Takdir Si Gadis Bisu

Takdir Si Gadis Bisu
Episode 26 ~ Lilitan Kain di Balkon


__ADS_3

...☘️☘️☘️...


"Bi... Bi Iyah melihat Adek Wulan, tidak?"


Setelah puluhan kali menyusuri setiap ruangan yang ada di dalam rumah sang oma, kini Damar kembali menyusuri setiap ruangan lagi. Lebih cermat dan lebih teliti agar tidak ada satu pun tempat yang terlupakan. Setelah menyusuri halaman samping dan taman belakang, Damar yang masih kekeuh dan belum puas pun datang menghampiri Bi Iyah di dapur.


ART paruh baya itu tampak terkejut saat melihat keberadaan Damar yang muncul tiba-tiba. Namun Damar yang sibuk tidak mengindahkan keterkejutan sang ART dan asyik menyusuri ruang dapur.


"Bibi sejak tadi ada di dapur, Den. Tapi tidak ada Non Wulan di sini. Sejak tadi Bibi belum bertemu dengan Non Wulan." ujar Bi Iyah.


"Bibi yakin tidak melihat Adek?" tanya Damar yang masih kurang yakin.


"Bibi yakin, Den." jawab Bi Iyah yang berusaha meyakinkan Damar.


Jawaban Bi Iyah membuat perasaan Damar semakin tidak enak. Rasa takut, cemas dan gelisah bercampur menjadi satu. Tidak ingin membuang banyak waktu, Damar bergegas menaiki tangga lagi menuju kamar sang adik yang masih dibiarkan terbuka lebar. Lalu ia mengedar pandangan, mencari yang dapat dijadikan sebuah petunjuk hilangnya Wulan. Namun tidak ada satu pun petunjuk jalan untuk keluar dari masalah ini. Damar yang semakin panik pun bergegas hendak keluar.


Krek!


Krek!


Krek!


Langkah Damar terhenti seketika, tatkala suara jendela yang sedikit terbuka terdengar cukup kuat dan sukses menarik perhatian. Perlahan, Damar pun menoleh ke jendela yang sepertinya tidak terkunci seperti biasa. Jendela yang tidak pernah dibuka setelah sekian lama oleh si pemilik kamar. Tapi kenapa jendela itu kini malah terbuka?


Dengan langkah lebar, Damar mendekati jendela itu untuk memastikan bahwa feeling-nya salah besar. Tapi dugaan Damar salah dan benar saja, jendela kamar sang adik terbuka dan tidak terkunci, seperti jendela yang baru saja digunakan. Damar pun mengedar pandangan keluar jendela, dan seketika pandangan matanya tertuju pada lilitan kain yang terikat di balkon.


Suasana hati Damar semakin tidak karuan tatkala melihat lilitan kain yang terikat kuat pada balkon kamar sang adik. Lalu Damar keluar dari jendela, meraih lilitan kain yang ternyata terjuntai panjang hingga ke lantai bawah. Seketika, jantung Damar berdetak dengan sangat cepat. Pikiran buruk mulai mengusik ketenangan hati dan pikirannya secara bersamaan.


"Apa mungkin Adek kabur dari rumah? Tidak, tidak, tidak... tidak mungkin. Tapi lilitan kain yang panjang ini untuk apa?"


Damar yang semakin panik terus meracau, berusaha menghilangkan pikiran buruk dan kegelisahan hatinya yang semakin gundah. Hilangnya sang adik kembar membuatnya benar-benar tidak bisa tenang. Lalu Damar bergegas masuk kembali ke dalam kamar sang adik, berlari dengan tergontai-gontai keluar dari kamar hendak menghampiri sang papi yang entah di mana saat ini.


"Damar... ada apa Sayang? Kenapa Mami mendengar suara ribut-ribut dari kamar ini?"


Baru satu langkah Damar hendak menuruni tangga, tiba-tiba sang mami keluar dari kamar dan memanggilnya. Untuk sesaat, rasa khawatir Damar terhadap sang adik yang belum ia temukan menguap, bertukar dengan kekesalan dan kekecewaan yang teramat besar dengan sikap sang mami. Damar yang terdiam pun menoleh tajam, menatap sang mami. Sementara Mala yang berdiri di dekat sang putra dengan wajahnya yang sedikit basah. Sepertinya wanita yang berstatus sebagai istri Dhana Trinandaidi itu habis menangis karena pertengkaran tadi. Namun Damar tidak mengindahkan hal itu.


"Memang apa peduli Mami? Ini 'kan yang Mami inginkan? Adek pergi dari rumah ini dan semua itu karena Mami! Mami jahat!!! Mami benar-benar keterlaluan dan tidak punya hati!!! Karena Mami, Adek kabur dari rumah! Karena perkataan Mami, Adek jadi terluka!" tandas Damar yang emosi hingga kehilangan kesabaran.


"Damar... apa yang kamu katakan? Mami tidak pernah mengajarkan kamu berkata kasar pada orang tua seperti ini! Anak itu memang pantas pergi dari rumah ini, dari hidup kamu dan dari kehidupan kita! Anak itu hanya membawa sial dalam hidup kita!" serkas Mala yang ikut terbawa emosi.


Tangan Damar mengepal kuat, matanya memerah, menatap tajam sang mami yang sangat keterlaluan dan tidak punya hati.


"Mami... bahkan Mami tidak pantas dipanggil dengan sebutan mami, karena Mami tidak punya hati!!! Hati Mami mati!!! Hati Mami keras bahkan melebihi kerasnya batu!!! Kenapa sih Mi? Kenapa Mami begitu bencinya pada Adek? Dia juga anak Mami!!! Kalau Mami membencinya setelah dia lahir, kenapa tidak Mami bunuh saja Adek Wulan di saat dia masih di dalam kandungan Mami! Kenapa Mami menyiksanya seperti ini, hah?! Damar kecewa sama Mami! Kalau terjadi sesuatu sama Adek di luar sana, Mami yang harus bertanggung jawab! Dan Mami jangan pernah mendekati Damar lagi!"


Runtuh sudah pertahanan air mata Damar tepat di depan sang mami yang menatap tajam ke arahnya. Air mata yang sejak tadi ia usahakan agar tidak jatuh, namun pada akhirnya tumpah juga bersamaan dengan kekecewaan yang menyeruak di dalam hatinya. Damar pun berlenggang pergi, menuruni tangga dan keluar. Sementara Mala yang tampak syok dengan penuturan sang putra, masih diam terpaku di posisinya.

__ADS_1


Matanya juga terlihat berkaca-kaca, bukan karena sedih melainkan karena tidak terima jika sang putra terus membela Wulan. Tidak ada sedikit pun guratan kecemasan di wajah cantiknya yang terlihat cacat karena perilaku buruknya itu. Yang ada hanya amarah, kesal dan dongkol.


"Semoga saja anak cacat pembawa sial itu tidak pulang lagi untuk selamanya!!!"


***


"Ya Allah... Ke mana putriku pergi?"


Dhana semakin dibuat frustasi, bahkan saat ini ia sudah berdiri tepat di depan pagar rumahnya. Mengedar pandangan, ke kanan dan ke kiri, berusaha menemukan setitik cahaya yang sedang ia cari saat ini. Namun tidak satu pun orang yang bisa ia temukan di malam yang gelap dan sunyi seperti ini.


Dhana yang panik pun bergegas masuk, tapi langkah kakinya terhenti ketika sorot lampu sebuah mobil berhenti tepat di depan rumahnya. Dhana pun menoleh, berusaha melihat siapa pemilik mobil itu.


"Uncle..."


Dhana mengerjap tatkala suara bariton khas yang tidak asing itu memanggil dan tampak berlari kecil menghampirinya.


"Ziel... Kamu sedang apa di sini Nak?" tanya Dhana yang masih terlihat panik namun berusaha untuk tenang.


"Ziel ingin menginap di sini, Uncle. Sekalian ingin menemani Damar dan Adek belajar. Senin depan mereka ujian, bukan?" jawab Aiziel seraya menyalami tangan sang uncle.


Dhana pun terdiam. Rasa cemasnya kembali datang, menyelimuti hati dan pikirannya secara utuh karena keberadaan Wulan yang tak kunjung ditemukan. Melihat raut wajah sang uncle yang tampak panik dan gusar, membuat Aiziel mengeryit heran.


"Uncle... Uncle kenapa? Semuanya baik-baik saja, bukan?" tanya Aiziel seraya meraih bahu sang uncle.


Dhana tetap bergeming. Bingung, khawatir dan takut bercampur menjadi satu, teringat dengan sang putri yang belum di temukan keberadaannya. Apalagi mengingat malam yang semakin larut dan sunyi, membuatnya semakin gelisah, tidak tenang dan takut jika sang putri benar-benar pergi dari rumah ini.


Pekikan suara Damar yang menghambur keluar dari rumah, sontak membuat kedua pria tampan yang berbeda generasi di luar rumah terlonjak kaget. Keduanya menoleh cepat, menangkap raut wajah Damar yang membuat Dhana semakin tidak tenang.


"Papi... gawat, Pi! Ini benar-benar gawat!" sahut Damar yang terengah-engah.


"Kamu kenapa Nak? Apanya yang gawat? Jangan membuat Papi jadi semakin panik!" ujar Dhana seraya menenangkan putranya.


"Adek, Pi! Adek kabur dari rumah!!!" sahut Damar yang masih terengah-engah.


Dhana dan Aiziel terperangah mendengar perkataan Damar yang mengatakan kalau Wulan kabur dari rumah. Keduanya saling melempar pandangan, sementara Damar yang masih terengah-engah karena berlari, berusaha untuk mengontrol pernafasannya.


"Kamu bicara apa Damar? Mana mungkin Wulan kabur dari rumah." ujar Dhana yang tidak percaya walaupun hatinya khawatir.


"Mungkin sekali, Pi! Damar menemukan lilitan kain di balkon kamar Adek. Dan kain itu terjuntai panjang ke lantai bawah. Adek pasti memakai itu untuk turun dari atas, Pi." jawab Damar yang berusaha meyakinkan sang papi.


"Tidak, ini tidak mungkin!!! Putriku tidak mungkin pergi dari rumah! Ya Allah... ujian apa lagi ini? Ke mana putriku? Hari sudah semakin larut!" cercah Dhana yang terus meracau seraya mengacak rambutnya.


Aiziel dan Damar yang masih berdiri di sana pun langsung memegangi tubuh Dhana yang hampir oleng tak terkendali. Lalu Aiziel pun melirik Damar, seakan meminta Damar untuk menjelaskan semuanya. Damar yang mengerti pun menghela nafas kasar. Lalu...


"Mami memberitahu kami, Mas. Kalau Pakde Ammar masuk rumah sakit setelah melihat Mas Ziel dan Mas Al berkelahi karena Mas Ziel membela Adek. Mami menyalahkan Adek atas semua ini dan... dan mungkin karena itu Adek pergi, Mas." tutur Damar yang masih memegangi sang papi.

__ADS_1


"Mami kamu itu benar-benar sudah tidak waras, Damar! Maaf kalau Mas mengatakan hal ini di depan kamu dan papimu. Tapi ini sudah keterlaluan! Lebih baik kita ke rumah Mas sekarang. Kita bawa Uncle Dhana dan kita cari Adek sama-sama." ujar Aiziel yang terlihat geram tapi sebisa mungkin ia tahan.


"Itu lebih baik, Mas. Tanpa Opa dan Oma di rumah ini, rasanya seperti di neraka!!! Mami masih belum berubah dan mungkin tidak akan pernah untuk selamanya." ujar Damar.


"Kamu harus tenang dan harus yakin kalau Adek pasti baik-baik saja. Ayo, kita pergi!!!" jawab Aiziel yang masih memegangi Dhana.


Damar pun mengangguk patuh lalu mereka berjalan ke arah mobil. Namun di saat Aiziel hendak membuka pintu mobil, Dhana yang tadinya terlihat syok berat dan hanya diam, kini tersadar namun tersandar di pintu mobil. Lalu...


"Kita mau pergi ke mana? Uncle harus mencari Wulan, Ziel!" ujar Dhana yang menahan tubuhnya, menolak masuk ke dalam mobil.


"Uncle tenang dulu ya. Lebih baik sekarang kita ke rumah Daddy. Kita bicarakan hal ini dengan kepala dingin agar kita menemukan solusinya. Uncle tenang saja. Ziel akan ikut mencari Adek sampai ketemu. Adek akan baik-baik saja, Uncle." tutur Aiziel seraya menenangkan Dhana yang masih tersandar.


"Tidak, Ziel!!! Uncle tidak ingin membuat daddy kamu kepikiran lagi dengan semua masalah ini. Masalah kamu dengan Al saja belum selesai, Nak. Bagaimana mungkin Uncle bisa membawa masalah baru untuk kamu dan daddy kamu? Tidak!!! Uncle tidak mau pergi ke rumah kamu! Jangan beritahu Mas Ammar, Kak Ibel, Ayah dan Ibu. Mereka tidak boleh tau tentang hal ini!!!" ujar Dhana.


Aiziel dan Damar pun saling pandang. Jika sudah seperti ini jadinya, mereka pun tidak punya pilihan lain, selain mengikuti Dhana. Karena mereka pun juga tau kondisi Ammar saat ini yang belum stabil sepenuhnya.


"Lalu kita harus bagaimana lagi Pi? Damar bingung harus mencari Adek ke mana." ujar Damar yang berusaha meyakinkan Dhana.


"Kamu tenang saja ya, Nak. Papi berjanji akan secepatnya menemukan adik kamu. Papi akan membawanya pulang. Kita akan berkumpul lagi seperti sedia kala. Papi janji!" jawab Dhana yang merengkuh tubuh sang putra dan memeluknya dengan erat.


Pecah sudah tangis Damar di dalam pelukan sang papi. Begitu juga dengan Dhana. Bulir kristal yang sejak tadi tertahan, tertumpuk di pelupuk mata kini jatuh sudah. Sementara Aiziel yang melihat keduanya menangis pun ikut meneteskan air mata. Mengingat nasib sang adik di luar sana yang entah seperti apa saat ini. Apakah dia baik-baik saja atau malah sebaliknya. Ia sendiri pun tidak tau, sama halnya dengan Dhana dan Damar.


"Uncle... kalau Uncle tidak mau ke rumah Ziel. Bagaimana kalau kita ke rumah Paklik Sadha? Ziel yakin Paklik bisa membantu kita untuk mencari keberadaan Adek. Kita tidak bisa bergerak sendiri, Uncle. Ini sudah larut dan kita tidak pernah tau kemungkinan apa yang terjadi di luar sana pada Adek. Ziel tau, Uncle pasti bisa menemukan Adek. Tapi Ziel mohon, jangan membahayakan diri Uncle di saat larut malam seperti ini." ujar Aiziel yang berusaha lagi membujuk sang uncle.


Bagaimana pun juga Aiziel tidak akan bisa membiarkan sang uncle berjalan sendirian. Apalagi di larut malam seperti ini. Sifatnya yang menurun dari sifat sang daddy terlihat sangat jelas malam ini. Rasa peduli terhadap keluarga menjadi hal yang paling utama dan menjadi prioritas seorang Aiziel.


Dhana dan Damar pun melerai pelukannya, menoleh ke arah Aiziel yang menatap lekat penuh harap, jika sang uncle menerima sarannya yang kali ini. Aiziel mengerti dengan tujuan sang uncle yang tidak ingin meminta bantuan pada sang daddy. Tapi bukan berarti, sang daddy menjadi pilihan terakhir karena masih ada sang paklik yang pasti bersedia untuk membantu mereka.


"Ziel mohon, Uncle! Kita ke rumah Paklik sekarang dan meminta bantuannya. Ziel yakin Paklik pasti mau dan ada Syahal juga yang akan membantu kita mencari Adek." ujar Aiziel yang berusaha membujuk sang uncle.


"Mas Ziel benar, Pi. Kita bertiga saja tidak cukup untuk bisa menemukan Adek di larut malam seperti ini. Paklik Sadha dan Mas Syahal pasti mau membantu kita." timpal Damar yang ikut membujuk sang papi.


Dhana pun terdiam, melihat keduanya secara bergantian yang terus menatapnya sendu dan penuh harapan besar. Memang tidak ada jalan lain, ia juga tidak ingin terjadi sesuatu pada sang putri di luar sana. Untuk sesaat Dhana terdiam, tiba-tiba ingatannya kembali berputar saat ia melihat bayangan sang adik yang muncul tatkala tangannya hendak menampar wajah sang istri. Seakan memberi sapaan dan juga peringatan untuk dirinya, bahwa mendiang sang adik tidak menyukai hal-hal yang berbau kekasaran.


Setelah lama terdiam, memikirkan dan menimbang perkataan Aiziel dan Damar, Dhana pun menghela nafas panjang.


"Baiklah, kita akan pergi ke rumah paklik kalian!!!"


.


.


.


.

__ADS_1


.


Happy Reading All 😇😇😇


__ADS_2