Takdir Si Gadis Bisu

Takdir Si Gadis Bisu
Episode 124 ~ Ketulusan Sosok Ibu


__ADS_3

...☘️☘️☘️...


"Kalian kenapa bisa ada di sini?"


Kaki yang dibawa melangkah cepat, kelajuan motor yang dibawa secepat kilat, membawa tubuh tiga pemuda tampan yang semula berdiri di depan gerbang sekolah sang adik, kini mereka sudah tiba di rumah sakit. Jawaban yang diberikan oleh Damar saat Syahal menanyakan keberadaannya, membuat Syahal tidak berpikir panjang lagi.


Tanpa menunggu lama, saudara kembar Syahil itu langsung memutus sambungan telepon dan memberitahu Aifa'al dan Syahil kalau Damar dan Wulan ada di rumah sakit. Ketiga pemuda itu tersulut cemas setelah itu, membuat ketiganya langsung melesat lagi menuju rumah sakit sesuai informasi Syahal yang sebenarnya tidak lah lengkap.


Setelah memarkirkan motor, ketiganya bergegas lari menuju lokasi di mana kedua adik mereka berada, belum tau jika saat ini kedua adiknya itu sudah aman dan selamat. Berdiri di dekat pintu rumah sakit, sehingga Aifa'al dan Syahal-Syahil yang baru datang dengan buru-buru, terkejut. Melihat kedua adik kembarnya bersama dengan Ammar.


"Seharusnya Pakde yang ingin bertanya lebih dulu pada kalian? Kenapa kalian bisa terlambat menjemput Damar dan Wulan? Kalau terjadi apa-apa pada mereka, lalu kalian tidak ada yang tau bagaimana?"


Syahal yang bertanya pada kedua adiknya saat baru sampai pun terbungkam. Begitu pula dengan Syahil, tidak berani menatap mata sang pakde yang tengah menasehati. Sementara Damar-Wulan yang melihat itu hanya mengulum senyum, tengah menahan tawa yang ingin meledak ketika melihat raut wajah pias nan lucu kedua mas kembarnya.


"Mereka juga punya alasan yang kuat, Daddy! Jangan terlalu marah dan emosi!" timpal Aifa'al, membela adik kembarnya.


"Memang apa alasannya?" tanya Ammar.


"Maaf Pakde, Syahal dan Syahil terlambat karena dosen kami meminta jadwal kuliah tambahan seenaknya. Awalnya kami hanya ada satu kelas pengganti kuliah, tapi dosen botak itu malah lanjut terus mengajarnya." terang Syahal, meyakinkan sang pakde.


"Syahil juga, Pakde. Seharusnya, kami sudah menjemput Damar dan Adek dua jam yang lalu. Tapi karena dosen kiler itu, semua rencana jadi kacau balau." timpal Syahil.


"Sudahlah, Daddy! Tidak perlu dibesarkan masalah ini!!! Toh sekarang mereka sudah ada di sini, bersama Al pula!" timpal Aifa'al.


"Iya, Pakde. Mas kembar tidak salah kok. Lagi pula Damar sama Adek masih sehat dan baik-baik saja, bukan?" timpal Damar.


"Sekarang kalian memang sudah aman, Damar! Kalau saja Pakde tidak ada di sini, Pakde tidak bisa membayangkan sesuatu yang buruk akan menimpa kalian!" timpal Ammar, melihat keponakan kembarnya.


Aifa'al, Syahal dan Syahil mengeryit tidak mengerti dengan perkataan Ammar yang baru saja terlontar. Membuat mata ketiga pemuda tampan itu kini tertuju kepadanya.


"Maksud Daddy apa bicara seperti itu? Apakah ada sesuatu yang terjadi pada mereka sebelum kami sampai di sini?" serkas Aifa'al, menelisik sang daddy.


"Belum, tapi hampir terjadi!" ujar Ammar.


"Maksud Pakde?" tanya Syahal-Syahil.


Ammar menghela nafas berat, tengah mengumpulkan energi untuk bercerita.


"Bram muncul di rumah sakit ini! Pria itu datang untuk melihat adiknya yang sakit parah. Dan kalian tau, Damar dan Wulan yang sudah membawa adiknya Bram ke rumah sakit ini!" terang Ammar, menahan geram karena tidak kehilangan jejak Bram.


Aifa'al dan Syahal-Syahil jelas terbelalak, mendengar nama asisten Gibran itu ada di rumah sakit ini. Tak peduli dengan apa yang menjadi sebab Bram ada di sini, yang ada di pikiran ketiga pemuda itu kini hanya ingin meringkus Bram, dan memaksanya untuk membuka mulut di mana Gibran sekarang.


"Bram ada di sini? Lalu ada di mana dia, Daddy?" tukas Aifa'al yang kesal duluan.


"Dia sudah kabur, Al!!! Daddy terlambat mengejarnya. Dia sudah kabur bersama adiknya." jawab Ammar, menghela berat.


"Tapi dia tidak bisa dibiarkan saja, Pakde! Syahil yakin kalau lelaki itu tau keberadaan Gibran sekarang! Dia kunci utama untuk menyelesaikan semua masalah rumit ini!" pungkas Syahil, tak kalah kesal dari Aifa'al.


"Pakde tau, Syahil! Tapi mau kita cari ke mana? Sebelum kalian tiba, Pakde sudah memeriksa kamera CCTV yang ada di sini, tapi tidak ada petunjuk. Pakde hanya bisa menemukan posisi Bram ketika dia masuk lalu mendatangi resepsionis di lobby sana!" terang Ammar, berusaha menenangkan keponakan kembarnya dan putranya.


"Tapi kalian baik-baik saja 'kan? Apakah adiknya si Bram itu melukai kalian berdua?" timpal Syahal yang memeriksa keduanya.


"Damar sama Adek baik-baik saja, Mas! Bahkan Tante itu sangat berbeda jauh dari Pak Bram yang jahat. Adiknya sangat baik dan ramah." terang Damar, teringat Rumi.

__ADS_1


"Kalian tidak boleh bertemu dengan wanita itu lagi!!! Apalagi kalau kalian sampai nekat menolongnya! Kita tidak pernah tau rencana Bram yang licik! Lelaki itu masih berstatus sebagai asisten pribadinya Gibran! Lelaki licik itu bisa saja menggunakan adiknya untuk mengecoh kita! Kalian paham!?" seru Aifa'al, menatap tajam sang adik kembar.


Damar dan Wulan pun saling pandang, mendapati titah tegas dari sang mas yang terkenal sangar, membuat mereka terdiam. Lalu memberikan anggukan patuh, memilih untuk menuruti perintah Aifa'al yang sudah berpengalaman dalam menghadapi orang jahat dan licik di luar sana. Sementara itu, Syahal-Syahil mengusap bahu keduanya, berusaha menenangkan mereka saat titah Aifa'al tak akan pernah bisa lagi dibantah.


"Lebih baik kita pulang! Ada hal penting yang ingin Mas bicarakan dengan kalian!" seru Aifa'al tegas lalu beranjak lebih dulu.


Ammar menggeleng kepala, melihat sikap keras sang putra yang masih bersemayam dalam diri walaupun sudah berubah baik. Sementara kedua pasang anak kembar itu hanya saling pandang, mendengar kalimat perintah tegas Aifa'al yang terlontar lagi.


"Ayo kita pulang! Masalah ini, biar Pakde yang menceritakannya pada papi kalian!"


***


Krek!


Langkah kaki yang dibuat sesamar dan selambat mungkin ternyata tak semudah yang dibayangkan, buktinya kendati kaki sudah bisa diajak kompromi namun tidak dengan sesuatu yang ada di bawah sana, tidak sengaja terinjak oleh kaki mulusnya.


"Siapa itu?"


Zivana terjingkat, mendapati suara bariton sang papa yang bergema dari arah taman samping Villa hingga terdengar sampai ke ruang tamu. Membuatnya yang hampir menjangkau pegangan pintu utama Villa, harus memutar tumit lagi, berlari ke arah kamar dan mengurung diri seperti tadi pagi.


"Sial! Bagaimana caranya aku bisa keluar, lalu melarikan diri dari Villa dan pulau ini? Aku benar-benar tidak tau jalan sekarang, bahkan ponsel saja tidak punya karena Papa mengambilnya dengan alasan agar tidak ada yang bisa melacak keberadaan kita di pulau ini! Padahal sudah sangat jelas, kalau Papa menyita ponselku karena takut jika aku mengetahui semuanya lalu kabur!"


Zivana mendengus kesal, menggeram sendiri di dalam kamar setelah beberapa jam meraung-raung di dalam kamar mandi, lalu berniat untuk melarikan diri dari tempat itu, meninggalkan sang papa yang sudah membuatnya teramat kecewa sekarang ini.


Tok... Tok... Tok...!


Suara ketuk pintu itu mengejutkan Zivana, membuat tangan refleks mengurut dada.


"Ck! Kalau Papa tidak mau repot, antarkan aku pulang ke Jakarta sekarang juga, Pa! Usiaku akan pendek jika terus-terusan di tempat terpencil ini! Tidak ada ponsel dan tidak ada Bunda! Aku ingin kembali!!! Aku ingin bertemu Bunda dan tinggal dengan Bunda saja!!! Papa sangat jahat padaku!!!" seru Zivana, garang dari dalam kamarnya.


Tidak ada jawaban dari sang papa di luar, membuat Zivana melangkah, mendekati pintu yang terasa hening dari kegaduhan papanya yang kekeuh dengan pendirian.


Brak!


Zivana terjingkat kaget. Saat telinganya hampir menyentuh daun pintu, tiba-tiba hentaman keras dari luar bergema yang ia yakini bahwa hentaman itu berasal dari kaki sang papa yang semakin tidak ada akhlak. Membuat gadis belia itu mendengus kesal, mendapati respon sang papa yang masih tetap sama kendati dirinya sudah memohon.


"Aku memang tidak pernah menyangka sih, kalau Papa akan berubah drastis seperti ini. Tapi di satu sisi aku senang, karena Papa memudahkan aku. Mengganggu hidupnya si bisu bahkan keluarga besarnya sekaligus, dan aku sangat menyukai cara Papa ini!"


Gurat masam dan marah di wajah gadis belia itu menguap begitu saja, bertukar menjadi seringai, puas dengan rancangan jahat sang papa untuk Wulan dan keluarga besarnya. Membuatnya tidak perlu lagi ikut bersusah payah untuk membuli gadis bisu yang selalu ia kacau ketenangan hidupnya.


"Tapi di sisi lain aku kecewa, karena Papa sudah menyakiti Bunda Kinan yang baik, dan ingin memisahkan aku dari kekasihku! Papa sudah merebut harta ayahnya Bunda, sampai ayahnya Bunda meninggal karena serangan jantung! Dan Papa sudah menipu Bima, lalu menjebaknya dengan cara licik! Aku tidak menyukai cara licik Papa satu ini!"


Seringai puas di wajahnya itu kini sudah kembali pada mode semula, teringat akan pengakuan sang papa di malam itu pada sang bunda, teringat dengan percakapan sang papa dengan Bram tadi pagi. Wajah Zivana saat ini terlihat semakin memerah.


Satu hal yang perlu kalian ingat! Zivana tetap lah Zivana. Gadis belia nan cantik namun buruk hatinya, masih membenci Wulan, kendati sudah tau bahwa rencana sang papa sangat keterlaluan kejamnya!


"Aku harus mencari cara lain untuk bisa menghadapi kelicikan Papa! Licik, harus dilawan dengan licik pula! Tunggu saja!"


***


"Maafkan Mala, Yah! Maafkan Mala, Bu!"


Pak Aidi dan Bu Aini saling pandang tak mengerti, melihat sang menantu bungsu yang tiba-tiba menghambur menghampiri mereka yang tengah duduk di ruang tamu. Langsung duduk bersimpuh di depan kaki keduanya, menangis sesegukan, memeluk kaki keduanya secara bergantian. Sungguh membuat Pak Aidi dan Bu Aini tidak paham.

__ADS_1


Sementara Dhana yang setia menemani sang istri, hanya bisa mengulas senyum, berdiri di tempat, enggan untuk ikut duduk. Menatap iba punggung sang istri tercinta yang bergetar karena menangis, menyesali semua perbuatannya pada sang putri yang merembet ke mana-mana di saat emosi.


"Ada apa ini Dhana? Apa yang terjadi pada istrimu?" tanya Pak Aidi, menoleh perlahan.


"Mala ingin mengatakan sesuatu, Ayah!!!" jawab Dhana, mengulas lebar senyumnya.


Pak Aidi hanya bisa mengeryit, bingung pastinya melihat sikap Mala dan Dhana yang mendadak aneh menjelang petang. Sementara Mala masih setia di posisinya, bersimpuh di depan kedua kaki keduanya seraya menangis sesegukan. Membuat Bu Aini tidak tega, tangan lembutnya perlahan bergerak lambat, menyentuh punggung sang putri menantu yang terguncang kuat.


"Sayang... jangan seperti ini, Nak! Ayo, bangun! Tenangkan dirimu, lalu bicara lah! Katakan apa yang ingin kamu katakan itu! Jangan menangis seperti ini! Ibu sungguh tidak bisa melihat putri Ibu menangis, Nak!" tutur Bu Aini, meraih bahu sang menantu yang dibawa berdiri dan duduk di sisinya.


Mala semakin terisak, mendengar suara lembut sang ibu mertua yang membuat hatinya mencelos seketika. Kata-kata tulus yang terlontar dari bibirnya pun membuat Mala semakin merasa bersalah pada sang ibu mertua karena sudah mengecewakan hati sosok ibu yang sangat tulus padanya.


"Mala minta maaf, Bu. Selama ini, Mala sudah mengecewakan Ibu dan Ayah di rumah ini. Mala bukan menantu yang baik! Mala hanya menantu durhaka yang pernah menyakiti hati Ayah dan Ibu. Mala sangat berdosa pada kalian! Ampuni Mala, Ayah. Ampuni Mala, Ibu." tutur Mala, sesegukan.


Pak Aidi dan Bu Aini saling pandang lagi, terkejut saat mendengar penuturan sang menantu bungsu yang meminta ampun dan memohon maaf, menyesal dengan sifatnya selama ini yang sebenarnya hanya terbawa emosi karena pengaruh kelainan sindrom.


Tatapan kedua paruh baya itu seketika tertoleh ke arah sang putra yang hanya menganggukan kepala dengan senyum manis yang tak lekang oleh waktu di wajah tampan awet mudanya itu. Matanya pun terlihat berkaca-kaca, menatap bahagia sekaligus terharu pada sang istri tercinta. Membuat Pak Aidi dan Bu Aini mengerti.


"Sayang... dengarkan Ibu, Nak! Seburuk apapun sikapmu di masa lalu, Ibu berani bersumpah, tidak ada sedikit pun marah apalagi membencimu, Sayang!!! Pertama kali Ibu melihat wajah ini, Ibu merasakan kalau putri Ibu yang hilang telah kembali!! Ibu sangat menyayangi kamu, seperti Ibu menyayangi Dhana dan juga yang lainnya!"


Bulir kristal penuh sesal dan dosa Mala berjatuhan lagi, membelah kedua pipinya yang memang sudah sembab sejak tadi. Menatap lekat wajah sang ibu mertua di depan mata, seperti ibu kandung sendiri. Tangan Bu Aini yang lembut menangkup wajah sang menantu, mengelus lembut wajahnya yang basah, mengabaikan air matanya yang juga ikut berjatuhan deras.


Sementara Pak Aidi yang duduk di sisi istrinya hanya bisa melihat dan mendengar, hatinya ikut menghangat ketika sang istri dengan lembut dan sayangnya meyakinkan Mala yang tergugu penuh sesal dan dosa. Hingga mendobrak air mata Dhana yang sudah menumpuk sejak awal adegan itu dimulai untuk cepat keluar membasahi pipi.


"Tidak ada yang Ibu bedakan! Kalian sama dan kalian semua anak-anak Ibu! Tanpa kamu meminta maaf pun, Ibu sudah lebih dulu memaafkan kamu, Sayang! Jangan pernah menyesali semuanya yang terjadi! Kamu tidak salah!!! Kamu hanya terbawa arus emosi masa lalu yang menghantuimu! Tugas kamu kini adalah memperbaikinya! Jangan sampai kamu memiliki nasib yang sama seperti Ibu! Jangan sampai, Sayang!"


Semakin deras rasanya air jatuh di pipi, membuat Mala yang tak kuasa menahan sedih dan sesal pun langsung memeluk sang ibu mertua. Tangisnya kian pecah, tumpah sudah segala keluh kesah yang selama ini ia tahan dan ia simpan sendiri.


Dengan sayang dan cinta, tangan Bu Aini terus mengusap lembut punggung yang tengah terguncang hebat itu, berusaha menenangkan hati sang menantu dengan sentuhan lembut tangannya yang tak bisa dibandingkan dengan apapun di dunia ini.


Sementara Pak Aidi yang ikut meneteskan bulir kristal dari matanya pun mengangkat tangan, meraih pucuk kepala sang putri menantu yang membuatnya teringat selalu dengan almarhumah sang putri tersayang. Tak kalah telaten, lelaki paruh baya yang hampir memasuki usia senja itu mengelus pucuk kepala Mala, ikut menenangkannya kendati hanya menggunakan satu tangan.


Lalu bagaimana dengan Dhana? Lelaki tampan yang wajahnya tetap awet muda itu hanya bisa mengusap hidung, menghapus cairan yang keluar seiring sejalan dengan bulir mata, berlomba dan tidak mau kalah.


"Aaaaai...!"


.


.


.


.


.


Happy Reading All 😇😇😇


Adegan haru Mala dan Wulan nya dina ghosting dulu ya 😂✌️ dina harap kalian ngak bosan dan ngak kecewa karna terlalu lama 🤧 tapi seperti inilah cara dina nulis, ngak pinter buat skip-skip cerita gitu 🤭✌️


sabar dulu sampai hari senin yaaaws 😘👌 In syaa Allah, adegan Mala dan Wulan ini bakal menguras tenaga dina yang nulisin ceritanya, dan bakal menguras air mata, semoga saja ngak mengecewakan ya 🥺


Lope lope lope di udara buat kakak2 ku semuanya yang masih menemani sampai sekarang ❤️❤️❤️ hanya do'a yang terbaik yang bisa dina langitkan untuk kalian 😘

__ADS_1


__ADS_2