
...☘️☘️☘️...
"Hoaaammmm...."
Malam nan panjang, berselimut dingin nan begitu kentara, bertukar posisi dengan sang raja pagi, memancarkan cahaya kehidupan, membangunkan mata yang masih tertidur. Kelelahan mencari sang adik membuat pria remaja satu ini tertidur pulas sampai pagi.
Damar terbangun, meregangkan otot-otot tubuhnya yang terasa tegang, melenturkan tangan dan kaki yang tak kalah tegang dari otot-otot tubuhnya. Tanpa ia sadari, ada seseorang yang terlelap di sampingnya.
Damar menggiring matanya, melihat sang papi yang terlelap di atas sofa, berteman selimut tebal dan sepasang bantal. Seutas senyum mengembang di wajahnya, belum menyadari keberadaan seseorang yang ada di atas tempat tidur yang sama dengannya. Kesadarannya pun belum sepenuhnya pulih, membuatnya lupa dengan seseorang.
Merasa otot-otot tubuh yang sudah stabil, Damar memutar tubuhnya, bergeser ke tepi tempat tidur lalu beranjak, mengayun kaki menuju kamar mandi, memenuhi panggilan alam yang mendadak, mendesaknya untuk segera dibongkar. Namun tidak berselang lama, Damar yang sudah berada di kamar mandi, terlonjak saat ingatannya sempurna.
"Papi... Papi... Papi... kita harus mencari Adek, Pi! Papi, bangun! Kita harus mencari Adek lagi, Pi! Ini sudah pagi! Papi, bangun!"
Sangking panik dan terkejutnya, Damar yang terlonjak bergegas membangunkan sang papi dengan brutal. Sahutan Damar sukses mengusik ketenangan Dhana yang tengah bermuara di alam samudera mimpi.
"Damar... kamu kenapa Nak? Kamu mengigau lagi ya, sampai panik seperti ini." ujar Dhana yang beranjak duduk, menatap sang putra.
"Kita harus mencari Adek, Pi!!! Kenapa Papi tidak membangunkan Damar? Kenapa Papi malam membiarkan Damar terlelap? Kenapa Papi juga terlelap di sini sedangkan Adek di luar sana masih belum ditemukan?" cercah Damar yang akhirnya menangis sesegukan.
Suara kekehan Dhana yang terdengar samar pun keluar dari mulutnya, menarik perhatian Damar yang sesegukan seraya bersimpuh dan meletakkan kepalanya di atas sofa. Kepala Damar terangkat tatkala mendengar kekehan samar sang papi.
"Papi kenapa tertawa? Jangan-jangan Papi sudah tidak sayang lagi pada Adek, seperti Mami! Papi tidak memperdulikan Adek lagi?" cercah Damar di sela-sela isak tangisnya.
"Kamu mimpi apa semalam, Sayang? Apa kamu tidak menyadari seseorang yang ada di samping kamu itu?" ujar Dhana seraya menunjuk sosok yang terbungkus selimut.
Damar tertegun, membulatkan matanya dengan sempurna, menoleh ke arah tempat tidur yang memang terlihat lebih besar karena ada seseorang di dalamnya. Damar pun beranjak, menghampiri seseorang yang ada di balik selimut tebal lalu membukanya.
"Adek..."
Tanpa berpikir panjang, tanpa peduli sang adik tengah terlelap atau tidak Damar yang senang langsung menghambur, memeluk Wulan yang masih memicing rapat. Seakan menempel dengan sangat kuat, membuat gadis kecil itu tidak kuasa membuka mata, membiarkan tubuhnya dipeluk oleh Damar, sedangkan mimpinya masih terus berlanjut.
"Adik kamu sudah pulang, Damar. Syahil yang membawanya ke sini tengah malam tadi. Jadi kamu jangan khawatir lagi." ujar Dhana yang beranjak, mendekati putranya.
Damar terhenyak, mendengar nama salah satu mas sepupunya yang tidak menyukai Wulan, namun telah menolong sang adik.
"Bagaimana bisa Mas Syahil membawa Adek ke sini Pi? Kenapa Papi membiarkan Damar terlelap di saat Adek ditemukan?" cercah Damar lagi yang mungkin, jengah.
Dhana mendudukan dirinya di tepi tempat tidur, menoleh ke arah Damar yang masih memeluk tubuh sang adik dengan posesif. Hatinya menghangat seketika saat melihat pemandangan yang indah di depannya itu. Mengulas sedikit senyum, sebelum cerita sebenarnya ia jelaskan pada sang putra.
Damar tertegun, mendengar cerita sang papi yang mustahil untuk dipercaya. Tapi sepertinya itulah kenyataannya bahwa Aifa'al dan Syahil telah menyelamatkan Wulan. Sementara Dhana yang melihat ekspresi terkejut sang putra pun mengerti, membuatnya merasa utang budi pada keduanya. Namun untuk saat ini Dhana tidak ingin membahas masalah yang sudah selesai menurutnya. Masalah utang budi, biarkan waktu yang akan menjawabnya.
"Sekarang bagaimana? Kamu dan Wulan akan tetap sekolah atau libur saja?" tanya Dhana yang masih enggan beranjak.
"Damar harus sekolah, Pi. Hari ini hari terakhir belajar, sekaligus pengumuman kandidat calon ketua osis yang berhasil terpilih. Damar ingin tau, apakah Damar terpilih jadi kandidat atau tidak." ujar Damar seraya meletakkan kembali tubuh sang adik.
"Ya sudah, kalau begitu kita pulang. Lagi pula ini masih terlalu pagi. Jadi kita masih sempat untuk pulang." ujar Dhana seraya beranjak lalu menggendong Wulan yang masih terlelap.
Damar mengangguk setuju, melupakan panggilan alam yang tadinya mendesak untuk dikeluarkan dan memilih beranjak mengikuti sang papi yang menggendong tubuh sang adik menuju lantai bawah.
__ADS_1
"Mas, Kak..."
Peristiwa kaburnya Wulan tadi malam membuat Sadha dan Vanny tetap terjaga sepanjang malam, rasa kantuk menghilang jika melewati batas waktunya. Mereka pun memilih untuk tetap duduk di sofa, menanti siang yang tidak lama lagi akan datang.
"Kamu dan Damar mau ke mana Dhana?" tanya Sadha yang menoleh ke arah Dhana.
"Dhana harus pulang, Mas. Hari ini Damar harus sekolah sebelum ujian minggu depan dimulai." jawab Dhana yang tetap berdiri.
"Kamu yakin ingin pulang?" tanya Vanny.
Dhana mengangguk pelan, mengerti dengan maksud pertanyaan sang kakak ipar yang khawatir jika dirinya akan bertengkar lagi dengan Mala saat kembali ke rumah itu.
Vanny melirik Sadha yang ikut menggiring matanya ke arahnya seraya mengangguk, meyakinkan sang istri kalau adik bungsunya itu mampu menyelesaikan masalahnya.
"Ya sudah, kalau begitu biar Mas antar kalian pulang ya." ujar Sadha yang beranjak.
Sadha beranjak, mengambil langkah kecil mengambil kunci mobil di atas lemari hias yang ada di dekat ruang keluarga. Namun suara pintu kamar tamu di lantai dasar pun terbuka lebar, membuat seseorang keluar dari kamar tamu itu. Melihat heran ke arah sang uncle yang menggendong sang adik, bersama Damar yang berdiri di sampingnya.
"Uncle... Uncle mau ke mana?" tanya Aiziel yang baru bangun dan keluar dari kamar.
"Uncle harus pulang, Ziel." jawab Dhana yang menggeser tubuhnya, melihat Aiziel.
"Oh kalau begitu, ayo Ziel antar! Niat hati Ziel 'kan ingin menginap di rumah Uncle, tapi malah tersesat ke rumah Paklik." ujar Aiziel yang terkikik geli melihat ke Vanny.
Vanny berdecak gemas mendengar perkataan keponakan sulungnya itu, memancing tawa Dhana dan Damar.
"Loh, kamu sudah bangun Ziel?" tanya Sadha yang datang dan siap mengantar Dhana pulang.
"Baiklah, kalau itu yang kamu mau. Baru saja Paklik mengambil kunci mobil untuk mengantar uncle-mu ini. Tapi ya sudah, Paklik merasa terbantu karena kamu." ujar Sadha yang mengulas senyum.
"Kalau begitu Dhana pamit pulang ya, Mas. Terima kasih karena Mas, Kak Vanny dan si kembar sudah membantu Dhana mencari Wulan. Dhana titip salam untuk Syahal ya." timpal Dhana yang masih menggendong tubuh sang putri.
"Tidak perlu berterima kasih, Dhana. Sudah seharusnya kami menolong kamu." jawab Vanny yang tersenyum lega dan bersyukur.
"Iya, Dhana. Kapan pun kamu butuh bantuan, Mas dan Vanny akan selalu ada untuk kamu. Jadi jangan pernah enggan meminta bantuan Mas dan Vanny ya." ujar Sadha seraya meraih bahu sang adik.
Dhana mengulas senyum, bersyukur karena mempunyai sosok mas dan kakak ipar yang sangat menyayanginya. Memancing kedua sudut bibir Damar dan Aiziel untuk terangkat tatkala melihat adegan menghangatkan itu. Sungguh, panutan yang baik untuk mereka kelak dalam menjaga ikatan persaudaraan.
Suasana hangat mengantar Dhana, Aiziel dan Damar keluar rumah hingga mobil yang dikendarai Aiziel melesat keluar gerbang, menghilang dari pandangan mata. Sadha dan Vanny pun masuk, mengistirahatkan sejenak tubuh yang terlanjur mengeluh letih.
***
Sang raja pagi perlahan naik di ufuk timur, menampakan cahaya yang semakin terang, menghiasi bumi, mengeringkan embun pagi, menemani perjalanan Dhana, Aiziel, Damar dan Wulan yang masih terlelap di bangku belakang mobil.
"Papi... Damar boleh mengatakan sesuatu yang belum sempat Damar katakan?" ujar Damar yang tiba-tiba seraya memandangi ruas jalan nan sepi.
"Apa Nak? Katakan saja!" jawab Dhana.
"Jadi sikap aneh Papi sejak kemarin siang, saat Papi menjemput Damar dan Adek itu karena Papi ingin menutupi kondisi Pakde dari kami? Kenapa Papi tidak cerita saja? Dengan begitu Adek tidak akan kabur dan hampir celaka karena dikejar dua preman." tutur Damar yang masih menatap jalanan.
__ADS_1
Dhana dan Aiziel melempar pandangan, tertegun dengan perkataan Damar yang entah dari siapa ia mengetahui semua ini. Bahkan ia baru mengetahui kepulangan sang adik tadi pagi, dan Dhana belum membuka cerita apa pun. Lalu dari mana Damar bisa mengetahui semuanya?
"Damar... bagaimana kamu bisa tau kalau Adek dikejar dua preman saat dia kabur?" tanya Aiziel seraya melihatnya dari spion.
"Onty Dhina... Damar bertemu dengan Onty di dalam mimpi." tutur Damar menerawang.
Sekali lagi, Dhana dan Aiziel tertegun saat mendengar penuturan Damar.
"Di dalam mimpi, Onty Dhina terlihat sedih melihat Papi dan Mami, Mas Ziel dan Mas Al, Mas Syahal dan Mas Syahil tidak akur. Onty Dhina sedih melihat Adek yang selalu dibenci oleh Mami. Onty Dhina mau bawa Adek kalau Mami tidak berubah juga, Pi!!!" tutur Damar yang semakin menerawang.
"Damar... kamu ngelantur nih!!! Istighfar!!! Tidak baik bicara seperti itu!" serkas Aiziel seraya melirik Damar sesekali ke belakang.
Damar terdiam, mimpi yang singkat bertemu sang onty membuatnya berpikir buruk, takut jika perkataan sang onty benar-benar terjadi dalam hidupnya. Sementara itu, Dhana dan Aiziel saling pandang lagi, tertegun dengan penuturan Damar.
"Damar... kamu tenang ya, Nak. Mungkin saja Onty Dhina sedang merindukan kamu dan ingin do'a dari kamu. Semuanya akan baik-baik saja, Nak. Percaya sama Papi!!!" tutur Dhana yang menoleh ke arah Damar.
"Benarkah seperti itu Pi?" tanya Damar.
"Iya, Sayang. Jika kita didatangi oleh salah satu anggota keluarga yang sudah tiada di dalam mimpi, itu artinya dia menginginkan do'a dari kita. Jadi kamu tidak perlu cemas. Papi juga pernah didatangi onty kamu dari alam mimpi, bahkan sering. Karena itu, Papi sering mendo'akan dia di sana agar jiwanya tenang di alam barzah." jawab Dhana yang berusaha menenangkan.
Damar mengangguk, mulai memahami penjelasan sang papi yang masuk akal. Dhana dan Aiziel tersenyum lega melihat Damar yang uring-uringan kini sudah lebih tenang, duduk di samping Wulan yang masih terlelap dalam tidur panjangnya. Tanpa terasa, perjalanan panjang terasa singkat karena pembicaraan yang cukup menegangkan. Aiziel memasuki gerbang yang tidak tertutup, membuatnya heran.
"Kenapa pintu gerbang dibiarkan terbuka seperti ini Uncle? Bukannya semalam itu, kita sudah menutupnya sebelum pergi?" tanya Aiziel yang heran seraya membuka seatbelt.
"Entahlah, Ziel. Mungkin anty kamu sedang pergi keluar, tapi lupa menutupnya." jawab Dhana seraya membuka seatbelt.
Dhana, Aiziel dan Damar pun turun dari mobil, menjemput Wulan yang terlelap di kursi belakang lalu membawanya masuk. Saat sampai di dalam, suasana menjadi hening, sepi. Tiada siapa pun yang terlihat batang hidungnya, kecuali Bi Iyah.
"Bi... kok rumah sepi ya? Mala ke mana?" tanya Dhana yang menghampiri Bi Iyah.
"Non Mala sudah pergi, Den. Katanya ada arisan dengan teman-temannya di Cafe." jawab Bi Iyah yang menghentikan aktifitas.
"Oh iya, Dhana baru ingat kalau setiap pagi hari ini dia ada acara. Terima kasih ya, Bi." ujar Dhana yang mengulas senyum simpul.
Bi Iyah mengangguk lalu beranjak pergi, melanjutkan pekerjaannya. Dhana pun ikut beranjak, menghampiri Damar dan Aiziel yang masih berdiri di ruang tamu seraya menggendong Wulan.
"Ayo kita ke atas, Nak!"
Damar dan Aiziel yang menggendong sang adik pun mengikuti Dhana, menaiki tangga menuju kamar Wulan. Perlahan, Aiziel yang menggendong Wulan menundukan tubuh kekarnya, meletakkan sang adik di tempat tidur. Namun pandangan Aiziel menyapu wajah sang adik sesaat, menatapnya lekat lalu meraba keningnya yang terasa, panas!
"Adek demam, Uncle!!!"
.
.
.
.
__ADS_1
.
Happy Reading All 😇😇😇