Dan kamu, Bima!!! Besok datang ke ruangan Ibu jam delapan tepat! Kalau kamu telat satu detik saja, Ibu akan mengeluarkan kamu dari sekolah ini! Paham!!!" tandas Bu Kinan yang melihat Zivana lalu menoleh tajam ke arah Bima.


Bu Kinan, wali kelas Wulan yang ternyata ibunda dari seorang Zivana. Bu Kinan yang merasa kesal dengan tindakan Zivana pun langsung menarik tangan putrinya itu. Lalu diikuti pula oleh Bima yang berlalu pergi ke tempat parkir untuk mengambil motornya setelah layu terkena kobaran api dari mulut sang guru yang tak lain adalah ibunda sang kekasih. Sementara Damar, Wulan dan Rainar yang melihat adegan itu menghela nafas lega karena sang pembuat onar sudah pergi.


"Ternyata Zivana itu anaknya Bu Kinan. Tapi kenapa berbeda seperti itu ya? Ibunya cantik, baik dan berhijab, sedangkan anaknya..." ujar Rainar yang masih terperangah karena baru mengetahui kebenaran itu.


"Sudahlah Nar, jangan dipikirkan. Mereka tidak penting untuk dipikirkan saat ini. Karena kedua anak sultan yang tidak berakhlak itu kita jadi telat pulang nih." jawab Damar yang terkikik geli melihat ekspresi Rainar.


Rainar yang tidak percaya dengan semua itu pun hanya menghela nafas kasar, seakan memang tidak percaya kalau Bu Kinan yang merupakan guru yang paling baik dan lembut di sekolah mempunyai anak seperti Zivana. Sungguh fakta yang sangat mengejutkan.

__ADS_1


"Damar, Wulan..."


Saat ketiganya sedang berjalan ke hamparan parkir sepeda motor di mana motor Rainar terparkir, tiba-tiba terdengar suara seseorang yang memanggil kedua anak kembar itu. Lalu Damar, Wulan dan Rainar pun menoleh ke arah sumber suara yang tampak berjalan mendekati mereka. Seutas senyum terbit di wajah cantik Wulan saat melihat sosok itu.


"Maaf ya, Nak. Papi terkena macet saat di perjalanan menuju ke sini. Papi telat ya? Kalian pasti sudah menunggu lama 'kan?"


Wulan yang melihat sang papi pun langsung menghambur ke dalam pelukan. Sementara sang papi yang tak lain dan tak bukan adalah Dhana, langsung memeluknya dengan erat.


"Papi tidak telat kok, malah tepat waktu." jawab Damar yang tersenyum lebar seraya menoleh ke arah Rainar.


Rainar yang mengerti dengan maksud Damar pun memilih untuk diam. Sementara Damar tampak melempar pandangan pada sang adik yang masih berada di dalam pelukan Dhana. Wulan yang mengerti dengan maksud Damar pun mengangguk, seakan mendukung apa pun perkataan sang mas kembar agar sang papi tidak mencemaskan kondisi mereka berdua.


"Loh kenapa tepat waktu? Jam pulang sekolah kamu 'kan jam satu, ini sudah jam setengah tiga. Papi sudah telat satu setengah jam karena terjebak macet." ujar Dhana yang melihat mesin waktu di tangannya seraya melerai pelukannya.


"Ah sudahlah, Pi. Jangan dipikirkan lagi karena yang terpenting sekarang Papi sudah datang dan menepati janji untuk menjemput Damar dan Wulan." jawab Damar yang berusaha keras mengalihkan pembicaraan sang papi.


Dhana yang memang tidak mau ambil pusing saat ini pun mengangguk, menerima apa yang dikatakan oleh sang putra. Pria tampan yang sudah menginjak kepala empat itu sudah cukup pusing dengan masalah hari ini dan ia tidak ingin semakin pusing memikirkan hal lain.


"Tunggu!!! Ini Rainar, bukan?"


Sejurus kemudian, mata Dhana tertuju pada sosok anak muda yang tengah mematung di samping putranya. Sementara Rainar yang tertunduk seketika mengangkat kepalanya tatkala Dhana masih mengenali dirinya.


"Iya, Om. Aku, Rainar..." jawab Rainar yang meraih tangan Dhana dan menyalaminya.


"MasyaAllah... ternyata kamu sekolah di sini juga. Kenapa papamu tidak memberitahu Om tadi?" ujar Dhana yang entah sadar atau tidak.


Damar dan Wulan pun saling pandang saat mendengar perkataan sang papi. Kata 'tadi' seakan menjadi penjelas bahwa sang papi sempat pergi ke rumah sakit dan bertemu dengan ayahnya Rainar, yang tidak lain dan tidak bukan adalah Dokter Ronald.


"Papi sudah bertemu dengan Om Ronald? Di mana Pi?" tanya Damar yang merasa heran.


Dhana tersentak saat mendapat pertanyaan sang putra yang demikian. Ia baru menyadari akan perkataannya baru saja dan tanpa sadar Dhana sudah memancing penasaran Damar. Tidak mungkin Dhana mengatakan kebenaran tentang Ammar yang masuk rumah sakit dan membuatnya bertemu dengan Dokter Ronald.


"Bukan bertemu tapi Om Ronald yang sempat menghubungi Papi. Beliau bilang kalau hari ini sudah kembali dinas di rumah sakit." jawab Dhana yang berbohong dan bersikap tenang.


Wulan yang tidak menaruh curiga pada sang papi pun memeluknya lagi, seakan tidak ingin lepas dari pelukan papinya itu. Sementara itu, Damar terlihat tidak puas dengan penjelasan yang diberikan sang papi dan malah semakin memancing rasa penasarannya.


Papi terlihat stress dan sedih sekali hari ini. Apakah ada sesuatu yang tengah Papi sembunyikan dariku dan Adek. Tapi apa? Kenapa sikap Papi jadi aneh seperti itu? Jangan-jangan memang ada sesuatu yang sedang Papi sembunyikan dariku, terutama dari... Wulan. Aku harus mencari tau apa itu. Gumam Damar dalam hati.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Happy Reading All 😇😇😇


__ADS_2